Kamis, 05 November 2015

KARENA DUNIA TERLALU LUAS UNTUK PIKIRAN SEMPIT TENTANG : "NGAPAIN KE LUAR NEGERI KALAU NEGERI SENDIRI INDAH?”


Akhir-akhir ini, saya sangat familiar dengan sebuah postingan di sosial media yang berjudul :

“NGAPAIN KE LUAR NEGERI KALAU NEGERI SENDIRI INDAH?”

Beserta postingan tersebut ditampilkanlah foto-foto perbandingan keindahan alam dan objek wisata di Indonesia dengan tempat-tempat lainnya di penjuru dunia. Postingan tersebut antara lain memuat foto Pulau Komodo yang diperbandingkan dengan New Zealand, foto Gili Trawangan yang diperbandingkan dengan Maladewa, foto Jakarta yang diperbandingkan dengan Hong Kong, foto Kampung Cina Cibubur yang diperbandingkan dengan Shang Hai dan beberapa foto lainnya.

Tujuan awal dari postingan ini sebenarnya baik, yaitu menimbulkan kecintaan akan negeri : bahwa sesungguhnya Indonesia kita ini sangat indah dan kaya, nggak kalah dengan keindahan alam di penjuru dunia lainnya. Selain itu, sebenarnya postingan ini mengajak kita untuk meramaikan wisata domestik kita sendiri. Nggak usah pergi jauh-jauh dulu, cobalah untuk menikmati keindahan negeri kita sendiri sebelum melihat negeri orang lain.

Sebenarnya postingan ini nggak salah. Hanya saja menurut saya penggunaan katanya yang ambigu dapat memprovokasi dan menjadi semacam doktrin. Terbukti, banyak teman-teman saya di sosial media yang langsung me-repost postingan tersebut, yang secara langsung menunjukan mereka setuju atas pemikiran sang penulis.

Saat melihat ada yang menyebarkan postingan ini, jantung saya berdebar-debar dengan kencang. Saya sangat marah. Dan sangat kecewa. Rasanya orang yang menyebarkan postingan itu ingin saya gandeng tangannya, saya ajak duduk berduaan, dan saya ajak bicara face to face dari hati ke hati.

Ya saya marah dan kecewa.
 
Saya marah dan kecewa karena bisa-bisanya ada anak muda Indonesia berpikiran sempit seperti itu.

“Berpikiran sempit? What? Dia sudah gila! Dia tidak cinta negerinya! Bakar dia! Tangkap dia!” Itu pasti yang kalian pikirkan saat saya mengatakan KALIAN BERPIKIRAN SEMPIT.

Well, tenangkan hati kalian dulu. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan dulu labeli saya sebagai orang gila yang tidak cinta negeri. Biarkanlah saya menyampaikan unek-unek saya yang membuncah di dada dan nyaris membludak, meluber dari mulut saya yang lebih banyak melontarkan ucapan protes ketimbang  pesan damai.

Saya adalah seorang backpacker yang sangat mendukung anak muda untuk menjelajah negeri dan melihat dunia. Catat, menjelajah negeri dan melihat dunia. Bukan hanya menjelajah negeri sendiri. Jika bercakap-cakap dengan orang yang lebih muda dari saya, berulang-ulang kali saya mendoktrin mereka untuk pergi melihat dunia. Coba saja tanya orang-orang yang mengenal saya, mereka tentu tahu benar bagaimana saya merongrong mereka untuk menghabiskan uang dengan melihat dunia ketimbang hanya sekedar membeli barang-barang bermerek dan bersenang-senang. Prinsip saya, selagi ada kesempatan (dan uang tentunya), gunakanlah sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan dan wawasan dengan melihat dunia. 

Jangan salah, saya bukannya tidak setuju dengan keindahkan Indonesia. Bukan maksud saya mengatakan bahwa negeri orang jauh lebih indah dari pada Indonesia. Saya tidak mengatakan demikian. Indonesia sangat indah! Hanya saja, seindah-indahnya negeri kita, kita harus melihat dunia yang luas.

Oke, kembali ke postingan perbandingan di sosial media tadi.

Karena merasa tidak setuju dengan postingan tersebut, saya secara aktif mengemukakan pendapat saya di kolom komentar dengan mengunggah foto-foto saya diberbagai penjuru dunia yang diperbandingkan dalam postingan. Saya mengunggah beberapa foto saya saat melakukan perjalanan ke New Zealand untuk menjawab perbandingan antara Pulau Komodo dengan New Zealand, sebuah foto saat transit di Shang Hai untuk menjawab perbandingan antara Kampung Cina Cibubur dengan Shang Hai, dan sebuah foto bulan madu saya di Maladewa untuk menjawab perbandingan antara Gili Trawanagan dengan Maladewa.

Beragam komentar langsung bermunculan atas postingan saya tersebut, beberapa orang menyatakan bahwa kita harus mencintai negeri sendiri dan tidak perlu ke luar negeri karena Indonesia sendiri sudah terdiri dari beribu-ribu budaya yang nggak bakalan habis walau dipelajari seumur hidup. Beberapa orang lainnya membenarkan pendapat saya untuk melihat dunia namun mengemukakan mengenai besarnya jumlah biaya yang dibutuhkan untuk melihat dunia.

Nah, ini yang saya bilang bahwa saya tidak menyukai postingan tersebut karena memprovokasi dan menjadi semacam mesin doktrin. Bentuk provokasi dan doktrin yang pertama adalah bahwa kita rakyat Indonesia gak usah kemana-manalah, karena Indonesia sudah punya segala-galanya. Bentuk provokasi dan doktrin lainnya adalah, dengan hanya menjelajahi negeri sendiri kita menjadi lebih nasionalis.

Salah. Salah. Salah. Doktrin ini sangat salah.

INDONESIA MEMANG INDAH, NAMUN KITA HARUS MELIHAT DUNIA.

Nih ya, menurut hasil sensus yang dilakukan oleh pemerintah, terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya sekitar 1.340 suku bangsa (sumber : Wikipedia). Memang banyak sekali. Dengan luasnya negeri ini ditambah jumlah budaya yang beragam, seumur hidup pun dihabiskan untuk mempelajari budaya Indonesia tidak akan cukup.

Itu semua masih ditambah dengan keindahan alam dan peninggalan sejarah yang tidak hanya menarik minat bangsa kita sendiri, namun juga menjadi daya pikat internasional. Nggak jarang banyak budayawan, seniman, dan penjelajah asing yang datang ke Indonesia dan menetap untuk waktu yang lama hanya untuk menikmati indahnya negeri ini dan mempelajari keanekaragaman yang tercipta di dalamnya.

Namun, pernahkah kalian menerapkan logika berpikir seperti ini :

Jika kalian besepeda di lingkungan rumah, maka pemandangan yang disuguhkan adalah pemandangan yang sangat familiar. Walaupun tetangga anda berasal dari latar belakang yang berbeda (agama, suku, golongan) namun semuanya sudah sangat familiar di mata anda. Beda halnya jika anda bersepeda keluar dari kompleks perumahan anda dalam radius yang lebih luas. Tentunya ada akan mendapatkan pendangan yang sangat berbeda.

Nah begitu jugalah yang terjadi saat anda anda melakukan perjalanan untuk melihat dunia. Indonesia memang indah. Indonesia memang kaya akan budaya. Namun bau kita sama. Warna kita sama. Kita adalah bangsa Indonesia dengan sejarah yang sama dan wawasan  nusantara yang sama. Dari Sabang sampai Merauke, presiden pertama kita tetap Soekarno. Dari Sabang sampai Merauke, ibu pertiwi kita sama. Dari Sabang sampai Merauke mata uang kita adalah Rupiah. Dari Sabang sampe Merauke kita menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Beragam-ragam suku dan budaya pun dapat kita lihat dalam pergaulan. Walaupun kita tidak dapat mengetahui secara mendalam kebudayaan-kebudayaan yang ada, namun setidaknya kita dapat melihatnya dalam keseharian hidup kita. Kita membicarakan politik yang sama (Jokowi dan Prabowo), kita membicarakan situasi yang sama (kebakaran hutan dan pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia), kita menggunjingkan isu yang sama (apakah benar pejabat x memiliki affair dengan penyanyi y?).  

Pernah berpikir nggak sih kenapa bule-bule banyak yang suka tinggal di Indoneisa? Karena kekayaan alam kita? Atau karena budaya ramah tamah kita? Atau karena di Indonesia semua begitu murah dan mudah didapatkan dibandingkan di negara mereka sendiri?

Pernahkan kalian berpikir kalau bukan hanya itu alasan sebenarnya? Pernahkan kalian berpikir kalau negeri mereka sebenarnya jauh lebih rapi, teratur, bersih, bebas polusi, dengan kekayaan alam yang tidak kalah indahnya? Bahkan beberapa dari mereka memiliki empat musim sementara kita hanya memiliki musim panas (musih hujan dan kemarau actually, namun di musim hujan pun masih tetap saja panas secara kita negara beriklim tropis)? Kenapa justru mereka suka berada di Indonesia yang semerawut, sampah dimana-mana, panas, dan masih primitif dibandingkan negara mereka yang maju?

Jangan buru-buru GR dan kePDan menyimpulkan karena bule-bule itu lebih mencintai negeri kita dibandingkan negerinya sendiri. Karena kasus anak lebih mencintai ibu tiri dibandingkan ibu kandung hanya 1:10. Pernahkah kalian berpikir semua alasannya adalah karena mereka merasakan suasana yang berbeda? Suasana yang tidak mereka dapatkan di negara asal mereka dan mereka dapatkan di negara kita?

Nah, hal itu pula lah yang ingin saya sampaikan kepada anda. Kita memang punya Raja Empat yang mengalahkan indahnya Krabi dan Phuket. Kita mungkin punya Borobudur yang tak kalah megahnya dari Angkor Wat. Kita juga punya Puncak Jayawijaya yang berselimut salju layaknya pegunungan Swiss. Kita punya Badak bercula satu yang tidak mungkin ditemukan di Afrika.

Namun bukan itu semata :

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG BUKAN SEMATA MENGENAI TEMPAT-TEMPAT INDAH.

Perjalanan menuju negeri orang adalah untuk menikmati keseluruhan perjalanan : tentang mendapatkan teman baru dari berbagai belahan dunia dan berinteraksi dengan mereka, merasakan menu-menu masakan baru yang tidak dijumpai di negeri kita, menikmati perbedaan iklim dan cuaca, melihat varietas tumbuhan yang berbeda, mempelajari sejarah yang berbeda, melihat kebiasaan yang berbeda, menggunakan mata uang yang berbeda, berpikir dan bertindak dari sudut pandang yang berbeda.

Perjalanan menuju negeri orang adalah mendengar, melihat, dan merasakan. Percayalah, seberagam-beragamnya budaya Indonesia, saat anda berada di negeri orang, tetap saja anda akan merasakan sensasi yang berbeda dibandingkan saat melakukan perjalanan di negeri sendiri.

Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan merasakan sensasi susahnya menghitung kurs mata uang asing saat hendak membeli barang untuk membuat perhitungan mahal tidaknya barang tersebut. Jika anda menjelajahi negeri sendiri, kalian tidak akan merasakan sensasi susahnya berdialog dengan bahasa tarzan (rata-rata orang Indonesia bisa berbahasa Indonesia walaupun tidak fasih, namun tidak semua warga negara yang anda kunjungi mengerti bahasa inggris). Jika anda menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan merasakan sensasi rindu akan masakan negeri sendiri (dua minggu makan masakan asing akan cukup membuat anda merindukan Indonesia) atau sensasi susahnya mencari NASI (ini nestapa kalau traveling ke negara luar Asia).

Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan melihat dengan mata kepala sendiri dan kemudian merasa MALU betapa kotornya negara kita (bahkan negara Kamboja dan Laos yang hitungannya lebih terbelakang dari kita, bisa terlihat lebih bersih). Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan bersyukur betapa murahnya harga air mineral dan bahan bakar di negara kita dibandingkan negara lain (di negara eropa satu botol air mineral 250 ml berharga kurang lebih Rp. 15.000,- sementara di negara kita hanya Rp. 3.000,-). 

Selain itu, selama melakukan perjalanan, saya sebisa mungkin menjalin interaksi dan pertemanan dengan warga negara setempat atau warga negara lainnya yang sama-sama rekan seperjalanan. Saya punya banyak kenangan lucu dengan rekan-rekan seperjalanan yang membuat kami akhirnya berteman hingga saat ini.

Ada seorang kawan berkewarganegaraan New Zealand yang sama-sama tertinggal pesawat dari Singapura menuju Colombo. Ada seorang kawan dari Cairo yang sama-sama berprofesi sebagai seorang lawyer. Ada seorang kawan dari Seoul yang sama-sama baru resign dari pekerjaan lama dan melakukan perjalanan sebelum memasuki pekerjaan baru. Ada seorang kawan pemilik restaurant di Brunei yang ternyata memiliki istri orang Jawa.

See, perjalanan menuju negeri orang bukan semata mengenai tempat-tempat indah namun juga pengalaman.

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG BUKAN SEMATA-MATA DATANG, BERFOTO-FOTO, UPDATE STATUS DI MEDIA SOSIAL UNTUK PAMER.

Paling sebel kalau liat orang yang pergi ke luar negeri, tapi dia nggak bisa menceritakan ulang keseluruhan perjalannya. Dia lupa (atau nggak peduli?) nama-nama tempat wisata yang dia kunjungi, dia nggak tau sejarah dan keunikan daerah yang dia kunjungi, bahkan dia nggak tau nama ibu kota negara yang dia kunjungi.

Serius. Orang seperti ini benar-benar ada.

Jenis orang seperti ini melakukan perjalanan hanya untuk life style semata : pergi ke luar negeri supaya dianggap tajir, berfoto dengan pose keren, update status di media sosial, shopping, dan kemudian beli oleh-oleh. Pada saat tour ke tempat wisata, orang-orang ini memilih tidak mendengarkan penjelasan pemandu wisatanya dan memisahkan diri untuk berfoto ataupun shopping.

Kejadian seperti ini sering sekali saya jumpai. Sungguh menyedihkan jika perjalanan ke negeri asing hanya dijadikan sebuah gaya hidup dan simbol status sosial. Harusnya melalui perjalanan tersebut kita mendapatkan pengalaman berharga dan pengetahuan yang dapat kita ceritakan kepada orang lain. Nggak harus hafal semua tempat yang kita kunjungi, karena memori kita memang terbatas. Namun setidaknya kita mengerti kisah dibalik tempat-tempat yang kita kunjungi dan bisa menjadikannya pengetahuan yang menambah wawasan kita.

Ya… ya.. I know kita bisa mempelajari sesuatu hanya melalui internet tanpa harus mengunjungi tempat aslinya. Namun pernahkan anda berada dalam situasi ini : dimana pelajaran sekolah yang anda baca dari buku terasa sangat membosankan dan sulit anda mengerti? Namun ketika anda melihat dan mengalami sendiri dalam kehidupan sehari-hari justru lebih mudah dipahami dan diingat?

Nah begitu pula dengan melakukan perjalanan dengan kaki dan mata sendiri. Apa yang anda baca di internet bisa terlupakan begitu saja. Namun saat anda mengalaminya sendiri, pengalaman tersebut akan selalu terkenang.

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG TIDAK HARUS MAHAL

Banyak sekali yang nyinyir dan bilang : “Ya kalau ada uang, gw juga mau kali jalan-jalan keliling dunia.” Tapi yang komentar kayak gini setiap hari beli rokok satu bungkus dan jajan di restaurant.

Mari berhitung :

Rokok 1 bungkus                    = Rp. 20.000,-
Beli makan di restaurant         = Rp. 60.000,-
Dalam sebulan                        = (Rp. 20.000,- x 30) + (Rp. 60.000,- x 30)
                                                = Rp. 2.400.000,-

Dalam setahun                         = Rp. 2.400.000,- x 12
                                                = Rp. 28.800.000,-

Orang itu menghabiskan uang setahun Rp. 28.800.000,- hanya untuk jajan dan rokok.

Bayangkan! Itu uang yang banyak lho. Dengan uang sebanyak itu saya bisa melakukan perjalanan ke negara Eropa.

Coba saja jika orang itu mau mengurangi konsumsi rokoknya menjadi 2 batang sehari dan nggak usah jajan direstoran alih-alih bungkus bekal makanan dari rumah, dia bisa lho berhermat dan menggunakan alokasi dana tersebut untuk jalan-jalan.

Lagi pula jalan-jalan ke luar negeri nggak harus mahal jika di rencanakan dengan baik. Sedikit tips dari saya :

1.     Beli tiket promo.
Rajin-rajin deh pantengin internet buat cari tiket promo. Walaupun akhirnya jadwal keberangkatan kita tidak mengikuti kemauan kita tapi mengikuti jadwal tiket promo.

2.     Tinggal di hostel, jangan hotel bintang. Dan sharing kamar dengan teman seperjalanan.

3.     Naik transportasi umum selama traveling. Jangan manja sok cantik dan sok ganteng naik premium travel. Justru dengan naik kendaraan umum anda akan belajar dan mengenal negara yang anda kunjungi dengan lebih baik.

4.     Kalau dana sedang pas-pasan, jangan pergi ke negara dingin (butuh bagasi banyak karena haraus bawa jaket tebal dan perlengkapan musim dingin), jangan pergi ke negara yang pakai visa atau visa on arrival (biaya visa lumayan memberatkan), jangan pergi ke negara yang ada pajak airport tambahan diluar dari harga tiket. 

5.     Jangan pergi pada saat musim liburan karena harga tiket penerbangan dan hotel biasanya lebih mahal.

6.     Kalau ke luar negeri, jangan shopping. Ingat, anda pergi untuk berwisata, bukan untuk belanja!
 
7.     Nggak usah pedulikan titipan oleh-oleh. Selain menghabiskan dana juga berat kan bawa belanjaan ke mana-mana. Anda tidak berdosa jika tidak membeli oleh-oleh. Ingat sekali lagi, anda pergi untuk berwisata, bukan untuk belanja! Apalagi belanjain orang lain.

Dan tahukah anda, tak jarang biaya perjalanan ke luar negeri jauh lebih murah atau sebanding dengan biaya perjalanan dalam negeri?

Hah??? Kok bisa???

Ya bisa lah. Harga tiket penerbangan negara ASEAN dan Asia Timur tidak lagi tertalu mahal. Bahkan harga tiket Jakarta - Tokyo PP bisa lebih murah dari harga tiket Jakarta - Jayapura PP. Harga tiket Jakarta - Macau PP sama dengan harga tiket Jakarta – Palembang PP. Harga tiket  Jakarta – Manila PP sama dengan harga tiket Jakarta – Manado PP.

Nggak percaya? Makanya sering-sering cek harga tiket penerbangan di internet.

LEBIH BAIK MENGHABISKAN UANG UNTUK MELIHAT DUNIA DIBANDINGKAN UNTUK HIDUP HEDON

Hangout di restaurant mahal, belanja barang-barang bermerek, beli gadget puluhan juta, tapi nggak pernah ke mana-mana? Yah, itu memang pilihan hidup. Ada yang menganggap tampilan keren dan gaya hidup mewah jauh lebih penting dari sekedar menambah pengalaman. Anda bebas menentukan pilihan hidup anda.

Tapi kalau saya boleh berkomentar dengan mulut saya yang tajam dan memang suka ngomentari segala macam hal, gaya hidup seperti itu bodoh. Anda hidup hanya sekali. Untuk apa menghabiskan uang untuk membeli makanan mahal setiap harinya? Toh makanan itu bakalan jadi kotoran diperut anda dan juga membuat badan gemuk. Punya barang-barang bermerek nggak ada salahnya. Tapi sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Jangan sampai gaji cuma 5 juta tapi maunya semua baju harus merek Zara. Mampus aja kalau gaya hidup seperti.

Terus anda pikir dengan sering nongkrong ditempat fancy dengan memakai barang-barang bermerek, anda menjadi keren begitu? Coba, kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita bagaimana lelahnya menyusuri tembok cina? Kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita dinginnya pegunungan Himalaya? Kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita indahnya sakura bermekaran?

Beda lagi kalau memang anda berduit tajir melintir, anda bisa liat dunia, anda juga bisa hidup hedon. Semua anda bisa! Tapi bagi yang hidupnya biasa-biasa saja? Saya suka gemes lihat anak muda yang hidupnya hedon banget tapi nggak mau melihat dunia. Nih ya, kalau hidup hedon hanya supaya terlihat berduit dan keren, uang anda habis percuma. Gak semua orang akan menganggap anda keren. Tapi jika anda melihat dunia, anda akan mendapatkan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan.

Yah. Lagi-lagi kembali pada pilihan dan pandangan hidup anda sih.

Hanya saja pesan saya bagi anak-anak muda kekinian Indonesia : “Hai pemuda Indonesia, selagi ada kesempatan, waktu, dan uang, kemasilah pakaian kalian, pakailah sepatu ternyaman kalian, dan pergilah sejauh mungkin dari rumah kalian untuk melihat! Dunia terlalu luas untuk kalian lewatkan.”

Dan telah ke mana sajakan saya sehingga bisa berbicara panjang lebar dengan sangat sombongnya seperti ini? Nggak banyak. Saya hanya seorang traveler pemula yang baru mengunjungi 30 negara. Masih ada kurang lebih 162 negara lagi menunggu untuk saya tapaki.
 
Oh, dunia itu sungguh luas…sayang sekali jika anda terkungkung oleh doktrin jalan-jalan di negeri sendiri saja sudah cukup.

Jumat, 23 Oktober 2015

HIGH SCHOOL NEVER ENDS!


Sebelumnya saya pernah menuliskan tentang Manusia-Manusia Tak Kasat Mata di Bangku Sekolah. Tentang mereka yang tersingkirkan dan teraniaya dari pergaulan di bangku sekolah tanpa mengerti apa salah mereka. Ya. Manusia-manusia Tak Kasat Mata memang benar adanya. Namun yang saya sadari, mereka tidak hanya menghuni bangku sekolah, namun ada dimana pun.

Saya mengajak anda semua memutar kembali ingatan tentang masa sekolah anda, terutama masa dimana anda duduk dibangku SMA. Yup masa yang sering kali disebut-sebut sebagai masa keemasan. Mungkin memikirkan masa SMA, anda akan mendapati kenangan indah tentang masa-masa kebersamaan tanpa batas waktu bersama teman, masa-masa menemukan cinta pertama, masa-masa bersenang-senang dan menikmati hidup, masa-masa dimana tidak ada beban pikiran tentang uang dan pekerjaan.

Tidak begitu halnya dengan saya.

Saya memikirkan masa SMA sebagai cikal-bakal pengklasifikasian sosial masyarakat. Saya memikirkan masa SMA sebagai salah satu cikal-bakal munculnya manusia-manusia yang tidak bisa move on dari impian untuk menjadikan diri lebih “tinggi” dari manusia lainnya. Saya berpikir bahwa masa SMA adalah masa munculnya persaingan sosial dan labeling.

Lho kok bisa?

Ya bisa dong. Coba pikirkan saja.

PENGELOMPOKAN MENCIPTAKAN KASTA DAN STATUS SOSIAL
 
Berdasarkan sejarah, manusia memang telah mengalami pengklasifikasian dan diferensiasi secara sosial semenjak dahulu kala. Tidak hanya oleh sistem dalam masyarakat namun juga dalam filosifi keagamaan. Pernah dengar kan pembagian kasta di Agama Hindu? Diferensiasi Kulit Hitam dan Kulit Putih? Sebutan si kaya dan si miskin? Bahkan pembedaan gender dalam pekerjaan? Dan itu berlaku global lho. Jadi bagaimana bisa saya mengatakan bahwa masa SMA sebagai salah satu cikal-bakal pengklasifikasian dan diferensiasi sosial masyarakat?

Pernahkah anda berpikir saat SMA dulu secara tidak langsung anda terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok? Saya rasa mustahil jika anda tidak pernah merasa demikian. Bahkan disekolah homogen (sekolah yang hanya boleh untuk cewek, atau hanya boleh untuk cowok) atau sekolah berasrama pun saya rasa pengelompokan ini tetap ada walaupun dalam skala yang lebih kecil.

Dasar dari pengelompokan ini beragam-ragam di setiap sekolah. Namun saya rasa yang pasti ada dalam setiap sekolah adalah kelompok-kelompok berikut :

KASTA ATAS

      Kelompok Populer
 
The most wanted group yang menjadi impian semua anak adalah agar bisa tergabung dalam kelompok anak popular. Mereka ini biasanya beranggotakan anak-anak orang kaya atau anak-anak berpenampilan menarik. Jadi jelas. Mereka terkenal karena cantik/ganteng, atau karena sekolah dengan fasilitas mentereng sehingga menjadi pusat perhatian.

Biasanya Kelompok Populer ini suka mengekslusifkan diri dalam artian : Gue nggak level sama lo! Mereka memilih pergaulan hanya dengan yang mereka anggap sama kerennya atau sama kayanya dengan mereka. Dan nggak jarang anak-anak ini pun terkadang menjadi favorite para guru-guru. Yah, secara orang tua mereka ini adalah donatur tetap di sekolah, sehingga para guru ini cenderung lebih menghargai dan memperhatikan anak-anak ini (nggak semua guru seperti ini, tapi tetap ada satu dua di sebuah sekolah).

Nggak semua anak Kelompok Populer ini menindas kelompok lainnya. Namun karena terlalu sering menjadi pusat perhatian mungkin mereka menjadi tinggi hati, atau bahkan muak. Jadi lah pencitraan angkuh dan sombong melekat pada diri mereka. Padahal sebenarnya, mungkin mereka hanya lelah. Lelah diperhatikan, lelah harus bersikap sempurna, lelah menjadi anak orang kaya, lelah akan segala hal, dan lelah karena banyak yang iri kepada mereka.

Kelompok Anak Pintar
 
Kelompok anak pintar ini adalah mereka yang selalu menduduki peringkat kelas dan masuk dalam kelas unggulan. Mereka rajin dikirimkan untuk mengikuti kompetisi –kompetisi kejuaraan. Mereka juga menjadi kebanggaan dan kesayangan para guru.

Keberadaan mereka bisa diterima oleh kelompok-kelompok lainnya, karena mereka pintar. Kelompok lainnya membutuhkan kelompok anak pintar ini. Bukan hanya untuk alasan akademis (nyontek PR, mengerjakan tugas kelompok, pinjam catatan) tapi karena rasanya memang susah untuk membenci orang pintar.

Mereka ini selalu dijadikan suri teladan oleh para guru. Dibangga-banggakan serta disanjung-sanjung. Nama mereka kerap menghiasi media berita serta upacara sekolah, tentang bagaimana mereka mengharumkan nama sekolah dengan prestasi-prestasi yang mereka raih. Anak-anak lain bisa saja iri atas kecantikan/ketampanan anak-anak kelompok popular. Tapi iri pada kepintaran seseorang rasanya salah. Lu mau pintar? Ya belajar. Kalau faktor muka, itu sudah takdir (jadi banyak yang iri).

KASTA MENENGAH KEATAS

      Kelompok Anak Ekskul
 
Ini adalah kelompok anak-anak yang aktif bersosialisasi dan beraktifitas. Mereka juga popular karena aktif hampir disegala kegiatan sekolah. OSIS, basket, cheerleader, acara pagelaran seni, acara kemanusiaan, pokoknya aktif dalam segala hal.

Nah karena kadar keaktifan mereka inilah, nama mereka menjadi harum mewangi walaupun mereka tidak termasuk dalam KASTA ATAS. Mereka menjadi banyak dorang dan memiliki pengaruh yang cukup dalam dunia pergaulan SMA. Terkadang nama ekskul mereka pun melekat pada nama asli mereka. Seperti Edward anak basket, Bella cheerleaders, Jacob anak OSIS, Alice anak PASKIBRA (ini nama anak-anak ekskul atau nama karakter Twilight coba?)

Yah intinya, jika lu tidak bisa masuk dalam KASTA ATAS karena wajah dan otak pas-pasan, atau karena nggak punya banyak uang, cobalah untuk aktif di ekskul agar memiliki pergaulan yang lebih terhormat. Itu akan menyelamatkan kehidupan SMA lu karena setidaknya lu akan dikenal sebagai “sesuatu”.

KASTA MENENGAH KEBAWAH
     
      Kelompok Pemberontak
 
Sudah jelas. Isinya preman, ahli hisap (ganja maupun rokok), tukang pukul, tukang bolos, tukang teler.

Kelompok Biasa-Biasa Saja
 
Mereka benar-benar biasa-biasa saja. Dalam segi apa pun. Mereka tidak berniat menonjolkan diri. Baik untuk hal positif, maupun untuk hal yang negative. Tujuan utama mereka hanya sekolah. Lulus. Titik.

Kelompok Gak Jelas

Ini kelompok anak-anak yang nggak jelas maunya apa. Mau jadi pintar enggak, mau aktif ekskul enggak, mau nakal sekalian juga enggak. Datang ke sekolah datar-datar saja, pulang sekolah datar-datar saja. Mereka nggak ditindas, nggak juga diabaikan. Orang tau keberadaan mereka, tapi belum tentu tahu nama mereka. Sehingga nggak jarang nama mereka justru lebih cepat dilupakan dibandingkan anak-anak yang menyandang predikat culun sekali pun.

Apa bedanya mereka dengan Kelompok Biasa-Biasa Saja? Kelompok Biasa-Biasa saja memiliki statistika yang stabil. Dalam artian dari awal masuk SMS sampai dengan lulus, ya begitu-begitu saja. Sementara kelompok Gak Jelas ini biasanya kurang memahami hasrat mereka sendiri sehingga tak jarang mereka terjerumus dengan mudah dalam Kelompok Pemberontak.

KASTA BAWAH DAN TERANIAYA

      Kelompok Anak Culun
 
Kalau anda tau definisi culun, tidak perlu dijelaskan lagi.

Kelompok Tertindas dan Terbuang
 
Jika Kelompok Anak Culun masih memiliki komunitas, tidak halnya dengan Kelompok Tertindas dan Terbuang. Mereka definitely alone! Mereka berjalan di lorong-lorong sekolah seorang diri, makan siang sendiri, melalui hari-hari disekolah tanpa teman. Kalaupun memiliki teman, jumlahnya sangat terbatas.

Kelompok Anak Culun masih memiliki tempat nongkrong rutin di perpustakaan sekolah atau laboratorium kimia. Sementara Kelompok Tertindas dan Terbuang nyaris tidak memiliki tempat untuk mengadu dan bersandar. Mereka seperti orang linglung yang sendu dan akhirnya memilih untuk mengutuk sekitarnya. Mereka tidak pernah tahu apa kesalahan mereka sehingga tersingkirkan. Yang mereka tahu, mereka tidak diinginkan.

STATUS SOSIAL MENYEBABKAN PENINDASAN
 
Pengelompokan-pengelompokan seperti ini tanpa disadari jadi pemicu adanya budaya bullying. Kelompok-kelompok yang merasa superior dan punya banyak pendukung merasa berhak berlaku semena-mena kepada anggota kelompok lain yang kastanya lebih rendah. Dan kelompok lainnya yang tidak memiliki kekuasaan karena berada di KASTA MENENGAH, hanya bisa melihat dan tidak mampu bertindak apa-apa. Mereka merasa sudah berada di zona aman dan tindakan membela akan melempar mereka ke kasta yang lebih rendah.

Sebaliknya, mereka yang berada dikasta bawah seolah sudah melabeli dirinya sendiri untuk dibully, sehingga mereka pun tidak melakukan melakukan upaya apa-apa untuk menghindari tindakan bully tersebut. Mereka sudah menyerah pada label yang melekat pada diri mereka sendiri.

Bulliying ini juga banyak bentuknya. Bukan hanya dalam bentuk kekerasan fisik saja (memukul dan menyiksa), tapi dalam bentuk ucapan dan perlakuan. Mengejek, merendahkan, dan tidak mengorangkan seseorang juga bentuk bulliying sebenarnya. Bodohnya, anak-anak ini menganggap sikap bullying mereka ini lucu dan menghibur.

Yang lebih tragis, dengan semakin berkembangnya media komunikasi (terutama media sosial), aksi bullying yang dilakukan oleh anak-anak SMA ini malah menjadi viral. Mereka dengan bangganya menampilkan aksi bullying yang mereka lakukan di media sosial. Ada juga yang merekam aksi bullying yang dilakukan oleh temannya. Merekam. Bukannya menghentikan. Situasi yang menunjukan betapa menyedihkannya moral yang terbentuk di bangku SMA.

Panggilan-panggilan merendahkan yang terkait fisik, pekerjaan orang tua, asal muasal dan kondisi ekonomi pun tercipta dan menjadi hal yang dianggap lumrah, seperti : Si Cebol, Si Bogel, Si Tukang Sapu, Si Kere, Si Medok. Yang memberi nama panggilan menganggap lucu, dan yang dipanggil tidak memiliki kuasa untuk menolak, yang mana sebenarnya hal ini merendahkan rasa kemanusiaan dan bukan untuk menjadi bahan becandaan.

Ini lah kondisi riil yang terjadi dan tercipta dibangku sekolah. Bahkan guru dan pembimbing sekali pun tidak mampu untuk melarang serta menghentikannya.

STATUS SOSIAL MENCIPTAKAN PERSAINGAN
 
Sebagai akibat dari pengelompokan ini, kehidupan SMA pun tidak lepas dari obrolan seputar si ini dan si itu. Mereka terobsesi untuk menjadi ini dan itu. Mereka saling memamerkan. Mereka ingin menjadi lebih dari yang lainnya. Mereka sebenarnya ingin menempati kelas sosial tertinggi. Mereka ingin terlihat paling keren-paling hebat.

Persaingan atas kepemilikan harta dimulai dari usia yang sangat muda. Mereka yang berasal dari KASTA ATAS merasa wajib untuk memiliki benda-benda yang paling updated untuk mempertahankan gelar mereka sebagai anak popular. Mereka bersaing untuk menunjukan milik siapa yang paling bagus. Tas, sepatu, jam tangan, mobil… luar biasa bagaimana mereka menghabiskan uang orang tua mereka hanya untuk persaingan dan sekedar label “keren”.

Sebaliknya mereka yang berada di KASTA MENENGAH dan KASTA BAWAH, melihatnaya dengan tatapan iri dan rendah diri karena tidak bisa memiliki barang-barang seperti itu. Akhirnya yang orang tuanya biasa-biasa saja hanya mampu membeli barang-barang KW untuk menggantikan barang-barang branded. Tetap saja, semuanya melahirkan budaya konsumerisme.

Saya teringat suatu kisah dimana anak kenalan saya tidak mau ke sekolah karena seluruh anggota gengnya memiliki sepatu merk tertentu (yang harganya lumayan mahal) sementara dia belum punya. Anak ini mengaku merasa malu dan takut diejek karena tidak mampu membeli. Terlebih lagi, dia takut akan dikeluarkan oleh gengnya dan dia tetap ingin mendapatkan lebel popular dimata teman-temannya.

Jadi lah si ibu terpaksa meminjam uang hanya untuk membelikan si anak sepatu bermerk tersebut. Luar biasa. Karena budaya konsumerisme ini lalu berubah menjadi budaya hutang. Budaya hutang hanya karena kehidupan sekolah. Padahal siapa yang peduli sih label yang melekat pada jaman sekolah? Karena yang terpenting tetaplah menjadi apa kita kelak setelah meninggalkan bangku sekolah.

Singkatnya, percuma saja jaman SMA dulu lu pakai barang-barang mahal, bawa mobil keren dan suka pamer selangit, kalau buntut-buntutnya setelah lu masuk dunia kerja lu gak bisa survive. Akhirnya? Orang tua lu sudah tua, sudah pensiun, harta sudah habis pula buat membiayai gaya hidup lu, sekarang lu kerja nggak jelas dan menghilang dari pergaulan karena malu lu ternyata gak bisa jadi apa-apa.

Dan ini saya menuliskan hal ini bukan sembarangan lho. Saya melihat banyak teman-teman yang dulu belagu setengah mati, pamer kanan kiri, petantang petenteng, mengandalkan uang orang tua, pokoknya jaman SMA dulu super banget lah! Super sombongnya maksudnya. Sekarang? Apakah yang terjadi pada dirinya? Hidupnya masih begitu-begitu saja. Kerja nggak berhasil bersaing, belum ada kemajuan, rumah masih numpang orang tua (mungkin malah sengaja tinggal disitu terus sampai diwariskan ke dia) lebih menyedihkan lagi dia masih bergantung pada orang tua.

Sebaliknya, beberapa teman saya yang masa SMAnya dulu ”nestapa” hidup penuh penindasan, pakai seragam saja sampai buluk warnanya, sepatu diikat pakai karet karena sudah mengangga, mereka sekarang malah udah jadi boss, sudah punya rumah sendiri, bolak-balik perjalanan dinas keseluruh nusantara, karier cemerlang menanti.

Ada pula yang dulu selalu dikata-katai karena bertampang “nggak cakep” dan nggak terlalu pintar, sekarang malah punya istri cantik (lebih cantik dari istrinya orang yang ngata-ngatain dia dulu), sudah punya usaha sendiri, hidup berkecukupan, punya mobil bagus.

See?

AND RUMOR FLIES EVERYWHERE
 
Karena sudah menjadi sifat alamiah setiap manusia untuk membicarakan satu sama lain, entah itu baik, entah itu buruk. Jaman SMA gossip bisa menyebar dengan cepat dan menjadi sangat jahat. Gosip bisa menyebabkan seseorang tidak mau masuk sekolah berhari-hari lamanya karena malu. Gosip bisa menyebabkan seseorang pindah sekolah. Gosip bisa mengubah kehidupan seseorang. Gossip bisa menghancurkan kehidupan seseorang.

Apalagi bila gossip itu disebarkan oleh anak-anak dari KASTA ATAS. Gossip itu akan menjadi perhatian serius hingga melibatkan pihak orang tua dan guru.

“Si A hamil.”

“Si B tidur dengan Guru C.”

“Si D selingkuh.”

“Si E klepto.”

The power of gossip.

Dan anak-anak SMA dengan mental dan emosi yang belum stabil ini sangat mudah untuk dijadikan sasaran empuk. Anak-anak SMA tanpa pemikiran panjang ini dengan mudahnya menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya, tanpa tahu akibatnya.

BUDAYA SMA TERBAWA HINGGA TUA
 
Oke, done tentang nostalgia jaman SMA dan kembali ke dunia saat ini kita berada.

Setelah memasuki dunia kerja, saya pikir tingkah laku jaman SMA yang berkelompok-kelompok, suka mem-bully, pamer kanan-kiri dan bersaing dan bergosip ini sudah ditinggalkan dan berganti dengan pemikiran-pemikiran dewasa, cerdas dan penuh tanggung jawab. Tapi ternyata tidak demikian. High School is Never Ends.
 
Ini bukan dunia seperti yang saya pikirkan dan harapkan ketika saya memasuki dunia kerja. Saya dulu berpikir : Oke, cukup semua drama yang terjadi saat dibangku sekolah. Akhirnya saya terbebas dari semua itu. Ini saatnya menghadapi dunia nyata, dimana orang bersaing demi karier dan tidak akan mencampuri kehidupan masing-masing.

Namun tidak demikian yang terjadi.

Walaupun tidak terjadi di setiap tempat kerja, betapa herannya saya masih menemukan dengan mata kepala sendiri dan mendengar cerita tentang praktek-praktek jaman SMA yang masih berlangsung di tempat kerja. Manusia-manusia “tua” ini masih saja hidup dalam kelompok-kelompok yang mereka ciptakan sendiri. Masih saja suka memamerkan harta benda. Masih saja bersaing mendapatkan label “paling”. Masih saja membicarakan satu sama lain.

MEREKA TETAP SAJA TERBAGI DALAM KELOMPOK-KELOMPOK.
 
Di tempat kerja saya melihat, cewek-cewek tetap memiliki geng-gengnya sendiri dan mereka enggan membiarkan orang lain masuk kecuali orang itu dianggap memenuhi kriteria untuk bergabung dalam geng mereka. Maka di tempat-tempat kerja, geng-geng ini makan siang hanya bersama anggota gengnya, menyisakan karyawan-karyawan tanpa geng bergaul seorang diri.

Yah mungkin sebagai makhluk sosial sampai kapan pun manusia akan tetap terbagi-bagi dalam golongan-golongan tertentu. Namun lingkungan kerja itu adalah lingkungan yang kecil. Seharusnya pekerja-pekerja bisa hidup berbaur tanpa harus membuat sekat-sekat. Diperusahaan yang paling besar sekalipun, katakanlah satu ruangan ditempati oleh 50 orang, harus kah mereka membentuk geng dan mengekslusifkan diri?

MEREKA TETAP SAJA BERSAING DALAM SEGALA HAL

Ya. Dalam segala hal.

Jika persaingan sehat demi karier itu hal yang wajar. Namun tidak demikian. Mereka bersaing dalam segala hal. Yang satu beli I-Phone terbaru, maka yang lainnya tidak mau kalah. Yang satu beli mobil baru, yang lainnya pun begitu. Mereka saling memamerkan foto rumah mereka. Tas branded pun tak ketinggalan menjadi persaingan mereka, kalau satu orang aja ada yang beli tas merk tertentu , maka yang lainnya pun bergegas membeli juga. Pokoknya nggak boleh sampai ketinggalan lah.

Apalagi kalau menyangkut anak. Jika ada satu orang yang menceritakan kehebatan dan prestasi anaknya, anakku bisa begini, anakku bisa begitu, lalu yang lainnya pun membeo, tidak mau kalah menceritakan keungulan anaknya.

Nah, persaingan yang paling telak dan tidak bisa dipungkiri lagi adalah betapa cantiknya/gantengnya pasangan mereka. Kalau itu, rame-rame pun bisa menilai kan ya. Jadi yang pasangannya biasa saja cenderung jelek, relative agak tertutup dan nggak mau mengumbar-umbar foto pasangannya. Nah, yang pasangannya ganteng, keren, cantik, dan menarik, biasanya merasa puas dan hobi pamer foto pasangannya dimana pun : di wall screen computer ada, di meja ada pigura, dimana-mana lah ya.

 Masalah baju, sepatu, perhiasan pun tak luput dari persaingan. Terutama dikalangan wanita. Mereka berlomba-lomba memiliki berlian yang paling mahal dan memamerkannya. Baju dan sepatu, harus di ganti setiap bulannya, supaya nggak kalah sama yang lain. Kalau ada yang punya baju model terbaru, yang lain buru-buru ikutan beli. Jadinya kantor sudah kaya panti asuhan saja karena bajunya sama semua.

MEREKA TETAP SAJA BERGOSIP SEPERTI JAMAN SMA.
 
Saya pikir di dunia kerja orang berhenti bergosip dan berhanti saling membicarakan dibelakang karena mereka tidak punya waktu lagi untuk itu. Apalagi mengingat bertambahnya umur dan kematangan pribadi sehingga dapat bersikap lebih bijaksana. Tapi saya salah.

Gossip di dunia kerja lebih berbahaya dan mematikan, karena bisa menghancurkan karier dan citra diri. Terlebih lagi, gossip di dunia kerja tidak hanya terbentuk karena selentingan semata, namun terkadang karena opini pribadi. Opini pribadi yang disampaikan seseorang  kemudian melebar dan mempengaruhi orang lain, sehingga menyebar menjadi opini publik.

Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan logika dan nalar seseorang harusnya berkembang. Namun sayanganya yang terjadi, opini pribadi yang berkembang menjadi opini publik lebih kuat pengaruhnya dibandingkan nalar dan logika. Ini sangat jahat karena bisa membuat seseorang menjadi Public Enemy  tanda disadari dan tanpa yang bersangkutan melakukan kesalahan fatal.

HIGH SCHOOL NEVER ENDS!

Ya, pada kenyataannya yang terjadi dalam masyarakat, high school is never ends! Mereka semua mengulangi apa yang mereka lakukan di jaman SMA, tentang siapa yang terbaik, siapa yang terhebat, siapa yang tersukses. Jadi ingat lirik lagunya Boiling for Soup.

The whole damn world is just as obsessed,
With who's the best dressed and who's having sex
Who's got the money, who gets the honeys
Who's kinda cute and who's just a mess
And you still don't have the right look
And you don't have the right friends
Nothing changes but the faces, the names, and the trends

Saya berpikir, jika saja semenjak dini sistem sosial dalam kehidupan anak sekolah tidak salah, mungkin akan lain ceritanya. Klasifikasi dalam kehidupan sosial tentunya akan tetap ada, namun setidaknya kualitas pergaulan akan menjadi lebih sehat. Saya jadi merindukan masa-masa duduk dibangku SD dan SMP di kota kecil yang tertinggal. Saat dimana jiwa-jiwa masih murni dan tulus. Tanpa persaingan, tanpa opini public, tanpa kemunafikan dan prasangka.
 
Saat ini saya memiliki seorang anak perempuan yang belum lagi berusia dua tahun. Namun saya berpikir, apa dan bagaimanakah nantinya kehidupan jaman SMAnya? Akan dikelompokan dalam kasta apakah dia? Jika dia termasuk dalam KASTA ATAS, akankah dia tetap menjadi anak yang manis, rendah diri dan baik hati? Jika dia nantinya termasuk dalam KASTA BAWAH DAN TERANIAYA sanggupkan dia bertahan dan mengacuhkannya? Saya mungkin saja (dan harus) membentuk pribadinya dengan baik. Namun dengan keterlibatan dan campur tangan kehidupan SMA setiap harinya, mampukah dia mempertahankan apa yang telah ditanamkan oleh orang tuanya?

Minggu, 04 Januari 2015

Anak Kita BUKAN Investasi Masa Depan!



“Investasi Masa Depan”

Begitulah judul yang diberikan teman saya untuk foto anaknya yang dia unggah di media sosial. Foto itu menampilkan seorang anak perempuan cantik berusia sekitar lima tahun, yang tersenyum lebar memamerkan giginya yang ompong. Raut muka gadis kecil itu polos dan mata bulatnya yang indah memancarkan keluguan.

Saya berusaha mencari benda yang dimaksud teman saya dengan sebutan “Investasi Masa Depan” dalam foto tersebut. Tapi nihil. Foto itu murni hanya menampilkan si gadis cilik cantik, tanpa lembaran saham, buku tabungan, emas batangan, sertifikat tanah ataupun gundukan duit.

“Investasi Masa Depan”.

Saya membaca ulang judul foto itu dan tertegun. Oke, jadi yang dimaksud dengan “Investasi Masa Depan” adalah si gadis cilik cantik itu? Begitukah teman saya mengartikan makna anaknya?

Saya kembali memikirkan arti kalimat tersebut dan tiba-tiba yang terbayang di otak saya adalah Gisela (anak perempuan saya yang berumur tujuh bulan, yang lucu, berambut jarang dan menggemaskan) berada di dalam karung penyimpan uang berlabel $ (bagi yang sering membaca komik Paman Gober pasti langsung dapat mengerti maksud saya dan menangkap gambarannya).

Hati saya tergelitik, menyadari bahwa  saya tidak menyukai istilah “Investasi Masa Depan” itu. Apa maksudnya menyamakan anak dengan investasi? Yang benar saja! Masa anak mau disamakan dengan emas batang atau pun deposito. Jadi waktu bikinnya pake perhitungan untung rugi dong. Atau malah berharap si anak akan menghasilkan bunga tabungan bagi orang tua? Atau menjamin masa tua orang tua? Tidak. Saya tidak suka memikirkannya. Anak memang harta yang tak ternilai. Tapi jelas bukan investasi masa depan. Jelas sekali, kedua ungkapan ini berbeda makna.

Saya kemudian teringat sebuah obrolan ringan beberapa hari lalu dengan seorang ibu-ibu di KRL dalam perjalan pulang kantor. Dan sayangnya, sepertinya teman saya itu bukan satu-satunya orang tua yang melabeli anaknya dengan istilah “Investasi Masa Depan”.  Karena si ibu-ibu di kereta pun menyebutkan istilah yang sama.

“Anaknya ya mbak?” Ibu itu memonyongkan bibirya ke arah HP saya. Saat itu saya memang sedang melihat-lihat foto anak saya di HP. Dan si ibu yang duduk tepat di samping saya ternyata ikutan mengintip isi HP saya.

“Iya bu.” Saya menjawab sambil lalu, merasa kesal karena si bu tanpa malu-malu mengakui bahwa dia mengintip aktifitas pribadi saya, yang menurut saya hal itu sangat tidak sopan.

“Lucu ya anaknya. Cantik!” Pujinya dengan tulus. Mendengar anak saya di puji-puji, mau nggak mau hati saya luluh juga dan segera melupakan kekesalan saya terhadap si ibu.

“Makasih bu. Kalau ibu anaknya berapa?” Saya balik bertanya sekedar  basa-basi.

“Anak saya 3, sudah gede-gede semua, sudah pada kerja.” Jawabnya dengan bangga. “Tinggal petik hasil aja.”

“Tinggal petik hasil?” Saya bertanya dengan bingung. Buset dah, nih si ibu sedang ngomongin anak atau kebun sayurnya? Kok pakai petik-petik hasil segala.

“Iya, anak itu kan investasi kita mbak.” Si ibu menyahut penuh semangat. “Susah-susah sekolahin sampai sukses, udah habis berapa duit coba? Sekarang saya sudah tua begini, tinggal metik hasil dari nyekolahin mereka. Tinggal nerima ini itu aja.”

Me : speechless.............................   

Saya, lagi-lagi, kemudian jadi teringat sesi curhat-curhatan ayah saya beberapa waktu lalu saat datang berkunjung ke rumah saya.

“Kapan itu ada orang datang ke rumah, nawarin Papa beli kebun apelnya.” Ayah saya memulai ceritanya.

“Berapa luasnya, pa?” Saya bertanya antusias, karena ayah saya kebetulan memang suka berkebun dan saya sangat mendukung hobinya yang menyehatkan itu.

“Lumayan luas, berapa hektar gitu. Papa lupa.”

“Kenapa dijual?”

“Katanya sih habis nikahin anaknya, terus nggak balik modal.”

“Hah, gak balik modal gimana maksudnya Pa?” Saya menajamkan pendengaran dan mencoba berkonsentrasi pada percakapan kami. Ini si papa lagi ngomongin orang jual kebun apel, bukan? Apa saya yang salah fokus sehingga sampai mendengar kata “habis nikahin anak, terus nggak balik modal”?
                                                 
“Iya, jadi katanya sih, dia sudah ngeluarin duit habis-habisan duit buat biaya pernikahan anaknya.”

“Terus?” saya bertanya nggak sabaran. Pengen segera tau apakah ini pembicaraan ini memang benar tentang jual-menjual tanah, atau tentang menikahkan anak.

“Dengan  harapan angpau yang diterima diacara resepsi jumlahnya bisa buat balik modal biaya pernikahan. Syukur-syukur lebih, jadi dia dapat untung.” Si papa menjelaskan.

Dengan syok saya bertanya pada si papa.

“Lho, memangnya kalau nikahin anak harus hitung-hitungan untung-rugi gitu pa?”

“Hus!” ayah saya melotot marah. “Menikahkan anak itu kewajiban dan tanggung jawab orang tua. Itu prinsip Papa.”

“Lha, terus si bapak itu ngapain ngomong ‘nggak balik modal’?” Saya balik melotot, bukan karena nyolot, tapi karena syok.

Ayah saya : speachless.........................................................

Me : lebih speachless...........................................................


Well, well. Mungkin bukan hanya saya yang pernah mengalami situasi seperti ini. Mungkin teman-teman pun pernah mengalami hal yang sama, saat orang-orang disekitar anda menganggap anaknya adalah investasi bagi masa tuanya.

Oke. Tunggu dulu.

Tulisan ini akan sangat sensitif. Serius. Sesensifit cewek yang lagi PMS dan sedikit lebih sensitif dibandingkan ibu-ibu yang lagi hami. Jadi, bagi mereka yang memang sering menggunakan istilah “Investasi Masa Depan” bagi anaknya dan setidaknya dari awal sudah menyetujui penggunaan istilah tersebut, sebaiknya jangan membaca tulisan saya. Karena saya orang yang sangat blak-blakan dan tulisan ini mungkin akan menyinggung perasaan anda.

Serius. 

Berhenti saja sampai di sini. 

Jangan dilanjutkan!

Namun, bagi mereka yang merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan, mari kita lanjutkan pembahasan kita.

Jadi, pertama-tama, mohon diresapi bahwa widup itu adalah Suatu Lingkaran Masa

Saat anda bayi, anda begitu rapuh dan tidak berdayanya. Anda membutuhkan bantuan untuk dapat hidup. Segala segi kehidupan anda tergantung pada orang tua anda. Dan anda tidak mungkin dapat bertahan hidup tanpa asuhan dan perawatan orang lain. Itu sudah pasti, dan tidak dapat dipungkiri.

Anda tidak perlu meminta untuk segala asuhan dan perawatan itu, karena orang tua anda secara otomatis akan melakukannya. Mereka akan menjaga, merawat, mengasuh, membimbing, mengajarkan segala sesuatunya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Tidak perlu ada negosiasi. Tidak perlu ada perjanjian. Semua berjalan secara alamiah. Yah, terkecuali bagi orang tua yang tega menelantarkan atau membuang anaknya. Itu mah lain cerita, karena si orang tua itu pasti sakit jiwa atau setidaknya tidak punya hati nurani.

Nah, setelah anda tumbuh dewasa dan bekeluarga, anda pun akan melakukan hal yang sama kepada anak anda. Anda akan menjaga, merawat, mengasuh, membimbing, mengajarkan segala sesuatunya kepada anak anda dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Tanpa perlu adanya negosiasi. Tanpa perlu adanya perjanjian. Dan setelah anak anda tumbuh dewasa, maka dia pun akan melakukan hal yang sama terhadap cucu anda. Begitu seterusnya, karena itu lah lingkaran kehidupan yang harus dijalani.

Sampai disini apakah anda setuju dengan pemikiran saya? Jika setuju mari kita lanjutkan.

Anak membutuhkan orang tua, maka orang tua harus dengan segala daya upaya terbaiknya merawat dan membesarkan anaknya. Dan hal itu dilakukan dengan tulus ikhlas karena rasa cinta yang terdalam ke pada sang anak. Maka dengan demikian, sepengetahuan saya, tidak pernah ada utang budi antara anak dan orang tua yang diakibatkan oleh proses pemeliharaan. Keluarga bukan lah lembaga keuangan. Kasih sayang keluarga bukanlah Bank. Tidak ada yang namanya berhutang budi dalam keluarga, karena kewajiban setiap anggota keluarga lah untuk saling mencintai satu sama lain. Dengan demikian, tidak ada yang namanya hutang budi antara orang tua dan anak.  

Berdasarkan pemikiran inilah saya menentang dengan keras orang-orang yang menganggap anaknya memiliki utang budi kepadanya, sehingga kelak setelah dewasa harus membalasnya. Apakah kasih sayang yang tulus mengenal balas budi? Apakah cinta memikirkan untung rugi? Tentu tidak. Bahkan saat anda mencintai seseorang, anda rela melakukan apa pun demi kebahagian orang yang anda cintai. Setuju? Itu lah yang dinamakan cinta tanpa pamrih, dimana bentuk cinta ini adalah cinta yang sangat mulia.

Lalu, apakah anda akan menuntut balasan atas cinta yang mulia tersebut?

Manusia memang di-design untuk menjadi tua, rapuh, lalu kemudian kembali tidak berdaya, sama ketika dilahirkan kemuka bumi ini. Semakin tua tubuh ini, kita akan kembali membutuhkan bantuan orang lain. Dan saat itu kita tentunya mengharapkan dan mengandalkan anak kita untuk merawat masa tua kita.

Lalu apakah hal tersebut adalah bentuk balas budi? Tentu saja tidak, bukan? Anak kita akan melakukannya karena rasa cintanya kepada kita, tanpa perlu kita minta. Ia tidak berhutang budi apa pun kepada kita. Jika tidak ada hutang, maka apa yang harus dibayar? Tindakannya merawat kita dimasa tua kita pun merupakan lingkaran kehidupan, dan jika ia melakukannya maka itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada orang tua.

Nah, sama halnya dengan anggapan bahwa anak adalah investasi masa depan, dimana anak diharapkan dapat menjadi penopang orang tua di masa tua. Memang benar, kita tentunya berharap dimasa tua kita nanti anak kita dapat merawat kita dengan penuh cinta kasih. Namun jika kita menganggap anak kita sebagai sebuah investasi, berarti kita mengharapkan suatu saat nanti dapat memperoleh keuntungan dari anak kita.

Saya sama sekali nggak setuju dengan hal ini. Jika anak kita nantinya diwajibkan untuk membayar kembali semua biaya yang pernah kita keluarkan untuk membesarkan dan menyekolahkannya atas dasar balas budi, itu berarti kita selama ini membesarkannya dengan perhitungan untung rugi. Dan terlebih saya sama sekali nggak setuju dengan kata-kata si ibu di kereta tentang “memetik hasil”.

Saya secara pribadi, tidak mengharapkan imbalan uang apapun dari anak saya. Kesuksesan dia dimasa mendatang sendiri menurut saya sudahlah bentuk hasil yang dapat kita nikmati : kebanggaan telah mendidik anak dengan baik hingga menjadi orang sukses. Itu saja harusnya sudah cukup kan? Materi bukan lah tolak ukur yang diharapkan!

Kecuali nih ya, jika anggapan investasi ini adalah karena anak lah yang nantinya mendoakan keselamatan kita di dunia akhirat. Nah kalau itu, mungkin masih masuk akal lah. Karena apa yang kita harapkan dari anak sebagai investasi bukanlah berupa harta, namun berupa keimanan terhadap Tuhan.

Maksud saya, ayolah, jaman sekarang sudah berbeda kawan-kawan! Jaman dulu, dengan jenis pekerjaan yang belum beragam, tingkat pendapatan yang tidak seberapa, tehnologi yang belum canggih dan keterbatasan ini-itu, mungkin masih bisa dimengerti jika ada budaya menganggap anak sebagai investasi masa depan. Karena kerjaan orang jaman dulu kalau bukan bertani, ya berkebun, atau jadi nelayan. Dengan umur yang menua, tidak mungkin lagi kan mereka mencari nafkah sendiri. Sehingga masalah finansial orang tua dimasa senja sangat bergantung pada anak.

Malahan nih ya, orang tua jaman dulu sengaja punya anak banyak-banyak, supaya nanti anaknya bisa gotong-royong merawat dan membiayai orang tua secara bergantian. Liat aja mama papa kita, sembilan bersaudara, dua belas bersaudara. 


Tapi ini jaman modern. Pekerja swata maupun pegawai negeri, wajib didaftarkan sebagai peserta program jaminan hari tua. Itu standar hukum ketenagakerjaan Indonesia lho. Bagi mereka yang gak mendapatkan fasilitas tersebut dari perusahaan (which is, ini sebenarnya melanggar hukum), atau yang nggak ikut siapa-siapa alias wirausaha sendiri, sebenarnya bisa berusaha menabung sedikit-sedikit untuk simpanan hari tua, karena banyak lembaga keuangan baik Bank maupun Asuransi yang menawarkan program simpanan untuk hari tua.

Saya sendiri banyak belajar dari kedua orang tua saya. Mereka saat ini sudah pensiun. Namun sedikit pun mereka tidak pernah merepotkan anaknya untuk masalah keuangan. Malahan terkadang –walau sudah saya larang- justru mereka masih ngasi ini-itu untuk anak saya. Mereka memang hanya pensiunan pegawai negeri, namun persiapan mereka untuk menghadapi masa pensiun sangat terinci dan matang. Dari jauh-jauh hari, mereka sudah mempersiapkan semuanya, dengan harapan setelah pensiun nanti mereka tidak sampai membebani dan tergantung pada anak-anaknya.

Mencontoh kedua orang tua saya, saya dan juga suami pun memiliki visi yang sama. Kami akan merencanakan hari tua kami sedini mungkin sehingga nantinya kami tidak harus membebani dan merepotkan anak kami untuk masalah finansial. Menurut kami, anak kami nantinya memiliki kehidupan dan keluarga sendiri yang harus dia biayai. Jadi kami tidak ingin jika nantinya anak kami hanya sibuk memikirkan bagaimana “memberi” kami sehingga dia terbebani terlalu banyak.

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin masa tua saya nanti saya masih bisa jalan-jalan dengan suami untuk melihat dunia, masih bisa ngasi hadiah ini itu buat cucu walau harganya gak seberapa, masih bisa beli tiket untuk mengunjungi anak cucu jika mereka tinggal jauh dari kami, masih bisa makan enak direstaurant, masih bisa benerin mobil di bengkel, masih bisa beli baju bagus dan tas keren, tanpa perlu minta-minta ke anak. Moga semua bisa terlaksana lah ya, rencana yang baik pasti didengarkan oleh Tuhan.

Yah intinya, suka-suka para pembaca juga sih mau menganggap anak sebagai apa. Apa juga hak saya untuk melarang. Toh itu hak anda sebagai orang tua. Tapi... ya tapi... istilah investasi masa depan itu lho... Mengganggu sekali. Yah, setidaknya ada sisi positif yang bisa saya ambil sih melalui istilah itu, saya jadi terpacu untuk mempersiapkan masa tua saya sebaik mungkin. Tidak mau menggantungkan diri dan berharap pada pemberian anak di masa tua.

Jadi, apa kah anak anda merupakan “investasi masa depan” anda?