Kamis, 05 November 2015

KARENA DUNIA TERLALU LUAS UNTUK PIKIRAN SEMPIT TENTANG : "NGAPAIN KE LUAR NEGERI KALAU NEGERI SENDIRI INDAH?”


Akhir-akhir ini, saya sangat familiar dengan sebuah postingan di sosial media yang berjudul :

“NGAPAIN KE LUAR NEGERI KALAU NEGERI SENDIRI INDAH?”

Beserta postingan tersebut ditampilkanlah foto-foto perbandingan keindahan alam dan objek wisata di Indonesia dengan tempat-tempat lainnya di penjuru dunia. Postingan tersebut antara lain memuat foto Pulau Komodo yang diperbandingkan dengan New Zealand, foto Gili Trawangan yang diperbandingkan dengan Maladewa, foto Jakarta yang diperbandingkan dengan Hong Kong, foto Kampung Cina Cibubur yang diperbandingkan dengan Shang Hai dan beberapa foto lainnya.

Tujuan awal dari postingan ini sebenarnya baik, yaitu menimbulkan kecintaan akan negeri : bahwa sesungguhnya Indonesia kita ini sangat indah dan kaya, nggak kalah dengan keindahan alam di penjuru dunia lainnya. Selain itu, sebenarnya postingan ini mengajak kita untuk meramaikan wisata domestik kita sendiri. Nggak usah pergi jauh-jauh dulu, cobalah untuk menikmati keindahan negeri kita sendiri sebelum melihat negeri orang lain.

Sebenarnya postingan ini nggak salah. Hanya saja menurut saya penggunaan katanya yang ambigu dapat memprovokasi dan menjadi semacam doktrin. Terbukti, banyak teman-teman saya di sosial media yang langsung me-repost postingan tersebut, yang secara langsung menunjukan mereka setuju atas pemikiran sang penulis.

Saat melihat ada yang menyebarkan postingan ini, jantung saya berdebar-debar dengan kencang. Saya sangat marah. Dan sangat kecewa. Rasanya orang yang menyebarkan postingan itu ingin saya gandeng tangannya, saya ajak duduk berduaan, dan saya ajak bicara face to face dari hati ke hati.

Ya saya marah dan kecewa.

Saya marah dan kecewa karena bisa-bisanya ada anak muda Indonesia berpikiran sempit seperti itu.

“Berpikiran sempit? What? Dia sudah gila! Dia tidak cinta negerinya! Bakar dia! Tangkap dia!” Itu pasti yang kalian pikirkan saat saya mengatakan KALIAN BERPIKIRAN SEMPIT.

Well, tenangkan hati kalian dulu. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan dulu labeli saya sebagai orang gila yang tidak cinta negeri. Biarkanlah saya menyampaikan unek-unek saya yang membuncah di dada dan nyaris membludak, meluber dari mulut saya yang lebih banyak melontarkan ucapan protes ketimbang  pesan damai.

Saya adalah seorang backpacker yang sangat mendukung anak muda untuk menjelajah negeri dan melihat dunia. Catat, menjelajah negeri dan melihat dunia. Bukan hanya menjelajah negeri sendiri. Jika bercakap-cakap dengan orang yang lebih muda dari saya, berulang-ulang kali saya mendoktrin mereka untuk pergi melihat dunia. Coba saja tanya orang-orang yang mengenal saya, mereka tentu tahu benar bagaimana saya merongrong mereka untuk menghabiskan uang dengan melihat dunia ketimbang hanya sekedar membeli barang-barang bermerek dan bersenang-senang. Prinsip saya, selagi ada kesempatan (dan uang tentunya), gunakanlah sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan dan wawasan dengan melihat dunia. 

Jangan salah, saya bukannya tidak setuju dengan keindahkan Indonesia. Bukan maksud saya mengatakan bahwa negeri orang jauh lebih indah dari pada Indonesia. Saya tidak mengatakan demikian. Indonesia sangat indah! Hanya saja, seindah-indahnya negeri kita, kita harus melihat dunia yang luas.

Oke, kembali ke postingan perbandingan di sosial media tadi.

Karena merasa tidak setuju dengan postingan tersebut, saya secara aktif mengemukakan pendapat saya di kolom komentar dengan mengunggah foto-foto saya diberbagai penjuru dunia yang diperbandingkan dalam postingan. Saya mengunggah beberapa foto saya saat melakukan perjalanan ke New Zealand untuk menjawab perbandingan antara Pulau Komodo dengan New Zealand, sebuah foto saat transit di Shang Hai untuk menjawab perbandingan antara Kampung Cina Cibubur dengan Shang Hai, dan sebuah foto bulan madu saya di Maladewa untuk menjawab perbandingan antara Gili Trawanagan dengan Maladewa.

Beragam komentar langsung bermunculan atas postingan saya tersebut, beberapa orang menyatakan bahwa kita harus mencintai negeri sendiri dan tidak perlu ke luar negeri karena Indonesia sendiri sudah terdiri dari beribu-ribu budaya yang nggak bakalan habis walau dipelajari seumur hidup. Beberapa orang lainnya membenarkan pendapat saya untuk melihat dunia namun mengemukakan mengenai besarnya jumlah biaya yang dibutuhkan untuk melihat dunia.

Nah, ini yang saya bilang bahwa saya tidak menyukai postingan tersebut karena memprovokasi dan menjadi semacam mesin doktrin. Bentuk provokasi dan doktrin yang pertama adalah bahwa kita rakyat Indonesia gak usah kemana-manalah, karena Indonesia sudah punya segala-galanya. Bentuk provokasi dan doktrin lainnya adalah, dengan hanya menjelajahi negeri sendiri kita menjadi lebih nasionalis.

Salah. Salah. Salah. Doktrin ini sangat salah.

INDONESIA MEMANG INDAH, NAMUN KITA HARUS MELIHAT DUNIA.

Nih ya, menurut hasil sensus yang dilakukan oleh pemerintah, terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya sekitar 1.340 suku bangsa (sumber : Wikipedia). Memang banyak sekali. Dengan luasnya negeri ini ditambah jumlah budaya yang beragam, seumur hidup pun dihabiskan untuk mempelajari budaya Indonesia tidak akan cukup.

Itu semua masih ditambah dengan keindahan alam dan peninggalan sejarah yang tidak hanya menarik minat bangsa kita sendiri, namun juga menjadi daya pikat internasional. Nggak jarang banyak budayawan, seniman, dan penjelajah asing yang datang ke Indonesia dan menetap untuk waktu yang lama hanya untuk menikmati indahnya negeri ini dan mempelajari keanekaragaman yang tercipta di dalamnya.

Namun, pernahkah kalian menerapkan logika berpikir seperti ini :

Jika kalian besepeda di lingkungan rumah, maka pemandangan yang disuguhkan adalah pemandangan yang sangat familiar. Walaupun tetangga anda berasal dari latar belakang yang berbeda (agama, suku, golongan) namun semuanya sudah sangat familiar di mata anda. Beda halnya jika anda bersepeda keluar dari kompleks perumahan anda dalam radius yang lebih luas. Tentunya ada akan mendapatkan pendangan yang sangat berbeda.

Nah begitu jugalah yang terjadi saat anda anda melakukan perjalanan untuk melihat dunia. Indonesia memang indah. Indonesia memang kaya akan budaya. Namun bau kita sama. Warna kita sama. Kita adalah bangsa Indonesia dengan sejarah yang sama dan wawasan  nusantara yang sama. Dari Sabang sampai Merauke, presiden pertama kita tetap Soekarno. Dari Sabang sampai Merauke, ibu pertiwi kita sama. Dari Sabang sampai Merauke mata uang kita adalah Rupiah. Dari Sabang sampe Merauke kita menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Beragam-ragam suku dan budaya pun dapat kita lihat dalam pergaulan. Walaupun kita tidak dapat mengetahui secara mendalam kebudayaan-kebudayaan yang ada, namun setidaknya kita dapat melihatnya dalam keseharian hidup kita. Kita membicarakan politik yang sama (Jokowi dan Prabowo), kita membicarakan situasi yang sama (kebakaran hutan dan pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia), kita menggunjingkan isu yang sama (apakah benar pejabat x memiliki affair dengan penyanyi y?).  

Pernah berpikir nggak sih kenapa bule-bule banyak yang suka tinggal di Indoneisa? Karena kekayaan alam kita? Atau karena budaya ramah tamah kita? Atau karena di Indonesia semua begitu murah dan mudah didapatkan dibandingkan di negara mereka sendiri?

Pernahkan kalian berpikir kalau bukan hanya itu alasan sebenarnya? Pernahkan kalian berpikir kalau negeri mereka sebenarnya jauh lebih rapi, teratur, bersih, bebas polusi, dengan kekayaan alam yang tidak kalah indahnya? Bahkan beberapa dari mereka memiliki empat musim sementara kita hanya memiliki musim panas (musih hujan dan kemarau actually, namun di musim hujan pun masih tetap saja panas secara kita negara beriklim tropis)? Kenapa justru mereka suka berada di Indonesia yang semerawut, sampah dimana-mana, panas, dan masih primitif dibandingkan negara mereka yang maju?

Jangan buru-buru GR dan kePDan menyimpulkan karena bule-bule itu lebih mencintai negeri kita dibandingkan negerinya sendiri. Karena kasus anak lebih mencintai ibu tiri dibandingkan ibu kandung hanya 1:10. Pernahkah kalian berpikir semua alasannya adalah karena mereka merasakan suasana yang berbeda? Suasana yang tidak mereka dapatkan di negara asal mereka dan mereka dapatkan di negara kita?

Nah, hal itu pula lah yang ingin saya sampaikan kepada anda. Kita memang punya Raja Empat yang mengalahkan indahnya Krabi dan Phuket. Kita mungkin punya Borobudur yang tak kalah megahnya dari Angkor Wat. Kita juga punya Puncak Jayawijaya yang berselimut salju layaknya pegunungan Swiss. Kita punya Badak bercula satu yang tidak mungkin ditemukan di Afrika.

Namun bukan itu semata :

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG BUKAN SEMATA MENGENAI TEMPAT-TEMPAT INDAH.

Perjalanan menuju negeri orang adalah untuk menikmati keseluruhan perjalanan : tentang mendapatkan teman baru dari berbagai belahan dunia dan berinteraksi dengan mereka, merasakan menu-menu masakan baru yang tidak dijumpai di negeri kita, menikmati perbedaan iklim dan cuaca, melihat varietas tumbuhan yang berbeda, mempelajari sejarah yang berbeda, melihat kebiasaan yang berbeda, menggunakan mata uang yang berbeda, berpikir dan bertindak dari sudut pandang yang berbeda.

Perjalanan menuju negeri orang adalah mendengar, melihat, dan merasakan. Percayalah, seberagam-beragamnya budaya Indonesia, saat anda berada di negeri orang, tetap saja anda akan merasakan sensasi yang berbeda dibandingkan saat melakukan perjalanan di negeri sendiri.

Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan merasakan sensasi susahnya menghitung kurs mata uang asing saat hendak membeli barang untuk membuat perhitungan mahal tidaknya barang tersebut. Jika anda menjelajahi negeri sendiri, kalian tidak akan merasakan sensasi susahnya berdialog dengan bahasa tarzan (rata-rata orang Indonesia bisa berbahasa Indonesia walaupun tidak fasih, namun tidak semua warga negara yang anda kunjungi mengerti bahasa inggris). Jika anda menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan merasakan sensasi rindu akan masakan negeri sendiri (dua minggu makan masakan asing akan cukup membuat anda merindukan Indonesia) atau sensasi susahnya mencari NASI (ini nestapa kalau traveling ke negara luar Asia).

Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan melihat dengan mata kepala sendiri dan kemudian merasa MALU betapa kotornya negara kita (bahkan negara Kamboja dan Laos yang hitungannya lebih terbelakang dari kita, bisa terlihat lebih bersih). Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan bersyukur betapa murahnya harga air mineral dan bahan bakar di negara kita dibandingkan negara lain (di negara eropa satu botol air mineral 250 ml berharga kurang lebih Rp. 15.000,- sementara di negara kita hanya Rp. 3.000,-). 

Selain itu, selama melakukan perjalanan, saya sebisa mungkin menjalin interaksi dan pertemanan dengan warga negara setempat atau warga negara lainnya yang sama-sama rekan seperjalanan. Saya punya banyak kenangan lucu dengan rekan-rekan seperjalanan yang membuat kami akhirnya berteman hingga saat ini.

Ada seorang kawan berkewarganegaraan New Zealand yang sama-sama tertinggal pesawat dari Singapura menuju Colombo. Ada seorang kawan dari Cairo yang sama-sama berprofesi sebagai seorang lawyer. Ada seorang kawan dari Seoul yang sama-sama baru resign dari pekerjaan lama dan melakukan perjalanan sebelum memasuki pekerjaan baru. Ada seorang kawan pemilik restaurant di Brunei yang ternyata memiliki istri orang Jawa.

See, perjalanan menuju negeri orang bukan semata mengenai tempat-tempat indah namun juga pengalaman.

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG BUKAN SEMATA-MATA DATANG, BERFOTO-FOTO, UPDATE STATUS DI MEDIA SOSIAL UNTUK PAMER.

Paling sebel kalau liat orang yang pergi ke luar negeri, tapi dia nggak bisa menceritakan ulang keseluruhan perjalannya. Dia lupa (atau nggak peduli?) nama-nama tempat wisata yang dia kunjungi, dia nggak tau sejarah dan keunikan daerah yang dia kunjungi, bahkan dia nggak tau nama ibu kota negara yang dia kunjungi.

Serius. Orang seperti ini benar-benar ada.

Jenis orang seperti ini melakukan perjalanan hanya untuk life style semata : pergi ke luar negeri supaya dianggap tajir, berfoto dengan pose keren, update status di media sosial, shopping, dan kemudian beli oleh-oleh. Pada saat tour ke tempat wisata, orang-orang ini memilih tidak mendengarkan penjelasan pemandu wisatanya dan memisahkan diri untuk berfoto ataupun shopping.

Kejadian seperti ini sering sekali saya jumpai. Sungguh menyedihkan jika perjalanan ke negeri asing hanya dijadikan sebuah gaya hidup dan simbol status sosial. Harusnya melalui perjalanan tersebut kita mendapatkan pengalaman berharga dan pengetahuan yang dapat kita ceritakan kepada orang lain. Nggak harus hafal semua tempat yang kita kunjungi, karena memori kita memang terbatas. Namun setidaknya kita mengerti kisah dibalik tempat-tempat yang kita kunjungi dan bisa menjadikannya pengetahuan yang menambah wawasan kita.

Ya… ya.. I know kita bisa mempelajari sesuatu hanya melalui internet tanpa harus mengunjungi tempat aslinya. Namun pernahkan anda berada dalam situasi ini : dimana pelajaran sekolah yang anda baca dari buku terasa sangat membosankan dan sulit anda mengerti? Namun ketika anda melihat dan mengalami sendiri dalam kehidupan sehari-hari justru lebih mudah dipahami dan diingat?

Nah begitu pula dengan melakukan perjalanan dengan kaki dan mata sendiri. Apa yang anda baca di internet bisa terlupakan begitu saja. Namun saat anda mengalaminya sendiri, pengalaman tersebut akan selalu terkenang.

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG TIDAK HARUS MAHAL

Banyak sekali yang nyinyir dan bilang : “Ya kalau ada uang, gw juga mau kali jalan-jalan keliling dunia.” Tapi yang komentar kayak gini setiap hari beli rokok satu bungkus dan jajan di restaurant.

Mari berhitung :

Rokok 1 bungkus                    = Rp. 20.000,-
Beli makan di restaurant         = Rp. 60.000,-
Dalam sebulan                        = (Rp. 20.000,- x 30) + (Rp. 60.000,- x 30)
                                                = Rp. 2.400.000,-

Dalam setahun                         = Rp. 2.400.000,- x 12
                                                = Rp. 28.800.000,-

Orang itu menghabiskan uang setahun Rp. 28.800.000,- hanya untuk jajan dan rokok.

Bayangkan! Itu uang yang banyak lho. Dengan uang sebanyak itu saya bisa melakukan perjalanan ke negara Eropa.

Coba saja jika orang itu mau mengurangi konsumsi rokoknya menjadi 2 batang sehari dan nggak usah jajan direstoran alih-alih bungkus bekal makanan dari rumah, dia bisa lho berhermat dan menggunakan alokasi dana tersebut untuk jalan-jalan.

Lagi pula jalan-jalan ke luar negeri nggak harus mahal jika di rencanakan dengan baik. Sedikit tips dari saya :

1.     Beli tiket promo.
Rajin-rajin deh pantengin internet buat cari tiket promo. Walaupun akhirnya jadwal keberangkatan kita tidak mengikuti kemauan kita tapi mengikuti jadwal tiket promo.

2.     Tinggal di hostel, jangan hotel bintang. Dan sharing kamar dengan teman seperjalanan.

3.     Naik transportasi umum selama traveling. Jangan manja sok cantik dan sok ganteng naik premium travel. Justru dengan naik kendaraan umum anda akan belajar dan mengenal negara yang anda kunjungi dengan lebih baik.

4.     Kalau dana sedang pas-pasan, jangan pergi ke negara dingin (butuh bagasi banyak karena haraus bawa jaket tebal dan perlengkapan musim dingin), jangan pergi ke negara yang pakai visa atau visa on arrival (biaya visa lumayan memberatkan), jangan pergi ke negara yang ada pajak airport tambahan diluar dari harga tiket. 

5.     Jangan pergi pada saat musim liburan karena harga tiket penerbangan dan hotel biasanya lebih mahal.

6.     Kalau ke luar negeri, jangan shopping. Ingat, anda pergi untuk berwisata, bukan untuk belanja!
7.     Nggak usah pedulikan titipan oleh-oleh. Selain menghabiskan dana juga berat kan bawa belanjaan ke mana-mana. Anda tidak berdosa jika tidak membeli oleh-oleh. Ingat sekali lagi, anda pergi untuk berwisata, bukan untuk belanja! Apalagi belanjain orang lain.

Dan tahukah anda, tak jarang biaya perjalanan ke luar negeri jauh lebih murah atau sebanding dengan biaya perjalanan dalam negeri?

Hah??? Kok bisa???

Ya bisa lah. Harga tiket penerbangan negara ASEAN dan Asia Timur tidak lagi tertalu mahal. Bahkan harga tiket Jakarta - Tokyo PP bisa lebih murah dari harga tiket Jakarta - Jayapura PP. Harga tiket Jakarta - Macau PP sama dengan harga tiket Jakarta – Palembang PP. Harga tiket  Jakarta – Manila PP sama dengan harga tiket Jakarta – Manado PP.

Nggak percaya? Makanya sering-sering cek harga tiket penerbangan di internet.

LEBIH BAIK MENGHABISKAN UANG UNTUK MELIHAT DUNIA DIBANDINGKAN UNTUK HIDUP HEDON

Hangout di restaurant mahal, belanja barang-barang bermerek, beli gadget puluhan juta, tapi nggak pernah ke mana-mana? Yah, itu memang pilihan hidup. Ada yang menganggap tampilan keren dan gaya hidup mewah jauh lebih penting dari sekedar menambah pengalaman. Anda bebas menentukan pilihan hidup anda.

Tapi kalau saya boleh berkomentar dengan mulut saya yang tajam dan memang suka ngomentari segala macam hal, gaya hidup seperti itu bodoh. Anda hidup hanya sekali. Untuk apa menghabiskan uang untuk membeli makanan mahal setiap harinya? Toh makanan itu bakalan jadi kotoran diperut anda dan juga membuat badan gemuk. Punya barang-barang bermerek nggak ada salahnya. Tapi sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Jangan sampai gaji cuma 5 juta tapi maunya semua baju harus merek Zara. Mampus aja kalau gaya hidup seperti.

Terus anda pikir dengan sering nongkrong ditempat fancy dengan memakai barang-barang bermerek, anda menjadi keren begitu? Coba, kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita bagaimana lelahnya menyusuri tembok cina? Kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita dinginnya pegunungan Himalaya? Kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita indahnya sakura bermekaran?

Beda lagi kalau memang anda berduit tajir melintir, anda bisa liat dunia, anda juga bisa hidup hedon. Semua anda bisa! Tapi bagi yang hidupnya biasa-biasa saja? Saya suka gemes lihat anak muda yang hidupnya hedon banget tapi nggak mau melihat dunia. Nih ya, kalau hidup hedon hanya supaya terlihat berduit dan keren, uang anda habis percuma. Gak semua orang akan menganggap anda keren. Tapi jika anda melihat dunia, anda akan mendapatkan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan.

Yah. Lagi-lagi kembali pada pilihan dan pandangan hidup anda sih.

Hanya saja pesan saya bagi anak-anak muda kekinian Indonesia : “Hai pemuda Indonesia, selagi ada kesempatan, waktu, dan uang, kemasilah pakaian kalian, pakailah sepatu ternyaman kalian, dan pergilah sejauh mungkin dari rumah kalian untuk melihat! Dunia terlalu luas untuk kalian lewatkan.”

Dan telah ke mana sajakan saya sehingga bisa berbicara panjang lebar dengan sangat sombongnya seperti ini? Nggak banyak. Saya hanya seorang traveler pemula yang baru mengunjungi 30 negara. Masih ada kurang lebih 162 negara lagi menunggu untuk saya tapaki.
Oh, dunia itu sungguh luas…sayang sekali jika anda terkungkung oleh doktrin jalan-jalan di negeri sendiri saja sudah cukup.

Minggu, 04 Januari 2015

Anak Kita BUKAN Investasi Masa Depan!



“Investasi Masa Depan”

Begitulah judul yang diberikan teman saya untuk foto anaknya yang dia unggah di media sosial. Foto itu menampilkan seorang anak perempuan cantik berusia sekitar lima tahun, yang tersenyum lebar memamerkan giginya yang ompong. Raut muka gadis kecil itu polos dan mata bulatnya yang indah memancarkan keluguan.

Saya berusaha mencari benda yang dimaksud teman saya dengan sebutan “Investasi Masa Depan” dalam foto tersebut. Tapi nihil. Foto itu murni hanya menampilkan si gadis cilik cantik, tanpa lembaran saham, buku tabungan, emas batangan, sertifikat tanah ataupun gundukan duit.

“Investasi Masa Depan”.

Saya membaca ulang judul foto itu dan tertegun. Oke, jadi yang dimaksud dengan “Investasi Masa Depan” adalah si gadis cilik cantik itu? Begitukah teman saya mengartikan makna anaknya?

Saya kembali memikirkan arti kalimat tersebut dan tiba-tiba yang terbayang di otak saya adalah Gisela (anak perempuan saya yang berumur tujuh bulan, yang lucu, berambut jarang dan menggemaskan) berada di dalam karung penyimpan uang berlabel $ (bagi yang sering membaca komik Paman Gober pasti langsung dapat mengerti maksud saya dan menangkap gambarannya).

Hati saya tergelitik, menyadari bahwa  saya tidak menyukai istilah “Investasi Masa Depan” itu. Apa maksudnya menyamakan anak dengan investasi? Yang benar saja! Masa anak mau disamakan dengan emas batang atau pun deposito. Jadi waktu bikinnya pake perhitungan untung rugi dong. Atau malah berharap si anak akan menghasilkan bunga tabungan bagi orang tua? Atau menjamin masa tua orang tua? Tidak. Saya tidak suka memikirkannya. Anak memang harta yang tak ternilai. Tapi jelas bukan investasi masa depan. Jelas sekali, kedua ungkapan ini berbeda makna.

Saya kemudian teringat sebuah obrolan ringan beberapa hari lalu dengan seorang ibu-ibu di KRL dalam perjalan pulang kantor. Dan sayangnya, sepertinya teman saya itu bukan satu-satunya orang tua yang melabeli anaknya dengan istilah “Investasi Masa Depan”.  Karena si ibu-ibu di kereta pun menyebutkan istilah yang sama.

“Anaknya ya mbak?” Ibu itu memonyongkan bibirya ke arah HP saya. Saat itu saya memang sedang melihat-lihat foto anak saya di HP. Dan si ibu yang duduk tepat di samping saya ternyata ikutan mengintip isi HP saya.

“Iya bu.” Saya menjawab sambil lalu, merasa kesal karena si bu tanpa malu-malu mengakui bahwa dia mengintip aktifitas pribadi saya, yang menurut saya hal itu sangat tidak sopan.

“Lucu ya anaknya. Cantik!” Pujinya dengan tulus. Mendengar anak saya di puji-puji, mau nggak mau hati saya luluh juga dan segera melupakan kekesalan saya terhadap si ibu.

“Makasih bu. Kalau ibu anaknya berapa?” Saya balik bertanya sekedar  basa-basi.

“Anak saya 3, sudah gede-gede semua, sudah pada kerja.” Jawabnya dengan bangga. “Tinggal petik hasil aja.”

“Tinggal petik hasil?” Saya bertanya dengan bingung. Buset dah, nih si ibu sedang ngomongin anak atau kebun sayurnya? Kok pakai petik-petik hasil segala.

“Iya, anak itu kan investasi kita mbak.” Si ibu menyahut penuh semangat. “Susah-susah sekolahin sampai sukses, udah habis berapa duit coba? Sekarang saya sudah tua begini, tinggal metik hasil dari nyekolahin mereka. Tinggal nerima ini itu aja.”

Me : speechless.............................   

Saya, lagi-lagi, kemudian jadi teringat sesi curhat-curhatan ayah saya beberapa waktu lalu saat datang berkunjung ke rumah saya.

“Kapan itu ada orang datang ke rumah, nawarin Papa beli kebun apelnya.” Ayah saya memulai ceritanya.

“Berapa luasnya, pa?” Saya bertanya antusias, karena ayah saya kebetulan memang suka berkebun dan saya sangat mendukung hobinya yang menyehatkan itu.

“Lumayan luas, berapa hektar gitu. Papa lupa.”

“Kenapa dijual?”

“Katanya sih habis nikahin anaknya, terus nggak balik modal.”

“Hah, gak balik modal gimana maksudnya Pa?” Saya menajamkan pendengaran dan mencoba berkonsentrasi pada percakapan kami. Ini si papa lagi ngomongin orang jual kebun apel, bukan? Apa saya yang salah fokus sehingga sampai mendengar kata “habis nikahin anak, terus nggak balik modal”?
                                                 
“Iya, jadi katanya sih, dia sudah ngeluarin duit habis-habisan duit buat biaya pernikahan anaknya.”

“Terus?” saya bertanya nggak sabaran. Pengen segera tau apakah ini pembicaraan ini memang benar tentang jual-menjual tanah, atau tentang menikahkan anak.

“Dengan  harapan angpau yang diterima diacara resepsi jumlahnya bisa buat balik modal biaya pernikahan. Syukur-syukur lebih, jadi dia dapat untung.” Si papa menjelaskan.

Dengan syok saya bertanya pada si papa.

“Lho, memangnya kalau nikahin anak harus hitung-hitungan untung-rugi gitu pa?”

“Hus!” ayah saya melotot marah. “Menikahkan anak itu kewajiban dan tanggung jawab orang tua. Itu prinsip Papa.”

“Lha, terus si bapak itu ngapain ngomong ‘nggak balik modal’?” Saya balik melotot, bukan karena nyolot, tapi karena syok.

Ayah saya : speachless.........................................................

Me : lebih speachless...........................................................


Well, well. Mungkin bukan hanya saya yang pernah mengalami situasi seperti ini. Mungkin teman-teman pun pernah mengalami hal yang sama, saat orang-orang disekitar anda menganggap anaknya adalah investasi bagi masa tuanya.

Oke. Tunggu dulu.

Tulisan ini akan sangat sensitif. Serius. Sesensifit cewek yang lagi PMS dan sedikit lebih sensitif dibandingkan ibu-ibu yang lagi hami. Jadi, bagi mereka yang memang sering menggunakan istilah “Investasi Masa Depan” bagi anaknya dan setidaknya dari awal sudah menyetujui penggunaan istilah tersebut, sebaiknya jangan membaca tulisan saya. Karena saya orang yang sangat blak-blakan dan tulisan ini mungkin akan menyinggung perasaan anda.

Serius. 

Berhenti saja sampai di sini. 

Jangan dilanjutkan!

Namun, bagi mereka yang merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan, mari kita lanjutkan pembahasan kita.

Jadi, pertama-tama, mohon diresapi bahwa widup itu adalah Suatu Lingkaran Masa

Saat anda bayi, anda begitu rapuh dan tidak berdayanya. Anda membutuhkan bantuan untuk dapat hidup. Segala segi kehidupan anda tergantung pada orang tua anda. Dan anda tidak mungkin dapat bertahan hidup tanpa asuhan dan perawatan orang lain. Itu sudah pasti, dan tidak dapat dipungkiri.

Anda tidak perlu meminta untuk segala asuhan dan perawatan itu, karena orang tua anda secara otomatis akan melakukannya. Mereka akan menjaga, merawat, mengasuh, membimbing, mengajarkan segala sesuatunya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Tidak perlu ada negosiasi. Tidak perlu ada perjanjian. Semua berjalan secara alamiah. Yah, terkecuali bagi orang tua yang tega menelantarkan atau membuang anaknya. Itu mah lain cerita, karena si orang tua itu pasti sakit jiwa atau setidaknya tidak punya hati nurani.

Nah, setelah anda tumbuh dewasa dan bekeluarga, anda pun akan melakukan hal yang sama kepada anak anda. Anda akan menjaga, merawat, mengasuh, membimbing, mengajarkan segala sesuatunya kepada anak anda dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Tanpa perlu adanya negosiasi. Tanpa perlu adanya perjanjian. Dan setelah anak anda tumbuh dewasa, maka dia pun akan melakukan hal yang sama terhadap cucu anda. Begitu seterusnya, karena itu lah lingkaran kehidupan yang harus dijalani.

Sampai disini apakah anda setuju dengan pemikiran saya? Jika setuju mari kita lanjutkan.

Anak membutuhkan orang tua, maka orang tua harus dengan segala daya upaya terbaiknya merawat dan membesarkan anaknya. Dan hal itu dilakukan dengan tulus ikhlas karena rasa cinta yang terdalam ke pada sang anak. Maka dengan demikian, sepengetahuan saya, tidak pernah ada utang budi antara anak dan orang tua yang diakibatkan oleh proses pemeliharaan. Keluarga bukan lah lembaga keuangan. Kasih sayang keluarga bukanlah Bank. Tidak ada yang namanya berhutang budi dalam keluarga, karena kewajiban setiap anggota keluarga lah untuk saling mencintai satu sama lain. Dengan demikian, tidak ada yang namanya hutang budi antara orang tua dan anak.  

Berdasarkan pemikiran inilah saya menentang dengan keras orang-orang yang menganggap anaknya memiliki utang budi kepadanya, sehingga kelak setelah dewasa harus membalasnya. Apakah kasih sayang yang tulus mengenal balas budi? Apakah cinta memikirkan untung rugi? Tentu tidak. Bahkan saat anda mencintai seseorang, anda rela melakukan apa pun demi kebahagian orang yang anda cintai. Setuju? Itu lah yang dinamakan cinta tanpa pamrih, dimana bentuk cinta ini adalah cinta yang sangat mulia.

Lalu, apakah anda akan menuntut balasan atas cinta yang mulia tersebut?

Manusia memang di-design untuk menjadi tua, rapuh, lalu kemudian kembali tidak berdaya, sama ketika dilahirkan kemuka bumi ini. Semakin tua tubuh ini, kita akan kembali membutuhkan bantuan orang lain. Dan saat itu kita tentunya mengharapkan dan mengandalkan anak kita untuk merawat masa tua kita.

Lalu apakah hal tersebut adalah bentuk balas budi? Tentu saja tidak, bukan? Anak kita akan melakukannya karena rasa cintanya kepada kita, tanpa perlu kita minta. Ia tidak berhutang budi apa pun kepada kita. Jika tidak ada hutang, maka apa yang harus dibayar? Tindakannya merawat kita dimasa tua kita pun merupakan lingkaran kehidupan, dan jika ia melakukannya maka itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada orang tua.

Nah, sama halnya dengan anggapan bahwa anak adalah investasi masa depan, dimana anak diharapkan dapat menjadi penopang orang tua di masa tua. Memang benar, kita tentunya berharap dimasa tua kita nanti anak kita dapat merawat kita dengan penuh cinta kasih. Namun jika kita menganggap anak kita sebagai sebuah investasi, berarti kita mengharapkan suatu saat nanti dapat memperoleh keuntungan dari anak kita.

Saya sama sekali nggak setuju dengan hal ini. Jika anak kita nantinya diwajibkan untuk membayar kembali semua biaya yang pernah kita keluarkan untuk membesarkan dan menyekolahkannya atas dasar balas budi, itu berarti kita selama ini membesarkannya dengan perhitungan untung rugi. Dan terlebih saya sama sekali nggak setuju dengan kata-kata si ibu di kereta tentang “memetik hasil”.

Saya secara pribadi, tidak mengharapkan imbalan uang apapun dari anak saya. Kesuksesan dia dimasa mendatang sendiri menurut saya sudahlah bentuk hasil yang dapat kita nikmati : kebanggaan telah mendidik anak dengan baik hingga menjadi orang sukses. Itu saja harusnya sudah cukup kan? Materi bukan lah tolak ukur yang diharapkan!

Kecuali nih ya, jika anggapan investasi ini adalah karena anak lah yang nantinya mendoakan keselamatan kita di dunia akhirat. Nah kalau itu, mungkin masih masuk akal lah. Karena apa yang kita harapkan dari anak sebagai investasi bukanlah berupa harta, namun berupa keimanan terhadap Tuhan.

Maksud saya, ayolah, jaman sekarang sudah berbeda kawan-kawan! Jaman dulu, dengan jenis pekerjaan yang belum beragam, tingkat pendapatan yang tidak seberapa, tehnologi yang belum canggih dan keterbatasan ini-itu, mungkin masih bisa dimengerti jika ada budaya menganggap anak sebagai investasi masa depan. Karena kerjaan orang jaman dulu kalau bukan bertani, ya berkebun, atau jadi nelayan. Dengan umur yang menua, tidak mungkin lagi kan mereka mencari nafkah sendiri. Sehingga masalah finansial orang tua dimasa senja sangat bergantung pada anak.

Malahan nih ya, orang tua jaman dulu sengaja punya anak banyak-banyak, supaya nanti anaknya bisa gotong-royong merawat dan membiayai orang tua secara bergantian. Liat aja mama papa kita, sembilan bersaudara, dua belas bersaudara. 


Tapi ini jaman modern. Pekerja swata maupun pegawai negeri, wajib didaftarkan sebagai peserta program jaminan hari tua. Itu standar hukum ketenagakerjaan Indonesia lho. Bagi mereka yang gak mendapatkan fasilitas tersebut dari perusahaan (which is, ini sebenarnya melanggar hukum), atau yang nggak ikut siapa-siapa alias wirausaha sendiri, sebenarnya bisa berusaha menabung sedikit-sedikit untuk simpanan hari tua, karena banyak lembaga keuangan baik Bank maupun Asuransi yang menawarkan program simpanan untuk hari tua.

Saya sendiri banyak belajar dari kedua orang tua saya. Mereka saat ini sudah pensiun. Namun sedikit pun mereka tidak pernah merepotkan anaknya untuk masalah keuangan. Malahan terkadang –walau sudah saya larang- justru mereka masih ngasi ini-itu untuk anak saya. Mereka memang hanya pensiunan pegawai negeri, namun persiapan mereka untuk menghadapi masa pensiun sangat terinci dan matang. Dari jauh-jauh hari, mereka sudah mempersiapkan semuanya, dengan harapan setelah pensiun nanti mereka tidak sampai membebani dan tergantung pada anak-anaknya.

Mencontoh kedua orang tua saya, saya dan juga suami pun memiliki visi yang sama. Kami akan merencanakan hari tua kami sedini mungkin sehingga nantinya kami tidak harus membebani dan merepotkan anak kami untuk masalah finansial. Menurut kami, anak kami nantinya memiliki kehidupan dan keluarga sendiri yang harus dia biayai. Jadi kami tidak ingin jika nantinya anak kami hanya sibuk memikirkan bagaimana “memberi” kami sehingga dia terbebani terlalu banyak.

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin masa tua saya nanti saya masih bisa jalan-jalan dengan suami untuk melihat dunia, masih bisa ngasi hadiah ini itu buat cucu walau harganya gak seberapa, masih bisa beli tiket untuk mengunjungi anak cucu jika mereka tinggal jauh dari kami, masih bisa makan enak direstaurant, masih bisa benerin mobil di bengkel, masih bisa beli baju bagus dan tas keren, tanpa perlu minta-minta ke anak. Moga semua bisa terlaksana lah ya, rencana yang baik pasti didengarkan oleh Tuhan.

Yah intinya, suka-suka para pembaca juga sih mau menganggap anak sebagai apa. Apa juga hak saya untuk melarang. Toh itu hak anda sebagai orang tua. Tapi... ya tapi... istilah investasi masa depan itu lho... Mengganggu sekali. Yah, setidaknya ada sisi positif yang bisa saya ambil sih melalui istilah itu, saya jadi terpacu untuk mempersiapkan masa tua saya sebaik mungkin. Tidak mau menggantungkan diri dan berharap pada pemberian anak di masa tua.

Jadi, apa kah anak anda merupakan “investasi masa depan” anda?

Jumat, 07 November 2014

Hidup Penuh Pencitraan, Berhentilah Menghakimi Orang Lain (Part 1)


Susi Pujiastuti, Menteri Perikanan dan Kelautan yang namanya langsung meroket semenjak diumumkannya susunan kabinet Bapak Joko Widodo, dan sepertinya sudah resmi menjadi artis dadakan karena banyaknya masyarakat Indonesia yang ramai menggunjingan nama beliau dan tentu saja langsung membuka mesin pencari internet untuk menggali informasi tentang beliau (termasuk saya, sudah pasti). Bukan itu saja, berbagai media masa berlomba-lomba membuat ulasan tentang beliau : ada yang menyanjung, ada pula yang mengkritik. Lalu munculah barisan pendukung dan pasukan anti Susi yang ribut berkicau dimedia-media sosial, menggunjingkan ini itu tentang Bu Susi, seolah mereka kenal benar dengan sang ibu Menteri.

Kenapa menjadi bahan gunjingan?

Well, alasan pertama adalah karena beliau ternyata terlalu patuh pada program pendidikan jaman Orde Baru, yaitu Wajib Belajar Sembilan Tahun alias hanya lulusan SMP. Menurut pasukan penyanjung, hal tersebut adalah sesuatu yang keren. Bayangkan, nggak perlu repot-repot sekolah tinggi-tinggi, cukup berbekalkan ijazah SMP, tapi bisa jadi menteri. Mereka salut akan hal itu. Terutama karena Bu Susi bisa jadi pengusaha sukses walau tidak berpendidikan tinggi. Namun bagi pasukan penghujat, Jokowi sudah hilang akal dan mempermalukan bangsa dengan memilih seorang menteri yang tidak berpendidikan tinggi. Bagaimana bisa seseorang yang tidak berijazah kuliahan menjadi salah satu pemimpin negeri?

Alasan kedua, karena beliau pernah bersuamikan bule dan pernikahan dengan si bule itu bukan satu-satunya pernikahan yang pernah beliau jalani. Menurut pasukan penyanjung, nggak apa-apa kan seseorang kawin cerai beberapa kali, namanya nggak cocok masa mau dipaksakan? Toh artis-artis juga pada kawin cerai dan tetap terkenal, banyak penggemarnya. Sementara menurut pasukan penghujat, Ibu Susi bukanlah orang yang layak menjadi panutan masyarakat karena tercermin dari pernikahannya yang tidak dapat bertahan.

Alasan ketiga, karena beliau punya tato. Bukan tato kupu-kupu kecil-mungil-imut yang bertengger di panggul seperti milik Mariah Carey, namun tato sangar yang berukuran cukup besar di kakinya. Menurut pasukan penyanjung, tato tidak menjadi penghambat bagi seseorang yang ingin membaktikan diri bagi bangsa. Namun menurut pasukan penghujat, tato merupakan sesuatu yang dilarang dari segi agama, terlebih lagi jika terpatri ditubuh wanita. Bukan saja telah melanggar nilai-nilai agama, namun dengan tato tersebut Bu Susi dianggap liar dan tidak mencerminkan tata krama wanita timur.  

Alasan keempat karena beliau terlibat aktif dalam konferensi tingkat tinggi gas beracun A.K.A seorang perokok aktif. Yah, kalau yang ini sih nggak usah dibahas dari sisi penghujat dan penyanjung. Sebenanrnya cukup jelas kan, merokok itu memang nggak baik. Apalagi jika dilakukan oleh seorang wanita, citra wanita tersebut akan sedikit direndahkan daripada wanita yang tidak merokok. Itu aturan main yang berlaku di masyarakat kita. Wanita merokok = tidak baik, wanita tidak merokok = baik.

Yah, kira-kira itu selentingan kanan kiri yang saya dengar dan juga saya baca di media masa dan jejaring sosial. Alasan-alasan yang jika saya pikirkan melalui sudut pemikiran waras saya, sebenarnya sama sekali bukan merupakan sebuah alasan. Dan maaf saja, alasan-alasan tersebut bagi saya terlihat bodoh dan dilontarkan orang yang justru tidak berpendidikan.

Hai masyarakat Indonesia, memangnya apa yang salah dengan Ibu Susi? Bagian mana yang salah? Apakah dengan tato menghiasi kulit lantas seorang wanita otomatis menjadi liar? Mungkin memang dilarang oleh agama, tapi apa kaitannya dengan menjadi Menteri? Apakah merokok menjadi salah satu parameter pantas tidaknya seorang wanita menjadi Menteri? Apakah karena tidak berhasil dalam pernikahan seorang wanita lantas dianggap memiliki derajat yang rendah? Apakah dengan hanya berbekal pendidikan SMP seseorang dianggap tidak mampu mengemban tugas Menteri? Coba deh baca http://www.merdeka.com/gaya/10-tokoh-dunia-yang-putus-sekolah.html. Banyak lho tokoh dunia yang ternyata tidak menyelesaikan sekolah mereka : Abraham Lincoln, Coco Chanel, Al Pacino, Oprah Winfrey, Steve Jobs.

Oke, kita memang hidup dalam budaya timur yang penuh sopan santun. Oke, kita masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai ini itu dalam masyarakat, mengenai suatu yang pantas dan yang tidak pantas. Dan tidak bisa diingkari, kita pun terikat nilai-nilai religius yang mengatur tingkah laku dan perbuatan kita. Namun yang kita lupakan adalah, bahwa setiap orang berhak menentukan kehendak diri, apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka tidak inginkan, sepanjang hal tersebut tidak merugikan individu lain.

Oh, betapa menyedihkannya pemikiran-pemikiran seperti itu. Betapa menyedihkannya bahwa masyarakat Indonesia masih saja tenggelam dalam pencitraan-pencitraan, tentang apa yang dianggap baik dan tidak baik tentang sesuatu hal bila dipandang dari sudut pemikiran entahlah siapa itu. Ya, kita memang bangsa timur. Ya, kita memang hidup dalam budaya bangsa. Dan ya, kita memang harus selalu menjunjung nilai-nilai kesopanan dan kepantasan dalam budaya timur kita ini. Namun bukan kah kita tetap harus menyadari, mana pemikiran-pemikiran yang membuat bangsa kita maju dan mana pemikiran-pemikiran yang justru menghancurkan diri sendiri.

Saya jadi teringat pengalaman pribadi saya yang sering termarginalkan oleh pemikiran-pemikiran sempit. Wanita cantik suka dandan = bodoh. Wanita cantik berpenampilan menarik = suka kehidupan malam. Wanita cantik berpakaian menarik dan terbuka = wanita penggoda.

What the hell pemikiran seperti ini? Dari mana datangnya anggapan-anggapan seperti ini?

Wanita cantik suka dandan = bodoh? Yang benar saja! Apa korelasi antara cantik dan suka dandan dengan bodoh? Orang-orang bersudut pandang seperti ini matanya harus dibuka lebar-lebar dan di suruh membaca banyak-banyak. Tidak tahukah mereka bahwa di dunia ini begitu banyaknya wanita cantik dan pintar yang memiliki kedudukan terhormat dan berkuasa? Sebut saja Hina Rabbani Khar (Menteri Luar Negeri Pakistan, Menteri Pakistan termuda dalam usia 34 tahun), Yingluck Shinawatra (PM Thailand), Julia Eileen Gillard (PM wanita pertama di Australia), Cristina Fernandez de Kirchner (Presiden Argentina)? Gak usah jauh-jauh ke luar negeri deh. Lihat saja Cinta Laura dan Dian Sastro (sama-sama cantik dan gemilang dibidang pendidikan).


Saya bukan wanita genius, namun setidaknya saya mendapat gelar sarjana saya dari Universitas yang cukup bergengsi dengan predikat cumlaude dan bahkan saya memiliki double degree untuk gelar Master (Master Hukum dan Master Politik). Apakah saya bodoh? Dan yang paling menggelikan adalah saat saya difitnah mendapatkan semuanya gelar tersebut dengan cara “membayar”. Waw, orang-orang memang susah diyakinkan jika saya ternyata memiliki otak. Ya sudah lah, saya pun merelakan mereka terus beranggapan bahwa saya memang tolol. Toh tidak ada ruginya juga buat saya. Anggapan mereka tidak penting. Saya bisa tetap melanjutkan hidup dan karier saya, apa pun anggapan mereka.

Wanita cantik berpenampilan menarik = suka kehidupan malam. Ini lagi-lagi pemikiran model apa sih? Apa korelasinya? Saya seringkali terheran-heran saat dituduh suka keluyuran buat dugem, nyimeng, pesta shabu dan merokok.  Dan tidak peduli seberapa seringnya saya menegaskan bahwa saya sekali pun tidak pernah mengkonsumsi narkoba dan sama sekali tidak tertarik pergi ke klub malam (well, kadang-kadang saya mengkonsumsi alkohol, tapi apa masalah buat lo?), mereka tetap menganggap saya sebagai wanita liar yang suka bersenang-senang di klub malam dan mabuk-mabukan.

Ckckck, andai saja mereka tahu bahwa dibalik semua penampilan ini sebenarnya saya hanya wanita culun berkacamata tebal. Serius. Orang-orang yang dekat dengan saya tahu benar betapa senangnya saya tenggelam dalam koleksi buku saya yang jumlahnya ribuan itu, membaca berjam-jam bagaikan orang autis. Dan andai saja mereka tau jika tempat kencan saya dan suami bukanlah restaurant italia mahal melainkan museum sejarah, ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan tua bersejarah. Kalau saja mereka tau dibandingkan mabuk-mabukan di club malam saya lebih suka pergi ke bazar buku.

Lagi pula heran deh dengan pemikiran bahwa orang yang suka clubbing berarti bukan orang baik. Apa salahnya jika si itu dan si ini mau pergi clubbing? Asalkan sudah cukup umur sebenarnya nggak apa-apa kan? Apa urusannya dengan kalian? Bukan berarti dengan pergi bersenang-senang di klub malam lantas mereka bukan orang baik kan? Mereka punya hak buat bersenang-senang, toh hidup punya mereka. Kenapa kalian yang pusing dan sibuk dengan pencitraan? Kenapa terkungkung dengan pemikiran “ini Indonesia, kita budaya timur?”

Orang-orang yang berpikiran sempit itu tahu nggak sih, kalau di barat pergi ke pub atau club malam seusai kerja adalah hal yang sangat lumrah? Itu cara mereka bersosialisasi dan melepaskan stress. Jadi nggak usah lah pusing. Yang mau pergi ya pergi, yang enggak ya enggak. Nggak usah sibuk menggunjingkan dan menghakimi ini itu. Toh kalau mengganggu ketertiban, hukum pun bertindak. Iya nggak sih?  

Wanita cantik berpakaian menarik dan terbuka = wanita penggoda. Apa-apaan lagi ini coba? Ini sangat tidak masuk akal. Memang benar kita harus berpakaian sopan dan harus bisa menyesuaikan tempat serta situasi dalam berpakaian. Namun hanya karena seseorang suka perpakaian mini, bukan lantas wanita tersebut adalah wanita penggoda. Pandangan ini paling bikin meringis karena saya baru-baru saja mengalami pengalaman menggelikan terkait hal ini.

Yah, jujur saja saya memang sering memakai rok mini, hot pants dan baju tanpa lengan. Pokoknya, saya bukan tipe wanita yang selalu berpakaian tertutup. Apalagi karena saya bekerja pada perusahaan asing yang tidak pernah menetapkan larangan dalam berpakaian. Tapi sebisa mungkin, saya akan menempatkan diri dalam berpakaian. Nggak mungkin dong ya pergi ke Gereja pakai celana pendek? Atau pergi ke acara keluarga suami pakai rok mini.

Beberapa saat lalu, saya ada panggilan interview dadakan untuk salah satu perusahaan minyak terbesar di Indonesia (punya pemerintah, you know lah pastinya). Karena saat itu memang jam kantor, saya datang memenuhi interview dengan menggunakan pakaian kantor saya apa adanya (rok terusan diatas lutut dan blazer). Kalau di kantor saya sih, pakaian seperti itu sudah sopan dan resmi banget. Memang rok terusannya agak pendek sih, tapi masih dalam batas kesopanan dan bukan yang mini banget sampai pakaian dalam saya hampir kelihatan. Waktu interview pun sepertinya berjalan mulus dan oke-oke saja. Nggak ada masalah.

Nah, beberapa minggu kemudian, datanglah informasi bahwa saya tidak diterima di perusahaan tersebut karena mereka menggunjingkan saya sebagai wanita penggoda dengan pakaian seperti itu. OMG! Yang benar saja. Suami saya bahkan lebih ganteng dari mereka semua. Ngapain saya berminat menggoda mereka? Kayak udah kebagusan aja. Anyway, ya sudah, saya maafkan saja omongan mereka. Saya hargai culture mereka dan saya sarankan untuk mencari wanita yang menggunakan pakaian lebih tertutup saja.

Kasus Ibu Sushi dan pengalaman saya ini menjadi bahan perenungan. Kok kasihan banget ya bangsa Indonesia masih terjebak dalam pencitraan-pencitraan beginian? Agama mu untuk dirimu sendiri, sukumu untuk dirimu sendiri, budayamu untuk dirimu sendiri. Kita tidak bisa memaksakan semua pemikiran kita pada orang lain, terutama pencitraan-pencitraan kita. Jika seseorang benar-benar melanggar nilai-nilai, maka akan ada hukum yang bekerja untuk membereskannya. Kita sebagai masyarakat hanya bisa berperan untuk mengontrol, mengingatkan, bukan menghakimi.
Pada kenyataannya, coba deh pikirkan baik-baik dan buka mata lebar-lebar untuk melihat-lihat sekitar anda. Pernahkah kalian menemukan situasi seperti yang pernah saya temukan ini :

  1. Remaja pendiam, berjerawat, berkacamata, terlihat seperti pelajar kutu buku, ternyata adalah seorang pencandu narkoba.
  2. Wanita berpenampilan sopan yang terlihat alim dan lugu, ternyata diketahui adalah seorang simpanan laki-laki hidung belang dan telah beberapa kali menggugurkan kandungan.
  3. Seorang supir taxi berpenampilan paling sederhana, ternyata seorang Sarjana dan pensiunan perusahaan ternama. 
  4. Seorang pria bertato dan berwajah sangar aktif dalam kegiatan amal dan kemanusian bagi anak-anak penyandang cacat.


See? You don’t know the beauty of some one that you don’t know!

Saya bukan lah pasukan pendukung Bu Susi, bukan pula pasukan penghujat Bu Susi. Saya adalah warga negara yang netral dan salah satu orang berpikiran liberal. Menurut saya siapa pun bisa menjadi apa pun yang dia inginkan. Siapa pun berhak berbuat apa pun dan bagaimana pun yang dia inginkan. Asalkan tidak melanggar aturan hukum dan merugikan orang lain, kenapa harus di pusingkan dan di gunjingkan? 

Berhentilah menghakimi orang. 

Berhentilah mencari kekurangan orang. 

Berhentilah hidup dalam pencitraan. 

Nggak capek ya ngurusin orang lain?




Jumat, 10 Oktober 2014

Lembah Baliem, Sa Polo Ko Kuat-Kuat! (Embrace You Tightly, Lembah Baliem)

PROLOG

Artikel ini didedikasikan bagi jiwa-jiwa yang mencintai dan merindukan Lembah Baliem lebih dari apa pun. Jiwa-jiwa yang pernah mendiami dan menjadi bagian sejarah dari keindahan Lembah Baliem.

Dan bagi Anda yang belum mencintai dan merindukan Lembah Baliem karena tidak pernah menjejakan kaki di atasnya, artikel ini adalah alasan bagi kalian untuk menguras rekening tabungan kalian tanpa berpikir panjang, mengepak koper kalian secepatnya, dan mencari penerbangan berikutnya ke Kota Wamena.

“Buka www.jelajahbumipapua.com deh, coba kamu ikut lomba tulisnya.” Itu isi BBM yang dikirimkan oleh seorang teman saya.

Penasaran dengan isi website serta bersemangat dengan kata magic “Papua” yang terkandung dalamnya, saya langsung membuka website tersebut dengan jantung berdebar-debar dan tangan gemetaran. Entahlah. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Papua selalu bisa menjungkirbalikan perasaan saya : perpaduan antara perasaan cinta yang teramat sangat, rindu yang menbuncah hingga ke ubun-ubun, memori yang berputar dan mengalun bak nyanyian merdu pengantar tidur, serta sensasi memiliki yang rasanya tak waras dan lak lazim lagi. Semua bercampur-aduk sehingga saya merasa terengah-engah menahan debaran jantung  yang bedetak brutal tak terkendali karenanya.

Oke, saya segera melewati embel-embel mengenai ketentuan lomba karena perhatian saya langsung tertuju pada hadiah utama nan menggiurkan yang tertulis di sana. Kali ini kata magic “Lembah Baliem” yang kembali menjungkirbalikan perasaan saya.

Lembah Baliem, Wamena. My lovely land Lembah Baliem. My precious town, Wamena. Kota tercinta di mana jantung dan hati telah saya kubur hingga berakar menyatu dengan setiap unsur hara yang terkandung di tanahnya. Kota tersayang di mana semua mimpi dan memori  telah saya pupuk hingga tumbuh tinggi menjulang bagaikan Empire State of Building. Kota kebanggaan yang selalu saya kenang dan rindukan dalam setiap helaan nafas dan dalam setiap tapak serta langkah kaki saya. Kota yang sangat saya puja dihadapan semua orang sehingga mereka semua nyaris berpikir bahwa mungkin saja Kota itu adalah sejenis dewa baru untuk disembah.

Saya memejamkan mata, meresapi sensasi luar biasa yang muncul atas sentuhan magic kata “Lembah Baliem”, sementara air mata saya tidak terasa mengalir dengan deras membasahi pipi dan melunturkan bedak saya. Bukan, air mata itu bukan air mata kesedihan atas memori buruk yang pernah tercipta di Lembah Baliem. Bukan, air mata itu bukan air mata penyesalan atas dosa besar yang pernah saya lakukan di Lembah Baliem. Air mata itu adalah air mata haru yang muncul karena rasa rindu yang teramat sangat akan setiap jengkal tanah Lembah Baaliem, air mata itu adalah air mata kebahagiaan yang muncul karena penggalan-penggalan kisah indah yang berkelebat di dalam khalbu.

Saya memfokuskan pikiran saya, biasanya tidak sulit untuk menampilkan kembali slide show dalam otak saya mengenai kota itu. Namun kali ini saya berjuang dengan keras untuk memfokuskan pikiran saya karena saya tak ingin ada satu saja memori indah yang terlewat. Saya tidak peduli jika saat itu saya tengah berada di kubikel kantor yang sempit dengan tumpukan dokumen bau yang menggunung. Saya tidak peduli jika terkena pemotongan gaji saat boss saya melihat tingkah saya dan berpikir jika saya sedang tertidur. Saya tidak peduli bahwa saat itu hampir tiba jam makan siang dan semua naga dalam perut saya mendengus-denguskan nafas apinya minta diberi makan. Karena saat itu saya seolah telah tersedot dalam lubang waktu berwarna keemasan, kembali ke masa-masa indah saat masih hidup di Lembah Baliem. Saya seolah terlempar dalam dimensi masa lalu dan kembali pada keindahan alam Lembah Baliem.

Saat membuka mata, saya seolah telah berada kembali di kota itu. Saya bisa merasakan dinginnya yang menusuk-nusuk menembus tulang dan kabut tebal yang membutakan panca indera.  Saya bisa mencium kembali bau pinang dan sirih yang menghiasi setiap sudut kota serta mendengar alunan lembut Pikon dimainkan. Saya bagaikan tengah menapaki jalanan aspal kecil kota Wamena dan menyapa wanita-wanita setengah telanjang dan pria-pria berkoteka : “Mama la’o! Bapa la’o!”. Semua serasa begitu nyata dan proyeksi yang begitu nyata ini sangat membantu saya untuk bercerita ulang kepada Anda mengenai Lembah Baliem.

Saya tidak butuh Wikipedia. Saya tidak butuh Google. Walau telah berlalu sepuluh tahun yang lalu, semua terekam dengan sangat baik dalam ingatan saya.

It’s a Very Small Town with Limitted Acces.

Lembah Baliem yang dikelilingi oleh perbukitan dan terletak di kaki Pegunungan Jayawijaya adalah daerah terpencil yang hanya bisa dicapai dengan menggunakan pesawat dari Jayapura (Ibu Kota Provinsi Papua). So sorry, we don’t have another transportation accept plane to reach Lembah Baliem. Sebenarnya ada juga sih jalan darat dari Jayapura menuju Wamena. Hanya saja jalur ini begitu rawan untuk dilalui. Jadi kecuali kalian punya sepuluh nyawa atau sakti mandra guna seperti Wiro Sableng atau berangkat dengan membawa 5 batalion tentara, sangat amat tidak dianjurkan untuk menempuh jalan darat. Keterbatasan akses inilah yang membuat harga-harga barang dan makanan di Kota Wamena luar biasa mahal. Oleh karena itu, selain harga tiket pesawat dan penginapan yang mahal, Anda memang harus menyiapkan cukup dana untuk berlibur ke Lembah Baliem.

Perjalanan Jayapura - Wamena ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Beruntung saat ini maskapai penerbangan dengan rute Jayapura – Wamena sudah menggunakan pesawat yang beradab. Di masa saya dulu (tahun 90an), hanya pesawat focker yang bisa mencapai Wamena. Tahu kan, pesawat dengan tenaga baling-baling yang kalau menembus kabut sedikit saja sudah berguncang heboh seperti terkena badai di tengah Samudera Atlantik.

Setibanya di Airport, jangan heran. Wamena belum mempunyai bandara keren dengan fasilitas eskalator dan elevator. Kalau dilihat dari luar, bandara Wamena justru lebih mirip Kantor kelurahan. Dan please, please, please, jangan panik saat porter-porter bertampang sangar begitu galaknya menawarkan jasa membawa barang-barang Anda. Nada bicara masyarakat di sana memang keras dengan intonasi suara tinggi. Tolong diperhatikan tariff porter di sana pun tidak semurah di daerah lain. Coba saja beri Rp. 10.000,- kalau Anda tidak mau di caci maki. 


Saking kecilnya kota ini, ke mana pun kita pergi pasti akan bertemu dengan orang yang sama. Ya, istilahnya Lu lagi… lu lagi… Tapi justru hal ini lah yang membuat persahabatan anak-anak yang lahir dan tumbuh di Lembah Baliem menjadi abadi. Dengan pergaulan yang itu-itu saja, kami menjadi sangat akrab satu sama lain. Tak heran walau terpisah bertahun-tahun lamanya, persahabatan kami anak-anak Lembah Baliem tetap terjaga dengan baik. Kami tidak hanya mengenal satu sama-lain, kami bahkan mengenal adiknya, kakaknya, orangtuanya, tantenya, bahkan pembantunya. Ya, seperti yang saya katakana tadi, semua karena lu lagi.,. lu lagi…

Panas Terik di Siang Hari, Dingin Menusuk di Malam Hari, Selimut Kabut Tebal, dan Waspadalah terhadap Angin Kurima.

Lembah Baliem berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut walau pun namanya praktis Lembah. Tak heran udara di sana begitu dingin menusuk. Di malam hari, suhu normal mencapai 10 hingga 15 derajat Celsius. Di siang hari walaupun panas terik menyengat kulit, hembusan angin dingin yang kering tetap membuat suasana terasa sejuk. Karena itu, bagi wisatawan atau pun pendatang baru, tolong, jangan berani-beraninya untuk mandi tanpa air panas. Dan sekedar saran, pakailah selalu lotion dan pelembab bibir untuk mencegah kulit dan bibir pecah-pecah.

Dahulu ,dipagi hari, kabut tebal selalu turun menyelimuti Lembah Baliem. Kabut ini benar-benar tebal sehingga jarak pandang pejalan kaki pun sangat terbatas. Tak jarang pesawat yang hendak masuk ke Wamena harus kembali lagi ke Jayapura karena kesulitan untuk mendarat. Saat ini walaupun tidak lagi setebal dahulu, kabut masih menghiasi keindahan alam Lembah Baliem dan seolah mempertegas unsur mistis yang dimiliki oleh Lembah Baliem.

Bulan Juli menandakan datangnya musuh kami di sore hari yang biasa kami sebut Angin Kurima. Seperti namanya, angin kencang berhawa dingin ini bertiup dari sebuah Kecamatan bernama Kurima. Angin dingin yang bertiup sangat kencang dan muncul di sore hingga malam hari ini tidak saja membekukan, tapi juga menerbangkan debu, rok dan jemuran, membengkokkan payung, mematahkan dahan dan ranting pohon, bahkan membuat kami susah berjalan dan mengayuh sepeda melawan terpaannya.

Alhasil, di bulan Juli hingga Desember saat musim Angin Kurima datang, kami semakin mempertebal jaket-jaket pelindung kulit. Tak jarang serangan iritasi mata akibat debu yang terbawa angin kurima melAnda kami, dan juga wabah bibir kering dan pecah-pecah tak ketinggalkan menghampiri kami. Walaupun angin ini cukup menyebalkan, herannya kami terkadang menunggu-nunggu saat musim angin kurima datang. Rasanya desingan angin kencang di telinga kami, dingin sapuannya menghantap pipi kami, dan sensasi sulit berjalan serta mengayuh sepeda yang ditimbulkan saat melawan tiupan angin menjadi kesenangan tersendiri bagi kami.

Suku Penghuni Lembah Baliem dan Pakaian Adat Mereka

Terdapat 3 suku besar yang mendiami yang mendiami Lembah Baliem, yaitu Dani, Lani dan Yali. Namun suku Dani lah yang terbesar dan mendiami hampir seluruh wilayah lembah Baliem. Dahulu waktu saya masih kecil, ayah saya mengajarkan bagaimana cara untuk membedakan mereka. Cukup mudah, tinggal melihat bentuk dan ukuran koteka (baju adat untuk pria, yang terbuat dari labu yang dikeringkan dan hanya menutupi bagian vital saja) mereka. Suku Dani mengenakan koteka dengan ukuran kecil. Sementara Suku Yali mengenakan koteka dengan ukuran besar dan ditambahkan dengan lilitan rotan yang menutupi pinggang. Suku Lani sedikit sudah dibedakan dengan Suku Dani karena pakaian adat mereka hampir mirip. Namun jika mendengar dialek yang digunakan, maka akan terlihat perbedaan antara keduanya.

Lembah Balaiem di tahun 90an jauh lebih primitif dibandingan jaman sekarang. Dahulu pemandangan pria-pria berkoteka dan wanita topless dengan menggunakan Sali (pakaian adat untuk wanita seperti rumbai-rumbai yang terbuat dari tanaman rawa yang dikeringkan) sangatlah lazim. Saat ini di Kota Wamena pemandangan pria berkoteka dan wanita bersali sudah mulai jarang terlihat. Kecuali pada saat-saat tertentu yaitu pada Festival Lembah Baliem di bulan Juni, atau pada saat pesta-pesta adat mereka. Jangan lupa abadikan moment saat berjumpa dengan mereka yang mengenakan pakaian adat, kapan lagi ada kesempatan berfoto dengan wanita dan pria hampir telanjang namun tidak termasuk dalam kategori pornografi?

Budaya Bakar Batu yang Melegenda.

Saat membaca Bakar Batu, pasti banyak yang berpikir : kurang kerjaan banget sih, apa-apaan batu dibakar-bakar. Apa gunanya coba? Well, bukan berarti batu itu dibakar karena kurang kerjaan, Itu adalah nama pesta adat Suku Dani dimana mereka memasak daging, ubi-ubian dan sayur-sayuran dengan menggunakan batu yang telah dibakar hingga menjadi bara, dalam sebuah lubang yang digali di dalam tanah. Bakar batu biasanya diadakan di lapangan yang luas karena dihadiri oleh masyarakat luas.

Jadi begini prosesnya, tanah digali sedalam satu meter, lalu batu-batu berdiameter 15 s/d 20 cm yang telah dibakar diletakkan di dasar lubang tersebut. Setelah itu daging babi, sapi atau ayam yang telah dibumbui dan dibungkus daun diletakkan di atasnya. Kemudian di atas lapisan daging tersebut kembali diletakan batu-batu yang telah dipanaskan hingga benjadi bara. Di atasnya kemudian diletakan ubi-ubian dan pada lapisan teratas diletakakn sayuran yang telah dibumbui dan dibungkus daun pisang. Setelah batu pada lapisan terakhir diletakkan, lubang tersebut kemudian ditutup dengan menggunakan daun-daun dan ditunggu hingga semuanya matang.

Bagaimanakah dengan rasanya? Jangan Tanya!  Jika Anda termasuk pemerhati kesehatan dan kebersihan, Anda dapat dipastikan tidak akan mau untuk menyentuh hasil masakan tersebut. Namun percayalah, dapat kesempatan untung mengikuti pesta adat Bakar Batu saat ini sangat lah langka karena hanya diadakan pada saat-saat tertentu saja. Jadi beranikan diri Anda. Anggap saja Anda tengah mengikuti lomba Fear Factor.

Babi dalam Gendongan, Uang dalam Koteka

Mungkin saat tengah menelusuri jalanan pesedaan lembah Baliem, Anda akan menemukan pemandangan tidak lazim di mana seorang wanita tengah menggendong seokor babi dengan penuh kasih sayang sementara anaknya yang terlihat baru saja bisa berjalan dibiarkan luntang-lantung sendiri. Well, adalah hal yang biasa jika masyarakat adat Lembah Baliem memperlakukan babi dengan penuh cinta. Karena di Lembah Baliem babi adalah hewan yang sangat berharga melebihi emas sekali pun. Dalam adat masyarakat Lembah Baliem, babi memiliki nilai adat tinggi dan berharga sangat mahal. Mau bayar mas kawin pakai babi, ada yang meninggal potong babi, denda pembunuhan dibayar pakai babi. Jadi tidak heran kalau mereka memperlakukan babi peliharaannya dengan sangat hati-hati. And just for you know, jangan sampai Anda menabrak babi jika sedang berada di sana. Denda membunuh babi berkali-kali lipat mahalnya dibandingkan dengan denda membunuh orang. Trust me!

Wamena ditahun 90an masih dipenuhi oleh penduduk asli primitif yang masih menggunakan koteka dan Sali sebagai pakaian adat. Jadi penduduk Wamena sudah sangat terbiasa melihat pemandangan lelaki dan wanita setengah bugil berkeliaran ke sana ke mari. Yang lebih unik, terkadang para lelaki berkoteka ini menyimpan uang dalam koteka mereka. Kebayang gak sih saat kita hendak membeli sesuatu dari mereka, lalu kemudian mereka membuaka koteka mereka untuk menyimpan uangnya? Hehehehehe, unik dan menggelikan.

Jari-Jemari Buntung dan Masker Lumpur Sebagai Tanda Duka Cita

Adat masyarakat Lembah Baliem lainnya yang cukup terkenal adalah budaya memotong ruas jari tangan saat ada anggota keluarga yang meninggal. Mungkin Anda pernah melihat adegan tersebut dalam Film Di Timur Matahari. Mengerikan? Tentu. Saya pun sering bergidik ngeri saat melihat ada masyarakat Lembah Baliem yang memiliki jari-jemari buntung. Filosofi pemotongan jari ini adalah untuk menunjukan duka cita mereka yang teramat mendalam atas kepergian orang yang dicintai. Saat ini praktek memotong ruas jari tangan sudah dilarang baik oleh Pemerintah Daerah maupun oleh Gereja. Namun tetap saja, suku-suku pedalaman hingga kini masih melakukan pemotongan jari saat berduka.

Tanda lainnya jika sedang berduka adalah dengan melumuri badan dengan mengenakan lumpur. Jika orang Israel menggunakan lumpur Laut Mati sebagai kosmetik, penggunaan lumpur saat kedukaan bagi masyarakat adat Lembah Baliem sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah kecantikan. Pertama kali melihat masyarakat adat Lembah Baliem melakukan hal ini, saya berpikir betapa jorok dan gilanya mereka. Maksudnya, lumpur itu kan kotor dan mungkin saja banyak telur cacingnya kan? Namun ternyata itu adalah budaya mereka, salah satu kekayaan negeri yang saat ini hampir punah termakan jaman.

The Famous Danau Habema dan Pasir Putih Tanpa laut

Membaca itenery hadiah Lomba ini yang mengatakan bahwa Pemenang akan diajak untuk melihat keindahan Danau Habema membuktikan betapa terkenalnya danau tersebut di mata dunia. Perjalanan ke Habema cukup dekat, hanya sekitar 45 kilo dari Kota Wamena atau sekitar 3 jam perjalanan. Dahulu akses menuju Danau Habema sangatlah dulit. Selain medannya yang mengerikan karena jalanan curam mendaki dan belum diaspal, faktor keamanan yang rawan juga membuat Danau ini sulit untuk dikunjungi. Saat ini dengan semakin kondusifnya situasi keamanan serta semakin majunya infastruktur daerah, wisatawan telah dimanjakan dengan akses mudah menuju Danau Habema.

Danau Habema terletak di komplek Pegunungan Jayawijaya dan merupakan salah satu danau tertinggi di Indonesia. Tidak heran suhu udara di Danau Habema berkisar antara 8 derajat Celsius di siang hari dan bisa mencapai 3 derajat Celsius di malam hari. Dari danau ini Anda bisa langsung melihat kemilau salju yang menghiasi Puncak Trikora. Atau kalau beruntung, Anda bisa melihat cendrawasih secara langsung. Keindahan danau ini seolah tak habis-habisnya untuk dinikmati. Siapkan kamera terbaik anda jika berkunjung ke sana.

Wisata lainnya yang terkenal di Lembah Baliem bernama Pasir Putih yang terletak di Distrik Pikke, kurang lebih 5 km dari pusat kota Wamena. Hapus khayalan Anda tentang laut biru dengan pantai putih bersih nan indah. Pasir Putih ini bukanlah wisata pantai seperti yang dimiliki oleh Pangandaran, melainkan daerah perbukitan batu yang indah yang dihiasi aliran pasir seputih salju. Dari atas Pasir Putih kita dapat menikmati pemandangan Distrik Pikke yang dihiasi oleh padang rumput hijau dan rawa-rawa bening dengan batuan unik dan indah.

Entah bagaimana sejarahnya pasir tersebut bisa berada di perbukitan batu tersebut tanpa adanya laut. Hingga saat ini tampaknya belum ada peneliti yang tertarik untuk menelitinya.  Namun jika Anda datang ke Lembah Baliem, sempatkan diri Anda untuk mampir ke tempat ini.

Who Said We Don’t Have Mummy?
Lagi-lagi, lupakan khayalan Anda tentang Mummy berbalut perban yang dibaringkan dalam peti mati mewah berlapis emas seperti layaknya Mummy Firaun Mesir. But still, yes Lembah Baliem has Mummy. Jika tidak salah mengingat, ada sekitar 7 Mummy yang ditemukan di Lembah Baliem. Sebagian berasal dari Distrik Kurulu yang merupakan wilayah dari Kabupaten Jayawijaya, dan sebagian berasal dari Distrik Kurima yang merupakan wilayah dari Kabupaten Yahukimo (Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya).

Mummy masyarakat lembah baliem bukan lah orang sembarangan. Hanya kepala suku dan panglima perang yang terhormat saja yang bisa dibuat menjadi Mummy. Masyarakat Lembah Baliem dikenal sangat menghargai leluhur dan nenek moyang. Oleh karena itu, mengawetkan jasad orang yang dihormati membuat mereka merasa masih dilindungi dan dapat berkomunikasi dengan leluhur mereka. Pembuatan Mummy itu sendiri bukan dengan cara di balsam seperti layaknya orang Mesir melainkan dengan metode pengasapan. Tidak heran Mummy yang dihasilkan menjadi sehitam arang.

Ingatlah, menginjakan kaki ke Lembah Baliem tanpa melihat Mummy, sama saja dengan Anda belum pernah datang ke Lembah Baliem. So, make it on your list!

Festival Lembah Baliem

Lebih populer dengan nama Perang-Perangan di kalangan masyarakat Lembah Baliem.  Festival ini biasanya diadakan pada bulan Juni. Alasan logisnya sih, bulan Juni itu musim liburan dan karena memang ditujukan untuk menarik wisatawan lokal dan manca Negara, maka bulan Juni dianggap pas untuk menyelenggarakan Festival Lembah Baliem.

Pada Festival ini, kolompok-kelompok suku adat dari tiap desa mengikuti lomba dimana mereka akan memperagakan atau mementaskan tata cara perang antara suku berdasarkan adan Lembah Baliem. Karena itu masyarakat Lembah Baliem lebih suka menyebutnya Perang-Perangan. Peserta akan menggunakan baju adat mereka, lengkap dengan semua atribut perang dan senjata adat mereka, lalu mereka akan memeragakan tata cara perang mulai dari awal sampai terakhir.

Festival Lembah Baliem saat ini sudah terkenal di seluruh dunia. Banyak wisatawan asing berdatangan pada musim Festival ini karena ini merupakan moment yang tepat bagi wisatawan untuk mengabadikan budaya Lembah Baliem. Anda akan disuguhi oleh pemandangan pria-pria berkoteka, wanita-wanita topless, hidung-hidung yang dilubangi oleh taring dan tulang babi, permainan pikon (alat musik tradisional yang terbuat dari kulit kayu dan dimainkan dengan cara ditiup) dan tari-tarian perang. Awalnya mungkin anda akan takut mendengar teriakan-teriakan dan nyanyian mereka yang terdengar mengancap dan meresahkan. Namun percayalah, saat meninggalkan Lembah Baliem kalian akan merindukan dan mengenang teriakan dan nyanyian itu.

Sungai Baliem, Lautnya Lembah Baliem

Dengan sangat meneyesal saya harus menyampaikan bahwa kami di lembah Baliem tidak memiliki pantai. Sebagai gantinya, kami memiliki sungai berwarna cokalat cappuccino yang sangat terkenal karena membelah Lembah Baliem dari hulu ke hilir. Warna cokelat cappuccino itu sendiri dihasilkan dari lumpur. Mata air sungai Baliem berasal dari Danau Habema dan sungai ini berakhir secara misterius di pegunungan selatan (mungkin masuk menjadi air bawah tanah).

Sungai Baliem yang menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat Lembah Baliem bisa menjadi sangat mematikan. Selain airnya yang sedingin es, Sungai Baliem yang terlihat tenang ini ternyata memiliki aliran yang deras di dasarnya. Jangan coba-coba berenang di Sungai Baliem jika Anda bukan perenang professional karena sejarah mencatatkan Sungai Baliem telah merenggut nyawa banyak orang.

PENUTUP
“Ping!”
“Ping”
“Ping”

Suara BBM dari blackberry saya mengaburkan memori, perlahan kabut tebal yang menemani lamunan saya menipis, wangi pinang dan sirih berganti wangi secangkir kopi dingin di meja kerja saya, pemandangan bukit dan padang rumput indah berganti dengan layar komputer saya yang menampilkan halaman website Jelajah Bumi Papua. Saya menghela nafas panjang untuk mengusir kesedihan saya : “Kapan aku akan pulang kembali ke pangkuanmu, Papuaku?”

“Ko su lihat website-nya?” Teman saya kembali mengirimkan BBM, kali ini dengan dialek Papua.
“Iyo.” Saya menjawab singkat.
“Ko ikut to?” Saya tahu kali ini dia mendesak. “Ko bilang ko mau pulang?”
“Yup. Setidaknya walau nanti tidak menang, saya telah menceritakan betapa luar biasanya kampung halaman kita.” Tegas saya.

Saya kemudian membuka Facebook untuk melihat foto-foto masa kecil saya saat masih hidup di Lembah Baliem. Foto-foto itu tidak seindah foto jaman sekarang yang sudah menggunakan camera digital canggih. Karena masih menggunakan teknologi roll film, foto-foto itu telah usang termakan jaman. Saya telah men-scan foto-foto itu dan menyimpannya di Facebook agar dapat melihatnya setiap saat. Foto-foto usang itu adalah satu-satunya harta saya untuk mengenang masa kecil saya di Lembah Baliem yang hebatnya masih mampu membawa saya melewati lorong waktu dan mengobati semua rasa rindu atas Lembah Baliem.

Dan inilah penggalan memori terbaik yang bisa saya ceritakan mengenai Lembah Baliem. Mungkin Anda akan heran, mengapa saya mengikuti lomba menulis ini jika hadiahnya toh pergi ke Lembah Baliem, tempat di mana saya pernah tinggal. Satu hal yang mungkin sulit untuk Anda mengerti, kecintaan saya yang begitu besar akan Lembah Baliem dan tanah Papua membuat saya selalu merindukannya dan selalu ingin pulang. Sudah terlalu lama saya tidak pulang, sehingga kerinduan yang ada semakin menggunung dan menggebu-gebu.

Jika Tuhan mengijinkan, aku akan pulang ke dalam dekapanmu, Lembah Baliemku. Jika Tuhan mengijinkan, akan ku kecup indahmu Lembah Baliemku. Dan sembari aku merajut rasa rindu yang menggebu-gebu ini, ku tuliskan puisi cintaku ini untukmu, Lembah Baliemku.

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Kami hidup dalam maha karya agung Pencipta,
Taman Lorentz hutan kami, Habema laut kami, Cenderawasih paduan suara kami
Salju abadi mahkota kami, mengalir pasir putih kami, siapa yang bisa menandingi?

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Kabut dingin selimut kami, hangat mentari atap kami,  wangi rumput alas kami
Mainkan pikon kami, tarikan busur panah kami, kasut pun  kami tak butuh
Nyalakan api itu, bakar batu kami, wangi semerbak ramaikan hari kami

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Kurulu, Kurima, Pugima , Piramid
Sinakma, Napua, Gunung Susu
Wesaput, Sogokmo, Asologaima
Tanah kami terbentang luas, kaya raya, melimpah ruah…

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Hutan ilalang sarang kami, rakit pion-pion kami jadi pesawat
Pinang, kapur dan sirih merahkan bibir kami
Manis tebu dan keras tuke segarkan terik menyengat

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Sungai-sungai  es hanyutkan kami
Tangkap, tangkap semua todi!
Subur ladang hipere dan kasbi kenyangkan kami

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Persahabatan kami abadi, persahabatan kami abadi,
Waktu, tahun, jarak hari tak pisahkan  kami
Hati kami ikat bersama dan simpan dalam noken

Kami anak-anak Lembah baliem,
Kami cinta lembah Baliem, kami cinta lembah Baliem
Rindu hati akan tanahmu setiap saat
Rindu hati akan negerimu hingga urat dan nadi

Kami anak-anak Lembah Baliem,
Lauk, lauk, nayak, wah wah wah
Yogotak hubuluk motok hanorogo
Kami cinta Lembah Baliem, kami cinta Lembah Baliem...