Selasa, 29 Maret 2011

Lima Alasan Bangsa Kita Sulit Untuk Maju (Part II)


1.   Tidak Terlalu Mencintai Pemimpinnya
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mencintai pemimpinnya. Nggak selalu benar, tetapi cukup terbukti. Ambil contoh saja Jepang dan Inggris. Dua Negara adidaya yang di kepalai oleh Kaisar Akihito dan Ratu Elizabeth II yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Memang belum tentu semua warga Negara Jepang dan Inggris  pro kepada mereka, tentunya banyak juga yang kontra. Namun setidaknya, pemerintahan mereka sangat stabil dan didukung oleh rakyat mereka. Lihat betapa rakyat benar-benar menunggu kesempatan untuk bisa bertemu Kaisar dan Ratu mereka, bagaimana setiap pidato kenegaraan mereka selalu dinanti-nanti walaupun itu hanya untuk mengucapkan selamat tahun baru.
Contoh yang lebih ekstrim adalah Hitler. Ya dia memang bejat. Ya dia memang tidak berperikemanusiaan. Ya dia memang biadab dan komunis. Dia juga sinting dan semua bangsa di dunia membencinya. Namun selama dia berkuasa, pendukung Nazi menaruh kecintaan yang sangat besar terhadap Hitler. Mereka sangat menghormati dan mendukung Hitler. Itu adalah salah satu faktor kenapa Nazi yang awalnya hanya sebuah partai buruh bisa berkembang begitu hebatnya dan mendominasi dunia pada era Perang Dunia ke II.
Tidak semua pemimpin Negara benar. Kita juga nggak bisa menjamin apakah dia benar-benar bersih dari korupsi dan menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak semua keinginan masyarakat bisa terpenuhi dalam waktu singkat. Dan belum tentu semua janji-janji yang diberikan pemimpin bisa terlaksana. Namun demikian, Pemimpin Negara kita tetaplah orang yang kita pilih pada saat Pemilihan Umum dilaksanakan. Itu artinya kita lah yang memilihnya. Rasa kecewa terhadap pemimpin pasti ada. Namun kita tetap harus menaruh hormat kepadanya. Nggak gampang lho mengurus sebuah Negara dengan ratusan juta jumlah penduduk. Nggak mudah untuk mengabulkan keinginan semuanya. Nggak mudah untuk mengerti apa mau semuanya. Coba kalian pikir, seorang kepala keluarga aja belum tentu sukses memimpin anak dan istrinya, apalagi seorang kepala Negara yang memimpin lebih banyak orang?
Beda cerita kalau pemimpin kita benar-benar seorang penguasa yang lalim dan kejam. Misalnya pemimpin Libya, si Khadafi. Muammar Khadafi adalah pemimpin Libya sejak 1969. Jabatan yang disandangnya bukan merupakan jabatan resmi, tetapi ia menyandang “Guide of the First of September Great Revolution of the Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya” atau “Brotherly Leader and Guide of the Revolution”. Atau mantan penguasa Mesir yang terkenal sangat Korup, Husni Mubarak.yang menjabat sebagai Presiden Mesir semenjak tahun 1981.
Yang saya bicarakan di sini bukan masalah suka nggak suka, tetapi masalah menghormati pemimpin Negara kita. Karena demokrasi Negara kita yang kebablasan sudah menyebabkan masyarakat kita nggak punya lagi norma kesopanan terhadap pemimpin Negara kita. Lihat saja kalau ada unjuk rasa menentang pemerintah, mulai dari foto presiden dibakar, diinjak-injak, diludahi, diganti wajah hewan. Ckckckck! Padahal orang-orang yang melakukan itu adalah oknum nggak jelas yang mungkin saja nggak punya kualitas sama sekali dan nggak ada gunanya bagi Negara kecuali merampas jatah udara orang lain yang lebih bermanfaat buat hidup.
Masalah yang paling buat saya miris adalah aksi Koin Buat Presiden yang baru-baru ini terjadi. Memang aksi ini dipicu oleh salah satu perkataan Pak SBY yang dianggap rakyat tidak pantas untuk diucapkan (masalah gaji Presiden yang nggak naik-naik). Cuma kita sebagai warga Negara coba lah untuk tidak selalu berburuk sangka. Kepala Negara kita juga manusia biasa yang banyak salahnya. Hal kecil kayak gitu aja terlalu dibesar-besarkan. Mana rasa hormat kalian memperlakukan pimpinan Negara seperti itu? Kalau kalian tidak bisa menghargai pemimpin Negara sendiri, bagaimana kalian bisa dihargai oleh Negara lain? Pantas saja warga Malaysia selalu menjadikan kita bahan ledekan.
Saya jadi teringat bagaimana dulu rakyat kita merendahkan Bapak B.J Habibie dan memintanya untuk mundur dari pemerintahan. Rasanya hati saya kok ikut sakit ya mengingat perlakuan mereka yang sangat tidak menaruh hormat. Astaga… Sadarkah mereka orang yang mereka rendahkan sedemikian rupa itu adalah salah satu orang paling jenius di abad 21 dan dirinya sangat dihargai di Negara lain melebihi di tanah airnya sendiri? Orang-orang itu menghafal rumus fisika saja belum tentu bisa! Kalau pun mereka tidak menghendaki Bapak B.J Habibie memerintah saat itu (karena situasi politik Indonesia lagi kacau saat itu, saya maklum), tidak usahlah menggunakan cara yang tidak beretika seperti itu. Mikir dulu kenapa sih?
Dulu jaman rezim Alm. Bapak Soeharto, mana berani orang macam-macam terhadap pemerintah. Terlalu vocal sedikit saja bisa berakhir dengan hilangnya nyawa atau dibui dalam waktu yang lama (contoh : Sri Bintang Pamungkas). Apalagi kalau mau menghina dengan ekstrim seperti yang terjadi saat ini. Hal ini karena aturan hukum saat itu benar-benar digunakan untuk menjaga martabat pemerintahan. Kita yang hidup setelah era reformasi (yang kebablasan) ini harusnya bersyukur bahwa peraturan sudah tidak sekeras dulu. Masyarakat sekarang lebih bebas untuk mengutarakan pendapat.  Harusnya kebebasan yang kita miliki ini bisa kita gunakan dengan baik untuk kemajuan Negara, bukannya malah menjadi kesempatan untuk memperolok-olok kepala Negara kita.  
Saat ini, Mahkamah Konstitusi (MK) telah menghapus delik penghinaan terhadap Kepala Negara. Penghapusan itu dilakukan karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Putusan MK nomor 013-022/PUU-IV/2006, delik penghinaan terhadap kepala negara, yaitu pasal 134, 136 bis, dan 137 KUHP telah dinyatakan bertentangan dengan UUD 45 dan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Lha, saya kok malah tidak sependapat ya dengan penghapusan delik ini. Masyarakat Indonesia terkenal sangat sulit buat diatur. Kalau delik ini dihapus, apa yang akan membatasi kelakuan tidak tahu sopan santun rakyat kita?
Kebebasan berpendapat? Lagi-lagi itu yang dijadikan tameng KITA untuk mencaci maki pemerintah. Menginginkan PERUBAHAN, KEKECEWAAN dan REVOLUSI? Same old same old. Lagi-lagi itu alasan yang kita gunakan. Pemerintah kita bisa salah. Mereka tidak selamanya benar. Kita kecewa. Kita ingin lebih banyak lagi untuk bangsa dan Negara. Tetapi cobalah untuk menjadi bangsa yang sedikit berpendidikan dan beretika. Kita secara pribadi saja tidak mau direndahkan dan ingin dihormati, namun kenapa melakukan hal tidak beretika seperti itu terhadap pimpinan kita? Berjuang dan bersuaralah dengan cara terhormat dan menggunakan OTAK!

2.   Suka Banget Musingin Urusan Negara Lain

Ini ni yang kadang bikin saya bingung. Perang antara Irak – Amerika, rakyat Indonesia sibuk unjuk rasa di Bunderan HI. Gaza digempur Israel, pengguna Blackberry sibuk masang foto bendera Palestina di profile BBM. Revolusi Mesir dan krisis Libya, mahasiswa bingung mendesak Pemerintah ikut turun tangan. Maksudnya apa gitu lho? Nggak jelas. Nggak efektif. Mau menunjukan solidaritas apa mau sok pahlawan? Atau mau dinilai kalau kita peduli dan berbuat sesuatu? Yaelah, bukan begitu kali caranya.

Mau yang lebih efektif dan menunjukan kepedulian serta peran serta kita? Galang dana, jadi sukarelawan, ikut pasukan perdamaian, aktif menulis artikel di media cetak dan elektronik, jadi pembicara aktif di forum-forum. Be creative dan pakai otak! Jangan maunya rame-rame aja. Toh percuma kita rame-rame di Negara kita, pihak yang bersangkutan belum tentu tahu kita melakukan sesuatu buat mereka. Mending melakukan sesuatu yang nyata dan bermanfaat. Lagian ya, suka bingung deh sama orang-orang yang sok tahu banget sama urusan intern suatu Negara. Siapa sih yang tahu konflik sebenarnya dalam Negara mereka? Warga Negara mereka sendiri aja belum tentu tahu permasalahan dalam negeri mereka, apalagi kita yang orang luar.

Paling males kalau udah ada yang mulai sok tahu ngomongin benci Amerika dan Israel karena begini lah, atau mati-matian menyatakan dia mendukung Irak atau Palestina karena begitu lah, Berpendapat boleh, toh semua manusia punya sudut pandang yang berbeda mengenai suatu permasalahan. Tapi netral aja lah! Nggak usah terlalu lebay. Memangnya kalian tahu siapa yang benar dan salah? Tahu apa yang terjadi sesungguhnya? Apakah dengan memaki-maki bangsa lain akan membuat Negara kita lebih kaya, lebih maju dan lebih makmur?

Yang harusnya dipusingkan itu Negara kita sendiri : teman-teman kita yang terlantar di kolong-kolong jembatan; saudara-saudara kita yang disiksa di negeri orang karena mencari sesuap nasi; hutan kita yang semakin gundul; sebagian wilayah kita yang bergejolak ingin memisahkan diri dari NKRI, koruptor yang masih merajalela atau Negara tetangga tersayang yang terus menerus mencuri “kekayaan budaya” kita. Kalau hal itu merupakan hal yang berat juga dan nggak bisa kita lakukan, mulailah dengan memusingkan keluarga kita sendiri : kenapa anak anda sampai mengkonsumsi narkoba; kenapa bisnis anda hanya jalan di tempat; kenapa mertua anda tidak bisa akur dengan suami anda; kenapa istri anda lebih suka hang out bersama teman-temannya ketimbang makan malam bersama anda di rumah?

Menunjukan kepedulian terhadap Negara sahabat memang perlu. Tapi harus dengan cara yang bermanfaat. Berhenti deh melakukan hal-hal nggak bermutu yang buang-buang energy, buang-buang waktu, dan buang-buang emosi. Yang liat aja capek! Tahu kah kalian, saat saya berada di Palestina, seseorang warga Palestina bertanya kepada saya kenapa bangsa kita suka banget memusingkan negaranya sementara Negara kita sendiri masih kacau balau. Nah loh, bukannya mereka bersimpati kepada kita karena kita memperhatikan mereka, yang ada mereka malah mengasihani dan menganggap kita bego.

3.   Gampang Termakan Hoax, Suka Panik Berlebihan, Suka Ikut-Ikutan.

Heboh kanan kiri sepertinya sudah menjadi sifat dasar kita. Ada kabar Blackberry mau di nonaktifkan, semua user Blackberry pada hebooohhhhhh. Yang nggak pake Blackberry juga pada rame, rame nyukurin para user dan memuji keberuntungan diri sendiri karena belum sempat beli Blackberry. Lalu ada kabar film Hollywood nggak bakalan masuk Indonesia karena masalah pajak, rameeeeeeeeee semuanya. Sebenarnya sisi positifnya, itu tandanya masyarakat kita up to date dan tahu perkembangan Negara. Hanya saja nggak usah heboh nggak jelas kaya gitu kenapa sih? Lebay.

Ini yang terkadang membuat pemikiran kita nggak bisa terbuka dan maju. Karena pola pikir kita mudah dipengaruhi dan mudah di manipulasi. Apalagi kalau ada isu bom dan gempa bumi. Wah, semuanya langsung panik berlebihan. Waspada itu harus, tapi kalau sampai berlebihan dan nggak masuk akal, jadinya menghambat aktifitas kan?

Satu lagi yang buat males, kalau lagi ada isu apa begitu, semua acara tv (terlebih infotainment) isinya berita itu melulu. Contohnya waktu kasus Ariel dan Luna Maya. Mulai dari pagi sampai pagi lagi, acara tv isinya mbahas itu melulu. Nggak mikir apa kalau justru mereka yang mem-blow up berita tersebut? Dan setelah itu mengkait-kaitkan kasus pemerkosaan di jalanan dan ABG yang hamil di luar nikah adalah dampak dari video Ariel dan Luna Maya, yang kalau dipikir-pikir dengan baik kemungkinan hal tersebut terjadi hanya 1 : 10.

Please, jangan mau jadi warga Negara lebay yang gampang terpengaruh dan ikut-ikutan. Saya juga kurang setuju sama masyarakat kita yang suka ikut-ikutan (maksudnya mau ngikutin trend kali ya) tanpa mempertahankan jati diri atau menyesuaikan dengan keadaan  bangsa (westernisasi). Ingat lho, nggak semua kebudayaan luar baik untuk kita. Kita tetap harus dapat menyaring mana yang baik mana yang buruk.

4.   Suka Banget Unjuk Rasa yang Terkadang Berakhir Pada Kekerasan. Kalau Ada Apa-Apa, yang Diatasnamakan Adalah Hak Asasi Manusia.

Unjuk rasa memang nggak dilarang, malah diatur prosedurnya dalam peraturan hukum Indonesia. Selama masih berlangsung damai dan efektif sih nggak masalah, malahan bagus kalau bisa menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Misalnya, karena unjuk rasa, suatu pihak yang tadinya tidak mau bermusyawarah akhirnya mau bermusyawarah dan tercapai suatu kesepakatan untuk memecahkan suatu masalah.

Yang paling nggak guna dan merugikan adalah unjuk rasa yang berakhir rusuh dan penuh kekerasan (anarkis). Rusak kanan kiri, lempar kanan kiri… Terus kalau udah rusuh dan ditertibkan polisi, polisinya yang malah jadi sasaran amukan. Nah, kalau sudah begini, polisi tentunya akan bertindak tegas. Tapi kalau sampai ada yang terluka karena tindakan tersebut, lagi-lagi polisi disalahkan dengan alasan menggunakan kekerasan. Padahal mereka sendiri terkadang yang memulai kekerasan dengan melempar-lempari petugas keamanan yang bertugas memantau aksi mereka.

Unjuk rasa juga kadang nggak jelas, untuk tujuan apa dan karena hal apa. Terkadang oknum-oknum tertentu sengaja membayar warga untuk ikut dalam unjuk rasa, padahal warga tersebut juga nggak ngerti apa-apa mengenai hal yang diunjukrasakan. Belum lagi kalau unjuk rasa itu membuat jalanan macet dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi warga lainnya.

Tolak ukur kepentingan seseorang untuk melakukan unjuk rasa memang berbeda-beda. Dan lagi-lagi sangkut pautnya sama Hak Asasi Manusia. Cuma tolong lah yang bertanggungjawab dikit kalau mau unjuk rasa. Nggak bosan apa rusuh? Setidaknya timbal balik akibat membuat jalan  macet, unjuk rasa tersebut harus merupakan hal yang memang perlu diunjukrasakan. Jangan mau jadi orang yang gampang dipengaruhi dan dihasut untuk melakukan ini itu. Bagaimana mau maju kalau kita sendiri secara individu masih belum bisa meningkatkan kualitas diri?

Yes, dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Negara kita dengan jelas menjunjung Hak Asasi Manusia. Tapi sepertinya rakyat Indonesia terlalu meresapi dan menghayati Hak Asasi Manusia secara berlebihan deh. Sampai-sampai semua segi kehidupan berbangsa dan bernegara baik sebagai individu maupun sebagai warga Negara selalu dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia.

Coba, sudah berapa banyak artis berumur dibawah 18 tahun yang meminta perlindungan ke Komnasham, hanya karena hal-hal yang sepele. Hal-hal nggak penting yang sebenarnya bisa diselesaikan secara intern dalam keluarga dan nggak sampai perlu melibatkan Komnasham. Ini sih masih mending. Ada pula penjahat berdarah dingin yang jelas-jelas bersalah atas pembunuhan dan perbuatan keji lainnya yang meminta pengampunan atas hukuman mati yang diterimanya dengan berlindung pada alasan Hak Asasi Manusia (hak untuk hidup).

Dalam prakteknya, penegakan hukum di Indonesia banyak yang terhambat karena berbenturan  dengan Hak Asasi Manusia. Memang Hak Asasi Manusia harus dijunjung tinggi dan ditegakan, namun jangan sampai mengesampingkan hal krusial lainnya. Kalau semua-semua diatasnamakan Hak Asasi Manusia, sekalian aja nggak ada aturan hukum. Karena yang namanya peraturan dan hukum kan bersifat larangan dan pembatasan, kalau lagi-lagi berbicaranya dalam konteks Hak Asasi Manusia, berarti hukum itu melanggar Hak Asasi Manusia dong? Ya repot! Padahal salah satu tolak ukur kemajuan Negara adalah tingkat kepatuhan dan penegakan hukumnya.

5.   Tayangan Yang Tidak Bermutu

Oke, pada awal-awal kebangkitan dunia perfilman Indonesia (Ada Apa Dengan Cinta, Pasir Berbisik, GIE), saya cukup bangga karena film-film tersebut mampu membawa kita hingga ajang film Internasional dan mengembalikan kejayaan perfilman Indonesia. Bukan hanya itu, film-film kita juga digemari oleh Negara tetangga kita (Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina). Ini membuktikan bahwa kreativitas anak bangsa belum mati. Namun lambat laun ke depan, kok semakin nggak bermutu ya? Makin lama makin nggak jelas dan jadinya malah film horror porno, atau film komedi porno yang sebenarnya nggak lucu-lucu banget. Intinya semakin nggak berkualitas dan nggak layak ditonton.

Bukan menghina dan tidak mencintai produksi anak bangsa, namun seharusnya media elektronik itu mampu lho meningkatkan kualitas kita dan menjadi sarana pendidikan bagi anak bangsa. Karena mau tidak mau apa yang kita tonton dan dengarkan dapat berpengaruh pada pola pikir kita. Tapi kalau semua acara tv kita isinya sinetron melankolis kacangan, reality show penuh tipu muslihat, dan acara gossip pagi siang malam, ditambah pula dengan acara layar lebar yang dipenuhi oleh artis binal dan hantu-hantu tanah air, bagaimana bisa mendidik anak bangsa? Mau mendidik anak bangsa yang suka bergossip (akibat infotainment tiada henti pagi, siang, sore, malam)? Anak bangsa yang suka melankolis dan berkhayal jadi kaya tanpa berusaha (sinetron yang biasanya menceritakan si kaya atau anak yang ditindas)? Atau anak bangsa percaya tahayul (film-film hantu tradisional yang membuat kita bisa nggak tidur tiga hari)?

Rasanya saya jadi kangen deh sama acara-acara di stasiun TVRI jaman dulu yang lebih bermanfaat. Ada acara cerdas cermat (buat anak-anak sekolahan, lumayan buat mengasah pengetahuan), acara Klompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa, merupakan kegiatan pertemuan untuk petani dan nelayan di Indonesia), serial drama Aku Cinta Indonesia (ACI), Si Unyil, Jendela Rumah Kita (jauh lebih menanamkan nilai-nilai luhur dibandingkan sinetron jaman sekarang). Kalau anak sekarang pasti ogah nih disuruh lihat beginian. Tapi masih jauh lebih bermanfaat dari pada nonton acara gossip selebriti jaman sekarang.

Bandingkan saja, jaman dulu setiap kali tayangan TVRI dimulai, pasti diawali dengan lagu Indonesia Raya. Ini bermanfaat lho untuk menumbuhkan semangat nasionalisme kita. Kalau sekarang? Boro-boro mau mutar lagu kebangsaan, lagu nasional aja diputar cuma kalau untuk kepentingan kampanye dan iklan. Heleh-heleh, pantas aja anak umur 3 tahun sekarang udah bisa menyanyinya lagu-lagu Peter Pan dan Ratu, mana mengerti mereka Hymne Guru, Gugur Bunga, Syukur, Mars Bambu Runcing atau Bangun Pemudi-Pemuda. Beda dengan kita yang diajarkan lagu-lagu perjuangan setiap hari baik di sekolah maupun melalui tayangan tv. Herannya, orang tua jaman sekarang malah lebih bangga kalau anaknya yang masih balita bisa menyanyikan lagu Kucing Garong dengan baik dari pada bisa menyanyikan lagu Halo Halo Bandung. Jaman memang sudah berubah, teknologi berkembang, tren berganti, generasi semakin maju, tapi apakah semua hal itu membuat kualitas bangsa kita semakin berkurang?