Mencari Pramuka Di Tumpukan Jerami





DITENGAH-TENGAH HUTAN
DIBAWAH LANGIT BIRU
TENDA TERPASANG
DI TIUP SANG BAYU

API MENJILAT-JILAT
MENERANGI HUTAN RIMBA
MEMBAWA KELANA
DALAM IMPIAN

DENGARLAH  2 X
SAYUP   2 X
SUARA ANGIN MERDU
MEMECAH MALAM

JAUHLAH DARI KAMPUNG
MENURUT KATA HATI
GUNA BAKTI
PADA BUNDA PERTIWI

Hayooo, siapa yang masih ingat lagu ini? Apa, nggak tahu lagu ini? Jelas saja, kalau bukan anak Pramuka, nggak bakalan kalian tahu lagu ini. Soalnya lagu ini adalah lagu Pramuka yang biasa dinyanyikan saat sedang berkemah dan menyalakan api unggun. Siapa dari kalian yang pernah mengikuti pramuka? Masih ingat semaphore? Sandi rumput?  Simpul anyam? Cara membuat tandu? Terus terang saya sudah melupakan hampir seluruhnya. Kecuali semaphore yang masih saya ingat dengan baik.

Pencetus berdirinya Gerakan Pramuka sedunia adalah Lord Bodden Powell. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1857 di London, Inggris. Nama sesungguhnya ialah Robert Stepenshon Smyth. Ayahnya adalah seorang Profesor Geometri di Universitas Oxford bernama Bodden Powell yang meninggal ketika Stepenshon masih kecil.Lahirnya pendidikan Gerakan Pramuka diilhami oleh pengalaman-pengalaman semasa hidupnya. Awal tahun 1908 Bodden Powell menulis pengalamannya dalam sebuah buku yang berjudul ‘Scouting For Boys’, buku ini sebagai pembungkus acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Pada mulanya latihan ini ditujukan kepada anak laki-laki usia penggalang yang disebut Boys Scout. Tetapi kemudian atas bantuan Agnes adik perempuannya didirikan sebuah organisasi kepramukaan putri yang diberi nama Girl Guides yang kemudian dilanjutkan oleh Nyonya Bodden Powell.b. (disadur dari  http://abah123.blogspot.com/2007/12/sejarah-pramuka-internasional.html)

Jadi ingat jaman SMP dulu, waktu senang-senangnya ikut Pramuka. Rasanya bangga banget pake selempang yang dipenuhi TKK (Tanda Kecakapan Khusus) dan lambang Pratama tersemat gagah di dada. Weewww, serasa udah paling jago sedunia dan hebat bak veteran jenderal perang Vietnam. Apalagi kalau TKK itu didapatkan dengan susah payah. Dan kalau sedang menggunakan pakaian Pramuka lengkap (pisau dan tali terkait di sabuk, peluit melingkar di lengan), ckckckck! Sudah serasa jadi pasukan khusus FBI aja. Masa-masa itu adalah masa-masa mengasyikan dimana keingintahuan saya untuk mempelajari sesuatu di luar sekolah sangat besar dan Pramuka mengajarkan begitu banyak hal sehingga saya kadang tidak mampu untuk mengingat semuanya.

Waktu masuk SMA, saya cukup kecewa saat mengetahui sekolah saya tidak memiliki ekstrakulikuler Pramuka. Alasannya adalah Pramuka sudah tidak lagi diminati. Teman-teman saya saat itu lebih suka ikut ekstrakulikuler basket, majalah dinding, kelompok ilmiah, cheerleader, atau modeling. Pokoknya yang lebih modern dan lebih gaul. Saya juga sempat kaget karena teman-teman saya menganggap Pramuka adalah ekstrakulikuler kampungan dan nggak keren. Bahkan mereka menganggap baju pramuka yang wajib dipakai di hari Jumat dan Sabtu sebagai baju yang norak. Alhasil, semua perlengkapan Pramuka, pangkat dan lencana yang harusnya masih bisa dikembangkan lebih tinggi dan lebih banyak lagi harus terbengkalai begitu saja.

Hemmm, let me think, let me see, let me feel.

Kalau untuk ukuran anak kota besar, Pramuka mungkin terlihat membosankan. Dengan gaya hidup modern, mewah dan serba enak, ngapain juga mereka mau susah-susah belajar simpul, morse dan juga sandi? Lebih asyik main PS, nonton bioskop, atau nongkrong di Mall. Iya kan? Ya ya ya. Bukan salah mereka juga. Karena kondisi dan situasi lah yang menciptakan pola pikir mereka. Anak TK jaman sekarang aja sudah dibuatkan Facebook sama orang tuanya, sudah diberi laptop canggih, diajak ke Mall tiap akhir pekan, diberi tontonan 3D, otomatis itu membentuk minat mereka. Atau, orang tua jaman sekarang lebih suka memasukan anak mereka ke les balet, les piano, klub sepakbola, klub catur. Memang bagus dan sama-sama mendidiknya. Tapi sebagai mantan anak Pramuka, saya jadi sedih karena Pramuka semakin dilupakan dan ditinggalkan.

Sekarang pun saya perhatikan gerakan Pramuka tidak lagi sepopuler waktu jaman pemerintahan alm. mantan Presiden Soeharto. Dulu seingat saya, Pramuka adalah ekstrakulikuler wajib bagi anak SD dan SMP. Jadi mau nggak mau, suka nggak suka, keren nggak keren, enak nggak enak, semua murid wajib ikut dan bakalan dapat sanksi kalau sering nggak masuk (kecuali mereka yang memiliki gangguan kesehatan, tidak diwajibkan mengikutinya). Sekarang, Pramuka bukan merupakan kegiatan wajib lagi dan bahkan sudah tidak  setiap sekolah memiliki kegiatan ini. Saya bahkan yakin kalau anak jaman sekarang bahkan nggak tahu pramuka itu apa. Memang di beberapa sekolah masih ada yang melaksanakan ekstrakulikuler ini (terutama sekolah-sekolah di daerah pedalaman), namun jumlahnya tidak sebanyak dulu dan jelas Pramuka tidak sepopuler dulu.

Hal ini sangat disayangkan. Karena saya yang mendapatkan pendidikan Pramuka bertahun-tahun lamanya, banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga darinya. Ini terkait dengan pengasahan kemandirian dan mental serta seluk beluk pengetahuan yang tidak diajarkan oleh orang orang tua di rumah atau pun guru di sekolah. Coba, siapa yang mau mengajarkan cara membuat api unggun (apalagi mengingat jaman sekarang banyak keluarga yang tinggal di apartemen atau pun rumah tanpa halaman yang tidak  memungkinkan mereka melakukan kegiatan bakar membakar)? Atau tali temali (meluangkan waktu untuk menemani anak mengerjakan PR saja susah, apalagi belajar simpul-simpul yang bahkan mereka sendiri tidak ketahui)?

Wah, kalau jaman kecilnya saya dulu ya, Pramuka sangat digandrungi. Bahkan jadi ajang persaingan bagi kita untuk berlomba-lomba meningkatkan bakat dan kemampuan agar bisa mendapatkan pangkat yang tinggi. Apalagi kalau ada kegiatan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu). Wuiihhh, semuanya rasanya bersemangat menyambutnya. Membayangkan betapa asyiknya membangun tenda, tidur di alam terbuka dengan iringan suara jangkrik, membuat api unggun ditengah dinginnya malam, outbond di hutan, serta acara jurit malam yang menakutkan, rasanya membuat jantung berdebar-debar karena bersemangat.

Dari kegiatan tersebut banyak pula manfaat yang didapatkan. Karena menjadi anak Pramuka berarti menjadi anak yang tangguh dan nggak manja. Harus bisa memberi makan diri sendiri (selama berkemah pastinya belajar masak sendiri dong, mana ada mama atau pembantu yang menyiapkan makanan), harus siap dalam situasi sesusah apa pun (saat berkemah hujan lebat turun dan tenda bocor, harus berjuang mengatasinya dan rela tidur dengan kaos kaki basah), harus belajar untuk berani (kegiatan jurit malam yang bikin merinding karena sering dilakukan di daerah pekuburan, belum lagi panitia usil yang suka perpura-pura jadi hantu), harus belajar berbagi dalam keadaan kekurangan sekalipun (di Pramuka baru mengenal makan Indomie kuah dengan nasi, supaya hemat dan semua kebagian). Pramuka juga banyak mengajarkan nilai-nilai moral. Menolong sesama, hemat dan rajin menabung (ingat iuran mingguan yang hasilnya dipakai untuk membeli kebutuhan bersama?), cinta lingkungan (sering banget acara pramuka adalah bersih-bersih lingkungan), kesetiakawanan (satu orang bersalah, satu regu ikut bertanggungjawab), dan masih banyak lainnya.

Gerakan Pramuka di Indonesia pun sebenarnya sangat luas dan bergerak di segala bidang kehidupan yang sangat bermanfaat. Gerakan ini terbagi dalam Satuan Karya (Saka). Hanya saja tidak banyak orang yang mengetahuinya karena mereka memang tidak menaruh minat kepada Pramuka. Saka-Saka tersebut antara lain :

1.      Saka Dirgantara
Saka Dirgantara adalah wadah kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis di bidang kedirgantaraan guna menumbuhkan kesadaran untuk membaktikan dirinya dalam pembangunan nasional. Saka Dirgantara membidangi bidang kedirgantaraan, umumnya Saka ini hanya berada di wilayah yang memiliki potensi kedirgantaraan atau memiliki landasan udara. Pelatihan Pramuka Saka Dirgantara umumnya memperbantukan para profesional di bidang kedirgantaraan, TNI AU pihak perusahaan penerbangan dan klub aeromodelling. Pelatihan biasanya diadakan di sebuah Pangkalan Udara tertentu.

2.      Saka Bhayangkara
Saka Bhayangkara adalah wadah kegiatan kebhayangkaraan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), guna menumbuhkan kesadaran berperan serta dalam pembangunan nasional. Saka Bhayangkara membidangi bidang kebhayangkaraan. Saka Bhayangkara ialah Satuan Karya terbesar dan paling berkembang di Indonesia. Dalam pelatihan Saka Bhayangkara, umumnya Gerakan Pramuka bekerjasama dengan pihak Kepolisian Republik Indonesia dan kadang-kadang memperbantukan pihak Dinas Pemadam Kebakaran. Biasanya Saka Bhayangkara berada dibawah pembinaan POLRI.

3.      Saka Bahari
Saka Bahari adalah wadah bagi Pramuka yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan nyata, produktif dan bermanfaat dalam rangka menanamkan rasa cinta dan menumbuhkan sikap hidup yang berorentasi kebaharian termasuk laut dan perairan dalam. Saka Bahari membidangi bidang Kelautan. Pembinaan Saka Bahari bekerjasama dengan pihak TNI AL, Profesional di bidang Olahraga Air, Departemen Pariwisata dan Departemen Kelautan. Umumnya Saka Bahari hanya berada di wilayah yang memiliki potensi di bidang Bahari.

4.      Saka Bhakti Husada
Saka Bakti Husada adalah wadah pengembangan pengetahuan, pembinaan keterampilan, penambahan pengalaman dan pemberian kesempatan untuk membaktikan dirinya kepada masyarakat dalam bidang kesehatan. Pembinaan Saka Bakti Husada bekerjasama dengan pihak Departemen Kesehatan.

5.      Saka Kencana (Keluarga Berencana)
Saka Kencana adalah wadah kegiatan dan pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan praktis dan bakti masyarakat, dalam bidang Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pengembangan Kependudukan. Pembinaan Saka Kencana berada di bawah Gerakan Pramuka yang bekerjasama dengan Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

6.      Saka Taruna Bumi
Saka Taruna Bumi adalah wadah bagi para Pramuka untuk meningkatkan dan mengembangkan kepemimpinan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kecakapan para anggotanya, sehingga mereka dapat melaksanakan kegiatan nyata dan produktif serta bermanfaat dalam mendukung kegiatan pembangunan pertanian. Pembinaan Saka Taruna Bumi bekerjasama dengan Departemen Pertanian, Dinas Pertanian, LIPI, dan Lembaga Holtikultura.

7.      Saka Wanabhakti
Saka  Wanabakti adalah wadah bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk melaksanakan kegiatan nyata, produktif dan bermanfaat dalam rangka menanamkan rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Pembinaan Saka Wanabhakti bekerjasama dengan Departemen Kehutanan, Perhutani dan LSM Lingkungan Hidup/Lembaga Profesional terkait.

8.      Saka Wira Kartika
Saka Wira Kartika baru berupa Satuan Karya Rintisan yang mulai dilaksanakan pada akhir tahun 2007. Pembentukannya berdasarkan Peraturan bersama Kepala Staf Angkatan Darat dengan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka nomor 182/X/2007 dan 199 tahun 2007 tanggal 28 Oktober 2007 tentang kerjasama dalam usaha pembina dan pengembangan pendidikan bela negara dan kepramukaan. Pembinaan Saka Wira Kartika bekerjasama dengan TNI AD.

Akhir-akhir ini kegiatan Pramuka berusaha untuk dipopulerkan kembali. Apalagi sekarang kita telah memiliki Undang-Undang dibidang Pramuka, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka. Namun Undang-Undang ini hanya berfungsi sebagai payung hukum bagi pelaksanaan kegiatan Pramuka. Yang jadi permasalahan sekarang, bagaimana pemerintah dapat merangsang keinginan pemuda-pemudi jaman sekarang untuk kembali mencintai Pramuka. Karena sepengamatan saya, yah yang sudah saya sampaikan di atas, anak jaman sekarang kebanyakan lebih tertarik pada gemerlap dunia modern. Mereka mungkin lebih memilih main Facebook ketimbang belajar semaphore. Jambore Nasional masih ada, begitu pula agenda rutin lainnya. Namun hanya diketahui oleh segelintir orang yang masih bertahan dan berminat pada Pramuka. Tidak se-universal dan terkenal seperti dulu lagi (dulu kalau ada Jambore Nasional, pembukaan dan penutupannya pasti disiarkan di TVRI, bukti betapa Pramuka sangat popular dan disukai orang.

Pramuka itu kegiatan yang bermanfaat dan patut untuk dipertahankan eksistensinya. Bagi kita yang setua ini, sudah terlambat banget lah buat jadi anggota Pramuka lagi. Kecuali para Pandega dan Pembina yang masih bisa kembali eksis membina anak-anak didik. Tapi kita bisa kok membantu pemerintah untuk kembali membangkitkan gelegar Pramuka. Para tenaga pengajar, kenapa tidak mencoba kembali mengaktifkan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakulikuler? Terutama bagi murid-murid SD yang masih mudah untuk dibina dan diatur. Kalau untuk anak SMP dan SMA, mungkin sudah susah untuk diarahkan karena mereka sudah memiliki prioritas dan minat lain.

Orang tua bisa juga membantu untuk menimbulkan rasa ketertarikan anak terhadap Pramuka. Kalau jadi orang tua nanti, sebisa mungkin saya akan menganjurkan dan mendidik anak saya untuk mencintai Pramuka (seperti yang orang tua saya lakukan kepada saya dulu). Ya, pasti anak saya nantinya boleh memilih ekstrakulikuler lainnya sesuai minatnya. Tapi sebagai awal, dia harus mengenal Pramuka untuk pembentukan pribadi dan mentalnya. Nggak usah sampai terlalu dalam mencintai pramuka. Paling enggak dia tidak terlalu mendewakan teknologi dan bisa menyeimbangkannya dengan kegiatan lainnya yang tidak hanya mengasah otaknya. Mungkin ini yang tidak ditanamkan oleh orang tua jaman sekarang. Mereka lebih suka mengetahui anaknya meledakan laboratorium kimia karena melakukan suatu percobaan ketimbang mengetahui anaknya pandai membaca morse.

Intinya Pramuka itu sebenarnya kegiatan yang sangat bermanfaat dan positif. Sayang banget kan kalau sampai menghilang dari Negara kita. Ini mungkin hanya sebuah permasalahan kecil yang rasanya terlalu sepele bila dibandingkan dengan permasalahan hidup kita masing-masing yang lebih berat. Tapi kalau bukan kita yang peduli, maka siapa lagi? Atau mungkin kalian punya ide lain untuk mengembalikan gairah pemuda-pemudi akan Pramuka? Karena saya secara pribadi tidak rela kalau kisah-kisah PERSAMI saya hanya menjadi sebuah dongeng sebelum tidur bagi cucu saya karena Pramuka hanya tinggal kenangan dan telah terkubur di Bumi Perkemahan Cibubur.
 
SALAM PRAMUKA!