KARENA DUNIA TERLALU LUAS UNTUK PIKIRAN SEMPIT TENTANG : "NGAPAIN KE LUAR NEGERI KALAU NEGERI SENDIRI INDAH?”


Akhir-akhir ini, saya sangat familiar dengan sebuah postingan di sosial media yang berjudul :

“NGAPAIN KE LUAR NEGERI KALAU NEGERI SENDIRI INDAH?”

Beserta postingan tersebut ditampilkanlah foto-foto perbandingan keindahan alam dan objek wisata di Indonesia dengan tempat-tempat lainnya di penjuru dunia. Postingan tersebut antara lain memuat foto Pulau Komodo yang diperbandingkan dengan New Zealand, foto Gili Trawangan yang diperbandingkan dengan Maladewa, foto Jakarta yang diperbandingkan dengan Hong Kong, foto Kampung Cina Cibubur yang diperbandingkan dengan Shang Hai dan beberapa foto lainnya.

Tujuan awal dari postingan ini sebenarnya baik, yaitu menimbulkan kecintaan akan negeri : bahwa sesungguhnya Indonesia kita ini sangat indah dan kaya, nggak kalah dengan keindahan alam di penjuru dunia lainnya. Selain itu, sebenarnya postingan ini mengajak kita untuk meramaikan wisata domestik kita sendiri. Nggak usah pergi jauh-jauh dulu, cobalah untuk menikmati keindahan negeri kita sendiri sebelum melihat negeri orang lain.

Sebenarnya postingan ini nggak salah. Hanya saja menurut saya penggunaan katanya yang ambigu dapat memprovokasi dan menjadi semacam doktrin. Terbukti, banyak teman-teman saya di sosial media yang langsung me-repost postingan tersebut, yang secara langsung menunjukan mereka setuju atas pemikiran sang penulis.

Saat melihat ada yang menyebarkan postingan ini, jantung saya berdebar-debar dengan kencang. Saya sangat marah. Dan sangat kecewa. Rasanya orang yang menyebarkan postingan itu ingin saya gandeng tangannya, saya ajak duduk berduaan, dan saya ajak bicara face to face dari hati ke hati.

Ya saya marah dan kecewa.

Saya marah dan kecewa karena bisa-bisanya ada anak muda Indonesia berpikiran sempit seperti itu.

“Berpikiran sempit? What? Dia sudah gila! Dia tidak cinta negerinya! Bakar dia! Tangkap dia!” Itu pasti yang kalian pikirkan saat saya mengatakan KALIAN BERPIKIRAN SEMPIT.

Well, tenangkan hati kalian dulu. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan dulu labeli saya sebagai orang gila yang tidak cinta negeri. Biarkanlah saya menyampaikan unek-unek saya yang membuncah di dada dan nyaris membludak, meluber dari mulut saya yang lebih banyak melontarkan ucapan protes ketimbang  pesan damai.

Saya adalah seorang backpacker yang sangat mendukung anak muda untuk menjelajah negeri dan melihat dunia. Catat, menjelajah negeri dan melihat dunia. Bukan hanya menjelajah negeri sendiri. Jika bercakap-cakap dengan orang yang lebih muda dari saya, berulang-ulang kali saya mendoktrin mereka untuk pergi melihat dunia. Coba saja tanya orang-orang yang mengenal saya, mereka tentu tahu benar bagaimana saya merongrong mereka untuk menghabiskan uang dengan melihat dunia ketimbang hanya sekedar membeli barang-barang bermerek dan bersenang-senang. Prinsip saya, selagi ada kesempatan (dan uang tentunya), gunakanlah sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan dan wawasan dengan melihat dunia. 

Jangan salah, saya bukannya tidak setuju dengan keindahkan Indonesia. Bukan maksud saya mengatakan bahwa negeri orang jauh lebih indah dari pada Indonesia. Saya tidak mengatakan demikian. Indonesia sangat indah! Hanya saja, seindah-indahnya negeri kita, kita harus melihat dunia yang luas.

Oke, kembali ke postingan perbandingan di sosial media tadi.

Karena merasa tidak setuju dengan postingan tersebut, saya secara aktif mengemukakan pendapat saya di kolom komentar dengan mengunggah foto-foto saya diberbagai penjuru dunia yang diperbandingkan dalam postingan. Saya mengunggah beberapa foto saya saat melakukan perjalanan ke New Zealand untuk menjawab perbandingan antara Pulau Komodo dengan New Zealand, sebuah foto saat transit di Shang Hai untuk menjawab perbandingan antara Kampung Cina Cibubur dengan Shang Hai, dan sebuah foto bulan madu saya di Maladewa untuk menjawab perbandingan antara Gili Trawanagan dengan Maladewa.

Beragam komentar langsung bermunculan atas postingan saya tersebut, beberapa orang menyatakan bahwa kita harus mencintai negeri sendiri dan tidak perlu ke luar negeri karena Indonesia sendiri sudah terdiri dari beribu-ribu budaya yang nggak bakalan habis walau dipelajari seumur hidup. Beberapa orang lainnya membenarkan pendapat saya untuk melihat dunia namun mengemukakan mengenai besarnya jumlah biaya yang dibutuhkan untuk melihat dunia.

Nah, ini yang saya bilang bahwa saya tidak menyukai postingan tersebut karena memprovokasi dan menjadi semacam mesin doktrin. Bentuk provokasi dan doktrin yang pertama adalah bahwa kita rakyat Indonesia gak usah kemana-manalah, karena Indonesia sudah punya segala-galanya. Bentuk provokasi dan doktrin lainnya adalah, dengan hanya menjelajahi negeri sendiri kita menjadi lebih nasionalis.

Salah. Salah. Salah. Doktrin ini sangat salah.

INDONESIA MEMANG INDAH, NAMUN KITA HARUS MELIHAT DUNIA.

Nih ya, menurut hasil sensus yang dilakukan oleh pemerintah, terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya sekitar 1.340 suku bangsa (sumber : Wikipedia). Memang banyak sekali. Dengan luasnya negeri ini ditambah jumlah budaya yang beragam, seumur hidup pun dihabiskan untuk mempelajari budaya Indonesia tidak akan cukup.

Itu semua masih ditambah dengan keindahan alam dan peninggalan sejarah yang tidak hanya menarik minat bangsa kita sendiri, namun juga menjadi daya pikat internasional. Nggak jarang banyak budayawan, seniman, dan penjelajah asing yang datang ke Indonesia dan menetap untuk waktu yang lama hanya untuk menikmati indahnya negeri ini dan mempelajari keanekaragaman yang tercipta di dalamnya.

Namun, pernahkah kalian menerapkan logika berpikir seperti ini :

Jika kalian besepeda di lingkungan rumah, maka pemandangan yang disuguhkan adalah pemandangan yang sangat familiar. Walaupun tetangga anda berasal dari latar belakang yang berbeda (agama, suku, golongan) namun semuanya sudah sangat familiar di mata anda. Beda halnya jika anda bersepeda keluar dari kompleks perumahan anda dalam radius yang lebih luas. Tentunya ada akan mendapatkan pendangan yang sangat berbeda.

Nah begitu jugalah yang terjadi saat anda anda melakukan perjalanan untuk melihat dunia. Indonesia memang indah. Indonesia memang kaya akan budaya. Namun bau kita sama. Warna kita sama. Kita adalah bangsa Indonesia dengan sejarah yang sama dan wawasan  nusantara yang sama. Dari Sabang sampai Merauke, presiden pertama kita tetap Soekarno. Dari Sabang sampai Merauke, ibu pertiwi kita sama. Dari Sabang sampai Merauke mata uang kita adalah Rupiah. Dari Sabang sampe Merauke kita menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Beragam-ragam suku dan budaya pun dapat kita lihat dalam pergaulan. Walaupun kita tidak dapat mengetahui secara mendalam kebudayaan-kebudayaan yang ada, namun setidaknya kita dapat melihatnya dalam keseharian hidup kita. Kita membicarakan politik yang sama (Jokowi dan Prabowo), kita membicarakan situasi yang sama (kebakaran hutan dan pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia), kita menggunjingkan isu yang sama (apakah benar pejabat x memiliki affair dengan penyanyi y?).  

Pernah berpikir nggak sih kenapa bule-bule banyak yang suka tinggal di Indoneisa? Karena kekayaan alam kita? Atau karena budaya ramah tamah kita? Atau karena di Indonesia semua begitu murah dan mudah didapatkan dibandingkan di negara mereka sendiri?

Pernahkan kalian berpikir kalau bukan hanya itu alasan sebenarnya? Pernahkan kalian berpikir kalau negeri mereka sebenarnya jauh lebih rapi, teratur, bersih, bebas polusi, dengan kekayaan alam yang tidak kalah indahnya? Bahkan beberapa dari mereka memiliki empat musim sementara kita hanya memiliki musim panas (musih hujan dan kemarau actually, namun di musim hujan pun masih tetap saja panas secara kita negara beriklim tropis)? Kenapa justru mereka suka berada di Indonesia yang semerawut, sampah dimana-mana, panas, dan masih primitif dibandingkan negara mereka yang maju?

Jangan buru-buru GR dan kePDan menyimpulkan karena bule-bule itu lebih mencintai negeri kita dibandingkan negerinya sendiri. Karena kasus anak lebih mencintai ibu tiri dibandingkan ibu kandung hanya 1:10. Pernahkah kalian berpikir semua alasannya adalah karena mereka merasakan suasana yang berbeda? Suasana yang tidak mereka dapatkan di negara asal mereka dan mereka dapatkan di negara kita?

Nah, hal itu pula lah yang ingin saya sampaikan kepada anda. Kita memang punya Raja Empat yang mengalahkan indahnya Krabi dan Phuket. Kita mungkin punya Borobudur yang tak kalah megahnya dari Angkor Wat. Kita juga punya Puncak Jayawijaya yang berselimut salju layaknya pegunungan Swiss. Kita punya Badak bercula satu yang tidak mungkin ditemukan di Afrika.

Namun bukan itu semata :

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG BUKAN SEMATA MENGENAI TEMPAT-TEMPAT INDAH.

Perjalanan menuju negeri orang adalah untuk menikmati keseluruhan perjalanan : tentang mendapatkan teman baru dari berbagai belahan dunia dan berinteraksi dengan mereka, merasakan menu-menu masakan baru yang tidak dijumpai di negeri kita, menikmati perbedaan iklim dan cuaca, melihat varietas tumbuhan yang berbeda, mempelajari sejarah yang berbeda, melihat kebiasaan yang berbeda, menggunakan mata uang yang berbeda, berpikir dan bertindak dari sudut pandang yang berbeda.

Perjalanan menuju negeri orang adalah mendengar, melihat, dan merasakan. Percayalah, seberagam-beragamnya budaya Indonesia, saat anda berada di negeri orang, tetap saja anda akan merasakan sensasi yang berbeda dibandingkan saat melakukan perjalanan di negeri sendiri.

Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan merasakan sensasi susahnya menghitung kurs mata uang asing saat hendak membeli barang untuk membuat perhitungan mahal tidaknya barang tersebut. Jika anda menjelajahi negeri sendiri, kalian tidak akan merasakan sensasi susahnya berdialog dengan bahasa tarzan (rata-rata orang Indonesia bisa berbahasa Indonesia walaupun tidak fasih, namun tidak semua warga negara yang anda kunjungi mengerti bahasa inggris). Jika anda menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan merasakan sensasi rindu akan masakan negeri sendiri (dua minggu makan masakan asing akan cukup membuat anda merindukan Indonesia) atau sensasi susahnya mencari NASI (ini nestapa kalau traveling ke negara luar Asia).

Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan melihat dengan mata kepala sendiri dan kemudian merasa MALU betapa kotornya negara kita (bahkan negara Kamboja dan Laos yang hitungannya lebih terbelakang dari kita, bisa terlihat lebih bersih). Jika anda hanya menjelajahi negeri sendiri, anda tidak akan bersyukur betapa murahnya harga air mineral dan bahan bakar di negara kita dibandingkan negara lain (di negara eropa satu botol air mineral 250 ml berharga kurang lebih Rp. 15.000,- sementara di negara kita hanya Rp. 3.000,-). 

Selain itu, selama melakukan perjalanan, saya sebisa mungkin menjalin interaksi dan pertemanan dengan warga negara setempat atau warga negara lainnya yang sama-sama rekan seperjalanan. Saya punya banyak kenangan lucu dengan rekan-rekan seperjalanan yang membuat kami akhirnya berteman hingga saat ini.

Ada seorang kawan berkewarganegaraan New Zealand yang sama-sama tertinggal pesawat dari Singapura menuju Colombo. Ada seorang kawan dari Cairo yang sama-sama berprofesi sebagai seorang lawyer. Ada seorang kawan dari Seoul yang sama-sama baru resign dari pekerjaan lama dan melakukan perjalanan sebelum memasuki pekerjaan baru. Ada seorang kawan pemilik restaurant di Brunei yang ternyata memiliki istri orang Jawa.

See, perjalanan menuju negeri orang bukan semata mengenai tempat-tempat indah namun juga pengalaman.

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG BUKAN SEMATA-MATA DATANG, BERFOTO-FOTO, UPDATE STATUS DI MEDIA SOSIAL UNTUK PAMER.

Paling sebel kalau liat orang yang pergi ke luar negeri, tapi dia nggak bisa menceritakan ulang keseluruhan perjalannya. Dia lupa (atau nggak peduli?) nama-nama tempat wisata yang dia kunjungi, dia nggak tau sejarah dan keunikan daerah yang dia kunjungi, bahkan dia nggak tau nama ibu kota negara yang dia kunjungi.

Serius. Orang seperti ini benar-benar ada.

Jenis orang seperti ini melakukan perjalanan hanya untuk life style semata : pergi ke luar negeri supaya dianggap tajir, berfoto dengan pose keren, update status di media sosial, shopping, dan kemudian beli oleh-oleh. Pada saat tour ke tempat wisata, orang-orang ini memilih tidak mendengarkan penjelasan pemandu wisatanya dan memisahkan diri untuk berfoto ataupun shopping.

Kejadian seperti ini sering sekali saya jumpai. Sungguh menyedihkan jika perjalanan ke negeri asing hanya dijadikan sebuah gaya hidup dan simbol status sosial. Harusnya melalui perjalanan tersebut kita mendapatkan pengalaman berharga dan pengetahuan yang dapat kita ceritakan kepada orang lain. Nggak harus hafal semua tempat yang kita kunjungi, karena memori kita memang terbatas. Namun setidaknya kita mengerti kisah dibalik tempat-tempat yang kita kunjungi dan bisa menjadikannya pengetahuan yang menambah wawasan kita.

Ya… ya.. I know kita bisa mempelajari sesuatu hanya melalui internet tanpa harus mengunjungi tempat aslinya. Namun pernahkan anda berada dalam situasi ini : dimana pelajaran sekolah yang anda baca dari buku terasa sangat membosankan dan sulit anda mengerti? Namun ketika anda melihat dan mengalami sendiri dalam kehidupan sehari-hari justru lebih mudah dipahami dan diingat?

Nah begitu pula dengan melakukan perjalanan dengan kaki dan mata sendiri. Apa yang anda baca di internet bisa terlupakan begitu saja. Namun saat anda mengalaminya sendiri, pengalaman tersebut akan selalu terkenang.

PERJALANAN MENUJU NEGERI ORANG TIDAK HARUS MAHAL

Banyak sekali yang nyinyir dan bilang : “Ya kalau ada uang, gw juga mau kali jalan-jalan keliling dunia.” Tapi yang komentar kayak gini setiap hari beli rokok satu bungkus dan jajan di restaurant.

Mari berhitung :

Rokok 1 bungkus                    = Rp. 20.000,-
Beli makan di restaurant         = Rp. 60.000,-
Dalam sebulan                        = (Rp. 20.000,- x 30) + (Rp. 60.000,- x 30)
                                                = Rp. 2.400.000,-

Dalam setahun                         = Rp. 2.400.000,- x 12
                                                = Rp. 28.800.000,-

Orang itu menghabiskan uang setahun Rp. 28.800.000,- hanya untuk jajan dan rokok.

Bayangkan! Itu uang yang banyak lho. Dengan uang sebanyak itu saya bisa melakukan perjalanan ke negara Eropa.

Coba saja jika orang itu mau mengurangi konsumsi rokoknya menjadi 2 batang sehari dan nggak usah jajan direstoran alih-alih bungkus bekal makanan dari rumah, dia bisa lho berhermat dan menggunakan alokasi dana tersebut untuk jalan-jalan.

Lagi pula jalan-jalan ke luar negeri nggak harus mahal jika di rencanakan dengan baik. Sedikit tips dari saya :

1.     Beli tiket promo.
Rajin-rajin deh pantengin internet buat cari tiket promo. Walaupun akhirnya jadwal keberangkatan kita tidak mengikuti kemauan kita tapi mengikuti jadwal tiket promo.

2.     Tinggal di hostel, jangan hotel bintang. Dan sharing kamar dengan teman seperjalanan.

3.     Naik transportasi umum selama traveling. Jangan manja sok cantik dan sok ganteng naik premium travel. Justru dengan naik kendaraan umum anda akan belajar dan mengenal negara yang anda kunjungi dengan lebih baik.

4.     Kalau dana sedang pas-pasan, jangan pergi ke negara dingin (butuh bagasi banyak karena haraus bawa jaket tebal dan perlengkapan musim dingin), jangan pergi ke negara yang pakai visa atau visa on arrival (biaya visa lumayan memberatkan), jangan pergi ke negara yang ada pajak airport tambahan diluar dari harga tiket. 

5.     Jangan pergi pada saat musim liburan karena harga tiket penerbangan dan hotel biasanya lebih mahal.

6.     Kalau ke luar negeri, jangan shopping. Ingat, anda pergi untuk berwisata, bukan untuk belanja!
7.     Nggak usah pedulikan titipan oleh-oleh. Selain menghabiskan dana juga berat kan bawa belanjaan ke mana-mana. Anda tidak berdosa jika tidak membeli oleh-oleh. Ingat sekali lagi, anda pergi untuk berwisata, bukan untuk belanja! Apalagi belanjain orang lain.

Dan tahukah anda, tak jarang biaya perjalanan ke luar negeri jauh lebih murah atau sebanding dengan biaya perjalanan dalam negeri?

Hah??? Kok bisa???

Ya bisa lah. Harga tiket penerbangan negara ASEAN dan Asia Timur tidak lagi tertalu mahal. Bahkan harga tiket Jakarta - Tokyo PP bisa lebih murah dari harga tiket Jakarta - Jayapura PP. Harga tiket Jakarta - Macau PP sama dengan harga tiket Jakarta – Palembang PP. Harga tiket  Jakarta – Manila PP sama dengan harga tiket Jakarta – Manado PP.

Nggak percaya? Makanya sering-sering cek harga tiket penerbangan di internet.

LEBIH BAIK MENGHABISKAN UANG UNTUK MELIHAT DUNIA DIBANDINGKAN UNTUK HIDUP HEDON

Hangout di restaurant mahal, belanja barang-barang bermerek, beli gadget puluhan juta, tapi nggak pernah ke mana-mana? Yah, itu memang pilihan hidup. Ada yang menganggap tampilan keren dan gaya hidup mewah jauh lebih penting dari sekedar menambah pengalaman. Anda bebas menentukan pilihan hidup anda.

Tapi kalau saya boleh berkomentar dengan mulut saya yang tajam dan memang suka ngomentari segala macam hal, gaya hidup seperti itu bodoh. Anda hidup hanya sekali. Untuk apa menghabiskan uang untuk membeli makanan mahal setiap harinya? Toh makanan itu bakalan jadi kotoran diperut anda dan juga membuat badan gemuk. Punya barang-barang bermerek nggak ada salahnya. Tapi sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Jangan sampai gaji cuma 5 juta tapi maunya semua baju harus merek Zara. Mampus aja kalau gaya hidup seperti.

Terus anda pikir dengan sering nongkrong ditempat fancy dengan memakai barang-barang bermerek, anda menjadi keren begitu? Coba, kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita bagaimana lelahnya menyusuri tembok cina? Kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita dinginnya pegunungan Himalaya? Kerenan mana dibandingkan anda bisa bercerita indahnya sakura bermekaran?

Beda lagi kalau memang anda berduit tajir melintir, anda bisa liat dunia, anda juga bisa hidup hedon. Semua anda bisa! Tapi bagi yang hidupnya biasa-biasa saja? Saya suka gemes lihat anak muda yang hidupnya hedon banget tapi nggak mau melihat dunia. Nih ya, kalau hidup hedon hanya supaya terlihat berduit dan keren, uang anda habis percuma. Gak semua orang akan menganggap anda keren. Tapi jika anda melihat dunia, anda akan mendapatkan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan.

Yah. Lagi-lagi kembali pada pilihan dan pandangan hidup anda sih.

Hanya saja pesan saya bagi anak-anak muda kekinian Indonesia : “Hai pemuda Indonesia, selagi ada kesempatan, waktu, dan uang, kemasilah pakaian kalian, pakailah sepatu ternyaman kalian, dan pergilah sejauh mungkin dari rumah kalian untuk melihat! Dunia terlalu luas untuk kalian lewatkan.”

Dan telah ke mana sajakan saya sehingga bisa berbicara panjang lebar dengan sangat sombongnya seperti ini? Nggak banyak. Saya hanya seorang traveler pemula yang baru mengunjungi 30 negara. Masih ada kurang lebih 162 negara lagi menunggu untuk saya tapaki.
Oh, dunia itu sungguh luas…sayang sekali jika anda terkungkung oleh doktrin jalan-jalan di negeri sendiri saja sudah cukup.

Postingan Populer