Balada Pick Up Malang dan Sebuah Pandangan Sinis



Berapa minggu lalu teman saya mengajak saya nonton film Tron di Studio Premiere salah satu Mall di Jakarta. Karena tempat yang akan saya kunjungi bukan hanya sekedar Pasar Tanah Abang, maka saya pun mengenakan pakaian, sepatu serta tas yang lebih mewah. Sebenarnya hal ini bukan sebuah kewajiban. Tapi mengingat kebanyakan wanita yang mengunjungi tempat itu biasanya melemparkan pandangan setajam pisau tukang jagal kepada kaum sejenisnya yang tidak berpakaian layak (padahal ukuran kelayakan seseorang berbeda-beda lho, tergantung sudut pandangnya). Demi alasan kenyamanan, saya pun memilih untuk berpenampilan pantas.


Sesuai kesepakatan, teman saya datang menjemput saya terlebih dahulu. Hanya saja dia datang menjemput saya dengan mobil Pick Up. Saya dapat memaklumi hal ini karena dia adalah seorang pengusaha rumput laut yang kerap harus menengok para petani rumput lautnya di tambak. Apalagi hari itu dia kebetulan juga baru saja selesai mengecek simpanan rumput lautnya di daerah pergudangan. Tapi hal ini tidak menjadi masalah bagi saya. Dari kecil orang tua saya selalu mengajarkan untuk dapat hidup susah dan merakyat. Jadi mau dikata saya harus naik Bajaj ke Plaza Indonesia sekalipun, saya tidak akan malu.


Baru saja sampai di trotoar, kami sudah dihadang oleh seorang satpam. Tanpa bertanya lebih dahulu kemana tujuan kami, dia langsung memasang tampang masam dan berkata dengan kasar bahwa kami tidak boleh masuk lewat depan. Kami pun menanyakan alasannya kenapa kami tidak boleh masuk, dan dia menjawab bahwa mobil pick up harus masuk melalui jalur drop off. Kami menjelaskan bahwa kami tidak mengantar barang dan tujuan kami adalah berbelanja, namun satpam sontoloyo itu malah memasang tampang sangsi walaupun akhirnya membiarkan kami masuk.


Di tempat pemeriksaan keamananpun kami mendapat perlakuan yang sama. Dua orang satpam yang bertugas saat itu tidak memperbolehkan kami masuk dengan alasan mobil yang kami kendarai adalah pick up, dan kami lagi-lagi disuruh masuk melalui jalur drop off. Sikap mereka juga tidak bersahabat dan agak kasar. Kami mencoba bersabar dan kembali menjelaskan bahwa kami bukan hendak mengantar barang, tapi ingin berbelanja. Kedua satpam itu kemudian memperbolehkan kami masuk setelah mengecek bak pick up kami dan memastikan memang tidak ada barang di dalamnya (bak pick up teman saya dalam kondisi tertutup). Pada saat itu kami sudah mulai kesal. Apalagi antrian masuk mulai memanjang dan mobil-mobil yang tidak sabaran berulang kali membunyikan klakson.


Batas kesabaran kami berakhir di pelataran parkir. Pada saat itu, petugas pengatur parkir menolak memberikan kami parkir dan alih-alih memberikan tempat kosong yang ada kepada mobil lainnya yang notabe adalah mobil 3M (mewah, mulus, menawan, dan mungkin harganya juga 3M). Karena kesal diperlakukan dengan tidak hormat, teman saya akhirnya memanggil petugas parkir lainnya dan menyuruh dia untuk mencarikan tempat kosong. Petugas parkir itu awalnya ragu, tapi melihat wajah teman saya yang seperti preman, juga badannya yang tinggi besar seperti raksasa, akhirnya dia pun mencarikan tempat kosong bagi kami. Dan "kemurahan" hatinya terbayar karena teman saya memberikan dia tips yang lumayan besar. Mungkin dalam hatinya dia bertanya-tanya, mengapa kami yang hanya menaiki mobil jelek memberikan dia tips dalam jumlah besar.


Beberapa saat setelah itu saya masih saja merenung, mengapa untuk menghargai, menghormati dan berlaku baik kepada seseorang harus dengan melihat seberapa kaya orang itu, mobil apa yang dibawanya, status sosial apa yang dimilikinya, berapa banyak rumah yang dimilikinya? Padahal bisa saja kan seseorang mengendarai mobil mewah yang bukan miliknya karena dia hanya seorang montir dan mengantarkan mobil yang diservisnya, atau seseorang yang tampaknya tinggal di rumah mewah padahal dia sebenarnya hanya penjaga rumah itu.


Adalah hal tidak berguna menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Bagi saya, tidak ada harganya seseorang yang berpenampilan parlente, turun dari sebuah Bentley sambil menjinjing lima telepon genggam canggih dan jam Rolex melingkar tangannya, namun kemudian membuang puntung cerutunya sembarangan. Orang ini walau status sosialnya bagus dan kekayaannya selangit, tidak peduli kepada kebersihan lingkungan dan tidak mau tahu apakah puntung cerutunya dapat menyebabkan kebakaran atau tidak. Saya justru lebih menghargai orang-orang seperti teman saya. Walaupun dia seorang pengusaha, dia mau bersikap rendah hati dan bahkan bisa bersabar saat orang-orang memperlakukan dia dengan tidak hormat.


Saya pun teringat suatu kisah saat saya berbelanja di sebuah outlet brand terkenal di Paris. Saat itu antrian masuk ke outlet tersebut sangat panjang, dan kami harus menunggu cukup lama untuk bisa masuk. Beberapa baris di depan saya, ada seorang suami istri anggota rombongan dari Indonesia yang ikut mengantri. Penampilan kedua pasangan lansia ini memang sederhana dan tidak terkesan glamour sama sekali. Pada saat giliran mereka untuk masuk, mereka ditanyai apakah bisa berbahasa inggris, yang mereka jawab tidak bisa. Dengan alasan mereka tidak bisa berbahasa inggris, maka pelayan tersebut menyuruh mereka untuk mengantri kembali dan mempersilahkan wanita muda dengan berlian sebesar jambu klutuk yang berada di barisan berikutnya untuk masuk, tanpa terlebih dahulu menanyakan apakah wanita tersebut bisa berbahasa inggris atau tidak.


Melihat hal ini saya hanya bisa menarik nafas panjang. Apa yang salah dengan pasangan tua tersebut? Outlet sebesar itu yang menjual brand kelas dunia seharusnya tidak mempermasalahkan bahasa apa yang kami gunakan agar bisa berbelanja di sana. Hal ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa mereka mengabaikan pasangan tua tersebut karena penampilan mereka yang terlihat terlalu sederhana untuk berbelanja di outlet tersebut. Padahal saya tahu dengan pasti (karena mereka anggota rombongan tour kami dan saya sering bercakap-cakap dengan mereka), bahwa kedua lansia ini adalah pasangan kaya raya pemilik pabrik yang datang ke Paris sekaligus menengok anak mereka yang bekerja di sana. Pelayan toko itu pasti tidak mengira, bahwa di dalam kantong celana bapak tua tersebut, terdapat setidaknya uang sebesar Euro 10.000. Penampilan mereka sederhana, mencerminkan kerendahan hati mereka, bukan ketidakberadaan mereka. Dan saat akhirnya mereka boleh memasuki outlet, saya ikut tersenyum geli karena pasangan itu membeli produk brand tersebut dalam jumlah banyak dan membuat wajah pelayan yang menolak mereka memerah karena malu.


Kejadian serupa ini juga selalu saya alami. Karena kantor saya berada di pusat kota dan khawatir akan terkena macet, saya memilih berangkat ke kantor dengan naik ojek setiap pagi. Dan setiap hari pula, satpam di kompleks kost-kostan saya hanya memasang senyum masam saat saya menyapanya, seolah-olah saya hanya seekor lalat pengganggu yang terbang di depan hidungnya. Namun saat suatu hari saya pulang dengan menumpang mobil Jaguar teman saya, saya sungguh terkejut ketika satpam tersebut menyapa saya dengan sangat ramah beserta senyum semanis gulali, seolah-olah dia lupa kalau setiap pagi saya selalu menyapa dia dan dia tidak pernah memberi tanggapan yang cukup pantas. Benar-benar edan. Apa karena saya selama ini dianggapnya hanya seorang rakyat jelata yang naik ojek sehingga dia tidak perlu bersikap baik kepada saya?
Ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi saya, bahwa saya harus senantiasa bersikap penuh hormat dan menghargai siapa pun juga, tanpa memandang bulu. Hari ini kita bisa saja sukses dan bergelimpangan uang, tapi siapa yang tahu kehidupan mendatang seperti apa? Saat ini kita bisa saja hidup pas-pasan, tapi keadaan itu bisa berbalik secepat orang membalik halaman buku mereka. Hargailah orang. Hormatilah orang. Bahkan kepada orang yang paling nista sekalipun. Karena kita semua adalah sama dihadapan Allah. Baju, perhiasan dan segala yang melekat ditubuh kita hanya sebagai pemanis saja. Namun yang terpenting adalah budi dan hati nurani kita. Semoga kita semua selalu bisa menjadi orang yang selalu menghargai dan menghormati orang lain. Yang setuju, katakan Amin.