Curahan Hati Rakyat Jelata Di Jalan Raya Berdebu
Dear Bapak-Bapak , Ibu-Ibu, Oom-oom dan Tante-Tante Pejabat.
Saya mau curhat nih…
Kenapa sih kalau kalian lewat di jalanan raya, yang KITA bangun BERSAMA_SAMA dengan UANG hasil pemungutan pajak dari SETIAP TETESAN KERINGAT kami rakyat jelata, mesti heboh begitu? Pake nguing-nguing (baca : sirine) yang bikin kuping brebekan, pake pasukan belalang tempur (untung nggak ngajak Power Ranger), pake acara ngusir-ngusir pengguna jalan yang lain (kayak kita tikus aja diusir-usir), dan pake acara kebut-kebutan kaya Michael Schumacher… Memangnya kalian lagi shooting film laga ya? Judulnya Sirine Sang Belalang Tempur yang membasmi Tikus Secepat Mobil F1?
Bapak, Ibu, Oom, Tante…
Bukannya kita nggak mau ngasi jalan nih… Kita-kita tahu kok kalian terburu-buru hendak melaksanakan tugas Negara penting yang terbeban berat dipundak kalian. Dan kalian tentunya nggak boleh telat sebagai seorang pejabat, karena kalian menjadi panutan dan contoh bagi semua rakyat. Apalagi kalau rapat dan pertemuan yang hendak kalian datangi menyangkut hajat hidup kami semua, terutama kawan-kawan kami yang saat itu tengah tertimpa bencana. Apabila pertemuan itu dengan pemimpin Negara sahabat, kalian sebagai tuan rumah tentunya harus tiba terlebih dahulu untuk menyambut mereka.
Silahkan, silahkan lewat… Bergegaslah, jangan sampai terlambat. Kami ini rakyat jelata rela mengalah memberikan kalian jalan. Walau akibatnya kami yang terlambat menuju kantor, ketinggalan kereta yang hendak kami tumpangi, atau tidak dapat tiba di rumah sahabat kami yang meninggal secepat yang kami inginkan. Itu semua tidak sebanding dengan tanggung jawab kalian yang lebih besar demi kelangsungan hidup orang banyak. Toh kalau kami melawan pasukan belalang tempur kalian, kami bisa dikenakan sanksi hukum. Dari pada kami melanggar hukum yang ada, karena kami berusaha menjadi warga Negara yang baik dibawah kepemimpinan kalian, maka kami akan patuh dan memberikan kalian jalan kami.
Tapi Bapak, Ibu, Oom, Tante Pejabat…
Kok pasukan belalang tempur yang mengawal kalian suka galak bener sih terhadap kami. Kalau nggak mau segera minggir, mereka bakalan melotot bak singa yang hendak menerkam anak domba. Tak jarang kepala kami yang terbungkus helm tua ini ditoyor oleh mereka. Memang nggak sakit sih, tapi ngilunya itu lho… Tetap menembus jantung dan seluruh pembuluh darah kami. Kok seolah kami ini nggak berharga banget. Terkadang mobil kami yang digebrak oleh mereka. Walaupun nggak sampai penyok dan mesti dibawa ke bengkel ketok magic, rasanya kok mobil kami itu ikut teriris hatinya. Coba kalau air radiator mereka bisa berfungsi ganda sebagai air mata, mungkin saat itu mereka sudah menangis sedih dan bertanya-tanya apa salah mereka dan tuannya.
Dan tahukah kalian?
Terkadang iring-iringan kalian menimbulkan kekacauan lalu lintas dan kemacetan di jalanan Indonesia yang kebanyakan sudah semerawut. Akhirnya kami pengguna jalan yang lain jadi senggol-menyenggol dan salip-menyalip. Bajaj belok sana, angkot belok sini, metromini maju segan mundur tak mungkin, ojek main nyerobot… Yang senang cuma pejalan kaki aja, walau berjalan sampe keringetan dan bau badan, mereka bebas macet. Pokoknya jadi semau-mau gue semua deh. Dan butuh waktu membuatnya normal kembali. Padahal bapak-bapak berkumis yang biasanya mengatur jalan kami lagi pergi entah ke mana.
Pernah nih suatu saat saya sedang berkendara di sebuah jembatan layang pada waktu yang bersamaan dengan lewatnya kalian. Saat itu saya sudah berhenti untuk memberi kalian jalan, karena nggak mungkin lagi untuk meminggirkan kendaraan mengingat jembatan layang itu tidak seberapa lebar. Tapi salah seorang pasukan belalang tempur kalian memarahi saya dan menyuruh saya untuk minggir sambil mendelikan matanya. Yang saya bingung, saya harus minggir ke mana lagi? Apa saya harus terjun ke bawah aja sekalian supaya jalan layang itu lapang untuk kalian lewati? Duh, betapa kesalnya hati ini. Padahal seandainya saya menguasai ilmu anti gravitasi, sebagai warga Negara yang baik saya pasti sudah melayang untuk memberi kalian jalan.
Yang membuat kami, rakyat jelata, lebih kesal lagi, banyak dari Bapak, Ibu, Oom dan Tante yang ternyata nggak pejabat-pejabat banget, dan juga nggak penting-penting banget, serta nggak sibuk-sibuk banget, menyalahgunakan fasilitas yang ada. Bisa kalian bayangkan dongkolnya hati kami disuruh minggir-minggir dan berhenti-berhenti, padahal yang lewat cuma “something” nggak penting yang menggunakan jasa pengawalan hanya untuk menghindari kemacetan karena mau mengejar jadwal penerbangan mereka yang hampir berangkat. Padahal “something” nggak penting ini terlambat berangkat gara-gara lupa bangun, bukan karena menunaikan tugas Negara.
Lho, bukannya seharusnya ada peraturan yang mengatur jasa pengawalan bisa dipake oleh siapa aja ya? Atau PP. Nomor 43 Tahun 1993 belum cukup mengaturnya? Kok yang saya lihat orang-orang kaya jaman sekarang juga hobi pakai pasukan belalang tempur. Apakah ini sebuah trend supaya mereka di cap keren, atau karena keegoisan mereka sendiri yang nggak mau kena macet? Ckckck… Kalau begini caranya ya kasihan kami rakyat jelata.
Saya justru salut nih pada Bapak, Ibu, Oom dan Tante Menteri yang kemana-mana malah nggak pake acara heboh segala. Empat jempol buat mereka karena mau ikut merasakan kemacetan kota Jakarta. Padahal sebagai salah satu pejabat tinggi Negara, mereka seharusnya bisa menyuruh pasukan belalang tempur untuk mengawal. Nah, pejabat-pejabat kelas teri di daerah harusnya mau mencontoh mereka. Ngapain sih harus dikawal-kawal segala dari kantor menuju rumah? Padahal jarak tempuh antara rumah dan kantor kalian palingan cuma tiga kilometer. Itu juga nggak pake acara macet dan nggak berbahaya pula situasinya. Jadi bingung saya, apanya yang harus dikawal? Supaya keliatan kalau kalian pejabat? Aduh… aduh…
Adalagi nih pengalaman saya saat berada di salah satu bandara di pelosok tanah air. Ada seorang pejabat kelas teri yang dijemput oleh pasukan belalang tempur hingga di kaki pesawat. OMG! What the h***? Memangnya dia takut ditabrak pesawat lain gitu? Kalau semua orang bisa dikawal dari kaki pesawat, wah, saya juga mau donk. Malahan saya nggak mau pake pasukan belalang tempur. Saya mau buat pasukan terminator sekalian. Yang nggak mau minggir saya laser dan saya jadikan timah buat diekspor ke China.
Bapak, Ibu, Oom dan Tante Pejabat…
Tolong diingat-ingat bahwa tugas utama kalian adalah untuk Negara. Pergunakan hak pengawalan yang kalian dapatkan dengan sebaiknya demi kepentingan negara. Dan buat pejabat kelas teri yang seharusnya nggak punya hak untuk pasukan belalang tempur, jangan mengada-ada deh. Kita masyarakat bukannya menatap kalian dengan bangga, malah eneg jadinya. Harapan kami semua terletak pada kalian lho…
Demikian surat saya ini. Jangan tersinggung ya Pak, Bu, Oom, Tante… Saya mohon tolong jangan laporkan saya atas tuduhan pencemaran nama baik. Saya orang baik-baik kok. Sumpah! Saya cuma mau curhat. Kan Aparat Negara adalah sahabat masyarakat. Bener nggak?
Ya udah ya Pak, Bu, Oom, Tante Pejabat. Sampai jumpa lagi.
xoxo

