Fashion is temporary, Style is Forever. Today you wear it because you feel good in it.
Warning!
This Topic a Little Sensitive and Gal’s Talk, But Boys Still Do Allowed.
Coba kalian sebutkan tiga hal di dunia yang tengah membentuk sebuah koalisi mengerikan dan mendominasi dunia saat ini!
Pejabat – Korupsi – Kolusi? Salah!
Blackberry – Situs Porno – Broadcast Message? Salah!
Terorisme – Pengeboman – Ancaman disintegrasi? Masih juga salah!
Pasar bebas – Trafficking – Narkotika? Salah, salah, salah!
Kalian tidak akan menyangka bahwa jawaban saya adalah : wanita – shopping – fashion (Virus WSF). Ya. Ketiga hal ini adalah sebuah kesatuan tak terpisahkan bagai direkatkan oleh lem baja super yang mustahil untuk dilepaskan. Dan tentu saja mereka saat ini seolah tengah mendominasi dunia. Tidak percaya?
Wanita? Yah, tentu saja. Wanita sering disebut-sebut sebagai penyebab dari berbagai kekacauan (walaupun saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat ini, tapi ada benarnya juga sih). Misalnya, hancurnya kota Troy adalah akibat Pangeran Paris dari Troy yang merebut Helen, istri dari Menelaus yang merupakan adik Agamemnon, raja Yunani. Atau Cleopatra yang berselingkuh dengan sahabat dari suaminya sendiri, Marc Anthony, sehingga menyebabkan perpecahan dan berakhir pada kematian keduanya. Kalau yang lokal punya, mungkin kita bisa melihat kasus Antasari – Rani. Walau banyak intrik yang melatarbelakangi kejadian tersebut, tetap saja salah satu pemeran utama dalam panggung drama tersebut adalah wanita.
Dikaitakan dengan gender, wanita tengah gencar-gencarnya menghapuskan perbedaan gender dalam berbagai bidang. Banyak wanita diorbitkan sebagai politikus dan pemimpin dunia, yang eksistensinya sangat diperhitungkan masyarakat internasional. Nama-nama seperti Gloria Macapagal-Arroyo (Presiden Filipina), Cristina Fernandez de Kirchner (Presiden Argentina), dan Julia Gillard (Perdana Menteri Australia) tidak asing lagi bagi kita. Saat ini wanita dianggap sama cerdas dan hebatnya dengan pria.
Shopping? Pasti. Kegiatan ini rasa-rasanya telah membuat kecanduan semua orang, baik yang berduit maupun tidak berduit, baik pria maupun wanita. Di hari libur, tempat yang paling ramai dikunjungi adalah pusat-pusat perbelanjaan. Jangan menyangkal deh, tujuan utama kalian di hari Sabtu dan Minggu pasti nggak jauh-jauh dari Mall. Walau awalnya nggak berniat shopping, buntut-buntutnya saat kita meninggalkan Mall tersebut tangan kita menenteng kantong belanjaan.
Shopping itu ibaratnya mata air di gurun pasir yang tandus, begitu menggiurkan dan membuat kita haus seketika. Nggak jarang lho kita yang tadinya nggak berniat membeli apa-apa saat pergi ke Mall, akhirnya belanja juga setelah melihat tulisan diskon 50% atau “New Arrival”. Walau lagi bokek sekalipun, terkadang sampai dibela-belain pinjem duit ke teman atau menggesek kartu kredit.
Dan fashion? Absolutely. Hampir seluruh industi di dunia ini memperhitungkan fashion dalam memproduksi barang-barang mereka. Bahkan untuk menciptakan mobil dan telepon genggam sekalipun, segi fashion tetap menjadi perhatian utama. Itulah sebabnya lahir produk-produk telepon genggam dalam warna-warna lucu menggemaskan, atau mobil yang bisa mencerminkan kepribadian pemilik (sporty untuk Lamborghini Gallardo, calm untuk Aston Martin one-77, elegant untuk Rolls Royce Ghost, chick untuk VW Beetle)
Dan bagaimanakah ketiga hal ini bisa menciptakan suatu koalisi yang mengerikan? Nah, itu dia.
Virus WSF ini sebenarnya sangat mengerikan. Fakta inilah yang banyak saya temukan dalam lingkungan pergaulan saya. Wanita banyak menjadi sasaran dari produk fashion. Butuh bukti? Coba saja pergi ke pusat perbelanjaan, dan lihat sendiri berapa banyak outlet yang menyediakan produk-produk fashion bagi wanita. Jumlahnya pasti akan lebih banyak dari pada outlet yang menjual produk-produk fashion bagi pria. Dan wanita pun tidak terlepas dari label shopping yang melekat pada dirinya. Sehingga ada suatu lelucon klasik yang mengatakan bahwa bila separuh otak pria digunakan untuk memikirkan seks, maka separuh otak wanita digunakan untuk memikirkan shopping.
Butuh bukti lagi? Coba perhatikan kembali, bila ada pasangan yang sedang jalan di pusat perbelanjaan, pasti deh si cewek yang akan mondar-mandir masuk dari satu outlet ke outlet lainnya, membongkar-bongkar tumpukan baju, memilih-milih, dan meminta pendapat. Sementara si cowok biasanya cuma membuntuti dibelakang dengan tampang bosan, atau dari pada bête mereka lebih memilih menunggu di luar outlet. Ini bukan berarti si cowok nggak suka shopping juga. Hanya saja dari yang saya amati, kegiatan shopping yang dilakukan para pria lebih simple, cepat, terorganisir dan efisien (kecuali untuk para pria lebay yang dandanannya suka norak dan ngerasa oke banget bak bintang film korea padahal sebenarnya enggak, yeaaakkkk!)
Dan kegiatan shopping itu sebenarnya tidak akan ada habisnya, karena fashion akan selalu berubah dan bergulir dari waktu ke waktu. Fashion yang sedang up to date bulan ini, belum tentu masih disukai dalam waktu lima bulan ke depan. Demikian pula fashion 30 tahun lalu, bisa jadi akan kembali digemari di tahun ini. Bagi seorang pengikut trend, kita akan selalu tergiur melihat fashion terbaru yang up to date dan memiliki ketakutan jika sampai tidak mengikuti trend terbaru (takut di cap ketinggalan jaman atau nggak gaul). Nah, ini sebenarnya adalah salah satu cikal bakal dari Virus WSF. Bisa kebayang dong kalau dalam satu bulan muncul 10 trend fashion dan kita ngotot ingin mengikutinya?
Kalau hobby shopping wanita masih dalam batas wajar, dengan memperhitungkan besarnya penghasilan yang serta daya beli yang dimiliki, maka kegiatan shopping tidak akan menjadi Virus WSF dan terasa menyenangkan. Yah, hitung-hitung untuk menghilangkan stress dan mengganti isi lemari kita yang sudah mulai usang. Namun apa jadinya apabila wanita tersebut telah diperbudak oleh Virus WSF? Pernah nonton film A Confession of A Shopaholic? Nah kurang lebih itulah yang akan terjadi : utang dimana-mana, dan mereka tidak akan pernah bisa berhenti untuk terus belanja dan belanja walau kartu kredit mereka sudah patah dan menjerit-jeritkan sinyal S.O.S.
Menurut saya, masih lebih bagus deh kalau hanya terlibat hutang akibat Virus WSF. Yang lebih tidak saya sukai dari virus ini para wanita jadi kehilangan jati diri dan membantu para kriminal memasarkan barang bajakan. Mereka yang menjadi korban mode menggunakan baju yang sama sekali tidak pantas untuk mereka, hanya karena ingin dianggap up to date. Dan lihat aja anak kecil jaman sekarang, belum punya dada aja udah pake baju kemben dan gincu setebal aspal karena menjadi korban mode. Padahal jaman saya seumuran dia, saya masih manjat-manjat pohon dengan ingus meleleh dan pakai celana monyet. Ckckck!
Ada lagi trend pinjam meminjam di kalangan para wanita. Karena nggak punya duit buat tampil gaya, dan kartu kredit udah mencapai batas limit sehingga nggak bisa di pakai shopping lagi, mereka akhirnya meminjam barang-barang milik temannya agar terkesan punya barang baru dan up to date. Kalau pinjamnya sekali-sekali, teman kita pasti masih bisa mengerti. Tapi kalau setiap kali mau pergi hang out pakai acara pinjam barang dulu, pasti lama-lama temen kita bête juga donk. Ngapain sih memaksakan diri banget? Orang akan lebih menghargai kita apa adanya lho, dibandingkan saat mengetahui barang yang kita pakai cuma pinjaman yang bersifat unlimited karena nggak kunjung dikembalikan.
Akibat lainnya dari Virus WSF adalah trend membeli barang-barang bajakan yang biasanya disebut barang KW. Para wanita ini sebenarnya ingin juga memiliki barang branded milik designer ternama dunia dan terlihat keren seperti artis-artis Hollywood, namun apa daya tidak memiliki daya beli yang setimpal. Hal ini bisa saya maklumi karena tidak semua orang diberi nasib baik hidup dalam kondisi bergelimpangan uang. Yang menyesatkan adalah apabila mereka membeli barang KW tersebut dan berbohong pada setiap orang yang ditemui bahwa barang yang dikenakannya asli 100% dan dibelinya di Singapura. Akui sajalah itu barang KW dan gak usah pakai embel-embel sombong segala. Orang justru akan lebih mengerti apabila kita bersikap apa adanya. Atau sebenarnya kalau mereka mau bersabar, mereka bisa lho menghentikan kebiasaan shopping mereka sementara dan menabung untuk dapat membeli barang-barang brended tersebut. Kalau uang mereka masih kurang untuk membeli yang baru, mereka bisa kok membeli yang bekas, kan sekarang banyak bisnis penjualan barang-barang brended bekas.
Nah, ada pula akibat lain dari Virus WSF, yaitu trend memalak pasangan. Karena hobby shopping yang terus menerus dan keinginan membeli barang-barang fashion terbaru, maka pasangan pun menjadi sasaran. Dengan segala bujuk rayu semanis madu dan trik-trik licik lainnya, akhirnya pasangan pun masuk ke dalam perangkap dan mau membelikan apa yang kita inginkan. Memang gak ada salahnya membelikan pasangan barang yang dia inginkan sebagai tanda cinta kasih. Tapi kasihan juga kan kalau terus-menerus? Uang itu seharusnya akan lebih bermanfaat kalau ditabung dan digunakan untuk persiapan menikah. Makanya, nggak heran juga sih kalau para bapak-bapak akhirnya mengkorupsi duit Negara. Mungkin mereka putus asa bagaimana lagi caranya mendapatkan uang untuk memenuhi keinginan sang istri dan anak-anak yang seabrek-abrek, hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan pintas mengkorupsi duit Negara. Masih untung mereka cuma korupsi uang, bagaimana kalau saking stressnya mereka malah memutuskan untuk bunuh diri (coba deh nonton film The Joneses, gak bakalan nyesel!)
Yang paling parah dari Virus WSF ini adalah, para wanita ini menjadi buta hatinya. Saya melihat bahwa teman-teman saya yang telah terkena Virus ini akan menggunakan berbagai macam cara agar dapat memenuhi hasrat mereka yang tidak kunjung habisnya. Mereka tega mencuri uang sahabatnya, menipu orang-orang kantor, dan bahkan rela melacurkan diri demi mendapatkan ekstra money. Sungguh. Inilah yang terjadi dalam masyarakat kita. Dan walaupun Virus ini tidak berbahaya bagi penyelenggaraan Negara dan sangat menguntungkan bagi penyelenggara ekonomi, namun tetap saja merusak moral manusia.
Sebagai seorang mantan Shopaholic, saya mengakui bahwa sulit sekali untuk terlepas dari cengkraman Virus WSF. Bayangkan, koleksi sepatu saya dulu mencapai 250 pasang! Dan salah satu cara menghentikannya adalah dengan menyalurkannya pada hobi traveling. Memang sama-sama mengeluarkan biaya yang besar. Namun dengan traveling saya bisa melihat dunia dan mendapatkan pengalaman baru, dan itu jauh lebih berharga dibandingkan tumpukan baju, sepatu, dan tas yang menggunung dan pada akhirnya hanya menjadi sarang tikus. Saat ini saya selalu menyeimbangkan antara uang yang saya tabung dengan yang saya gunakan untuk berbelanja. Hal ini cukup membantu saya mengekang keinginan untuk berbelanja.
Sebenarnya saya merasa risih jika Wanita selalu dilabeli dengan gila shopping dan fashion. Apakah kalian tidak merasa demikian teman-teman? Kok rasanya kita ini kaum bodoh banget yang tidak perduli apa-apa kecuali menghambur-hamburkan uang untuk barang-barang fashion. Be a smart shopper! Jangan biarkan Virus WSF menguasai kalian. Ingat dong semboyan yang dibuat Dolce & Gabbana : “Fashion is temporary, Style is Forever. Today you wear it because you feel good in it". Jangan mau menjadi korban mode, karena sifatnya hanya sementara. Sementara original style yang kita miliki, itu sifatnya selamanya, dan gak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari kita.
Cheers ladies J J J

