Lawyer = Liar = Lembur = Lelah
Oke, ini posting pertama saya, dan saya menulisnya dari meja kerja di kantor saya pada pukul 03.00 WIB, disaat orang-orang normal lainnya tertidur dengan lelap, memeluk guling yang telah berbercak kepulauan seribu dan memimpikan Jessica Alba yang tengah berjemur di pantai Ancol. Di samping saya rekan kerja seruangan saya hampir terlelap karena kecapaian sementara kami mendengar alunan lagu Iris by Goo Goo Dolls yang telah didaur ulang dan dinyanyikan kembali oleh seorang gadis Filipina. Oh ya, namanya Sabrina kalau tidak salah.
And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understandWhen everything’s made to be broken
I just want you to know who I am
Cause I don’t think that they’d understandWhen everything’s made to be broken
I just want you to know who I am
Serius.
Mengapa orang bisa begitu gila bekerja? Banyak yang mengorbankan orang tua, anak, istri, pacar, selingkuhan (??), teman, sahabat (baca : kehidupan normal) hanya untuk bekerja dan mendapatkan lebih banyak uang. Seolah-olah mereka hendak menyaingi kekayaan Paman Gober sehingga bila mereka mati kelak, mereka memiliki cukup uang untuk membuat upacara pemakaman mewah di planet Saturnus dan mengundang Justin Bieber untuk menyanyikan mars pemakaman mereka. Padahal sebenarnya uang yang mereka miliki saat ini sudah cukup untuk memberi makan penderita busung lapar di Zimbabwe hingga tujuh turunan, delapan tanjakan, sepuluh tikungan.
Saat saya memilih mengambil bidang pekerjaan ini, yang saya pikirkan adalah betapa kerennya menjadi seorang Legaly Blonde, dengan profesi bergengsi mengenakan setelan keren dan menjinjing tas branded. Well, tentu saja khayalan saya itu tidak termasuk harus bekerja hingga dini hari (sekarang waktu sudah menunjukan pukul 03.15 WIB) hingga kaki saya bengkak dan kantong mata saya mendapat bonus lingkaran hitam. Juga tidak termasuk deadline dan klien yang terkadang banyak mau serta bawel setengah mampus. Dan tentunya juga tidak termasuk pasangan yang marah-marah karena jadwal pulang kantor yang tidak menentu.
Kalau disuruh memilih saya lebih suka bekerja dengan santai, pulang tepat waktu, bergelung di sofa yang nyaman sambil menonton tayangan MTV Pimp My Ride dan makan nasi goreng dukduk. Mungkin saya tidak akan punya title sepanjang kereta api. Mungkin saya harus menerima nasib naik Kopaja tiap hari. Tapi toh tidak mengapa selama hati ini senang. Tapi sudahlah, setiap jerih payah pasti akan membuahkan hasil bukan? Dan lawyer muda yang gila ini akan mulai menapaki jalannya dan meniti karier.
Mama saya yang cantik selalu ngeri karena katanya sebelah kaki saya ini sudah berada di neraka. Jadi pepatah surga berada di kaki ibu seharusnya disandingkan dengan pepatah neraka berada di kaki aparat penegak hukum. Mungkin beliau ada benarnya. Sudah menjadi rahasia seluruh jagat raya kalau semua orang hukum memang berada diantara dua sisi. Tapi saya selalu dapat menenangkan hati beliau dengan cara membawa rosario dalam kantong saya setiap hari (semoga Tuhan memaafkan saya karena belum tentu menggunakannya untuk berdoa setiap hari).
Semua pekerjaan, apa pun itu, tergantung personality masing-masing orang. Walaupun, lagi-lagi, semua penghuni jagad raya ini setuju bahwa yang namanya pengacara itu tukang bohong. Itu sebabnya ada sebuah lagu milik penyanyi kulit hitam asal Amerika yang liriknya berkata : You liying like a Lawyer... You liying like a Lawyer... You liying like a Lawyer. Padahal semua pekerjaan punya potensi untuk melakukan kebohongan lho. Contoh saja mantan pembantu saya yang selalu berbohong sedang tidak enak badan supaya tidak banyak disuruh-suruh. Atau mantan supir papa saya yang selalu memalsu nota pengisian bensin.
Tapi saya tidak menyangkal kok kalau pekerjaan ini penuh trik trik baik yang kecil hingga yang besar. Itu sebabnya seorang Lawyer harusnya mengatakan pada orang bahwa nama pekerjaannya itu adalah 4L, yaitu Lawyer, Liar, Lembur, Lelah. Yang kalau kira-kira disimpulkan adalah Pengacara yang suka berbohong dan wajib lembur hingga lelah. Ha ha ha. Bagi rekan-rekan seprofesi yang membaca catatan saya ini tolong jangan tersinggung. Ini hanya sekedar hiburan kecil mengantar fajar yang hampir menjelang.
Wah, seorang rekan saya sudah memanggil lagi karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk deadline hari ini. Saatnya saya untuk melanjutkan kegilaan hidup saya :)
Chiao!

