Manusia-Manusia Tak Kasat Mata di Bangku Sekolah

Tulisan ini ditujukan bagi kaum-kaum teraniaya dan tersingkirkan di bangku sekolah.
Mereka yang duduk di sudut-sudut ruangan dengan buku menutupi wajah.
Mereka yang menjadi olok-olokan anak-anak popular walau tidak melakukan kesalahan.
Mereka yang capek berusaha untuk membaur karena tak diinginkan keberadaannya.
Mereka yang suaranya tidak didengar bahkan saat berteriak sekali pun.
Mereka yang baju dan sepatunya dibilang ketinggalan jaman.
Sungguh saya merasakan apa yang kalian rasakan.
Karena saya pernah menjadi bagian dari kalian.


Kata orang masa-masa terindah adalah saat kita duduk di bangku SMA. Masa di mana kita menerima terlalu banyak undangan pesta sweet seventeen, masa di mana kita merasakan indahnya jatuh dan putus cinta, masa di mana kita berangan-angan tentang masa depan kita, masa dimana kita berusaha menentang orang tua kita demi sesuatu yang kita yakini, masa kita berbuat kesalahan – memperbaikinya – lalu membuat kesalahan berikutnya, masa di mana kita membentuk tali-tali persahabatan dengan rekan-rekan satu angkatan, masa di mana kita berlomba-lomba mempersiapkan diri menuju bangku universitas, masa di mana segala hal terlihat begitu menyenangkan dan menantang untuk dilakukan.
Benarkah demikian?
Ini ironis sekali, karena menurut saja justru di bangku SMP lah saya menemukan masa terbaik saya. SMP adalah masa dimana saya menemukan cinta pertama, masa dimana saya mendapatkan sahabat-sahabat terbaik yang tidak terpisah oleh waktu dan begitu tulus menyayangi satu sama lain, masa SMP adalah masa dimana kami berlomba-lomba meraih prestasi, masa dimana kami ingin mengikuti sebanyak mungkin ekstrakulikuler agar hidup kami ini lebih bermanfaat, masa dimana kami berbuat kenakalan-kenalan manis yang masih terkenang dengan baik dalam memori saya, masa dimana saya mau membayar berapa pun agar bisa kembali walau hanya sehari saja.
Saya adalah salah satu orang dengan catatan dan memori yang buruk tentang bangku SMA. Hari-hari di masa SMA adalah hari-hari membosankan dan menakutkan bagi saya. Setiap pagi saya terbangun dengan perasaan gundah dan cemas tentang hari itu. Saya enggan pergi kesekolah, bahkan sering mencari-cari alasan sakit agar tidak usah pergi sekolah. Setiap hari saya selalu sengaja berlambat-lambat untuk mandi, berlambat-lambat memakai sepatu, berlambat-lambat membereskan buku, berlambat-lambat menuju sekolah, dan akhirnya terburu-buru karena takut terlambat.  
Saya bukan anak popular pada masa SMA. Entahlah. Sebenarnya apa sih taraf ukur kepopuleran seseorang? Dari segi fisik, kekayaan, kepintaran, keaktifan di organisasi, keahlian membuat onar, kelihaian mendapatkan pacar dan memutuskannya dalam jangka waktu beberapa hari, atau apa? Saya bukan anak PASKIBRA, bukan juga cheerleader, pergi ke sekolah dengan kendaraan seadanya (baca : angkot), saya tidak pernah punya pacar cowok popular yang menjadi ketua tim basket, saya bukan merupakan anggota gank anak-anak cewek popular yang cantik dan membuat semua mata terbelalak memuja saat mereka melintas, saya tidak pernah menjadi ketua apapun dalam organisasi apa pun, saya juga bukan peraih medali apa pun di lomba apapun, yang dengan demikian saya simpulkan saya bukan anak popular. Mungkin satu-satunya hal yang membuat saya diingat orang adalah karena saya merupakan murid pindahan dari Papua dan itu merupakan hal yang unik bagi mereka. Oh ya, dan karena pacar saya saat itu cukup tampan dan pintar. Selebihnya, dari seluruh perlakuan teman-teman cewek popular kepada saya, saya menyadari bahwa mereka menganggap saya bukan siapa-siapa.

Sampai saat ini pun saya masih penasaran, bagaimana teman-teman SMA yang lain memandang saya dulu? Apakah menurut mereka saya termasuk dalam golongan anak-anak culun? Apakah menurut mereka saya termasuk dalam kategori something nggak penting yang keberadaannya nggak patut diperhitungkan? Ataukah saya ini masih seseorang yang mereka anggap pantas untuk dilirik kedua kalinya saat melintas di hadapan mereka? Karena komentar-komentar yang mereka lontarkan ketika bertemu saya saat ini rasanya meyakinkan saya bahwa saya ini dulunya memang bukan siapa-siapa, seperti : "Hei Shin, apa kabar? Tambah kurus ya sekarang?", atau : "Ya ampun, kamu Shinta ya? Kok beda banget dari jaman SMA dulu!"  yang lebih parah : "Ini Shinta yang mana ya? Anak kelas berapa? Anak ekskul apa? Aku kok nggak pernah tahu!". Well, it’s true lho. Kalau ada orang-orang yang mengenal saya bukan di bangku SMA (entah itu teman SMP, kuliah, atau teman yang saya kenal dari lingkuang lainnya) dan membaca tulisan saya ini dan menganggap saya berbohong mengenai tulisan ini, maka inilah pengakuan saya.

Saya adalah anak yang jarang mendapatkan undangan pesta sweet seventeen dari siapa pun. Saya adalah anak yang tidak diperhitungkan sebagai cewek yang pantas untuk masuk dalam gank cewek-cewek popular dan keberadaan saya ditolak oleh mereka. Saya adalah anak yang tidak diajak pergi ke mall oleh siapa pun di hari minggu, kecuali oleh pacar saya sendiri. Saya adalah anak yang berusaha menelpon orang yang saya anggap sebagai sahabat saya, namun ternyata orang itu menyuruh orang lainnya mengangkat telepon saya dan memberitahukan dia sedang tidak ada di rumah padahal dia sebenarnya sedang bermain bersama teman lainnya di kamar. Saya adalah anak yang tidak akan diajak berbicara tentang trend baju terbaru, model rambut yang bagus,  cowok popular paling tampan, atau rencana pesta valentine. Saya adalah anak yang berusaha masuk dalam obrolan hanya agar saya tidak menjadi bisu. Saya adalah anak yang berteman dengan teman-teman yang biasa-biasa saja namun memiliki kecerdasan lebih (dan saya berterima kasih kepada mereka karena mau menerima saya sebagai seseorang, bukan sesuatu, love you).

It’s so sad, but it’s true. Kadang saya menahan tangis saat melihat teman-teman saya mendapat undangan pesta dan saya tidak. Kadang hati saya teriris saat seseorang yang saya sapa tidak membalas sapaan saya dan berlagak tidak mengenal saya. Ada kalanya saya hanya mendengarkan dengan iri cerita teman-teman yang melakukan aktifitas menyenangkan diakhir pekan bersama-sama, dan saya tidak pernah menjadi salah satu orang yang masuk dalam daftar ajakan mereka. Seringkali saya dengan penuh semangat memberikan hadiah ulang tahun bagi teman saya, namun mereka bahkan tidak mengingat ulang tahun saya. Saya sungguh bukan siapa-siapa diantara teman-teman wanita saya. Saya sungguh bukan orang yang diperhitungkan.

Namun saya bersyukur bahwa keadaan saya ini masih lebih baik dibandingkan dengan orang-orang lainnya yang bahkan lebih tak kasat mata. Tau kan? Orang yang bahkan kehadirannya tidak disadari walau dia jelas-jelas berada ditengah-tengah yang lainnya, yang selalu pergi ke kantin seorang diri, yang berjalan menunduk-nunduk karena terlalu takut mendapatkan tatapan mencela, yang menyiapkan hati seluas samudra bagi siapa saja yang mau menjadi temannya namun tak ada satu orang pun yang sudi mendekatinya.

Sebenarnya apa sih kesalahan anak-anak seperti saya dan mereka? Kalau memang kami memiliki sifat buruk dan sesuatu yang tidak disukai, tidak adakah seseorang pun yang mau berbaik hati memberitahukan kepada kami agar kami bisa merubahnya? Walaupun seandainya itu karena bau badan kami yang tidak sedap, kulit kami yang berkutil mengerikan, rambut kami yang berketombe, kaca mata kami yang setebal pantat botol, baju kami yang lusuh, atau gaya bicara kami yang tidak mengenakan? Atau kalau pun kalian benar-benar tidak ingin bergaul dengan kami, bisakah kalian sedikit saja menyapa kami sekali-kali? Dua kali sebulan saja cukup, agar kami merasa kami ini masih hidup dan bukannya hantu penunggu sekolah yang tidak terlihat. Kalaupun kami begitu menyebalkannya bagi kalian, bisakah kalian tersenyum saat memandang kami, bukannya melemparkan tatapan jijik dan menghina yang membuat kami trauma memikirkannya hingga sekarang?

Ataukah sebenarnya anak-anak seperti kami kurang berusaha agar dapat diterima oleh kalian? Bukannya kami tidak mau berusaha. Mungkin kami pernah berusaha dan gagal. Sehingga kami terlalu takut mencoba kembali. Karena toh hati kalian terlalu sulit untuk kami tembus. Mungkin kami pernah mencoba. Namun karena status yang ada pada diri kami sudah terlanjur melekat, maka kalian tidak bisa melihat usaha kami.

Oh, tetapi saya berterimakasih karena kalian menjadi sumber semangat saya untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga pelajaran yang kalian berikan bisa menjadi bahan didikan bagi anak-anak saya kelak, bahwa tidak ada gunanya memamerkan seberapa besar ukuran velg mobilnya, setampan apa kapten tim basket yang berhasil dia kencani, seberapa banyak undangan ulang tahun yang dia dapatkan, berapa banyak orang yang memperebutkan dia untuk acara akhir pekan, apakah dia berhasil masuk dalam tim cheerleader, dan tidak penting apakah dia menjadi ratu pesta dansa atau tidak.  Saya akan mengajarkan dia untuk melihat orang paling tak kasat mata di sekolahnya, untuk menyapa mereka yang duduk di sudut-sudut ruangan, untuk mengajak mereka yang tidak pernah diundang dalam acara ulang tahun, untuk mau menimba ilmu dari temannya yang menggunakan kaca mata setebal tutp botol, dan untuk menghargai mereka semua bahkan walaupun dia tidak mengetahui namanya. Dan bahwa setiap tindakan kecil yang dia lakukan kepada teman-temanya yang paling tak kasat mata tersebut dia lakukan bagi mamanya.

Saya pun yakin pernah menjadi salah satu orang kejam yang memperlakukan orang tak kasat mata dengan begitu tidak manusiawi, mulai dari saya mengerti baik dan buruk, hingga saat ini saya bisa memutarbalikan baik dan buruk. Untuk siapa pun yang bernah terluka hatinya oleh perilaku saya yang menjadikan mereka orang tak kasat mata, bukan maksud saya untuk berbuat sekejam itu. Mungkin saya hanya lalai menjadi pribadi yang baik. Maafkan saya dan bantulah saya menjadi orang yang lebih baik lagi.  

Dan apakah tulisan ini bertujuan menyindir orang-orang dari masa SMA saya yang memperlakukan saya dengan begitu buruk? Oh, jangan khawatir sobat. Saya tidak menaruh dendam pada kalian. Justru saya berterimakasih sebesar-besarnya karena kalian sumber motifasi saya untuk menjadi orang yang lebih baik setelah meninggalkan bangku SMA. Hati saya yang tercabik berdarah-darah karena perilaku kalian sudah terjahit dengan rapi dan terobati dengan sempurna. Bekas luka itu masih ada. Tapi sakitnya sudah lama pergi. Dan tidak ada alasan lagi bagi saya untuk membenci kalian, karena sekarang pun kalian tidak lebih baik dari saya. Tidak ada. Sedikit pun tidak ada rasa sakit itu.

Postingan Populer