Please Don't Tell Me That It Is Too Late To Apologize


Pernahkah kalian merasakan penyesalan mendalam? Penyesalan yang membuat kalian terus memikirkannya hingga detik ini? Penyesalan yang seolah terus bercokol di hati kalian dan sulit dienyahkan walau tahun telah berganti tahun? Penyesalan yang membuat kalian ingin mengembalikan waktu dan memperbaiki kesalahan kalian? Penyesalan yang membuat kalian berpikir betapa bodohnya kalian telah melakukan hal tersebut? Sebuah penyesalan yang bahkan terbawa dalam tidur dan mimpi buruk kalian? Ya saya punya banyak sekali penyesalan dalam hidup saya. Dan salah satu penyesalan terbesar saya berkaitan dengan arti memaafkan seseorang.
Saat masih SMA, saya punya seorang sahabat cowok. Sebenarnya dia anak yang baik, ringan tangan dan perhatian terhadap teman-temannya. Hanya saja dia usil dan kelewat banyak omong, sehingga teman-teman kami yang lain memilih untuk menjauhinya dan tidak mau bergaul dengannya. Dia bahkan mendapatkan julukan yang tidak mengenakan dari teman-teman kami, yang sekarang kalau saya pikir-pikir, sebenarnya julukan itu sangat jahat. Teman-teman saya yang lain banyak yang tidak mengetahui kebaikan hatinya dan memilih untuk menghakimi dia dari kulit luarnya saja.
Kami akrab baik di sekolah maupun diluar lingkungan sekolah karena kelas kami bersebelahan dan kami juga satu kelas di bimbingan belajar. Saya bahkan juga akrab dengan pacarnya. Terkadang saya berpikir, kenapa orang-orang bisa tidak menyukainya. Karena di balik sifat usil dan banyak omongnya, dia sebenarnya sangat baik hati. Saya ingat waktu saya sakit dan tidak bisa pulang ke rumah sendirian, dia menyuruh pacarnya menunggu di sekolah sebentar agar bisa mengantarkan saya pulang terlebih dahulu. Waktu ulang tahun saya yang ke-17, dia dan pacarnya yang paling pertama datang ke rumah saya untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado ulang tahun. Padahal saat itu pacar dan sahabat-sahabat saya yang lain belum memberi saya ucapan selamat walaupun hanya lewat telepon. Sedihnya, saya bahkan tidak mengundangnya ke pesta ulang tahun saya karena teman-teman saya yang lainnya memprotes kehadirannya.
Saya lupa bagaimana tepatnya kejadiannya, saya dan dia berselisih paham dan tidak saling menyapa dalam jangka waktu yang lama. Saat itu kami sudah lulus SMA dan sama-sama telah diterima di Universitas Negeri. Sebenarnya dia sudah minta maaf berkali-kali melalui SMS, tapi saya mengabaikan SMSnya karena asyik dengan lingkungan kuliah dan teman-teman baru. Saya juga nggak habis pikir kenapa saat itu bisa begitu sebal dan tidak mau memaafkan dia. Padahal mama saya selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh marah kepada orang hingga matahari terbenam. Tapi saat itu saya tetap tidak mau memaafkan dia dan memilih untuk menjauh. Bahkan ketika suatu saat dia menanyakan apakah saya punya rok hitam yang bisa dia pinjam untuk saudaranya yang mau mengikuti lomba paduan suara, saya mengatakan bahwa saya tidak punya. Padahal sebenarnya saya punya karena baru saja saya gunakan untuk acara kampus.
Saya akui, tindakan saya dalam menanggapi pertengkaran kami memang kelewatan. Suatu sore dia datang ke rumah saya. Waktu itu gerimis turun semenjak pagi. Dengan tidak berperasaan, saya menolak menemui dia dan bahkan tidak mau membukakan pintu gerbang. Dengan sabar dia menunggu pintu dibukakan sambil duduk di atas motornya, dibawah guyuran rintik hujan. Saat itu saya hanya mengintipnya dari jendela kamar, tidak berniat sama sekali menyuruh dia masuk walaupun dia sudah basah kuyup. Setelah dua jam menunggu, dia akhirnya memutuskan untuk pulang dan mengirimkan SMS yang berisi permintaan  maaf.
Beberapa minggu kemudian saya mendapat sms dari pacarnya, isi sms itu meminta doa karena sahabat saya mengalami kecelakaan motor. SMS itu saya abaikan begitu saja. Saya pikir paling hanya kecelakaan motor ringan dan dia akan baik-baik saja. Maklum, sahabat saya ini biasanya suka melebih-lebihkan keadaan hingga orang-orang terkadang tidak mempercayai omongannya. Namun dua minggu kemudian, saya kembali mendapatkan sms dari pacarnya, yang isinya lagi-lagi minta didoakan karena kondisi sahabat saya menurun. Saya masih saja tidak menanggapin sms itu. Saya pikir itu hanya akal-akalan mereka saja agar saya mau berbaikan dengan mereka, karena sebelumnya sahabat saya itu memang pernah menggunakan trik seperti itu saat kami bertengkar.
Dua minggu berlalu dan perasaan saya tiba-tiba jadi gelisah. Apa benar sahabat saya kenapa-kenapa? Akhirnya saya mengirimkan sms ke sahabat saya dan menanyakan kondisinya. Saat itu pacarnya yang membalas sms  saya, dia berkata bahwa kondisi sahabat saya belum pulih, bahkan menurun. Saya penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada sahabat saya, tapi pacarnya tidak menjawab dan menyuruh saya datang saja ke rumah sakit. Saat itu juga saya langsung menuju rumah sakit tempat sahabat saya dirawat.
Setibanya di rumah sakit, sudah banyak teman-teman SMA saya dan keluarga sahabat saya yang berkumpul. Mereka berdoa bersama mendoakan kesembuhan bagi dia. Saya semakin penasaran karena waktu itu kami tidak diperbolehkan masuk ke ICU tempat dia dirawat. Setelah acara doa selesai, teman-teman saya baru bercerita kalau sahabat saya sudah berminggu-minggu koma karena kecelakaan motor, dan semua dokter sudah angkat tangan atas kesembuhannya karena harapan hidupnya tinggal 10 persen.
Saat itu saya benar-benar menyesal. Kenapa dari awal saya tidak mempercayai SMS pacarnya? Kenapa saat terakhir kali dia datang ke rumah saya tidak mau membukakan pintu? Kenapa saya harus  marah kepadanya hanya karena masalah sepele yang bahkan saya lupa apa itu? Tapi rasa penyesalan selalu datang terlambat kan? Kalau dia tidak datang terlambat maka namanya bukan lagi penyesalan. Mungkin dia akan menjadi pengampunan, kemurah-hatian, pemaafan, penyadaran, dan belas kasih.
Beberapa hari kemudian sahabat saya meninggal dunia. Kesedihan saya berlipat ganda karena dia pergi sebelum kami sempat memperbaiki hubungan kami. Hari itu saat saya datang ke pemakamannya, saya melihat dia terbaring dalam peti dengan wajah yang sangat damai, walaupun kepalanya terbalut perban untuk menutupi luka parahnya dan mukanya berbilur-bilur serta bengkak, bukti betapa sakit raganya sebelum dia akhirnya dipanggil olehNya. Menurut saya dia terlihat tampan dengan balutan jas, suatu hal yang tidak pernah saya lihat semasa hidupnya. Dan bibirnya yang terkatup bisu seolah ingin mengucapkan banyak cerita yang belum pernah dia katakan sebelumnya. Saat itu saya hanya bisa menggenggam tangannya yang kaku dan terbalut sarung tangan sambil menangis dan membisikan kata-kata penyesalan.
Tujuh tahun sesudahnya, hingga saat ini, saya masih merasa bersalah dan bersedih jika mengenang almarhum sahabat saya. Mungkin karena perasaan bersalah itu juga yang membuat saya sering memimpikan dia. Terkadang saya terbangun sambil menangis saat memimpikan dia. Dan setiap kali memimpikan dia, saya selalu mendoakan dia agar mau memaafkan saja, juga agar dia diberi kedamaian di sisiNya.
Pernahkah kalian berpikir kalau kita terkadang memang bertengkar dengan orang-orang terdekat kita karena permasalahan sepele yang bahkan kita sendiri tidak ingat apa inti permasalahan yang kita pertengkarkan. Dan saat kemarahan kita telah mereda, kita merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Ingat lagu Ne Yo yang judulnya Mad?
She's starin' at me
I'm sittin' wonderin' what she's thinkin'
Nobody's talkin' 'cause talkin' just turns into screamin'
And now it’s I'm yellin' over her, she yellin' over me
All that that means is neither of us is listening

And what's even worse?
That we don't even remember why we’re fighting
So both of us are mad for

Nothing, fighting for
Nothin', crying for
Nothing, whoa
But we won’t let it go for

Nothing, no not for
Nothing, this should be
Nothing to a love like what we got


Ajaran mama saya bahwa jika kita marah pada seseorang harus selesai sebelum matahari terbenam kembali teringat dan menjadi sangat masuk akal. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun mendatang? Sebenarnya filosofi ini mengajarkan kita untuk mau saling memaafkan sebelum menyesali apa yang akan terjadi di kemudian hari. Karena dunia berputar dengan sangat cepat, waktu berdetak dengan sangat cepat, hari benganti dengan sangat cepat, dan kita tidak akan pernah bisa menebak rencana apa yang telah disiapkan Tuhan bagi kita.
Andai saja saya mau memaafkan sahabat saya saat dia meminta maaf, mungkin kami masih memiliki waktu cukup lama menikmati kebersamaan hingga dia dipanggil olehNya. Kalau saja saya mau meminta maaf terlebih dahulu, saya tidak akan memikul rasa bersalah begitu beratnya hingga detik saya menuliskan kalimat ini.
Almarhum sahabat saya tidak akan tahu saya menuliskan kisah ini dengan penuh air mata. Dia juga tidak akan tahu seberapa besar rasa penyesalan saya hingga saat ini. Dia pun tidak akan tahu saya sering memimpikan dia dalam lelap tidur saya. Tapi satu yang saya yakini, dia pasti telah memaafkan saya. Karena sifatnya yang selalu memaafkan saya semasa hidupnya, tidak peduli bagaimana pun pikiran jahat teman-teman saya mengenai pribadinya.
“Dear sahabatku, semoga Tuhan menyiapkan tempat yang lebih layak bagimu di sana. Karena ditempat yang telah Dia sediakan untukmu pasti hanya dipenuhi oleh suka cita. Persahabatan kita akan selalu aku kenang. Maafkan semua kesalahanku, sahabatku. Dan kamu tahu namamu selalu aku simpan di hati. Sama seperti aku masih menjaga jepit rambut kepiting warna orange yang pernah kamu berikan, atau gelas Mickey Mouse hadiah ulang tahun pemberianmu. Bahkan ketika benda-benda itu sudah tidak mampu lagi aku jaga, namamu akan terus terkenang sampai akhir hayatku.”
In memory of “D”…

Postingan Populer