Sedikit Sesuatu Dari Sesuatu Yang Belum Terselesaikan Karena Sesuatu
Berlin – Well, Ini Cuma Latihan Kok
“Berlin !” Seseorang memanggil namaku. Tapi entahlah, aku tidak cukup sadar untuk mengetahui siapa orang itu.
“Berlin !” Orang itu kembali memanggil namaku. Dan sekarang dia mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Bro, rilex! Anggap ini seperti latihan biasa. Lo sudah melakukannya ratusan kali.” Orang itu, yang ternyata adalah Austin , berusaha menenangkanku. Yeah, right, seolah latihan menembak sama saja dengan situasi saat ini. Austin bisa berkata seperti itu karena sehari-hari bergaul dengan pesawat tempur, bukan bola kaki. Dia pasti menghadapi situasi yang lebih sulit saat dikirimkan ke Irak tahun lalu.
“Gue nggak yakin bisa menggunakan benda itu.” Ujarku syok saat Austin mengambil pistol Springfield Trophy Match SS dari kantong tuksedoku.
“Ouch, sudah gue bilang jangan beli punya Amerika.” Keluhnya saat melihat pistolku. Austin pencinta pistol buatan Israel , dia selalu marah-marah kalau Paris membeli pistol selain Magnum.
“Ini bukan waktunya untuk ketakutan, nak.” Dia memaksaku untuk menggenggam pistol itu. “Ini saatnya bagi lo untuk menunjukkan sejauh mana lo mencintai keluarga ini.” Dan setelah mengatakan hal itu, dia berlari menghampiri Sidney yang tampaknya kewalahan menghadapi tiga orang penembak dari atas kursi rodanya.
Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
“Minggir, Bro!” London berteriak memperingatkan sebelum melepaskan tembakan kebelakangku. Beberapa saat kemudian terdengar suara gedebuk dan seseorang telah roboh disampingku dengan darah menggenangi lantai.
“Jangan jadi pengecut!” Sergahnya. Dia mengisi ulang peluru Berrettanya dan kembali berlindung di balik pilar saat beberapa tembakan dilepaskan ke arahnya.
“Dari mana datangnya semua bajingan itu?” Roma muncul di sampingku.
“Entahlah, yang jelas kita tidak mengundang mereka.” Sahut London.
“Pasti ada pengkhianat diantara kita. Tidak mungkin mereka semua bisa membobol pertahanan kita kalau nggak ada yang membuka jalan.” Roma mengisi peluru pistol Glocknya. Bagaimana dia bisa setenang itu? Maksudku, dia gay dan lebih muda dariku. Tapi dia bisa menembak oran g semudah menepuk nyamuk.
“Berlin , berhenti menggigil dan angkat pistolmu sekarang!” London menyeka darah dari pipinya. Gue bisa melihat kalau luka tembakan diperutnya kembali mengeluarkan darah.
“Bro, lo menyedihkan.” Roma melemparkan tatapan jijik kepadaku. Dia berjalan menunduk ke arah belakang ruangan, lalu mempercepat langkahnya mengejar salah satu antek keluarga Nakagawa yang sepertinya berusaha melarikan diri dari medan pertempuran.
“Roma, awas!” Teriakku saat seorang pria mengacungkan pistolnya kearah Roma tanpa dia sadari. Lalu, tiba-tiba saja aku menemukan keberanian dan bisa mengangkat pistolku serta melepaskan tembakan yang sangat akurat tepat di kepala pria itu.
“Wow, gue berhutang nyawa sama lo!” Roma berkata sambil lalu, kemudian kembali mengejar buruannya. Aku mengamati Springfield Trophy Match SS ditanganku dengan takjub. Aku selalu menyukai pistol itu walau belum pernah menggunakannya. Tapi gue tidak perna mengira kalau akan begitu menikmati saat-saat menggunakannya untuk mengambil nyawa orang lain.
“Apakah aku berdosa karena membunuhnya?” Aku menoleh syok pada London .
“Lo akan lebih berdosa kalau membiarkan adik lo mati.” London tersenyum menyemangati. “Jangan khawatir, aku membunuh jauh lebih banyak dari lo. Kita akan bertemu di neraka jahanam.”
Seakan lupa pada ketakutanku beberapa menit lalu, aku kembali mengangkat pistolku. Austin benar, anggap saja ini hanya latihan. Targetnya adalah semua makhluk hidup berambut kuning dan berseragam kulit. Dan misinya adalah membasmi mereka semua. Hingga habis tak tersisa!
Austin – Disela-sela Pertempuran
Kondisi semakin memanas dan semakin banyak korban yang berjatuhan. Aku mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan di lantai, kebanyakan dari pihak keluarga Nakagawa, hanya beberapa dari pihak keluaga Asakura, dan sisanya para jemaat malang yang ikut tertembak dalam upaya mereka menyelamatkan diri. Keluarga Nakagama jelas kurang terlatih mengingat banyaknya korban dari pihak mereka. Paris pernah berkata mereka lebih baik menggunakan otot dibandingkan otak, berbeda dengan keluarga kami yang mencetak pasukan berkualitas.
“Benar-benar kacau di sini!” Sidney berteriak dari balik grand piano yang entah bagaimana caranya bisa terbalik dan dia gunakan sebagai tameng.
“Are you alright?” Aku mengamati lengannya yang berdarah dengan cemas.
“Twin, hanya karena gue duduk dikursi roda tidak berarti gue nggak bisa membunuh.” Sidney meringis menahan sakit.
“Well, berapa banyak yang lo bunuh?” Aku mengambil tempat disampingnya.
“Tiga. Lo?” sahutnya bangga.
“Lima . Lo kalah kalau begitu.”
“Shit!” Umpatnya kesal. “Mereka banyak sekali. Gue pikir jumlah mereka sudah berkurang banyak setelah Rusia bertindak.”
“Kita tidak pernah tahu kekuatan macan yang sedang tidur. Selama ini mereka mengumpulkan energi sebanyak mungkin.” Aku menyeka keringat dari dahiku, lalu merobek kemejaku untuk membalut lengan Sidney . “Kemarikan tangan lo.”
“Thanx twin!” Sidney tersenyum lemah. Dia memejamkan matanya sesaat, berusaha menahan rasa sakit dilengannya, dan mungkin juga dipunggungnya. Punggung Sid tidak pernah sembuh sepenuhnya semenjak kecelakaan yang membuatnya lumpuh. Dan itu hanya membuat perasaanku semakin tidak enak.
“Bagaimana cara lo membalikkan piano ini?” Tanyaku sekedar basa-basi agar pikirannya beralih dari rasa sakitnya.
“Kekuatan manusia di saat mendesak memang luar biasa.” Dia tersenyum kecut. “Lo ingat waktu gue berhasil menenggelamkan London di danau?”
“Yeah, lo marah banget karena dia menghina cewek baru lo yang tuna rungu?” Aku mengenang kejadian itu. London memang keterlaluan. Hanya karena dia pemuja kesempurnaan, bukan berarti dia bisa menghina oran g dengan seenaknya.
“Dimana Utada sekarang?” Sidney kembali memejamkan matanya. “Kalo gue berhasil keluar dari sini hidup-hidup, gue berjanji akan mencari dia.”
“Kenapa, lo kangen dia?” Aku takjub karena disituasi genting seperti saat ini kami masih bisa bercakap-cakap. Saat itu aku baru sadar kalau keadaan tiba-tiba menjadi terlalu tenang untuk sebuah pertempuran.
“Ke mana mereka semua?” Sidney sepertinya menyadari hal yang sama. Kami mengedarkan pandangan, dan tampak orang-orang berambut kuning yang mencoba melarikan diri dari pintu samping gereja yang saat itu tidak dijaga.
“Mereka mau kabur! Keparat-keparat sialan!” London berteriak dari arah altar. Dia bangkit dan membidikan pistolnya ke arah mereka. Namun tidak ada bunyi letusan dari Berrettanya, sepertinya London lupa mengisi peluru. Tindakan ceroboh, karena aku yakin kesempatan sempurna saat London tidak berdaya seperti itu tidak akan disia-siakan oleh mereka.
“London , awas!” Paris berteriak dari salah satu sudut ruangan, entahlah aku tidak bisa melihat dia yang tengah berada ditempat perlindungannya saat itu. Yang jelas, detik berikutnya saat mata kami semua terarah pada London , sebuah granat meledak dengan suara yang sangat memekakan dan menghancurkan hampir seluruh altar.
“London !” Aku dan Sidney berteriak bersamaan.
“Gosh! London !” Paris yang ternyata bersembunyi di balik sebuah pilar berseru marah dan berlari menuju altar untuk mengecek keadaan London . Saat itu dari sudut mataku, aku melihat seorang antek keluarga Nakagawa berdiri di tempat yang sangat strategis untuk menembak Paris .
“Paris , don’t!” Teriak Sidney yang ternyata juga melihat adanya bahaya. Namun terlambat karena Paris sudah setengah jalan dan pria itu sudah mengarahkan pistolnya. Kami berdua langsung mengacungkan pistol ke arah pria tersebut, namun sebelum ada yang sempat melepaskan tembakan, sasaran yang hendak kami tembak diberondongi oleh tembakan dan roboh ke lantai dengan kepala tidak berbentuk lagi.
