Sensasi Magical Lagu Itu

Saya tengah berpikir keras sambil menggaruk-garuk kepala saya yang sebenarnya nggak gatel, nggak berkutu, juga nggak berketombe, berusaha mengingat kembali lagu-lagu kesukaan saya semenjak masih menggunakan popok dan menyedot botol susu, hingga saat ini menggunakan rok mini dan pintar memoles make up.


Saya hampir tidak memiliki ingatan bayi, jadi saya menyimpulkan mungkin saya menyukai lagu-lagu standar yang dinyanyikan mama untuk membuai saya, seperti Pok Ame-Ame atau Nina Bobo. Mungkin kalau saat itu saya bisa memilih, saya akan meminta mama memutarkan lagu Claire De lune milik Debussy dan bukannya lagu Nina bobo.

Saat masih TK rasanya saya menyukai lagu-lagu standar anak kecil yang dinyanyikan oleh Susan dan Kak Ria Enes. Yah, hal ini saya anggap wajar lah, karena sesuai dengan perkembangan otak dan mental. Nggak seperti anak balita jaman sekarang yang sudah mengenal lagu Dewi Persik dan bahkan bisa menirukan goyang gergajinya.


Memasuki Sekolah Dasar, saya menyukai lagu-lagu milik Eno Lerian, Trio Kwek-Kwek, dan Bondan Prakoso (pasti kalian masih ingat lagu si Lumba-Lumba dan Banyak Nyamuk di Rumahku yang mereka Populerkan). Yah, ini saya anggap wajar juga. Walaupun setiap hari telinga saya dipaksakan mendengar lalu-lagu Ebit G.A.D yang di putar oleh papa, atau lagu-lagu Dian Pisesa yang diputar mama, saya tetap menjadi anak normal yang mendengarkan musik normal sesuai usia dan nggak sampai berkeliaran di jalan raya sambil meneriakan lagu putus cinta janda kembang.


Memasuki usia ABG, selera musik saya berubah mengikuti hormon anak bau kencur yang mulai mengenal jerawat dan cinta monyet. Maka lagu-lagu cinta milik penyanyi-penyanyi mancanegara seperti Michael Learns To Rock (I’m Gonna Be Around, yes, everybody should loved this song when we were 10th), Backstreet Boys (OMG, ini adalah masa-masa demam boys band dimana kami para gadis bisa meributkan hal nggak guna seperti mana yang lebih cakep, Nick Carter-nya BSB atau Ronan Keating-nya Boy Zone), Britney Spears (saat itu dia masih sangat imut dengan rambut dikuncir dua, menyanyikan lagu Baby One More time), dan Destiny Child (semenjak dulu Beyonce sudah bersuara emas dan mengagumkan).


Masa SMA adalah masa dimana selera musik saya berubah lebih rebel dan sangar. Maka nama-nama band-band seperti Linkin Park, Simple Plan, Muse, Creed, Biskuit (atau Limp Bizkit?) mulai masuk dalam daftar wajib beli kaset (kasihan, belum ada MP3 bajakan jaman itu). Tapi setelah saya pikir-pikir, sebenarnya pada masa ini selera musik teenager seusia saya cenderung mengikuti trend dan seolah ingin menunjukan jati diri kami sebenarnya melalui selera musik kami. Siapa yang masih saja mendengarkan Boys Band akan dianggap culun, dan siapa yang suka pada band akan terlihat keren. Semakin garang dan ganas musik band yang kami dengar, maka kami akan semakin menganggap diri hebat dan keren. Padahal nih sebenarnya, kalau nggak ada orang yang liat, kami diam-diam masih suka dengerin lagunya M2M, West Life atau Christina Aguilera. Apalagi kalau sedang putus atau ditolak cintanya (scene : dengerin lagu Soledad-nya Westlife yang mellow abis sambil nangis meraung-raung di kamar plus nulis-nulis nama orang itu di  buku pelajaran). *rolling eyes*.


Nah, jaman kuliah adalah masa dimana jati diri musik asli saya mulai terbentuk. Dan jaman ini pula teman-teman sebaya saya mulai nggak malu-malu menunjukan selera musik asli mereka, entah itu Roma Irama, OASIS, U2, My Chemical Romance, Kahitna, Usher, Peter Pan, atau Avril Lavigne. Pada jaman ini saya baru menyadari bahwa selera musik saya ternyata tanpa batas, nggak hanya pada penyanyi-penyanyi baru saja, tapi saya pun bisa menyukai musik-musik yang sangat bertentangan, mulai dari musik klasik Mozart dan Debussy, musik mancanegara milik Aerosmith, Michael Buble, Mr. Big, Green Day, Usher, White Lion, sampai musik country Billy Gilman sekalipun.


Tapi dari semua lagu yang pernah saya dengarkan seumur hidup saya, ada satu lagu yang membuat saya selalu merinding setiap kali mendengarkanya. Lagu ini benar-benar membuat bulu kuduk saya berdiri dan jantung saya berdebar-debar. Bukan karena musiknya seperti musik gospel yang serem-serem mistis, bukan juga karena liriknya tentang pemujaan setan para kafir atau kematian tragis seorang tokoh dunia, bukan juga karena berisi roman picisan kisah kasih tak sampai, atau kisah anak tiri yang ibunya hanya mencintai bapaknya saja. Lagu ini adalah lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. 


Serius.


Ini bukan karena saya berpura-pura memiliki rasa nasionalis yang tinggi terhadap bangsa. Bukan karena saya sok alim dan cinta tanah air dan bangsa melebihi rasa cinta saya terhadap pacar dan Blackberry saya. Bukan karena saya mau di cap hebat dan keren karena mencintai lagu kebangsaan saya. Ini karena bulu roma saya benar-benar berdiri setiap kali mendengar lagu kebangsaan kita dikumandangkan, seolah lagu itu punya kekuatan magic yang menarik jiwa kita dalam setiap alunan nadanya. Lagu ini selalu bisa membuat saya terhanyut dan seolah mau mengingatkan bahwa saya harus mencintai nusa dan bangsa dengan segenap hati. Lagu ini seolah bisa melukiskan perjalanan Negara kita sehingga membuat saya malu karena lebih suka berada di negeri orang dibandingkan berada di negeri sendiri.  


Dan saya jadi penasaran, apakah hal seperti ini hanya dialami oleh saya saja, ataukah ada saudara-saudara sebangsa setanah air Indonesia lainnya yang merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan? Apakah ada yang juga merasakan unsur-unsur magic yang membuat kita seolah tersedot dalam sesuatu entah apa saat mendengarkan lagu ini? Ataukah semuanya hanya sebatas halusinasi dan psikis saya semata? Atau malah ganjaran dari Yang Maha Kuasa karena saya dianggap tidak menjadi warga negara yang baik dan kurang mencintai Indonesia?


Lalu saya teringat, suatu ketika saat saya berada di Israel dan sedang mengarungi danau Galilea, pemilik perahu yang merupakan penduduk lokal meminta kami semua yang berada dalam perahunya untuk berdiri, karena dia hendak memutar lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk menghormati Sang Saka Merah Putih yang saat itu dikibarkan berdampingan dengan bendera Israel. Saat lagu Indonesia Raya berkumandang di tengah Danau Galilea dari sebuah tape tua pemilik perahu, saya bisa merasakan bahwa semua orang Indonesia yang berada dalam kapal itu begitu terharu dan khidmat memberikan penghormatan. Yang membuat saya kembali bertanya-tanya, apakah ini efek karena kami berada jauh dari negeri sendiri dan berada di sebuah Negara yang tidak diakui kedaulatannya oleh negara kami, ataukah karena kami benar-benar mencintai negara kami? 


Saat merenungkan hal ini, saya mencoba mengingat-ingat kembali sejarah diciptakannya Lagu Indonesia Raya. Seingat saya lagu ini pertama kali dikumandangkan pada malam penutupan Kongres Pemuda Ke II, tanggal 28 Oktober 1928. Saat itu W.R. Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta dan merupakan kali pertamanya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Saya membayangkan waktu itu semua hadirin terpukau mendengarnya. Sama halnya dengan yang saya rasakan puluhan tahun setelah lagu itu diciptakan. Bahkan mungkin saat itu keterpukauan mereka berlipat kali ganda dibandingkan apa yang saya rasakan, karena mereka belum merasakan nafas kemerdekaan seperti apa yang kita rasakan dan begitu menginginkannya lebih dari apa pun.


Setahu saya W.R Soepratman tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan. Karena akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda, sampai jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir "Matahari Terbit" pada awal Agustus 1938, ia ditangkap saat tengah menyiarkan lagu tersebut di Surabaya dan ditahan hingga meninggal karena sakit.


Hemmm, kalau saya telaah lebih lanjut, rasanya jadi wajar kalau lagu itu selalu membuat saya merinding dan seolah punya kekuatan magic. Karena lagu itu dibuat dengan taruhan nyawa. Bayangkan saja, betapa menderitanya W.R. Soepratman harus hidup dalam pelarian karena jasanya menciptakan lagu itu. Bagaimana ia akhirnya tertangkap dan harus di penjara. Bagaimana dia akhirnya meninggal sebelum bisa merasakan nafas kemerdekaan bangsanya. Ini semua mulai terlihat masuk akal. Lagu yang demikian hebatnya diciptakan dengan segenap jiwa dan raga, dengan tetesan darah dan perjalanan panjang, wajar saja kalau lagu itu serasa memiliki nyawa sendiri dan hidup saat dikumandangkan.


Saya sering membandingkan lagu-lagu kebangsaan setiap negara, mendengarkan dengan seksama mana yang bagus dan mana yang biasa saja. Mungkin karena telah terdoktrin bahwa saya orang Indonesia yang mencintai kagu kebangsaan, saya beranggapan bahwa lagu kita merupakan lagu kebangsaan yang paling keren dan terdengar paling mengharukan serta heroik. Coba saja kalian dengar sendiri saat ada olympiade atau pertandingan sepak bola antara negara seperti piala dunia. Nah, biasanya kan lagu kebangsaan masing-masing negara diputar tuh sebelum pertandingan dimulai. Ada juga sih lagu kebangsaan negara lain yang menurut saya keren, seperti lagu kebangsaan Amerika Serikat (The Star-Spangled Banner). Tapi tetap saja, nggak bikin saya sampai merinding atau seolah tersedot dalam black hole. Karena kita bukan warga negaranya? Atau kita tidak mengerti maksudnya? 


Bagi teman-teman yang membaca tulisan saya ini, mohon dicoba pada diri masing-masing. Putarlah lagu kebangsaan kita(terutama yang hanya instrumen dengan menggunakan biola, seperti yang biasanya dikumandangkan saat SEA GAMES dan Olympiade). Apakah yang kalian rasakan? Apakah kalian sama merindingnya seperti yang saya rasakan? Apakah kalian juga dapat merasakan bahwa lagu itu benar-benar memiliki jiwa sendiri? Atau hanya saya saja yang terlibat halusinasi begitu jauh dan butuh dibawa ke psikiater untuk terapi jiwa? Atau kah selama ini saya dirasuki oleh arwah pejuang gentayangan yang menuntut generasi muda untuk lebih menghormati pengorbanan nyawanya demi kemerdekaan?


Oh oh oh, kepala saya jadi bertambah gatal. Mungkin saya harus meminta teman saya melihatkan apakah kepala saya ternyata berkutu.

Postingan Populer