Tidak Menyangka Bahwa Manusia Tipe E Masih Exist
Masih adakah kebaikan tulus dari hati manusia yang telah tercemar oleh gemerlap dunia? Atau yang saya sebut dengan manusia tipe E (manusia tipe Emas). Selama ini dari apa yang saya lihat dan perhatikan, orang cenderung berbuat baik apabila diberi imbalan uang ataupun barang. Atau, dia berbuat baik karena ada maksud tertentu ingin mendapat balas jasa. Orang-orang yang berbuat baik dengan tulus ikhlas benar-benar sulit ditemukan. Bahkan terkadang sahabat dan keluarga kita sekalipun masih memperhitung untung rugi melakukan sesuatu bagi kita. Yang lebih parah lagi, saat ini orang cenderung melakukan pekerjaannya hanya apabila mendapatkan “tambahan” lainnya.
Contohnya saja salah satu mantan pembantu saya. Kalau kita menyuruh dia untuk membeli sesuatu di warung, itu seharusnya adalah bagian dari pekerjaannya. Tapi dia akan menggerutu kalau tidak kami berikan “ongkos terimakasih” dan seharian itu akan bekerja asal-asalan. Karena tidak ingin ribut-ribut dan demi kenyamanan situasi, kami selalu memberi dia tips dan mengurangi frekuensi menyuruh dia ke warung (supaya nggak ngasi tips melulu)
Contoh lainya adalah tukang parkir di kampus saat saya masih menjadi mahasiwa magister. Karena di kampus saya tukang parkir mendapat gaji bulanan dari universitas, maka sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga dan mengatur mobil-mobil yang sedang parkir di area kerjanya. Suatu saat waktu memarkirkan kendaraan saya, tukang parkir tersebut tiba-tiba marah dan mengusir saya. Katanya saya tidak boleh parkir lagi disitu. Saya tanya apa alasannya karena saya juga mahasiswa kampus itu. Dia menjawab kalau mau mobilnya dijaga ya harus kasi uang tips dong. Saat itu saya baru sadar kalau memang tidak pernah memberi dia uang tambahan. Bukan karena saya pelit, tapi karena memang saya berpikir itu memang sudah menjadi tugas dan tanggungjawab pekerjaan dia.
Heran! Ada apa dengan manusia jaman sekarang? Semuanya mata duitan dan menghitung timbal-balik yang mereka dapatkan atas sesuatu yang mereka lakukan. Seakan bagi mereka melakukan sesuatu perbuatan tanpa menghasilkan sesuatu adalah sia-sia. Dan hal ini berlaku di seluruh penjuru dunia lho! Bukan hanya di Negara kita saja.
Pernah suatu kali saat saya pergi ke Mesir, saya hendak mengajak aparat keamanan yang menjaga sebuah objek peninggalan bersejarah untuk berfoto. Mereka menolaknya kecuali saya mau membayar USD 5. Bukan main! Atau suatu kali saat saya di Israel, barang bawaan saya terjatuh saat saya hendak mengangkutnya ke dalam bis. Ada seorang pria penyemir sepatu yang menolong saya mengambil barang itu dan mengangkutnya ke dalam bis. Awalnya saya berpikir, wah masih ada juga orang baik ya! Tapi pikiran saya itu langsung sirna begitu pria tersebut berkata “one dollar, one dollar” (maksudnya adalah meminta uang satu dollar atas kebaikannya membantu saya).
Contoh-contoh di atas adalah hal-hal yang dilakukan oleh orang asing kepada kita. Dan saya masih dapat memahami mengapa mereka sedemikian perhitungan kepada orang yang mereka tidak kenal. Tapi tidak jarang seorang sahabat atau keluarga kita melakukan hal sama. Misalnya saja saat sahabat kita menolak membantu kita pindahan kost karena dia lebih memilih shopping dengan teman-temannya yang lain. Atau pasangan kita yang bersedia mengantar kita ke mana-mana dengan imbalan kita mau mentraktir dia makan. Atau keluarga jauh yang mendaulat kita untuk membawakan mereka oleh-oleh dengan alasan mereka pernah membawakan kita oleh-oleh saat bepergian. Rasanya benar-benar tidak ada yang tidak diperhitungkan di dunia ini.
Bukannya saya selalu mau membantu orang, ada kalanya saya juga menolak membantu seseorang jika saya meresa tidak sanggup. Tapi menolak karena tidak sanggup dengan menolak karena tidak mau berbeda lho! Nggak jauh-jauh deh, kalau kalian menonton salah satu acara reality show yang acaranya berisikan bagaimana mereka menguji kebaikan hati seseorang dengan cara meminta bantuan, hampir tidak ada orang yang mau membantu dengan berbagai alasan.
Namun, akhirnya saya ditunjukan oleh Tuhan, bahwa manusia tipe E masih ada dan hidup di dunia ini. Kisah ini terjadi saat saya dan dua orang teman saya berkunjung ke Kuala Lumpur untuk merayakan tahun baru. Karena perhitungan yang kurang dan uang kami yang saat itu memang pas-pasan, kami kebingungan bagaimana caranya bisa menuju Aiport dengan uang kami yang hanya tersisa MYR 60,00 (Enam Puluh Ringgit) atau setara dengan Rp. 180.000,-. Jika ingin naik bis menuju LCCT (Low Cost Courier Terminal) kami bertiga setidaknya membutuhkan uang dengan jumlah total MYR 70,00 (karena kami harus naik taksi terlebih dahulu menuju terminal) dengan waktu yang tidak dapat diprediksikan. Kalau ingin tiba on time dan tidak ketinggalan pesawat, karena waktu kami mendesak, kami harus naik Taksi dengan biaya kurang lebih MYR 120,00 (Seratus Dua Puluh Ringgit) atau setara dengan Rp. 360.000,-.
Awalnya salah seorang teman saya memiliki ide untuk naik taksi saja, agar kami tidak ketinggalan pesawat. Namun setelah beberapa menghentikan taksi dan melakukan tawar-menawar, tidak ada taksi yang mau mengantarkan kami dengan biaya hanya MYR 60,00. Ini dapat dimaklumi, karena mereka tentunya tidak mau bekerja tanpa untung. Apalagi uang yang kami tawarkan hanya setengah dari pendapatan normal mereka apabila mengantarkan tamu lainnya.
Saat itu saya dan teman-teman saya sudah mulai putus asa. Kami memutuskan untuk menghentikan satu buah taksi lagi, kalau taksi itu tidak mau maka kami akan naik bis saja dengan resiko pasti akan ketinggalan pesawat dan terdampar di Kuala Lumpur. Dan Tuhan memang Maha Pengasih. Demikian pula hambaNya ternyata masih memiliki kemurahan hati. Supir Taksi yang bernama Ujang (saya akan mengingat namanya sampai kapan pun, dan akan mencari dia sebisa mungkin kalau diberi kesempatan kembali ke Kuala Lumpur) itu mau mengantarkan kami. Perhitungan dia adalah karena hari itu dia sudah mendapat cukup setoran, dan masih ada cukup sisa bensin untuk mengantarkan kami. Lagi pula katanya, setelah mengantarkan kami dia akan langsung pulang ke rumah.
Selama diperjalanan pun, supir taksi ini bersikap sangat santun dan ramah. Dia mengajak kami bercakap-cakap dengan penuh antusias, dan sempat menyampaikan kepada kami bahwa dia sangat menghargai bangsa Indonesia yang menurutnya turut perpartisipasi dalam pembangunan Negerinya. Supir taksi ini bahkan membayar tarif tol dengan uangnya sendiri, karena tahu bahwa kami sudah tidak punya uang lagi. Dia sempat menakut-nakuti kami bahwa akan ada Airport Tax yang cukup besar di LCCT dan tertawa senang saat berhasil membuat kami panik. Benar-benar manusia tipe E. Pak Ujang, di mana pun Bapak berada, saya berdoa demi kesuksesan Bapak, dan semoga Tuhan membalas kebaikan hati Bapak dengan berlipat ganda.
Perjalanan ini benar-benar mengajarkan kepada saya, bahwa orang-orang tipe E ini masih ada, walaupun jumlahnya sangat jarang. Saking langkanya, kalau bertemu orang dengan manusia tipe E ini saya ingin memasukkannya ke MURI (Museum Rekor Indonesia). Kalau memikirkan tindakan-tindakan saya kepada sesama saya, terkadang saya malu, karena merasa belum sungguh-sungguh mengamalkan ajaran cinta kasih. Dan perbuatan baik yang saya pelajari dari Bapak Ujang ini harusnya saya teruskan kepada yang lainnya, dengan berusaha sebisa mungkin membantu orang dengan ikhlas. Pasti berat dan sulit. Tapi kalau kita tidak memulai dengan diri sendiri, jangan berharap deh orang bakalan mau melakukan hal sama kepada kita. Tuhan, bantulah kami menjadi orang-orang yang bisa selalu mengamalkan ajaran cinta kasihMu.
Jadi, kebaikan apa yang telah anda lakukan hari ini? J J J

