It's About Take And Keep, Not Take And Give Back!


Oke, saya menuliskan kalimat pertama ini dengan penuh emosi. Bukan karena marah, bukan karena sakit hati, tapi karena saya dongkol setengah mampus.
Sebentar, saya akan berusaha meredamkannya dulu.
Tarik nafas panjang.
Belum berhasil.
Minum air putih.
Belum berhasil.
Well, mungkin saya harus membuat secangkir kopi dulu.
Berhasil.
Sedikit.
Pagi ini saya teringat oleh perbuatan tidak pantas dari seseorang. Dan saya berharap agar hati saya cukup pemurah untuk bisa memaafkan orang itu, walau itu mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. Ya, saya tahu bahwa kita memang harus bisa memaafkan sesama kita, karena ada saatnya kita pun melakukan perbuatan busuk dan membutuhkan pemaafan. Tapi tetap saja toh, saya ini manusia yang bisa hitam juga hatinya. Saya butuh waktu cukup lama agar bisa memaafkan manusia yang bahkan tidak akan pernah saya sebutkan lagi namanya. Mari kita sebut dia  dengan julukan “Mr. I Will Never Say His Name Again”. Kalau komunitas penyihir dalam Novel Harry Potter punya sebutan untuk Voldemort “He Who Must Not Be Named”, saya juga nggak mau kalah dan bisa membuat nama yang sama kerennya untuk orang itu.
But, segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Dan peristiwa ini membuat saya berpikir mengenai arti dari “take and save” (bukan take and give, kalau hal itu semua orang rasanya sudah mengetahuinya). Dan yang terpenting lagi, arti menghargai pemberian seseorang.
Yang sering terjadi dalam kehidupan anak muda nih, kalau putus dengan pacar, mereka nggak hanya saling memaki, saling menyimpan dendam, atau saling berusaha menyakiti. Seolah hendak menunjukan ego bahwa mereka udah nggak membutuhkan mantannya, mereka juga akan saling mengembalikan barang-barang pemberian masing-masing. Boneka (yang udah nggak seimut waktu dibeli), baju (yang udah berubah warna dan mungkin sedikit bolong), sepatu (yang udah nggak jelas bentuknya), perhiasan (yang ragu antara dikembalikan atau di jual), hp (yang juga ragu antara dikembalikan atau dipakai), tempat pensil (yang selama ini di simpan jauh-jauh digudang karena sebenarnya nggak sesuai dengan selera) atau apa aja lah yang selama ini pernah diberikan pasangan mereka. Bahkan sampai foto-foto berdua, surat cinta, kartu ucapan ulang tahun, dan SMS sekalipun (SMS, bayangkan! SMS aja di forward back!). Weleh weleh…
Hal ini adalah hal yang paling saya benci dari berakhirnya suatu hubungan. Dalam sejarah saya mengenal cinta, saya NGGAK PERNAH sekalipun mengembalikan barang pemberian dari mantan saya. Bukan karena saya rakus atau apa, saya sanggup kok membeli semua apa yang pernah mereka belikan. Hanya saja sangat menghargai arti dari barang-barang pemberian mereka. Karena untuk membeli barang tersebut mereka pasti membutuhkan banyak pengorbanan, seperti :
1.   Waktu.

Nggak gampang lho mencari hadiah untuk seseorang. Paling enggak kita harus berkutat sesaat di dalam mall untuk mencari sesuatu benda yang kira-kira akan disukai oleh orang yang akan kita hadiahi. Dan untuk itu kita harus meluangkan waktu khusus. Nggak jarang demi mencuri-curi waktu mencari hadiah, kita harus bolos bimbingan belajar, merelakan nggak ikut nongkrong sama teman, atau bahkan berbohong pada orang lain. Masih mending kalau bisa langsung dapet barang yang kita cari. Kalau enggak, kita terkadang sampai harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk mendapatkan barang itu. Apalagi hadiah yang merupakan handmade. Bisa kalian bayangkan berapa banyak waktu yang diluangkan untuk membuatnya?

2.   Uang.

Pasti. Sekecil apapun hadiah itu, semurah apapun, pasti dia memiliki nilai ekonomi. Satu hal yang harus kita ingat, untuk memberikan hadiah tersebut seseorang harus merelakan sejumlah uangnya terpakai bukan untuk keperluan pribadinya. Seharusnya nih ya dia bisa beli tas baru dengan uang tersebut, tapi dia merelakan uang tersebut agar dibelikan hadiah saja ketimbang untuk dirinya sendiri. Dan untuk menjadi tidak egois seperti itu membutuhkan pengorbanan lho!

3.   Pikiran.

Membelikan hadiah untuk seseorang nggak selalu mudah. Kadang kita harus berpikir dengan keras hadiah apa yang diinginkan dan disukai oleh orang yang akan kita berikan hadiah. Karena sudah pasti kita menginginkan orang tersebut menyukai hadiah tersebut. Dan untuk itu kita harus menguras pikiran.

4.   Perasaan.  
Hadiah tersebut tentunya didapatkan, ditulisi ucapan, dibungkus, dan akhirnya diberikan dengan penuh perasaan. Entah itu perasaan penuh cinta, atau malah perasaan mendongkol karena uang kita terpakai. Intinya, tetap saja menguras beberapa dari cadangan emosi kita. Dan oleh karenanya saya sangat menghargai perasaan yang telah tercurah dalam pemberian sebuah hadiah.

5.    Tenaga.

Simple. Untuk mempersiapkan hadiah kita pasti membutuhkan tenaga kan? Terutama hadiah yang kita buat sendiri.
Nah, dengan begitu banyaknya pengorbanan yang tercurah demi proses mendapatkan hadiah tersebut, pantaskah saya untuk tidak menghargainya? Walaupun hadiah itu tidak saya sukai, tidak saya inginkan, atau nggak sesuai dengan selera saya dan terkesan norak serta kampungan, saya tidak akan membuangnya, apalagi mengembalikannya. Itu perbuatan yang sangat tidak pantas dan tidak berhati nurani.
Coba deh kalian bayangkan scene ini :
Suatu sore hari yang diguyur hujan deras, Budi berlari-lari dibawah naungan payung usang, berusaha mengejar bis agar tidak ketinggalan karena ingin datang tepat waktu ke rumah pacarnya yang sedang berulang tahun. Dibalik jaketnya tersembunyi sebuah hadiah, gelang tangan buatannya sendiri dari manik-manik yang manis. Budi tidak memiliki banyak uang untuk membelikan hadiah mahal, dia bahkan harus berjalan kaki saat pulang nanti karena uangnya sudah habis untuk ongkos bis berangkat. Tapi dia berusaha semaksimal mungkin membuatkan hadiah yang cocok dikenakan pacarnya yang cantik.  
Budi berhasil sampai dirumah pacarnya dalam keadaan sedikit basah dan acak-acakan. Dengan bahagia dia memberikan ucapan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah kepada pacarnya. Pacarnya awalnya bahagia melihat hadiah pemberian Budi, namun setelah membuka dan melihat isinya raut wajahnya langsung menunjukan kekecewaan karena tadinya dia mengharapkan sesuatu yang lebih mewah. Dan dengan nggak berperasaannya dia menyampaikan kekecewaan hatinya kepada Budi. Budi pun hanya tertunduk sedih sambil meminta maaf, berjanji akan mencari uang agar bisa membelikan hadiah yang lebih baik.
Coba kalau kalian berada diposisi Budi. Betapa kecewa dan sakit hatinya. Nah, kira-kira seperti itulah perasaan orang saat mengetahui kita tidak menghargai pemberiannya yang dia berikan dengan sepenuh hati.
Balik lagi kemasalah kembali-mengembalikan barang pemberian. Saya pernah nih mengalami hal seperti ini. Si Mr. I Will Never Say His Name Again yang membuat saya dongkol pagi ini, dulu pernah mengembalikan barang-barang pemberian dari saya yang jumlahnya lumayan banyak. Bahkan adik dan kedua orang tuanya ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Semua oleh-oleh yang pernah saya berikan dikembalikan. Yang memilukan hati, barang-barang tersebut banyak yang terlihat sengaja di rusak dan dikotori. Intinya, menurut tata krama orang jawa hal tersebut sangat tidak sopan.
Memang sih sebelumnya saya sempat emosi dan mungkin bersalah karena meminta dia mengirimkan sebuah cincin berlian yang saya beli dan ada padanya. Tapi itu saya lakukan karena cincin itu adalah milik saya, bukan milik dia. Lagi pula kalau si Mr. I Will Never Say His Name Again ini beneran gentle, dia akan mengembalikan cincin itu tanpa perlu saya minta. Tapi, saya SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MEMINTA KEMBALI BARANG YANG PERNAH SAYA BERIKAN UNTUK DIA DAN KELUARGANYA. Untuk apa? Apa gunanya? Apa manfaatnya bagi saya? Toh saya memberinya dengan ikhlas. Dan sebenarnya apa sih manfaat mereka mengembalikannya? Harga diri? Kepuasan hati? CORET! Di mata saya ini bukan menunjukan harga diri mereka melainkan ego tinggi mereka yang salah ditempatkan.
Saat menerima barang-barang tersebut, saking jengkelnya, saya juga berpikiran untuk mengembalikan barang-barang miliknya. Tapi saya langsung tersadar bahwa nggak ada barang yang bisa saya kembalikan ke Mr. I Will Never Say His Name Again, karena dia tidak pernah memberikan saya apa-apa. Oh ya, ada sih SATU BUAH benda pemberian dia. Tapi nggak perlu saya sebutkan karena akan membuat dia malu. Intinya, yah saya baru tersadar kalau saya nggak bisa mengembalikan apa-apa karena memang nggak ada apa-apa yang bisa dikembalikan. Dan untunglah demikian adanya, karena kalau benar ada barang pemberiannya yang bisa saya kembalikan, maka saya akan sama tidak bermartabatnya dengan dirinya. Dan perbuatan saya akan sama kejamnya dengan dirinya. Kejahatan harus dibalas dengan kebaikan kan? Itu namanya ajaran cinta kasih.
Saya memang masih kurang bisa menghargai pemberian orang. Terutama pemberian orang tua saya, karena merasa mereka memang mampu untuk membelikannya. Dan saya menyesalinya sekarang, setelah mengerti susahnya mendapatkan uang (maaf ya mama papa). Tapi saya nggak pernah mengembalikan pemberian orang lain, kecuali mereka yang memintanya. Serius. Saya bahkan masih menyimpan sebuah set crayon kado ulang tahun ke-7 dari teman saya. Atau kalung hati norak pemberian seseorang dari bangku SMP. Benda-benda tersebut sebenarnya nggak berguna lagi buat saya, tapi nilai memori yang terkandung di dalamnya sangat besar. dan daat itu saya menyimpannya harena tulus menghargai pemberian mereka.
Sebenarnya simple aja sih, terserah kalian mau membuangnya, memberikannya kepada orang lain, atau hanya menumpuknya saja di gudang kalau memang barang tersebut menimbulkan rasa sakit hati. Atau kalau kalian tidak menyukainya, tetap pakailah barang tersebut dua tiga kali di depan mata pemberi, lalu simpanlah. Ini jauh berhati nurani. Jauh lebih berpendidikan. Jauh lebih tidak menimbulkan sakit hati. Dan jauh lebih bermartabat.
Hemmmpppp, rasanya hati saya sedikit lega setelah menumpahkan unek-unek saya.
Saya akan membuat secangkir kopi lagi untuk mengembalikan mood saya seperti semula.
Cheers!

Postingan Populer