The Power of Enemy Inside, How To Make Spionase Looking Good.
Semua orang di bumi ini pasti memiliki musuh. Heemmm, sepertinya tidak juga. Hal ini tidak bisa dijamin kebenarannya. Namun saya bisa menjamin 100% bahwa setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa orang yang tidak dia sukai. Entah itu hanya rasa tidak suka biasa, atau rasa tidak suka yang menimbulkan kebencian. Bahkan orang paling bijaksana dan taat beribadah pun bisa saja lalim memiliki rasa tidak suka pada sesamanya, sekecil apa pun itu.
Saya punya beberapa orang yang tidak saya sukai, walaupun merasa tidak memiliki musuh. Namun hal ini relative, karena bisa saja orang yang tidak saya anggap sebagai musuh menganggap saya sebagai musuh. Tapi kalau orang yang tidak kita sukai, biasanya bisa merasakan jika kita tidak menyukainya. Kecuali kita adalah pemain watak yang handal, yang bisa memanipulasi tindak tanduk serta perangai kita di depannya sehingga nafas ketidaksukaan kita tidak sampai tercium.
Banyak hubungan ketidaksukaan di bumi ini, karena terlalu banyak jenis hubungan dalam pergaulan dan kehidupan kita sebagai manusia. Misalnya :
- Dari lingkup terkecil yaitu keluarga, seorang mertua bisa saja tidak menyukai menantunya, seorang adik bisa tidak menyukai kakaknya, bahkan seorang istri bisa membenci suaminya. Sinetron-sinetorn tv sebenarnya nyata lho! Dunia memang edan. Ibu sendiri saja bisa membenci dan menyiksa anaknya. Pernah baca buku berjudul The Lost Boy? Salah satu contoh kebencian seorang ibu pada anaknya. Walaupun ibunya punya gangguan kejiwaan, still, dia tidak menyukai anaknya.
- Di lingkup masyarakat, kita bisa saja tidak menyukai tetangga sebelah rumah dan membenci pak RT kita. Lihat aja ibu-ibu kompleks kalo pada arisan. Bawaannya gossip melulu. Yang A sering nerima tamu malam hari lah, yang B suka beli mobil baru lah, yang C punya banyak istrilah. Dan obrolan mereka itu sebenarnya mencerminkan rasa ketidaksukaan mereka. Walaupun belum tentu mereka membenci orang yang digosipkan. Saya saja dulu pernah nggak suka sama mantan pak RT saya karena menganggap beliau terlalu suka ikut campur urusan orang. Tapi sekarang saya sudah insaf kok. Peace ya pak! J
- Di lingkup pertemanan. Sesama teman bisa saling tidak menyukai dan membenci dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan teman kita bego, teman yang merebut pacar, teman yang memacari mantan, teman yang suka memanfaatkan, teman yang munafik, teman yang suka pamer, teman yang nggak easy going sampai dengan rasa tidak suka karena iri dengki akibat teman kita lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, pacarnya lebih cakep, atau alasan konyol sekalipun seperti teman kita punya nafas yang bau. Hedeh!
- Di lingkup pekerjaan. Sesama pekerja bisa saling tidak menyukai akibat persaingan jabatan. Bos bisa membenci anak buahnya, begitu pula sebaliknya. Office Boy sekalipun bisa tidak menyukai Satpam, dan sesama pembantu rumah tangga bisa saling membenci karena jumlah gaji dan pekerjaan yang berbeda.
- Di lingkup hubungan asmara. Rata-rata orang membenci mantannya, walaupun tidak semuanya demikian. Namun rasa tidak suka pasti ada. Hanya sedikit hubungan percintaan yang berakhir dengan persahabatan. Mantan istri membenci istri baru mantan suami, tunangan membenci mantan pacar tunangannya, mantan tunangan membenci mantan calon suami. Dan menurut saya, rasa tidak suka dan kebencian akibat hubungan cinta jauh lebih rumit karena ditimbulkan oleh emosi yang melibatkan rasa sakit hati.
Yang aneh, orang yang yang paling tidak kita sukai terkadang malah menjadi orang yang paling kita cari. Entah mengapa rasanya kita ingin mengetahui informasi mengenai orang tersebut, apa pekerjaan mereka, tinggal di mana mereka sekarang, berapa jumlah anak mereka, apakah mereka sekarang sukses, apakah mereka sekarang kaya, apakah mereka bahagia dan berbagai rasa keingintahuan lainnya. Apalagi dengan kecanggihan teknologi internet dan situs-situs jejaring sosial (Google, Facebook, Twitter, My Space, dll), rasanya kita semakin dimudahkan dalam mencari informasi mengenai mereka.
Dari apa yang saya alami dan amati, kegiatan spionase ini bukan hanya dilakukan oleh kaum wanita. Bahkan kaum pria pun punya rasa penasaran yang besar dan juga ingin mengetahui informasi-informasi seputar mantan-mantan kekasih dan orang yang tidak disukainya. Keingintahuan ini terkadang aneh-aneh dan nggak jelas, seperti mau tahu kegiatan mereka hari ini, mereka makan direstaurant mana, jalan ke mall mana. Untuk para wanita yang biasanya lebih nggak masuk akal, mereka bahkan ingin tahu si musuh ini menggunakan baju apa, tas merk apa, sepatu apa, sampai model rambut mereka bagaimana, sekedar untuk meyakinkan diri sendiri bahwa dia nggak kalah sama si musuh. Nggak penting banget sebenarnya, tapi tetap saja memberikan kepuasan bathin saat telah mengetahuinya.
Sebenarnya nggak ada yang ngelarang kegiatan spionase kita selama tidak menimbulkan gangguan dan tindakan kriminal bagi orang lain. Antara Negara yang satu dengan Negara lainnya saja saling memata-matai kok walaupun setiap Negara punya peraturan hukum pertahanan Negara yang mengatur tentang larangan spionase (di Indonesia Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara). Lihat saja badan-badan intelejen setiap Negara. Mereka berlomba-lomba membentengi diri agar Negara lain tidak dapat mencuri informasi penting namun ironisnya malah mempercanggih diri sendiri agar mampu mencuri informasi Negara lain. Yang lagi panas dibicarakan adalah tiga pencuri yang berhasil membobol kamar delegasi Indonesi di Seoul dan mencuri sejumlah data rahasia soal militer Indonesia (baca : http://id.news.yahoo.com/repu/20110220/twl-gawat-data-rahasia-militer-indonesia-4d6e3f4.html). Kalau antara Negara aja bisa berbuat demikian, apalagi antara warga Negara yang notabenya adalah manusia dengan berbagai problema dan intrik kehidupan.
Kegiatan spionase terhadap musuh dan orang yang tidak kita sukai ini sebenarnya sangat berbahaya bagi kewarasan diri sendiri, buang-buang waktu, buang-buang tenaga, buang-buang pikiran, serta sangat tidak dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki mental yang gampang dipengaruhi. Kalau orang yang kita mata-matai ini ternyata lebih segala-galanya dari kita, bisa saja kita merasa kalah dan menjadi down, padahal orang itu sama sekali nggak ambil pusing tentang kita. Dalam beberapa kasus, kita bisa-bisa berusaha keras agar bisa melebihi dia dan akan frustasi sendiri apabila tidak sanggup melebihi dia. Dan hal ini telah banyak dialami teman-teman wanita saya.
Bayangkan saja contoh case dibawah ini :
1. Mawar (bukan nama sebenarnya) musuhan sama Melati (juga bukan nama sebenarnya) dari jaman SMA. Si Mawar secara diam-diam melihat di Facebook bahwa Melati akan pergi ke Paris. Mawar merasa tidak mau kalah. Maka dengan jalan merengek-rengek kepada pacarnya yang tajir, si pacar mengabulkan keinginan Mawar untuk jalan-jalan ke Paris. Beberapa bulan kemudian, Mawar mengetahui dari Facebook bahwa melati punya tas Hermes baru. Karena lagi-lagi nggak mau kalah, Mawar kembali merengek-rengek kepada pacarnya buat dibelikan tas yang sama supaya nggak kalah dari Melati. Sedihnya, Melati juga nggak peduli apakah Mawar pergi ke Paris atau cuma pergi ke Madura. Dia nggak akan pernah tahu Mawar pakai tas Hermes atau cuma pakai kantong plastik. Karena Melati tidak mau tahu tentang Mawar dan juga nggak mencari tahu. Jadi sia-sia aja kan Mawar berusaha keras menyamai musuhnya? Karena Melati juga nggak akan tahu kalau Mawar bisa menyamainya.
2. Dahlia (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) benci setengah mampus pada Kamboja (tidak mungkin nama sebenarnya) karena pacaran dengan Robinhood (bisa dipastikan bukan nama sebenarnya), mantan pacarnya. Dahlia memata-matai Kamboja hanya karena ingin tahu si Kamboja dan Robinhood kencan ke mana, hadiah apa yang diberikan Robinhood waktu Valentine, dan kapan mereka akan menikah. Sebenarnya Dahlia udah gak cinta-cinta amat sama Robinhood. Cuma karena waktu itu Robinhood mencampakannya demi Kamboja, Dahlia masih penasaran dan seolah berada dibalik bayang-bayang Kamboja. Dia menjadi iri pada Kamboja karena menganggapnya lebih cantik, lebih pintar, dan lebih baik sehingga Robinhood lebih memilihnya. Si Dahlia ini nggak tahu kalau sebenarnya Kamboja juga memata-matai dia. Dan sebenarnya, Kamboja juga menaruh dengki pada Dahlia, karena sebenarnya Dahlia ini lebih cantik dan pintar dari dirinya. Nah, kalau seperti ini, sama-sama merugikan. Sama-sama nggak tenang bathin, padahal nggak ada manfaatnya.
Dengan malu-malu dan wajah sedikit memerah, saya mengakui bahwa saya juga melakukan kegiatan spionase ini terhadap beberapa orang. Terutama terhadap seseorang wanita berinisial “P”. Saya bukan melakukan kegiatan ini karena kurang kerjaan dan usil. Tidak mungkin mengingat jam kerja saya yang menyaingi Pembantu Rumah Tangga dan pekerja bangunan (berangkat pagi saat matahari mulai terik, dan pulang pagi-pagi buta bersama maling, petugas poskamling dan tukang sampah dengan latar belakang kokokan ayam jago). Bukan juga karena saya menyimpan dengki dan iri hati kepada mereka. Sebagai manusia rasanya wajar kalau kita memiliki rasa ingin tahu dan ingin mengetahui kabar dari seseorang yang “special” buat kita. Bukan special karena beneran special saja. Tapi bisa saja special karena dia memiliki history tidak mengenakan dengan kita, dan sampai saat ini kita masih tidak bisa mengenyahkan dia dari pikiran kita.
Namun saya segera menyadari kalau kegiatan spionase ini bisa membuat kita sakit jiwa sendiri. Rasa tidak puas, iri, ketakutan, merasa kalah, merasa lebih baik dan congkak, serta perasan negative lainnya bisa timbul akibat informasi yang kita dapatkan. Jadi saya membutuhkan siasat agar kegiatan spionase ini menjadi bermanfaat bagi diri sendiri, menjadikannya kegiatan yang menarik dan yang terpenting tidak membuat saya gila. Dan salah satu cara adalah dengan menjadikan segala informasi yang saya dapatkan sebagai pemacu peningkatan kualitas diri. Misalnya kalau si P ini sekarang menjadi pegawai negeri, saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin agar pekerjaan saya lebih baik dari pangkatnya sebagai pegawai negeri. Atau kalau dia memasang foto-foto norak seputar kegiatan sehari-harinya, saya akan mengingatkan diri agar tidak melakukan tindakan norak seperti yang dia lakukan. Salah satu manfaat yang saya ambil dari kegiatan spionase ini adalah saya jadi tahu tempat dia biasanya beredar. Jadi suatu saat nanti saya bertemu dia, saya sudah bersiap diri dan tidak syok lagi.
Well, bagi mereka yang tidak bisa terlepas dari kegiatan spionase karena punya bakat terpendam sebagai detektif dan rasa ingin tahu yang melebihi orang normal, yang terpenting adalah kita harus tetap menjadi orang yang baik yang tahu etika serta batas-batas kewajaran dan bermartabat walau tidak bisa mengekang keingintahuan tentang mereka. Lakukan kegiatan spionase tanpa mereka ketahui dan tetap secara sopan. Malu juga dong kalau mereka merasa berpuas diri karena mengetahui kita memata-matai mereka. Jangan jadi orang usil, karena siapa pun akan risih kalau tahu gerak-geriknya diamati. Saya selalu menjadikan ini sebagai pemicu agar saya lebih bersemangat dalam segala hal. Jadikan ini sebagai persaingan yang sportif. Bagi mereka yang punya potensi gampang sirik dan jatuh mental, mendingan gak usah main-main menjadi mata-mata segala. Bukannya memotivasi diri, yang ada malah gila sendiri. Karena sudah banyak teman saya yang menjadi korban kegiatan spionase mereka sendiri dan akhirnya malah terobsesi pada musuh mereka.
Ingat juga untuk selalu waspada diri bahwa orang yang tidak kita sukai pun bukannya tidak mungkin akan melakukan hal yang sama dengan kita. Mereka pun tentunya tengah memata-matai diri kita dan mengawasi tindak-tanduk kita. Dengan demikian kita harus lebih bisa menjaga perbuatan dan sikap. Do better. Do better. Mereka bukan musuh kita lho (punya musuh nggak enak lho!). Mereka adalah motivator kita. Hore! Saya tidak takut dimata-matai.
Well Hi dear Mrs. I don’t like you. Thank’s for motivated me. I don’t spying you because I’m jealous of you. I’m spying you because I can do better than you do.

