Lima Alasan Bangsa Kita Sulit Untuk Maju



1.   Bisakah anda membuang sampah pada sesuatu yang terlihat jelas sebagai tempat sampah?
Pernah nonton Film My Sassy Girl nggak (baik versi Korea maupun versi Hollywood)? Ada salah satu adegan di mana si cewek pemeran utama marah-marah sama orang yang buang puntung rokok sembarangan. Ini juga salah satu hoby saya, marah-marah sama orang yang buang sampah sembarangan. Sampai-sampai di kantor saya yang lama saja, boss saya memanggil saya : Polisi Sampah. Ini bukan karena saya hoby marah-marah, bukan juga karena saya sok jadi pahlawan, ini masalah kualitas bangsa! Buang sampah saja nggak bisa disiplin, bagaimana mau mendisipilnkan diri pada hal-hal yang lebih besar?
Nah, ini dia salah satu bad habit warga Negara kita yang paling nyebelin : BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Lihat saja, dari jalan utama di kota besar sampai di hutan bakau sekali pun, kalian akan menjumpai sampah. Kalau di tempat umum yang banyak dikunjungi orang, rasanya masuk akal kalau ada saja individu-individu malas dan tidak bertanggung jawab yang membuang sampah seenaknya.  Tapi kalau di tempat-tempat seperti hutan dan gunung yang jarang di kunjungi orang sekali pun masih ada sampah, itu namanya kelewatan. Kelihatan banget kalau bangsa kita masih jauh dari budaya tertib membuang sampah. Bayangkan, tega banget buang sampah di hutan? Apa nggak mikir kalau di hutan nggak bakalan ada pasukan kuning yang bisa bersihin sampah yang dia buang? Miris saya memikirkannya. Apalagi kalau yang membuang sampah itu adalah orang-orang yang ngakunya pencinta alam dan sedang melakukan pendakian gunung atau penjelajahan. Bukan main!
Sampai sekarang saya masih tidak bisa mengerti, kenapa sih sulit sekali kita mendisiplinkan diri untuk membuang sampah pada tempatnya? Padahal membuang sampah pada tempatnya bukan perkara yang susah lho! Tinggal jalan sedikit ke tong sampah dan membuang sampah milik kita dalam tong sampah tersebut. Nggak sampai mengeluarkan keringat kok! Juga nggak bakalan membakar terlalu banyak energy. Kalau pun malas jalan mencari tempat sampah atau nggak menemukan tempat sampah, solusinya sangat mudah : simpan dulu sampah yang kita hasilkan dan buang saat kita menemukan tempat sampah. Simple kan? Memang kantong baju atau tas kita akan sedikit dikotori oleh sampah. Tapi itu konsekuensi kita sendiri atas benda yang kita konsumsi. Jangan mau enak makan / minumnya aja tapi nggak mau membuangnya dengan benar.
Sampah rumah tangga juga sebenarnya nggak susah buat dibuang, apalagi setiap kompleks perumahan biasanya sudah mengkoordinasikan cara pembuangan sampah di kompleksnya. Tinggal dimasukan ke kantong sampah, taruh di box sampah, tunggu tukang sampah ambil. Beres juga! Kalau buat daerah perumahan yang belum mengkoordinasikan pembuangan sampah, ya harus mau keluar duit lah untuk biaya angkut sampah. Kan demi kebersihan dan kesehatan lingkungan sendiri. Tapi sepertinya masyarakat kita lebih suka membuang sampah di sungai dan di tanah kosong dibandingkan harus keluar uang Rp. 10.000,00 per bulan untuk biaya angkut sampah. Padahal sampah dari barang yang mereka konsumsi itu harganya lebih mahal dari pada uang Rp. 10.000,00 yang harusnya mereka ikhlaskan untuk biaya pembuangan sampah. Egois! Mungkin yang susah adalah untuk teman-teman kita yang keadaan ekonominya kurang beruntung dibandingkan kita. Kalau mereka saya bisa mengerti. Memikirkan makan hari ini aja susah, kok mau memikirkan sampah di taruh di mana. Nah, kalau masalah ini, tugas kita bersama untuk memikirkan bagaimana solusinya.
Sampah memang selalu menjadi permasalahan setiap Negara, bahkan Negara maju sekalipun. Indonesia saja sudah menjadi korban eksport sampah dari Negara maju. Di Negara kita sendiri, pemerintah kesusahan untuk memecahkan masalah timbunan sampah di TPA. Masih ingat kan beberapa tahun lalu saat kota Bandung berbau busuk akibat sampah kota yang menggunung dan pemerintah kesulitan untuk mencari TPA bagi sampah-sampah tersebut?
Kalau dari segi peraturan, pemerintah sebenarnya sudah mengatur masalah pembuangan dan pengelolaan sampah dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu Pemerintah di setiap daerah pun sudah membuat peraturan terkait dengan pembuangan sampah. Bahkan beberapa daerah seperti Palembang menetapkan sanksi cukup berat bagi pelanggar peraturan tersebut. Tetap saja, hal ini belum efektif karena menuntut disiplin kita secara individu. Kalau peraturan tentang pembuangan sampah mau benar-benar ditegakkan, mungkin semua penjara akan dipenuhi oleh orang yang membuang sampah sembarangan (saking banyaknya orang yang miskin kepedulian akan lingkungan) dan kas daerah bisa bertambah cukup banyak dengan denda yang ditetapkan kepada para pembuang sampah yang tidak sesuai aturan (harus senang atau bersimpati?).
Mungkin terlalu berat bagi kita untuk memikirkan pemecahan masalah sampah negara. Tapi kita bisa kok membantu meringankan beban pemerintah dengan mendisiplinkan diri masing-masing. Berkaca aja sama Negara lain. Liat tuh Singapore dan Hongkong yang kotanya bersih banget. Di sana kalau kita buang sampah sembarangan, bukan hanya aparat penegak hukum yang marah, masyarakat yang melihat perbuatan kita akan ikut marah dan menegur. Atau Korea,  yang kali Cheonggyecheon-nya jadi bersih dan merupakan tujuan wisata padahal dahulu seburuk rupa Ciliwung. Siapa sih yang nggak mau punya Negara bersih dan nyaman? Apalagi Negara kita merupakan salah satu Negara tujuan wisata. Nggak malu apa kalau citra yang kita dapatkan alih-alih Negara indah adalah Negara sampah? Mau nasib kita sama seperti kota Mumbay yang punya banyak gunung sampah?

2.   Lebih Suka Serobot Kanan Kiri

Masalah antri mengantri selalu membuat saya kesal dan marah-marah serta bertanya-tanya : Kenapa sih orang Indonesia malas banget disuruh ngantri? Mulai dari antri toilet, karcis nonton bola, sampai antri ambil ATM, susaahhhhhh banget untuk ditertibkan. Rasanya kok mereka bangga banget bisa serobot kanan-kiri. Paling males kalau yang nyerobot itu bapak-bapak atau ibu-ibu. Mau negur nggak sopan, tapi kok ya gondok juga antrian kita diserobot. Jadinya mengalah walau mangkel setengah mati.

Pernah suatu kali saya bertengkar dengan seorang anak punk yang menyerobot antrian saya saat hendak membeli tiket pertandingan AREMA. Ini bukan masalah saya tidak suka giliran saya dipotong, tapi masalah kenapa mereka nggak mau ngantri. Dari semua Negara yang saya kunjungi, hanya Indonesia yang paling malas kalau di suruh ngantri. Waktu saya di Palestina saja, Negara yang notabenya sedang perang, rakyatnya tetap tertib kok mengantri. Masa Indonesia yang damai sejahtera nggak bisa mengantri?

Kebudayaan malas ngantri ini juga yang buat jalanan sering macet. Udah tau jalanan padat dan harus sabar nunggu, tetep aja serobot kanan kiri. Coba kalau semuanya mau sabar dan ngantri dengan benar, pasti tidak akan semacet dan semerawut itu. Kalau mau cepat, semua orang juga pasti maunya cepat. Tapi nggak harus serobot kanan kiri kan supaya bisa cepat? Semua orang punya kebutuhan. Semua orang punya kepentingan. Tapi bagaimana cara kita mengekang ego dan mau bersabar.

Yang paling nggak masuk akal adalah kebiasaan malas ngantri masyarakat yang menyebabkan mereka sendiri kehilangan nyawa. Pernah tau kan kisah pembagian uang untuk masyarakat kurang mampu oleh seorang ulama yang berakhir bencana (sori, nggak mau sebut nama demi alasan kesopanan)? Yup, karena masyarakat yang berbondong-bondong datang mau menerima uang zakat nggak mau tertib mengantri, mereka yang pada saat itu tengah menjalankan ibadah puasa malah meninggal sia-sia karena berdesak-desakan dan akhirnya terinjak-injak oleh pengantri yang lain. Coba kalau ngantrinya tertib, satu-satu, nggak “ndusel-ndusel”, yang sabar… mungkin mereka nggak harus kehilangan nyawa (minimal cuma pingsan karena kepanasan dan dehidrasi).

Ada suatu cerita memalukan saat saya berada di Mesir. Saat itu saya hendak mendaki Gunung Sinai (gunung tempat Nabi Musa menerima 10 Perintah Allah). Untuk dapat mencapai puncak gunung, kami harus melalui perjalanan panjang dengan Onta yang kemudian dilanjutkan dengan menapaki 2.700 anak tangga hingga ke puncak gunung. Sebelum menempuh perjalanan melelahkan menapaki ratusan anak tangga, semua peziarah berbondong-bondong mencari toilet, karena di puncak gunung nanti tidak mungkin ada toilet. Karena jumlah toilet yang tersedia sangat terbatas, otomatis antrian menjadi sangat panjang.

Dasar orang Indonesia malas mengantri, saya melihat beberapa peziarah dari Indonesia menyerobot antrian tanpa perasaan malu sedikit pun. Tentu saja pengantri lainnya sangat marah dan menyuruh mereka mengantri dengan benar. Saya sempat mendengar orang-orang ini menggerutu tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengantri. Setelah beberapa waktu berunding, mereka akhirnya memutuskan untuk membuang hajat di balik bebatuan tak jauh dari antrian, di mana para peziarah dari seluruh penjuru dunia dapat melihat kelakuan tidak terpuji mereka. Memang pada saat itu masih pagi buta dan cahaya masih remang-remang. Namun tetap saja kelakuan mereka terlihat memalukan. Yang pertama tidak mau mengantri, yang kedua membuang hajat sembarangan di tempat suci. Kalau dalam posisi darurat sudah nggak tahan banget, mungkin peziarah lain masih bisa mengerti. Tapi kalau karena kemalasan seperti itu? Sungguh luar biasa!

Peristiwa lebih memalukan saat saya sedang berada di Hongkong. Pada waktu itu rombongan kami mengantri naik kereta menuju ke Victoria Peak. Saat itu akhir bulan Desember dan Hongkong sedang dingin-dinginnya. Siapa pun bakalan nggak betah disuruh berlama-lama mengantri. Dan lagi-lagi dasar orang Indonesia malas mengantri. Ada serombongan muda-mudi Indonesia yang memotong antrian panjang (dengan menggunakan jalur antrian yang jelas-jelas tidak dibuka) sehingga wisatawan lain (termasuk rombongan saya) marah-marah. Mereka yang berhasil menebak dengan jitu bahwa rombongan itu berkebangsaan Indonesia langsung berteriak : “Hey Indon, artri lah kamu!” (ini yang teriak pasti orang Malaysia). Dan untuk beberapa saat para pengantri mulai berceloteh dalam bahasa masing-masing sambil menyelipkan kata “Indonesia”.

Dalam keadaan tertentu, kita mungkin bisa bertoleransi dalam hal antri-mengantri. Seperti mendahulukan lansia dan ibu hamil dalam antrian. Tapi please, please, please, sebisa mungkin kita membudayakan mengantri dalam kehidupan sehari-hari.

3.   Sukuisme Akut.

Paling maleeeeeeessssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss nih ya kalau ada orang yang ngomong : “Di daerah saya di XXXXXX, saya ini keturunan Raja. Pernah dengar marga XXXXXXXXXXX nggak? Itu marga yang paling dihormati. Semua orang di XXXXXX tunduk dan hormat sama kami. Siapa yang berani dengar marga kami? Dari XXXXX sampai XXXXXXX sampai XXXXX semua hormat sama kami. Kamu bisa tanya ke semua orang di XXXXXXX, siapa kami ini? Kami keturunan raja yang sangat terhormat. Kalau kalian si suku XXXX, keturunan raja mana? Kamu kalau menikah dengan marga kami akan jadi orang terhormat juga.”

Cuihhhh! Huek huek! Mau muntah kalau ada orang yang terlalu membangga-banggakan sukunya seperti ini. Kayak sukunya sudah paling bagus aja. Padahal apa yang dia bangga-banggakan belum tentu benar. Saya pernah nih saking khilafnya sampai pernah menghina-hina seorang pria sampai membawa-bawa nama suku. Saking muaknya saya karena dia dan keluarganya terlalu membangga-banggakan sukunya. Padahal nilai dan martabat seseorang dan sebuah keluarga tidak bisa diukur dari suku mana dia berasal. Semua itu diukur dari kualitas diri sendiri!

Ada lagi nih orang yang suka ngomong begini :
ALI             : “Orang mana sih dia?
BADU         : Pasti orang XXXX.
ALI             : Oooo, pantas saja. Dasar! Orang XXXX dimana-mana itu koruptor, penjajah, suka mengusai dan tamak.
BADU         : Iya, bener! Tau nggak, mamanya kan orang XXXXXX.
ALI             : Wah, XXXXXX pula! Orang XXXXXX kan pemalas, sukanya mencuri.

Hal seperti ini juga paling buat bête. Haloooooo! Nggak semua orang berkepribadian dan watak sama. Tuhan menciptakan pribadi kita berbeda satu sama lain. Ada yang A, ada yang B, ada yang C, ada yang ABCD. Jadi suku bukanlah tolak ukur suatu nilai diri seseorang. Begini ini yang sering menimbulkan perang dan tawuran antara suku. Mulutmu harimau mu. Gara-gara bilang orang kampung sebelah nggak suka keramas saja, bisa menyebabkan tawuran antar kampung tiga hari tiga malam.

Ada pula yang kalau sesama masyarakat satu suku sukanya ngomong bahasa daerah mereka keras-keras dihadapan orang lain. Kadang mereka malah sengaja menggunakan bahasa daerah mereka untuk membicarakan orang di dekat mereka (supaya nggak ketahuan maksudnya). Ini juga paling buat sebal! Penyalahgunaan bahasa namanya! Menggunakan bahasa daerah memang dianjurkan guna pelestarian budaya. Tapi kan harus mengenal tempat dan waktu. Jangan sampai menimbulkan salah penafsiran dari orang lain yang mendengarkan.

Nah, selain itu ada juga nih orang tua yang selalu mensyaratkan aturan “harus satu suku” dalam pernikahan anaknya. Mungkin maksud mereka sebenarnya baik, karena bila menikah dengan satu suku kedua belah pihak sudah saling mengerti adat istiadat masing-masing sehingga menjalin hubungan akan jauh lebih mudah. Cuma nih yaa, para Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terhormat, balik lagi ke kepribadian orang masing-masing. Jadi tolong juga jangan terlalu sukuisme.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari beraneka ragam penduduk : tak satu jenis warna kulit, tak satu macam agama, suku, dan adat istiadat, etnis, bahasa daerah, jenis kelamin dan orientasi seksual, status dan kelas sosial, serta warna politik dan ideology. Namun kenyataan demografis itu dipersatukan dalam nasionalisme Indonesia dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dan dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Secara simbolik diteguhkan dalam Pasal 36A UUD 1945 dengan semboyan: ”bhineka tunggal ika”. Setiap golongan menerima golongan lain sebagai sesama bangsa Indonesia, bukan untuk menonjolkan kelebihan tiap-tiap golongan. Itu yang harus kita ingat.

4.   Kesulitan Dalam Memahami Larangan.

Sudah jelas-jelas ada tulisan serta rambu : “Dilarang Merokok, Dilarang Memotret, Dilarang Berhenti, Dilarang Parkir, Dilarang Berjualan Sepanjang Trotoar, Dilarang Buang Sampah Sembarangan, Dilarang Ngamen di Sini”, tetap saja kita masih suka pura-pura nggak melihat tulisan itu dan mengabaikannya.

Ya, ya, saya mengaku juga sering pura-pura tidak melihat peraturan tersebut (terutama tulisan dilarang berhenti atau S dicoret). Jadi malu kalau mengingat kelakuan sendiri. Makanya saya juga nggak bisa banyak-banyak mengomel dan berceloteh dalam hal ini. Intinya, saya berjanji akan lebih mentaati peraturan yang ada.

5.   Lebih Suka Fasilitas Umumnya Rusak.

Perhatikan baik-baik deh! Semua fasilitas umum di Indonesia yang disediakan pemerintah, pasti umurnya nggak pernah panjang dan selalu berakhir dengan tragis. Minimal jadi kucel, rusak, bobrok dan tidak sedap dipandang dalam jangka waktu yang sangat singkat. Entah masyarakat kita nggak mau tahu dan nggak punya rasa ikut memiliki, entah pemerintahnya nggak melakukan perawatan, entah juga ada oknum-oknum berhati culas yang sengaja merusaknya.

Lihat saja dinding-dinding underpass dan flyover yang penuh dengan coretan-coretan tangan-tangan jahil. Saking sebelnya, pemerintah akhirnya memiliki ide kreatif untuk sekalian saja melukis dinding-dinding tersebut dengan gambar-gambar cerah. Jadi kalau di corat-coret lagi sama orang-orang usil, dinding-dinding tersebut nggak bakalan terlihat terlalu kotor. Contoh lain adalah fasilitas Busway. Duluuuuuuuuuuuuuuuu waktu Busway baru-barunya ada, semua armada dan stasiunnya bersiihhhhhhhh dan nyaman banget. Jadi serasa naik MRT di Singapore. Orang juga jadi lebih memilih naik Busway dibandingkan kendaraan pribadi. Tapi sekarang udah mulai kotor dan nggak senyaman dulu.

Yang paling membuat hati miris adalah sifat anarkis yang sepertinya sudah mendarah daging dalam diri rakyat Indonesia. Kalau sedang demonstrasi atau terlibat cek-cok, sukanya banting-banting, bakar-bakar, lempar-lempar, corat-coret, dan merusak fasilitas yang ada. Sampai sekarang saya masih belum bisa mencerna perilaku tidak berpendidikan ini dengan otak saya. Apa gitu maksudnya? Apa juga manfaatnya? Kok ya otaknya nggak dipake mikir, kalau fasilitas tersebut milik semua rakyat Indonesia yang dibangun dengan setiap tetes keringat saudara-saudara sebangsa yang begitu rajinnya membayar pajak. Toh kalau fasilitas tersebut rusak mereka juga yang rugi. Masih mending kalau fasilitas yang dirusak adalah milik bersama. Kalau yang dirusak adalah milik pribadi orang lain yang dengan susah payah didapatkan? Kok ya nggak takut dosa gitu ya? Apa hak mereka ngerusak barang orang lain? Gimana sih cara berpikir orang-orang anarkis ini? Otaknya ada di kepala apa di pantat sih? Apalagi yang ngakunya mahasiswa. Makasiswa kok nggak bisa mikir! Mahasiswa IQ jongkok? Miris! Miris! Miris!

Yang lebih nggak bisa dinalar lagi, ada beberapa daerah di bagian Timur Indonesia yang masyarakatnya hobi banget membakar kantor pemerintahan. Marah sedikit saja akibat keputusan atau tindakan pemerintah yang dianggap nggak sesuai sama hatinya, mereka bisa langsung main bakar kantor-kantor pemerintahan yang ada. Ini pola berpikirnya bagaimana sih? Saya bisa mengerti kalau rakyat terkadang dongkol setengah mati atas kelakuan para pejabat pemerintah. Tapi kalau sampai anarkis seperti itu, apa juga manfaatnya bagi mereka? Toh pembangunan di daerah mereka sendiri yang akan terhambat. Kalau sudah seperti itu, nanti buntut-buntutnya yang disalahkan adalah Pemerintah Pusat yang dinilai tidak melakukan pembangunan secara merata. Aneh! Aneh! Aneh! Bagaimana bisa maju kalau kita terus merusak apa yang ada?

Negara kita sedang susah. Jangan buat lebih susah lagi. Kalau pun kita belum bisa berbuat banyak bagi negeri, kenapa sih nggak mau memulai dari hal-hal kecil ini? Masalah korupsi, terorisme dan kejahatan lainnya memang harus di berantas demi kesejahteraan bangsa. Namun kalau saja ada setengah dari jumlah penduduk Indonesia yang mau memulai hal-hal kecil ini, bangsa kita pasti akan lebih baik dari sekarang. Percayalah. Bangsa kita mampu!

Postingan Populer