Ambisi-Ambisi yang Tidak Pada Tempatnya



Devinisi ambisius adalah sangat berhasrat untuk mencapai, menduduki sesuatu (cita-cita dsb); sangat berambisi; sangat bertekad untuk mencapai sesuatu (disadur dari http://selaputs.blogspot.com/2011/02/arti-definisi-pengertian-ambisius.html). Ambisi itu sendiri mengandung butir-butir pengertian sebagai berikut (disadur dari http://www.mudjiarahardjo.com/component/content/98.html?task=view) :

• ada tujuan yang hendak dicapai,
• ada keinginan kuat untuk mencapai tujuan tersebut,
• ambisius merupakan sikap alamiah yang berlaku pada siapa saja.

Kalau yang melekat pada percakapan dan kehidupan kita sehari-hari, kata “ambisi” umumnya diartikan sebagai keinginan kuat mencapai sukses dengan cara apapun, bahkan dengan cara yang tidak semestinya dan kalau terpaksa dengan mengorbankan teman dan sahabat karib sekalipun. Kata ini maknanya menjadi peyoratif, kata yang maknanya memburuk. Padahal seharusnya arti kata ini adalah positif, yaitu keinginan kuat untuk menjapai suatu tujuan. Bagus dong, ambisi harusnya bisa membuat kita menjadi lebih baik dalam segala hal (terutama dalam hal peningkatan kualitas diri dan kualitas hidup), bukan sebaliknya.

Ya, ya, terlepas dari makna yang telah bergeser, hati saya benar-benar tergelitik oleh orang-orang yang ambisius tidak pada tempatnya : orang-orang yang nggak mau susah dan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, orang-orang yang ingin mencapai tujuan tanpa mempertimbangkan kapasitas diri, orang-orang yang tega menyakiti keluarga dan sahabatnya untuk mencapai tujuannya, orang-orang yang dulunya jauh lebih bermartabat dan menyenangkan sebelum dia termakan oleh ambisi gilanya, orang-orang yang berubah menjadi begitu mengerikan dan tidak masuk akal (sakit jiwa?) karena menjadi ambisius tapi tidak pada tempatnya.

Kalau saja saya tidak pernah menjadi korban dari orang-orang ambisius yang tidak pada tempatnya ini, mungkin saya tidak akan ambil pusing pada keberadaan mereka. Toh, itu kehidupan mereka. Tapiiiiiiiii, karena mereka banyak sekali menyinggung kehidupan saya, hati, pikiran dan jari-jemari ini secara spontan tergugah untuk menuliskan artikel ini. Terutama saya sedih dan kasihan melihat begitu banyak teman saya yang termakan oleh penyakit ini dan menjadi orang “sakit jiwa” sekarang.

Sepengamatan saya dari kehidupan orang-orang di sekitar saya, ambisi-ambisi tidak pada tempatnya itu paling banyak mengenai jabatan (termasuk pekerjaan), kekayaan, dan gaya hidup dan paling banyak dialami oleh rekan-rekan saya yang berusia 20 hingga 30 tahun. Penyakit ini rentan menyerang wanita dan yang terutama mereka yang tidak puas atas kondisi ekonomi sosial yang dimilikinya. Penyakit ini juga rentan menyerang orang yang tidak terbiasa bersaing secara sehat dan sportif serta tidak ditanamkan nilai-nilai luhur untuk belajar menerima KEKALAHAN dan TIDAK MAU MENGAKUI DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT semenjak mereka masih kecil. Yang terutama, penyakit ini banyak bersarang dalam KEIRI HATIAN.

Well, inilah pemaparan saya mengenai ambisi-ambisi tidak pada tempatnya itu.

1.      Ambisi Menduduki, Memasuki Suatu Jabatan Tanpa Menyadari Kapasitas Diri

Oke, mungkin si A memang anak pengusaha sukses. Oke, mungkin si B memang anak pejabat ternama. Tapi apakah otak dan kemampuan mereka sama lihainya dengan orang tua mereka? Apakah mereka pantas memasuki suatu pekerjaan yang seharusnya didapatkan orang yang jauh lebih berkualitas dari mereka? Apakah mereka MAMPU mendapatkan posisi itu tanpa “bantuan” dari kekuasaan dan uang orang tua mereka? Belum tentu. Dan ini membuat saya miris, karena jatah kursi yang harusnya bisa didapatkan oleh teman saya yang jauh lebih berotak dihabiskan oleh anak-anak pejabat dan kaum borjuis yang IQ-nya dipertanyakan.

Kalau mereka menjawab : “Ya derita lo lah, siapa suruh jadi orang miskin dan nggak punya jabatan?”. Ya, setiap orang memang digariskan dengan nasib yang berbeda. Namun tindakan mereka yang memanfaatkan uang dan jabatan demi ambisi pribadi apakah pantas?

Yang lebih parah lagi, saya sempat mendengar salah satu teman kuliah saya yang tanpa malu-malu membuat penyataan : “Aku akan membayar berapa pun supaya bisa jadi pegawai A. Itu cita-cita aku sampai mati!” (yang akhirnya benar-benar dilakukannya). Pernyataan ini cukup mengejutkan saya karena selama ini saya menilai teman saya sebagai wanita yang cerdas dan berwawasan luas. Tanpa menyogok pun saya yakin dia akan lolos tes masuk pegawai A itu. Yah, nggak ada ruginya juga sih Negara menerima pegawai berotak encer seperti dia, malahan semakin bagus karena bertambah lagi satu anak bangsa cerdas dalam jajaran pemerintahan Negara kita. Tapi, ambisinya itu membuat nama baiknya tercoreng tanpa dia sadari. Dan dia akan diingat sebagai si C yang pintar tapi menyogok masuk. Bukan si C yang pintar dan diterima masuk.

Ada lagi kasus para bapak-bapak dan ibu-ibu  yang ngotot jadi pejabat dan anggota DPR walau sebenarnya nggak punya kualitas sama sekali. Akhirnya mereka menyuap kanan kiri, memalsukan sertifikat pendidikan, menaikan pangkat secara tidak sportif, membentuk koalisi-koalisi rawan korupsi. Pantas saja Negara kita nggak maju-maju. Karena orang-orang yang harusnya memimpin rakyat menggunakan praktek-praktek BUSUK!

Tapi mau bagaimana lagi, sistem demokrasi bangsa kita sendirilah yang menciptakan praktek-praktek busuk seperti itu. Saya cenderung lebih menyukai pemilihan dan pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil Rakyat sebelum demokrasi yang kebablasan ini. Walaupun kata orang nepotisme dan lain sebagainya, terbukti orang-orang tersebut adalah orang yang pantas dari segi kualitas diri untuk menduduki jabatannya (tentu saja, karena orang itu biasanya sudah lama berkecimpung di dunia pemerintahan dan memiliki pengalaman serta pengetahuan yang memadai). Kalau sekarang? Katanya mau demokrasi, katanya mau memberikan kesempatan pada masyarakat luas untuk ikut membangun bangsa, tapi para calonnya saja nggak lulus SMA dan harus membeli ijazah palsu untuk dapat menjadi pemimpin. Cuih! Belum lagi yang duduk di bangku DPR itu nggak tahu apa-apa masalah hukum dan pemerintahan, dan bukannya belajar yang baik supaya tau hukum dan pemerintahan Indonesia alih-alih jalan-jalan ke luar negeri dengan dalil study banding. Apa-apaan coba?


2.      Ambisi Jadi Orang Kaya Tapi Nggak Mau Susah

Penyakit ini yang paling banyak menyerang WANITA seusia saya dan membuat saya sedih melihatnya. Semua orang tentunya bermimpi dan ingin jadi orang kaya. Tapi bagaimana perjuangan dan usaha kita untuk mewujudkanya. Jadi kaya nggak mungkin instan! Biar dikata orang mendadak kaya karena menang undian sekalipun, tentunya membutuhkan proses dan mengalami kegagalan berkali-kali. Justru susahnya mendapatkan apa yang kita inginkan itu lah yang membuat kita nantinya menghargai apa yang kita miliki.

Oke mungkin memang ada orang-orang beruntung yang sudah terlahir secara kaya raya karena leluhurnya toh sudah kaya tujuh turunan. Tapi, proses leluhurnya itu mendapatkan kekayaan tentunya tidak semudah membalikan telapak tangan. Dan penerusnya itu pun bukannya tidak berusaha untuk menambah jumlah kekayaan. Contohnya saja Paris Hilton. Walaupun dia memiliki warisan harta yang sangat banyak dari kakeknya, itu tidak membuatnya untuk berhenti mencari uang. Dia tetap berusaha membuka bisnis miliknya sendiri.

Oke, mungkin ada juga orang yang kaya mendadak seperti Mark Zuckerberg sang pencipta Facebook. Tapi itu juga berkat kecerdasan otak dan keuletan dia menciptakan situs jejaring sosial yang paling digandrungi di dunia. Walaupun sekarang dia tinggal menikmati hasil dari pekerjaannya, tapi jalan dia untuk menuju kesuksesan tersebut tidaklah mudah. Kaya secara instan hanya ada dalam angan semata. Atau pun kalau benar ada yang terjadi, kemungkinan terjadinya hanya 1 : sekian juta (entahlah, saya tidak tahu tolah ukurannya karena belum melakukan survey).

Nah, inilah yang tidak mau dialami oleh wanita muda seusia saya (bersusah-susah dahulu maksud saya). Mereka ingin mengendarai mobil mewah, tinggal diapartemen mewah, memakai tas dan sepatu brand terkenal, mengenakan berlian besar, dan pergi berpesta-pora setiap hari tanpa perlu bersusah payah mengumpulkan uang. Yup, akhirnya banyak yang rela menjadi wanita simpanan, istri kedua dan bahkan merebut suami orang demi isi kantong pria tersebut. Dan parahnya mereka menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Menurut mereka sih, itu faktor keberuntungan mereka karena memiliki paras cantik dan lihai memikat hati pria dan berpandangan bahwa istri dari pria-pria tersebutlah yang bodoh karena tidak bisa menjaga suaminya dengan baik (????????????). Yang membuat saya semakin jijik, wanita-wanita ini biasanya mengaku kepada keluarganya kalau dia sudah sukses bekerja sehingga orang tuanya nggak bertanya-tanya kenapa anaknya bisa tinggal di apartemen mewah dan mengendarai mobil mewah dalam waktu relative singkat.

Please, saya sama sekali tidak akan iri dengan wanita-wanita ini. Justru saya lebih bersimpati pada teman-teman wanita saya yang hidup sederhana sebagai ibu rumah tangga yang dengan sepenuh hati merawat anak dan suaminya. Atau teman-teman saya yang bekerja keras hingga larut malam walaupun penghasilannya tidak seberapa, namun mampu menafkahi diri sendiri dan bahagia karenanya. Wanita-wanita ini jauh lebih bermartabat dari pada wanita-wanita yang berambisi tidak pada tempatnya tersebut.


3.      Ambisi Untuk Dihormati Tanpa Dasar Yang Jelas

Banyak orang-orang haus kehormatan. Bukan saja dalam kursi pemerintahan, dalam kehidupan sehari-hari pun demikian. Saya paling tidak suka melihat orang yang karena kedudukannya tinggi sedikit saja lalu menjadi besar kepala dan minta dihormati sedemikian rupa. Dan paling sebal kalau mereka sudah mengeluarkan kata-kata mirip sinetron seperti : “Kamu tidak tahu saya ini siapa? Saya ini bla bla bla bla bla…” Hueeeekkkkkkk! Memangnya siapa sih kamu? Toh dihadapan Tuhan kita ini semuanya sama, yang membedakan adalah amal ibadahnya.

Orang-orang yang berambisi atas kekuasaan dan gila penghormatan ini biasanya sangat sombong, arogan dan angkuh. Dari pengalaman dan pengamatan saya nih, biasanya mereka adalah Pejabat-Pejabat dadakan (dulunya sih bukan siapa-siapa, namun karena satu dan dua permainan akhirnya berhasil mendapatkan jabatan [sudahlah tidak usah menyangkal, rakyat kalian tau kok]), orang kaya-orang kaya baru (memang kayanya juga dengan usaha keras, tapi karena sudah kaya lalu menjadi sombong dan nggak ingat asal-usul), dan orang-orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa tapi karena ingin dihormati jadinya mencari-cari jalan (jadi ketua Ormas, ketua gank, dll).

Saya pernah punya pengalaman dengan orang seperti ini. Dalam perjalan dari Saigon menuju Jakarta, saya rupaya bersama-sama dengan rombongan Pejabat entah apa dan antek-anteknya. Cuihhhh, pejabatnya sih saya lihat-lihat low profil banget. Walau duduk dikelas bisnis tapi murah senyum dan tampangnya nggak belagu sama sekali. Antek-anteknya ini yang nyebelin luar biasa. Udah perilakunya nggak sopan, cara ngomongnya sombong minta ampun, memperlakukan orang lain pun dengan tidak hormat (dan tentunya terlihat lah gelagat-gelagat minta dihormati karena merasa orang penting). Lalu mereka dengan sombongnya bercerita tentang pengalaman mereka jalan-jalan keluar negeri yang langsung saya jawab dengan pedas : “Wah, kalau saya sih nggak bangga ya pak jalan-jalan ke luar negeri dengan duit Negara. Saya lebih bangga menjadi seperti saya. Jadi pegawai rendahan, punya bisnis kecil-kecilan, lalu jalan-jalan menikmati dunia dengan hasil jerih payah sendiri. Bukan dengan uang Negara atau uang pemberian orang tua.”

Ada lagi orang-orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa, tapi mencari-cari alasan supaya tetap dihormati dan terlihat berkuasa. Pernah dengar kan orang-orang yang selalu bercerita : “Temannya kakak sepupu saya itu Gubernur di X”, “Istri saya ini besannya itu adiknya Jendral X”, atau “Temannya teman saya itu lho adiknya artis X”. ??????????????????????. So what gitu! Intinya tetap saja bukan kalian yang bersangkutan langsung dengan mereka. Mereka yang kalian ceritakan pun belum tentu tahu siapa kalian. Dan orang bukannya menaruh hormat pada kalian justru akan muak mendengar cerita kalian.

Dihormati tidaknya seseorang tergantung dari pribadi dan pembawaan kita masing-masing. Orang paling sederhana dan tidak memiliki jabatan sekali pun bisa sangat disegani karena kewibawaan dan kebijaksanaannya. Lalu mengapa kalian repot banget sih mencari-cari kehormatan? Kalian diciptakan sebagai manusia, makhluk paling berakal dan berbudi di dunia. Itu saja sudah merupakan sebuah penghormatan, tau?

4.      Ambisi Karena Iri Hati

Memang jaman edan. Tapi manusia nggak boleh ikut edan. Setiap orang memiliki garis hidup, nasib, dan keberuntungan sendiri-sendiri. Ada yang semenjak lahir sudah terlahir untuk hidup enak, punya orang tua mapan, punya otak encer, punya paras cantik, dan punya segala sesuatu yang diinginkan, ada yang terlahir  cantik dan pintar, namun berasal dari keluarga tidak mampu, ada yang memiliki segalanya tapi keluarganya berantakan. Segala sesuatunya harus disyukuri dan bagaimana usaha kita untuk menjadikannya lebih baik.

Iri hati itu nggak baik. Semua agama tentunya mengajarkan umatnya untuk menjauhi rasa iri dan dengki. Perasaan iri dan dengki inilah yang melahirkan ambisi-ambisi tidak pada tempatnya. Dan karena iri serta dengki ini merupakan bisikan setan, maka dia tidak akan pernah selesai dan akan terus menggerogoti jiwa serta pikiran kita, melahirkan ambisi yang lebih besar lagi, menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi tersebut, dan akan membuat otak dan jiwa kita sakit sendiri!

Saya punya banyak teman seperti ini, yang tidak pernah mau kalah dan harus menang dalam segala hal. Kalau yang satu beli tas, dia harus punya juga. Kalau yang satu jalan-jalan keluar negeri, dia juga harus jalan-jalan keluar negeri. Kalau yang satu punya mobil baru, dia juga harus punya. Yang jadi permasalahan, apakah dia memiliki daya dan kapasitas untuk memuaskan hasrat dan egonya? Kalaupun dia memilikinya, bersaing untuk hal bodoh seperti itu tidaklah bagus. Apalagi kalau dia nggak punya daya dan kapasitas! Yang ada dia akan menggunakan segala macam cara, mulai dari mencari uang secara tidak halal, hingga berbohong, menipu termasuk menyakiti orang-orang terdekatnya.  

Dan apa manfaat dari semua itu? Pemuasan ego? Mau dianggap hebat? Mau dikagumi orang? No, No NO! Orang malah akan bertanya-tanya, mengapa si C bisa begitu? Dapat uang dari mana si C? Jadi simpanan pria mana si C? Ini semua karena publik bisa menilai dan tahu kehidupan dia yang sebenarnya (bukan karena usil dan mau tau), walaupun dia telah berusaha keras untuk menutupinya. Pada akhirnya orang akan menyimpulkan hal-hal negative yang sebenarnya akan merugikan dirinya sendiri. Bukan itu saja, orang-orang pun juga akan berpikir dua kali untuk berteman dengan orang seperti ini.

Parahnya orang-orang dengan ambisi berdasarkan iri hati ini tidak akan pernah mendapatkan ketenangan hidup. Dia akan selalu merasa ketakutan kalah dari yang lainnya. Dia akan selalu memutar otak menemukan cara-cara licik selanjutnya. Dia akan selalu gelisah karena ingin menyamai dan melebihi orang lain. Dan pada akhirnya dia AKAN STRESS DAN SAKIT JIWA SENDIRI.          

Hal ini berbeda dengan orang yang bisa melakukan segalanya dan memiliki segalanya karena dia memang mampu dan berusaha keras. Maka saat orang itu memiliki benda mewah, meraih kesuksesan, dan melakukan perjalanan ke Jupiter sekali pun, orang disekitarnya akan berdecak kagum dan memuji alih alih menggunjingkannya. Mereka pun akan hidup dengan lebih bahagia karena menjalankan segala sesuatunya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki dan tanpa iri dengki.

Hiduplah apa adanya. Iri itu milik setan. Dengki itu menghancurkan. Ingatlah setiap manusia memiliki kelebihan pada diri masing-masing. Mungkin kita tidak kaya, mungkin kita tidak pintar, mungkin kita tidak cantik dan tampan, mungkin karir hidup kita begitu-begitu saja. Namun yang terpenting kita hidup bahagia bukan?

Menjadi orang berambisi itu hal yang bagus. Karena tanpa ambisi seseorang tidak bisa berjalan ke arah kebaikan. Tapi ambisi tersebut haruslah ambisi yang membawa kita ke arah yang positif. Ingatlah baik-baik prinsip dari ambisi :

• ada tujuan yang hendak dicapai,
• ada keinginan kuat untuk mencapai tujuan tersebut,
• ambisius merupakan sikap alamiah yang berlaku pada siapa saja.

Jadikanlah ketiga hal ini sebagai pemicu peningkatan kualitas diri. Saya sendiri pun orang yang sangat ambisius. Ambisi terbesar saya (selain bisa berkeliling dunia tentunya) adalah hidup bahagia bersama orang yang saya kasihi, tidak perlu bergelimpangan materi, namun berkecukupan ilmu dan pengalaman. Dan yang terpenting bahagia!

Be smart to manage your ambition, that’s the point!

Postingan Populer