Secuil Oleh-Oleh dari Negeri Kamboja



Well, thank you for Lonely Planet (and my friend Galuh atas kiriman soft copy-nya), untuk informasi yang sangat akurat. Akhirnya saya busa berpetualang di Kamboja dengan sangat efisien dan ekonomis.

Saya nggak akan membahas tentang Kamboja (karena sudah terlalu banyak penulis dan blogger yang menceritakan kisahnya sehingga pembaca tentunya bosan), saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang belum disampaikan dalam Lonely Planet atau buku panduan perjalanan lainnya yang saya baca.

1.   Berhati-hatilah dengan makelar

Di Phnom Penh dan Siem Reap banyak sekali supir taksi, supir tuk-tuk dan supir-supir lainnya yang menjadi makelar. Berhati-hatilah karena mereka menaikan harga tiket masuk tempat pariwisata dan transportasi secara drastis! Sebusa mungkin belilah tiket masuk tempat wisata sendiri (jangan melalui calo) dan perhatikan harga dengan baik, karena terkadang pegawai tempat wisata pun menaikan harga tiket masuk dari yang seharusnya ditetapkan. Bayarlah harga tiket masuk sesuai dengan yang tertera pada papan harga dan karcis masuk. Apa bila di tempat wisata tersebut tidak terdapat papan penunjuk harga, tanyalah harga kepada wisatawan lain yang sudah membayar tiket masuk. Kita harus sangat berhati-hati karena harga tiket masuk tempat wisata di Kamboja sangat mahal (rata-rata berkisar antara US$ 20 – US$ 25).

Hindarilah mencari transportasi taxi dengan bantuan supir tuk-tuk, biasanya diantara supir taksi dan supir tuk-tuk sudah bekerjasaman menaikan harga sehingga kita membayar harga terlalu mahal. Jika ingin mencari taksi, datanglah langsung ke tempat pool taksi atau langsung menghentikan taksi yang sedang lewat. Yang perlu diperhatikan, taksi non argo yang bersedia mengantarkan kita ke tujuan luar kota berbentuk layaknya mobil biasa. Usahakan mencari taksi ini tanpa perantara orang lain atau harganya akan dinaikan dua kali lipat.

 

 Royal Soldiers


Independence Monument


2.   Tentukan harga sebelum naik sarana transportasi. Pastikan tempat tujuan.

Ini berlaku untuk taxi dan tuk-tuk. Sebelumnya kita harus sudah sepakat mengenai harga. Karena jika tidak, supir taxi dan tuk-tuk akan mengenakan tariff yang sangat mahal. Terkadang walau sudah sepakat mengenai harga sekalipun, mereka tetap meminta biaya tambahan saat kita hendak membayar. Abaikan saja walau mereka merengek-merengek. Ini memang motif mereka.

Yang terutama, pastikan tempat tujuan dan ingatkan berkali-kali kemana tempat tujuan kita. Kalau tidak demikian, dia akan membawa ke tempat-tempat wisata lainnya yang tidak kita kehendaki dan “lagi-lagi” meminta tariff yang sangat mahal. Umumnya dari Airport ke pusat kota Phnom Penh mereka memasang tarif US$ 7, dengan jarak tempuh 15 - 20 menit.


Naik Tuk-Tuk Bersama Sahabat Saya


3.   Wisata Floating Village di Siem Reap, perhatikan harga tiket masuk.

Karena pemerintah tidak menetapkan harga tiket masuk dan sewa perahu, pegawai tempat wisata bekerjasama dengan supir tuk-tuk menetapkan harga yang sangat tinggi untuk tiket masuk dan sewa perahu. Dan bagi wisatawan yang datang perorangan (non group) tidak diperbolehkan untuk sharing perahu karena satu perahu hanya boleh diisi oleh dua orang. Harga permulaan yang ditetapkan adalah 25 dollar perorang. Ini harga yang sangat mahal mengingat kita hanya akan mengarungi danau Siem Reap dan melihat perkampungan kumuh terapung. Setelah berdebatan yang panjang dan alot, kami berhasil mendapatkan tiket masuk dan perahu seharga US$ 10 per orang.

 

   Floating Village


 The Boat

 
Children at Floating Village


4.    Phnom Penh – Siem Reap, sebaiknya menyewa taksi bersama-sama.

Harga tiket bus dari Phnom Penh menuju Siem Reap adalah US$ 10 perorang dengan waktu tempuh 7 – 8 jam. Jika jumlah orang yang akan pergi 4 – 5 orang, lebih baik menyewa taxi saja. Harga sewa taksi adalah US$ 45 – US$ 50, dengan waktu tempuh 4 – 5 jam. Ingat untuk menyewa taksi secara langsung, jangan melalui makelar karena harganya akan berlipat ganda.

 Bus that brought me from Siem Reap to Saigon

 
5.   Night Bus from Phnom Penh or Siem Reap to everywhere, perhatikan saat bus berhenti.

Yang ini paling buat bête. Terkadang supir bus nggak bilang-bilang dia berhenti untuk tujuan apa. Entah kita harus ganti bus, entah berhenti untuk makan, entah berhenti hanya untuk ke toilet… Jadi sebagai penumpang kita harus tanggap dan jangan sampai tertidur terlalu pulas. Kalau tidak, kesempatan untuk ke toilet (toilet bus ukurannya super mini, orang Indonesia saja susah bergerak di dalammnya apalagi bule) atau untuk makan akan terlewat begitu saja.
 
Angkor Wat


Angkor Wat


Angkor Wat


Angkor Wat


6.   Untuk para cewek, kenakan rok / celana yang panjangnya melewati lutut, atau bawa pasminah.


Kebanyakan tempat wisata di Kamboja adalah pagoda dan untuk masuk ke tempat-tempat tersebut harus menggunakan pakaian yang sopan. Jika tetap ingin mengenakan celana pendek, bawalah pasminah untuk dipakai saat memasuki tempat wisata.



Royal Palace
(terpaksa pakai kain karena tidak boleh masuk dengan mengenakan celana pendek)

 

7.    Phnom Penh to Bangkok by bus? Bring Baht!

      Ini pengalaman teman saya yang berpisah dengan saya di Kota Siem Reap. Tadinya kami berencana menuju Laos, tapi karena waktu yang sangat singkat akhirnya dia berubah rencana menuju Bangkok dan saya langsung menuju Saigon, sama-sama melalui jalan darat. Dan percayalah, jangan pernah mengandalkan uang US$ anda dalam perjalanan dari Siem Reap menuju Bangkok, karena orang-orang di perbatasan Thailand hanya mau menerima uang Baht. Nggak mau kan menahan lapar dan haus karena tidak bisa membeli makanan dan minuman walaupun anda memiliki US$ dalam jumlah banyak?


8.   Don't worry, banyak makanan Indonesia di Kamboja
   
     Buat traveler yang susah  buat  menyesuaikan  diri dengan makanan Negara setempat, jangan khawatir. Rumah makan-rumah makan di Kamboja banyak yang menghidangkan menu internasional serta menu-menu yang mirip dengan masakan Indonesia. Nasi goreng, sate, pisang goreng, rendang, gulai? Ada kok! jangan khawatir.


Pisang Goreng Ala Cambodia


9.    Dust allergic? Don’t forget to bring masker!
    
     Seriously! Udara Kamboja di musim kemarau sangat berdebu. Seperti menghirup udara saat berada di lokasi proyek yang sedang melakukan pengalian. Dan tanah Kamboja adalah tanah merah yang sangat kering. Saya dan teman-teman yang melakukan perjalanan ke sana langsung pilek terkena udara berdebu Kamboja.


Postingan Populer