When Unmarried People Talk



It’s a beautiful night,
We’re looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.

Well well well, kalau saja mau menikah bisa se-simpel itu, pasti nggak banyak orang yang pusing mencari pasangan hidup. Termasuk saya dan teman-teman saya yang sudah memasuki usia-seharusnya-sudah-menikah.-tapi-kok-belum-menikah-juga. Apalagi kalau melihat status teman-teman di FB banyak yang mengeluhkan sulitnya mencari calon pendamping hidup, banyak yang harus menuruti kemauan orang tua, banyak yang begini, banyak yang begitu, bla bla dan bla.
Oke, banyaknya undangan pernikahan bulan ini dan beribu pertanyaan “kapan menikah?” serta obrolan dengan sahabat-sahabat sesama belum menikah, cukup membuat saya dan beberapa teman senasib miris juga. Bukan karena iri atau takut ketinggalan kereta karena belum menikah, tapi karena tidak semua orang diberi kemudahan menemukan pasangan. Dan kalaupun sudah menemukan pasangan, tidak semuanya beruntung mendapatkan restu orang tua. Banyak juga yang menemukan banyak hambatan lainnya hingga akhirnya hubungan mereka kandas ditengah jalan dan hanya menyisakan luka alih-alih pernikahan.
Jadi ingat waktu masih kecil, saya suka bermain putri-putri raja, yang menemukan pangeran berkuda putih dan hidup bahagia di kerjaaan yang aman, sejahtera dan sentosa. Yah, such a tale. Dulu waktu masih kecil kaum wanita pasti memimpikan hal yang sama : menikahi pangeran tampan yang kaya raya dan baik hati. Sampai-sampai poster pangeran William dan Harry menghiasi dinding kamar dan meja belajar kami. Tapi itulah anak kecil, hidup dalam impian. Dan mimpi itu terkadang kita butuhkan. Karena mimpi membuat kita berusaha mewujudkannya. Mimpi pula lah yang menuntun kita menjadi apa diri kita saat ini.
Beranjak puber, saya mulai menyadari dan merelakan fakta bahwa pangeran tampang berkuda putih dari kerajaan antah berantah itu ternyata tidak ada dalam kehidupan dan lingkungan tempat saya berpijak dan menarik nafas. Yang ada adalah cowok-cowok basket popular atau ketua OSIS tampan yang mengendarai mobil mewah orang tuanya walau belum punya SIM dan menjadi rebutan para gadis-gadis berseragam putih biru dan putih abu. Jadilah, pada saat itu kaum saya mulai menyukai tipe-tipe cowok cakep yang popular yang bisa memainkan gitar, bola basket atau ketua gank berkuasa serta (setidaknya) terlihat seperti anak orang kaya. Walaupun saya menolak fakta ini, karena sebenarnya saya lebih suka tipe cowok pintar, culun, dan berkacamata saat itu, namun kurang lebih seperti itulah gambaran cinta gadis putih biru dan putih abu.
Beranjak dewasa para gadis yang bersiap-siap untuk tugas akhirnya mulai menyadari bahwa cowok-cowok popular yang sukanya nongkrong nggak jelas sambil mengisap rokok dan menggoda wanita di café adalah pilihan buruk. Maka kami pun lebih suka memilih pria yang terlihat memiliki masa depan, entah karena sifat tanggung jawabnya, entah karena kepintarannya, entah karena jabatan dan harta orang tuanya, entahlah… kriteria punya masa depan menurut pandangan setiap gadis yang dimabuk cinta memang berbeda-beda kok ya! Yang jelas, saat-saat di bangku kuliah inilah saat yang tepat untuk mencari pasangan hidup.
Dari pengamatan saya, para suami istri ternyata banyak yang telah berpacaran semenjak kuliah. Termasuk teman-teman saya : Ika dan Shandy, Reny dan Ade, Jessica dan Bang Andrew, dll. Serius. Bangku kuliah sebenarnya saat yang paling tepat untuk menemukan pendamping hidup. Kalian belajar bersama, tumbuh bersama, berjuang lulus bersama, kemudian bersusah-susah mencari kerja bersama… Waktu yang cukup panjang membuat kalian cukup mengenal pribadi masoh-masing, mengenal keluarga masing-masing, dan perjuangan bersama membuat ikatan memori kalian terbentuk bersama. Dan saya turut bahagia melihat banyak teman saya yang berpacaran dari semasa kuliah dulu akhirnya menikah dan hidup dengan bahagia (walaupun saya salah satu orang yang gagal dalam hal ini).
Memasuki dunia kerja, orientasi para wanita mulai berubah. Kriteria rata-rata wanita mulai mengarah pada pria mapan yang berasal dari keluarga baik-baik. That’s it. Lupakan masalah tampan. Lupakan masalah dia popular atau tidak. Lupakan masalah pangeran dari negeri antah berantah. Yah, dengan dunia kerjaan yang sangat sibuk dan pergaulan kerja yang itu itu saja, sebenarnya peluang mencari pasangan lebih kecil dibandingkan saat kuliah dulu. Apalagi saat bekerja kebanyakan pria berkualitas sudah memiliki istri atau calon istri. Yeah, all the good one has taken. Kira-kira begitulah gambaran kasarnya.
Sepertinya terlihat simple. Mapan dan dari keluarga baik-baik. Tapi ternyata tidak juga lho. Mapan berarti : pekerjaan baik, keuangan baik, mental dan jiwa pun sudah siap untuk menikah. Keluarga baik-baik berarti : seagama (bukan berarti beda agama terus bukan keluarga baik-baik, tapi orang tua pasti lebih suka yang seagama kan?), bibit bebet bobot. Nah lho! Kalau mau diuraikan lagi akan lebih panjang. Pekerjaan baik berarti : setidaknya pendidikannya dulu juga baik. Keuangan baik berarti : setidaknya sudah mampu menghidupi kita. Mental dan jiwa siap menikah berarti : udah nggak ada lagi deh namanya story teringat mantan, playboy, suka menggoda cewek di tempat umum, bla, bla, bla. Weleh weleh, mapan yang berasal dari keluarga baik-baik ternyata tidak terlihat simple kalau sudah seperti ini.
Menyatukan dua hati dan kepribadian saja sudah sulit, apalagi harus menyatukan dua keluarga karena pernikahan juga merupakan pernikahan keluarga. Bisa dibayangkan betapa sulitnya kan? Apalagi kebanyakan orang tua menuntut pasangan hidup yang sempurna untuk anaknya. Dari pengalaman diri sendiri dan obrolan bersama sesama kawan yang belum menikah, rata-rata orang tua meminta kriteria ini dari calon pendamping hidup anaknya :
·         Seagama

Kayaknya syarat mutlak ya, sampai banyak teman-teman yang memilih kawin lari karena tidak direstui orang tua lantaran beda agama dengan kekasihnya. Saya hidup dalam keluarga beda agama lho… Tapi saya bisa melihat bahwa orang tua saya tetap bisa menemukan kebahagiaan dengan agamanya masing-masing. Tantangan terbesar justru datang dari omongan orang luar yang tidak tahu apa-apa. Bukannya mendukung pernikahan beda agama, tapi saya melihat bahwa orang pun masih bisa bahagia walau pun berbeda. Lihat aja Nurul Arifin dan Mayong, Lidya Kandou dan Jamal Mirdad, pernikahan mereka tetap harmonis walaupun berbeda.
Kalau kata bang Marcel :
aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda, Tuhan memang satu, kita yang tak sama haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Hai pasangan-pasangan beda agama? Apakah ini yang kalian rasakan juga? Seagama jauh lebih baik. Tapi apakah karena berbeda agama lantas tidak berjodoh? Sampai-sampai saya berpikir kalau agama memecah belah kita. Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu agama saja agar umatnya dapat bersama? Rahasia Ilahi. Rahasia Ilahi. Saya tidak mampu menjawab ini.

·         Punya Pekerjaan Mapan

Iya sih, orang tua mana yang rela anak gadisnya hidup susah kelak? Yang pasti mereka mau calon suami anaknya punya masa depan baik. Bolak balik mereka mengatakan : “memangnya mau hidup pake cinta saja!”. Benar juga sih… Tapi kaya dan miskinnya seseorang itu kan tergantung usaha dan restu dari Tuhan. Bisa saja sekarang kaya raya dan besok jatuh miskin. Bisa juga sekarang dia pegawai rendahan, namun karena usaha kerasnya akhirnya bisa menjadi sukses. Toh kita sebagai pendamping mereka harus setia mendampingi dalam keadaan apa pun kan? Kita pun punya andil dalam kesuksesan mereka.

Kalau mau dapat pria kaya raya yang mapan sampai keturunan ketujuh, menikah saja sama om-om kaya raya yang umurnya tinggal hitungan hari, buat dia jantungan sampai mati lalu ambil semua hartanya. Beres kan? Tapi ya kan nggak lantas demikian. Kalau semuanya maunya punya suami kaya, ya bakalan nggak dapat-dapat suami. Jumlah pria aja sekarang lebih sedikit dibandingkan wanita. Ingat, kaya atau biasa-biasa saja, harus tetap kita syukuri. Dan percaya kita mampu berbuatnya menjadi lebih baik lagi.

·         Punya Pendidikan Tinggi.

Ini nih deritanya wanita yang sekolah tinggi-tinggi, kadang orang tua memberi patokan agar calon mantunya juga punya pendidikan yang setara. Ya, jaman sekarang memang pendidikan sangat diperhitungkan. Mau daftar ke mana-mana syaratnya pasti : Pendidikan Minimal S1 dengan IPK minimal 3.00. Wah, udah dituntut harus berpendidikan, ditambah pula harus pintar.

Hemmmm, iya juga sih. Tapi banyak juga lho pengusaha sukses yang ternyata cuma lulusan SMA (pembelaan ini biasanya tidak bisa diterima para orang tua karena kesannya sangat bias). Saya pikir yang terpenting tanggung jawab. Percuma kalau pendidikan tinggi-tinggi sampai bulan tapi nggak bertanggung jawab sama keluarga. Kalau dia pria bertanggung jawab, walaupun mau dikata dia cuma lulusan D3, dia akan berusaha sekeras mungkin agar keluarganya tidak sampai terlantar kan?

Betapa kejamnya ya sistem sosial. Mereka secara otomatis menyaring individu-individu yang ada. Yang terbawah pada akhirnya akan bersama yang terbawah dan yang teratas akan bersama yang teratas. Tidak selalu benar. Tapi coba tengok kanan kiri anda, yang terjadi kebanyakan seperti itu.  

·         Berasal Dari Keluarga Baik-Baik

Harus dari keluarga terpandang, bapaknya bukan penjahat, gak ada garis keturunan yang idiot, bukan keluarga penjudi, bukan keluarga korupsi, bla bla bla yang kalau saya jabarkan bisa menghabiskan sepuluh lembar kertas. Ya ya ya, benar juga sih. Saya mengerti maksud orang tua dengan syarat ini. Buah kan tidak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi balik lagi ke individu masing-masing beserta jalan yang mereka pilih kan? Tidak selalu karena bapaknya jahat lantas anaknya jahat. Tergantung beranikah para wanita mengambil resiko dengan tidak mendengar nasehat orang tuanya? Terkadang kita takut menyesal tidak mau mendengarkan nasehat orang tua, walaupun belum tentu yang mereka takutkan itu terbukti.
   
·         Harus Satu Suku.

Pengalaman berpacaran dengan orang beda suku membuat saya setuju dengan ini. Memang kalau satu suku lebih enak karena sama-sama sudah mengerti adat kebiasaan masing-masing. Tapi tidak selalu demikian lho. Banyak teman saya yang juga menikah beda suku. Dan apakah mereka tidak bahagia? Tidak, mereka sangat bahagia. Itu semua tergantung bagaimana masing-masing individu saling menyesuaikan dan mengerti adat kebiasaan masing-masing kan? Komitmen, komitmen. Itu yang terpenting. Bagaimana kita bisa menyatukan segala perbedaan dan membawanya kearah kebaikan.
Well, itulah kira-kira kriteria rata-rata para orang tua. Mereka yang sudah menikah bertahun-tahun lamanya tentu memberikan kriteria tersebut  bukan tanpa alasan dan dengan memikirkan segala segi yang mereka anggap baik demi kita. Sementara kita dengan segala keegoisan dan jiwa muda kita tentunya memiliki Kriteria tersendiri. Merangkum dari pengalaman orang-orang yang telah menikah dan hasil pengamatan serta pengalaman menjalin hubungan dengan beberapa pacar, saya lebih suka pada calon suami dengan kriteria ini :
·         Takut akan Tuhan.

Walau pun berbeda keyakinan, akan lebih baik jika dia takut akan Tuhan dan menjalankan agamanya dengan sungguh-sungguh dibandingkan pria yang seagama namun tidak takut akan Tuhan dan tidak melaksanakan agamanya. Untuk apa seagama namun dia tidak mampu menjadi imam yang baik bagi keluarga?

Saya benci bila ada yang memperdebatkan dan melecehkan pendapat saya ini. Pernahkan orang-orang yang memperdebatkan hal ini hidup dalam keadaan yang saya alami (keluarga beda agama)? Tidak pernah kan? Jadi tutup mulut saja kalau tidak tahu apa-apa. Setiap orang punya pendapat masing-masing.

·         Bertanggung jawab

Pria bertanggung jawab akan berusaha sekeras mungkin untuk kebahagiaan keluarganya. Tidak peduli dia bukan orang kaya atau pun seorang professor, dia pasti akan selalu berusaha. Serius. Orang yang memiliki jabatan dan uang kalau tidak bertanggung jawab, dia bisa saja menelantarkan keluarganya. Tapi pria bertanggungjawab dengan dorongan dan semangat dari pasangannya akan mampu menjadi besar suatu saat nanti. Tanya saja ibu kalian masing-masing, saat menikahi ayah kalian yang sekarang sudah sukses, apakah dahulu mereka sudah sesukses sekarang? Tentunya belum. Mereka pun memulainya dari bawah. Mereka pun merasakan hidup susah dulu. Tapi dengan segala keyakinan, doa dan usaha, apa yang tidak mungkin terjadi? Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian kan… Jangan takut untuk susah dahulu.  
  
·         Berkomitmen.

Sudah jelas. Dia akan (berusaha untuk) setia. Walaupun akan banyak sekali godaan, dan akan ada hari-hari membosankan, namun komitmen kepada Tuhan dan kita lah yang akan menguatkan dan mempertahankannya. Tanya saja Mario Teguh. Pasti dia sependapat dengan saya J

·         Baik Hati

Lupakan pria romantis. Lupakan pria tampan. Lupakan pria dengan perilaku sopan. Itu semua bisa berubah kapan pun. Tapi pria dengan kebaikan hati, dia mampu melakukan apa pun untuk kita dan keluarga kita (bahkan mertua yang menyebalkan sekali pun mungkin). Apa pun asal keluarga kita bahagia. Percuma punya suami dengan wajah artis dan pandai merayu namun ternyata selalu menyakiti kita.

·         Pria yang mencintai kita lebih dari apa pun.

No explanation. Yang terpenting adalah cinta kan? Bisa kah kalian bayangkan bangun disebelah orang yang tidak kalian cintai seberapa kaya dan terpandangnya dia? Satu kata : JIJIK. Kecuali kalian cewek yang mengutamakan HARTA diatas segala-galanya. Beda cerita sih.  

·         Pria yang mampu membuat kita bahagia dalam segala kekurangan

Inti pernikahan adalah kebahagiaan kan? Percuma hidup bergelimpangan harta, kedudukan setinggi langit, dengan kondisi sempurna di mata orang-orang tapi hati kita tidak bahagia. Tapi dengan kebahagiaan semuanya akan terasa mudah. Semuanya akan terasa menyenangkan.  
Well, saya ingat benar ada seorang teman yang mengatakan : kamu itu belum menikah, jadi sudut pandang kamu masih sudut pandang emosional dan subyektif. Hemm, mungkin tidak juga begitu. Kematangan dan dan pengalaman seseorang tidak bisa diukur dari sudah menikahnya orang atau belum. Tapi berdasarkan bagaimana orang tersebut menjalani dan memaknai hidupnya sendiri. Mungkin kalian akan berpikir tahu apa sih saya sampai berani-beraninya menulis tentang pernikahan? Hemmm, untuk ukuran wanita yang batal menikah satu bulan sebelum lamarannya padahal sudah menjalin hubungan selama 6 tahun, saya rasa saya cukup tahu banyak tentang arti hubungan.
Kita tentunya ingin orang tua bahagia. Kita tentunya ingin menuruti semua keinginan orang tua. Kewajiban kita untuk berbakti kepada mereka. Tapi jangan biarkan semuanya membuat kita berpisah dari orang yang benar-benar mencintai dan membahagiakan kita. jangan pernah lelah untuk memperjuangkan sesuatu yang sangat berarti. Tuhan menciptakan kita untuk berpasangan kan? Itu artinya kita tidak boleh lelah untuk selalu berusaha.
Saya yakin setiap teman-teman yang belum menemukan pasangan hidupnya memiliki kisah sedih (dan bahkan tragis) dalam percintaan. Tapi semua itu tidak membuat kita berhenti berusaha dan berdoa. Dan bagi yang masih terganjal karena masalah agama dan restu orang tua, evaluasi, evaluasi, tapi jangan berhenti mencoba hingga titik penghabisan. Perjuangkan sesuatu yang sangat berharga untuk dirimu dan tinggalkan yang tidak patut untuk diperjuangkan. Hei, jangan bersedih, you are not alone. Really. Saya pun tengah berjuang di sini.
SEMANGATTTTT!!!!!!

Postingan Populer