Labirin, hati, dan kebodohan


Rasanya aku hampir gila
Atau mungkin aku sudah gila?
Semua pertanyaan yang kau ciptakan bersarang nyaman di otakku
Menggali lubang-lubang baru dengan benalu tajam bersulur-sulur emas
Menyebalkan!

Apa maksudmu? Katakan maksudmu!
Seberapa kuatnya aku berpikir tak mampu memecahkan soalmu
Seberapa lamanya otakku berputar tak bisa menangkap isyaratmu
Hanya berputar-putar seperti gasing dalam labirin melingkar menyesatkan
Menyedihkan!

Bodohkah aku? Tololnya aku!
Masih saja mempermasalahkan sampah yang sudah lama kau buang
Terus saja menebak-nebak besar rasa dan niatan tersirat
Sementara itu bukan kesempurnaan melainkan kepantasan
Memuakan!

Salahkah aku? Salahkan kάmü!
Jalan ini tidak semestinya terjal, keras, berbatu, menikung dan berdebu.
Harusnya ku pasang roda-roda baja agar mulus tak bergoncang
Harusnya kau kendarai tank perang agar semua luluh tergilas
Jadi kau bisa, sehingga aku mampu.

Ini tidak masuk akal, ini diluar kemampuan manusia
Kenapa, bagaimana, kapan, siapa, dimana?
Buat semua jadi runyam. Buat semua jadi anyaman.
Satu sama lain saling menjerat. Satu sama lain sama mencelakakannya.
Puas kah kalian? Matilah kamu.

Lalu apa? Kemudian dan sesudahnya mau apa?
Masih sama saja. Masih dongeng masa lalu.
Tidak ada jawaban. Tidak ada garis akhir.
Karena tidak pernah ada garis awal.
Sama saja kan? Memang sama saja.

Begitu kah? Dan memang demikian.
Cukup, cukup.
Tarik garis akhirnya tampan.
Cuci semua pemikiran mereka.
Bunuh para pengkhianat jauh dalam kuburan hati.
Halusinasi. Halusinasi. Oh bakar saja dia.

Buat jangan hanya aku saja.
Buat jangan hanya kάmü saja.
Tapi mereka lihat.
Tapi mereka rasa.
Tapi mereka tahu.
Bajingan-bajingan itu? Cih, abaikan saja.
Persetan!

Mari, mari...
Lihat dimana tanganku terentang.
Lihat dimana kakimu berpijak.
Elemen lain hanya tambahan saja.
Molekul lain hanya bonus saja.
Memangnya kάmü peduli?
Untuk apa kita peduli!

Tamat.

Tamat.

Tamat.

Tutup buku itu dan tamatkan.

Postingan Populer