PHILIPINE
First, I would like to say thank you for my friend Galuh (Again). Terima kasih Lonely Planet edisi Philippine-nya, sangat membantu.
Well, saat pertama kali saya menyatakan keinginan saya untuk pergi ke Manila, tanggapan pertama yang dikeluarkan teman-teman saya adalah : “Mau lihat apa kamu di sana?”. Hemmm, ya ya ya. So far Manila bukan tempat favorite turis untuk melancong, apa lagi untuk ber-back packer ria. Tapi, karena saya telah bertekad untuk menakhlukan ASIA, maka dengan bermodalkan tiket promo dan kitab traveler (Lonely Planet), saya pun berangkat ke sana.
Tiket promo yang saya dapatkan lumayan murah untuk ukuran Philiphine Airlines, yaitu Rp. 1.400.000,00 PP. Karena penerbangannya cuma memakan waktu 4.5 jam perjalanan, pesawat yang saya tumpangi tidak terlalu besar namun cukup nyaman bila dibandingkan dengan Air Asia. Plus, makanan di sini merupakan bagian dari servis maskapai, jadi nggak perlu beli lagi seperti halnya Air Asia.
Transportasi
Saat menginjakan kaki ke bandara Manila, langsung terlihat kalau kota itu bukan tujuan wisata. Hal ini terlihat dari minimnya transportasi airport yang tersedia. Kalau tidak mau repot, taksi bisa menjadi pilihan utama. Tapi hati-hati, banyak taksi yang memberikan tarif tidak masuk akal kepada wisatawan asing. Harus benar-benar pintar menawar. Tapi kalau anda punya cukup waktu, Anda bisa berjalan kaki hingga area luar airport dan mencari alternative angkutan umum lainnya.
Angkot di sana unik, dari jeep-jeep tua yang dimodifikasi menjadi angkutan umum. Namanya Jeepney. Sebalnya, supir-supir jeepney suka memasang tarif suka-suka hati terhadap turis (tidak ada patokan yang pasti). Jadi kalau naik jeepney, mendingan tanya-tanya dulu dari awal berapa ongkosnya.
Selain jeepney, mereka punya angkutan khas bernama tricycle. Bentuknya seperti becak, hanya pengemudinya berada di samping, bukan di belakang. Tricycle banyak dikendarai oleh kaum gelandangan. Sebelum naik, lebih baik pastikan harganya dulu. Karena penyakit di setiap negara adalah selalu menaikan tarif dua kali lipat kepada wisatawan asing.
Bagian dalam jeepney
Hotel
Mencari hotel berbudget rendah di Manila sama saja dengan mencari berlian di tumpukan jerami. Anda harus siap-siap kecewa karena minimnya motel/hostel untuk kaum backpacker. Saya menyarankan untuk menginap di daerah sekitar Rizal Park. Selain harga hotel terjangkau, daerah ini juga dekat dengan tempat wisata lainnya seperti Ocean Park Manila dan Museum Manila.
Hotel Tua di dalam Intramuros,
Penjaganya masih menggunakan pakaian model kuno.
1.
Intramuros
Intramuros adalah distrik tertua dan inti sejarah dari Manila. Intramuros
dikwnal juga sebagai Walled City, dahulu adalah pusat pemerintahan Spanyol
selama periode kolonial Spanyol. Bagian tembok Manila disebut intramuros, yang
dalam bahasa Latin berarti "di dalam dinding", sementara distrik luar
dinding dirujuk sebagai Extramuros dari Manila, yang berarti "di luar
tembok".
Pembangunan dinding Intramuros dimulai oleh Spanyol pada akhir abad
ke-16 untuk melindungi kota dari invasi asing. Kota berdinding 0,67 kilometer
persegi (0,26 sq mi) pada awalnya terletak di sepanjang tepi Teluk Manila, di
selatan pintu masuk ke Sungai Pasig. Nah, untuk menjaga distrik tersebut
dibangunlang benteng Fort Santiago, yang terletak di muara sungai.
Intramuros
rusak parah selama pertempuran untuk merebut kembali kota dari Tentara
Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia Kedua. Rekonstruksi dinding dimulai pada
tahun 1951 ketika Intramuros dinyatakan sebagai Monumen Sejarah Nasional.
Sampai
sekarang pun Intramuros masih merupakan kota “hidup” karena segala aktivitas
bisnis masih berjalan di sini. Anda bisa menemukan hotel dan motel penginapan
bergaya abad 16, Bank local, restaurant, pemukiman penduduk, kompleks sekolah, kantor
polisi, bahkan bridal shop bisa anda temukan di sini. Dan jangan kaget, jika
anda disapa dengan sangat ramah oleh pemuda/pemudi di Manila. Mereka tanpa
malu-malu akan memuji penampilan anda dan
meminta foto bersama anda. Dengar-dengar sih, orang di Manila suka nonton film
dan sinetron Indonesia J J J
Bisa
dikatakan berkeliling Intramuros seperti halnya membeli satu piring gratis satu
piring. Karena di dalam intramuros sendiri terdapat beberapa objek wisata yang
menarik, diantaranya :
Bisa dikatakan berkeliling Intramuros seperti halnya membeli satu piring gratis satu piring. Karena di dalam intramuros sendiri terdapat beberapa objek wisata yang menarik, diantaranya :
- Fort Santiago
Benteng
Santiago ini adalah salah satu benteng tertua di Filipina. Dibangun pada tahun
1571 oleh Raja Sulaiman dan dijadikan benteng untuk basis militerya. Karena
letaknya yang strategis, benteng ini dijadikan sebagai markas militer oleh
berbagai negara penjajah Filipina, seperti Spanyol, Inggris, Amerika dan
Jepang. Konon pada jaman kependudukan Jepang, tempat ini terkenal menakutkan
karena selama Perang Dunia II, ratusan orang, baik wanita dan pria dipenjara
dan disiksa di dalam benteng ini. Hingga akhirnya benteng ini dihancurkan oleh
Amerika Serikat pada tahun 1945 dan direstorasi oleh pemerintah Filipina pada
tahun 1950.
Benteng
Santiago adalah salah satu situs sejarah paling penting di Manila. Di sinilah José
Rizal, pahlawan nasional Filipina, dipenjarakan sebelum dieksekusi pada tahun
1896. Museum Rizal Shrine menampilkan memorabilia dari pahlawan-pahlawan
Philipina. Sayang sekali Museum ini sedang di renovasi saat saya datang ke
sana.
Gerbang Masuk Fort Santiago
Harga
tiket masuk ke benteng adalah sebesar 75 peso atau 50 peso untuk pelajar.
Suasana dalam benteng cukup sejuk dan asri, terpelihara dengan baik lah. Dari
atas benteng Anda juga bisa melihat Manila Bay, yang terlihat sangat indah.
Dari atas benteng memang terlihat betapa strategisnya tempat ini, karena dari
atas kita bisa melihat ke arah laut di belakang benteng tersebut, sehingga
sangat tepat sebagai tempat untuk mengamati para musuh yang datang.
- Manila Cathedral
Metropolitan Cathedral-Basilica Manila, secara resmi dikenal
sebagai Katedral Basilika - Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa dan atau juga
dikenal sebagai Manila Kathedral, yang dinamai untuk menghormati Santa Perawan
Maria sebagai pelindung Kepala Negara Philipina. Katedral ini dibangun sekitar
abad ke-15.
Walaupun telah beberapa kali rusak dalam peperangan, Kathedral
Manila yang telah dipugar masih menunjukan kemolekannya. Melihat katedral ini
saya serasa sedang berada di Eropa dan bukan di Negara Asia. Banyak wisatawan
yang datang untuk sekedar berfoto disini. Ada juga yang datang dan berdoa
sambil memasukan kertas doa di kotak yang disediakan.
2. Istana Malacanang
Istana Malacañang ialah kediaman rasmi Presiden Filipina. Istana
ini terletak di sepanjang tebing Sungai Pasig di Manila. Sayang sekali
wisatawan tidak boleh masuk bahkan memotert Istana tersebut. Memotret hanya
boleh dilakukan apabila telah mengajukan aplikasi resmi ijin memotret dan juga
membayar sejumlah uang. Jadi saya harus cukup puas hanya dengan memotret di
luar kompleks Istana.
Harus puas hanya berfoto di depan plang saja
3. Manila Ocean Park
Manila Ocean Park terletak di tengah kota Manila, di pinggir
Manila Bay. Well, kalau mau dibandingkan dengan Ocean Park Hong Kong, jauh
banget memang. Jauh lebih jorok, jauh lebih tidak teratur, dan jauh lebih tidak
menarik maksudnya. Tapi kalau sekedar ingin tahu saja, lumayan lah pergi sini. Apalagi
berhubung di Manila tidak banyak tempat wisata yang bisa ditawarkan.
4.
Makati City
Manila
memang bukan kota sophisticated seperti halnya Singapore dan Kuala Lumpur. Jika
anda ingin belanja barang-barang branded yang menemukan suasana kota modern. Maka
anda harus berkunjung ke kota Makati. Tapi berhati-hatilah. Begitu banyaknya
larangan memotret membuat saya sakit kepala karena tidak bisa menyalurkan hobi
narsis saya.
Makati City
5.
Minore
Basilica
Minore Basilica de San Sebastián, lebih
dikenal sebagai Gereja San Sebastián, adalah sebuah basilika Katolik Roma kecil
di Manila, Filipina. Gereja ini selesai dibangun pada tahun 1891 dan terkenal
karena fitur arsitektur. Gereja ini ditetapkan sebagai situs peninggalan
sejarah dan Landmark Sejarah Nasional oleh pemerintah Filipina pada tahun 1973.
Minore Basilica ini sendiri terletak di dekat Manila
Market. Sayang sekali keadaan yang semerawut di Manila Market membuat
pengunjung tidak nyaman untuk berlama-lama berada di sana. Jadi setelah
mengambil gambar beberapa kali di depan Minor Basilica, saya pun segera
melanjutkan perjalanan.
Suasana di depan Manila Market & Minor Basilica
6.
Rizal
Park
Well, sebenarnya ini hanya alun-alun kota
biasa. Tapi suasana malam harinya cukup menghibur karena di malam hari banyak
keluarga dan anak muda yang hang out dan bersantai disana, sekedar duduk-duduk
atau menikmati jajanan pinggiran sambil melihat kerlap-kerlip air mancur dengan
lighting keren di sana. Lumayan lah buat mengisi waktu luang, dari pada lu
manyun di hotel. Hehehehe.
Suasana malam di Rizal park
7. Cowboy
Bar & Grill
Di Manila sebenarnya banyak bar dan restaurant bagus. Tapi anda harus mencoba cowboy bar. Bar ini terletak di Corner A Mabini St & Arquiza St, Malate (hasil googling sih ini, lupa nama jalannya). Sebenarnya makanannya biasa aja sih, tapi suasana dan konsep bar ini unik. Semua pelayannya menggunakan baju cowboy. Di sini juga ada live music yang bagus (dengan music country & rock). Kita bisa melihat bagaimana orang Manila mengekspresikan kegalauan hati mereka (yeaaaaa) dengan berdansa.
8. Cinemalaya
Ini adalah gedung pusat budaya Manila, seperti Esplanade Singapore gitu. Kalau sore hari, halaman gedung ini ramai digunakan untuk bersantai dan olah raga.
9. Manila Bay
Manila Bay sebenarnya hanya walking garden disepanjang Manila Bay. FYI, lautnya sama joroknya seperti ancol. Hihihi, tapi tetap saja banyak yang nongkrong di sini di sore hari untuk menikmati sunset.
Di Manila sebenarnya banyak bar dan restaurant bagus. Tapi anda harus mencoba cowboy bar. Bar ini terletak di Corner A Mabini St & Arquiza St, Malate (hasil googling sih ini, lupa nama jalannya). Sebenarnya makanannya biasa aja sih, tapi suasana dan konsep bar ini unik. Semua pelayannya menggunakan baju cowboy. Di sini juga ada live music yang bagus (dengan music country & rock). Kita bisa melihat bagaimana orang Manila mengekspresikan kegalauan hati mereka (yeaaaaa) dengan berdansa.
8. Cinemalaya
Ini adalah gedung pusat budaya Manila, seperti Esplanade Singapore gitu. Kalau sore hari, halaman gedung ini ramai digunakan untuk bersantai dan olah raga.
Manila Bay sebenarnya hanya walking garden disepanjang Manila Bay. FYI, lautnya sama joroknya seperti ancol. Hihihi, tapi tetap saja banyak yang nongkrong di sini di sore hari untuk menikmati sunset.
Pada akhir perjalanan, inilah hal-hal yang saya ingat tentang kota Manila dan Makati, yang sepertinya ingatan itu lebih banyak jeleknya daripada bagusnya.
1. Sampah, sampah, sampah.
Gak hanya pemerintah Indonesia yang masih belum bisa memecahkan permasalahan sampah, pemerintah Filipina pun nampaknya mengalami hal yang sama. Di kota Manila, kita bakal menemukan banyak sampah berserakan (hal yang sangat kontras dengan kota Makati yang bersih), bahkan ditempat wisata yang dikunjungi wisatawan mancanegara sekali pun. Nggak heran kalau kita akan sering mencium bau tidak sedap selama berada di kota itu.
Yang paling mengganggu adalah pemandangan sampah terapung di Manila Bay. Sampah-sampah ini menebarkan bau busuk hingga ke Ocean Park, salah satu tempat wisata unggulan di Manila, dan sangat mengganggu para wisatawan. Bukan itu saja, di pesisir Manila Bay, kita akan tercengang melihat pemandangan yang sangat kontras. Sementara yacht mewah orang kaya tertambat di sisi barat Marina Bay, para gelandangan memungut sampah-sampah yang terdampar di pesisir timur Marina Bay. Kalo kita pikir-pikir, masih mending pantai Ancol deh. Masih jauh lebih bersih dan setidaknya nggak bau banget seperti Marina Bay.
Si kaya dan si miskin : yacht para orang kaya ditambatkan, disampingnya para gelandangan memungut sampah-sampah di Manila Bay
Sunset and garbage
2. Kota Kaum Gelandangan.
Oke, kaum gelandangan akan selalu ada walaupun semaju apa pun suatu negara. Bahkan New York sekali pun, pemerintahnya masih disibukan oleh permasalahan kaum homeless. Hanya saja sebelum saya menginjakkan kaki ke Manila, saya pikir kota itu sudah lebih maju dibandingkan Jakarta dan tidak akan ada gelandangan berkeliaran sebanyak di Jakarta.
Ternyata, di Manila pun dipenuhi oleh kaum Gelandangan. Bedanya, mereka jauh lebih kreatif dari gelandangan di Indonesia yang umumnya cuma meminta-minta dan menjadi pemulung. Gelandangan-gelandangan ini berkeluarga dan bekerja sebagai penjual asongan makanan dan minuman serta penarik tricycle (seperti becak, tapi pengayuhnya berada di samping, bukan dibelakang). Dari pagi hingga sore mereka bekerja (ada pula yang meminta-minta, biasanya anak-anak mereka yang menjadi peminta-minta) atau menjadi pemulung, setelah itu mereka berkumpul bersama keluarga di taman-taman kota atau emperan gedung.
Nah, tricycle mereka ini digunakan untuk mengangkat harta benda mereka, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kaum gelandangan ini biasanya mandi pagi di pinggir-pinggir jalan, tempat di mana mereka bisa menemukan keran air secara gratis. Jangan heran kalau dipagi hari banyak air menggenangi jalan-jalan Manila. Genangan air itu bukan lah supir angkot yang mencuci kendaraan mereka, tapi para gelandangan yang baru saja selesai mandi.
Walau demikian, menurut saya Jakarta masih lebih tertib dalam menangani kaum gelandangan dibandingkan Manila. Kita tidak akan menemukan mereka di jalan-jalan protokol atau pusat-pusat perkantoran. Mereka berada di tempat-tempat yang tidak tertalu terlihat (karena takut terkena razia tentunya). Sementara gelandangan di Manila tampaknya bisa bergeletakan dimana pun mereka mau.
3. Di Mana-Mana Bau Pipis
Ini ada kaitannya dengan banyaknya jumlah gelandangan di kota Manila. Yah, mau pipis di mana lagi mereka kalau enggak di semak-semak, selokan-selokan, atau tempat terdekat yang mereka temui? Alhasil, dari ujung ke ujung, kota Manila bau pipis. Eeuuuuhh, apalagi karena udara di sana kering dan berangin, jadilah bau itu bertiup dari timur ke selatan, utara ke selatan, barat daya ke timur laut. Anoying banget!
4. Kaum Homo Bebas Berekspresi
Jangan heran jika begitu sampai di Manila kalian akan melihat pasangan-pasangan sejenis bebas menunjukan identitas diri. Nampaknya hubungan sesama jenis di negara ini lebih terbuka dibandingkan negara-negara lain di Asia (di samping Thailand tentunya). Berpegangan tangan, berciuman, berpelukan antara sesama jenis rasanya biasa saja di kota itu.
Kalau di Bangkok pria-pria yang memiliki penyimpangan seksual lebih suka untuk melakukan operasi kelamin dan merubah jati diri serta penampilan menjadi perempuan. Atau kaum gay Indonesia serta kota metropolitan lain yang sepertinya berusaha untuk tetap terlihat normal, Manila lain ceritanya. Mereka memilih untuk tetap terlihat sebagai pria namun berselera pakaian bak perempuan dan bertingkah lemah gemulai. Mereka tidak memakai rok, mereka tidak memanjangkan rambut, mereka tidak memakai heels. Rambut mereka tetap layaknya pria, hanya saja mereka suka mengenakan aksesoris rambut, kaos-kaos feminim dengan warna-warna mencolok, tas ataupun sepatu yang lebih feminim.
Suatu saat ketika saya makan disebuah warung yang kebetulan berada di lokasi kampus, saya melihat ada seorang remaja cowok tampan makan bersama teman-teman. Oke, rambut memang normal. Bajunya juga sangat normal untuk ukuran pria. Tapi begitu melihat sepatunya, saya langsung yakin kalau dia seorang gay. Secara cowok itu mengenakan sepatu crocs wanita berwarna pink. Dan setelah selesai makan, dia mengeluarkan bandana pink dari kantongnya dan memakainya. Saat itu saya baru memperhatikan, bahwa bayak sekali cowok lainnya seperti dia yang terlihat tetap pria namun modis bagai wanita. Unik.
5. Larangan Foto di mana-mana
Manila bukan kota yang menyenangkan bagi wisatawan yang gila foto seperti saya karena banyak larangan memotret di sana sini. Bayangkan, untuk bisa mengambil foto di kompleks Istana Malacanang (Istana Kepresidenan), kita harus meminta ijin terlebih dahulu. Mending kalo ijinnya bisa langsung keluar begitu kita mengajukan, karena ijin tersebut harus diproses terlebih dahulu selama tujuh hari kerja dan tentunya memerlukan biaya.
Hal ini juga berlaku di kompleks Intramuros . Untuk bisa memotret dengan leluasa, wisatawan harus terlebih dahulu meminta ijin kepada pejabat setempat. Karena proses yang bertele-tele, akhirnya saya pun nekat tetap memotret tanpa meminta ijin dan akhirnya bermain kucing-kucingan dengan polisi lokal
Saat melanjutkan perjalanan ke kota Makati, saya pikir larangan memotret di sembarang tempat seperti di Manila sudah tidak berlaku. Simple aja, saya pikir karena Makati adalah kota modern seperti Singapore, jadi larangan itu pasti tidak ada, berbeda dengan Manila yang banyak peninggalan sejarahnya. Ternyata saudara-saudara….. Memotret di trotoar depan sebuah museum pun saya kena marah. Ckckck! Mati gaya deh.
Yang lebih lucu dan gregetan, saat terlalu lelah berjalan saya memutuskan untuk berhenti sejenak di trotoar depan gedung bursa efek. Dan apa yang terjadi? Polisi mengusir saya dari tempat itu dengan alasan kita tidak boleh berhenti di gedung-gedung perkantoran seperti itu. Padahal saya lihat banyak orang setempat yang bahkan kongkow-kongkow di teras bangunan. Heran deh! Nggak ramah sama wisatawan, muka saya yang seperti teroris, atau apa? Masa orang capek jalan berhenti saja nggak boleh. Songong amat kamu pak! Tapi namanya juga tamu, kita harus tetap menghargai peraturan mereka kan, walaupun peraturan itu rasanya tidak masuk akal.
6. Cowoknya Mata Keranjang Semua
Jengah dengan kelakuan hidung belang pria-pria di Indonesia yang hobinya bersiul-siul, bercuit-cuit, tebatuk-batuk saat seorang cewek cantik lewat? Berhati-hatilah, di Manila pria-pria hidung belang ini lebih suka memainkan mata, melototi, memandangi dan mengamati kita dengan pandangan kurang ajar. Sanagat nggak sopan dan mengganggu. Berbeda banget dengan jika kita berjalan-jalan di Eropa bahkan Singapore, Malaysia, atau Bangkok yang para prianya cenderung lebih sopan dan cuek melihat wanita lewat (udah terbiasa liat cewek cantik juga kali ya?).
7. Untung Supir Taksinya Gak Suka Muterin Jalan.
Kelebihan supir taksi di Manila adalah mereka nggak suka memutar-mutarin wisatawan asing, langsung diantar ketempat tujuan. Beda banget sama Jakarta yang dari Grand Indonesia ke Menteng aja bisa diputari sampai Semanggi. Intinya adalah dari awal pastikan si supir memakai argo dan tahu tujuan yang kita maksud.
Harga taxi argo di sana juga nggak mahal kok. Dari pusat kota Manila ke Ninoi Aquino International Airport yang berjarak hampir tiga puluh menit perjalanan nggak lebih dari 180 Peso atau kurang dari Rp. 35.000,- Yang penting saat pertama kali datang ke Manila, jangan sekali-kali menerima tawaran taksi carteran dari airport. Mereka akan menarik biaya 750 – 1.100 Peso untuk membawa kalian menuju pusat kota. Cari saja taksi argo di pangkalan parkir, dan jangan lupa minta supirnya untuk memakai argo.
9. Airport Tax
Dari 20 Negara yang saya kunjungi, hanya Manila yang sama seperti Indonesia, mengenakan tarif airport tax bagi para penumpang. Tarifnya adalah 750 Peso per orang, atau setara dengan Rp. 150.000,-
10. Maceeettttttttttttttt!
Hell no! Sama aja dengan Jakarta, padat dan macet. Cukup, tidak perlu penjelasan.
11. Panduan Tourism Masih Sangat Minimal
Mungkin karena bukan salah satu tujuan wisata dunia, Manila masih minim informasi bagi wisatawan. Jangankan di pusat kota, di airportnya sekalipun kita tidak bisa mendapatkan informasi yang memuaskan. Well, sebaiknya sebelum ke Manila baca-baca informasi dulu dari buku atau internet, supaya nggak bingung mau ke mana.
12. Bukan Tempat Yang Tepat Buat Berbelanja
Karena bukan tujuan utama wisatawan manca negara, Manila tidak banyak memiliki pusat penjualan oleh-oleh, termasuk di Intramuros, daerah wisata sekalipun. Mungkin yang patut di tuju untuk membeli oleh-oleh adalah daerah Quiapo dan manila Plaza yang banyak menjual barang-barang tradisional. Untuk produk fashion, asalkan bisa menawar, harganya sangat murah dengan kualitas menengah.
Sayang sekali saat saya ke Manila, saya tidak tau mengenai informasi Princess Island. Dari referensi yang saya baca, pulau ini sebenarnya adalah jantung wisata dari Negara Philipina. After all these references, do you still want to come to Manila for Holiday?
Sayang sekali saat saya ke Manila, saya tidak tau mengenai informasi Princess Island. Dari referensi yang saya baca, pulau ini sebenarnya adalah jantung wisata dari Negara Philipina. After all these references, do you still want to come to Manila for Holiday?













