Dimensi Merah Putih
Oke, setelah berpikir dengan cermat
Kusimpulkan bahwa kau tidak cukup tertarik
Dan jügά tidak cukup berniat
Karena bisumu bermakna nihil
Dan diammu melipatkan makna nihil
Sehingga hasil akhir yang tercipta adalah bukan apa-apa.
Malam kamu, senja aku
Aku terlelap di saat kau terjaga
Dan kau terbangun di saat aku bermimpi
Sementara bumi kita terbelah di zona waktu yang berbeda
Padahal angkasa menghubungkan ruang nafas kita
Dan lorong waktu tak akan memecahkan kendala apapun.
Gilanya kau membuat aku sinting
Maaf, aku mulai menyerah pada isyaratmu
Nikmati saja paras cantikku dan palingkan wajah tampanmu
Kau tidak membuatku yakin dan jügά tidak menegaskan apa pun
Rasanya semua hanya fatamorgana bias
Menunggupun rasanya membosankan.
Sungguh puluhan tahun terhabiskan,
Semenjak bertemu, pisah dan bertemu
Hanya semu terlahir dari khayal
Dan hampa tercipta dari harap
Selebihnya dimensi yang menyesatkan dan tanpa kebenaran
Tidak berharga.
Tidak bermakna.
Hanya saja ini terasa menggelikan
Tentang hari-hari dan malam-malam masa lampau yang habis tersita untuk lamunan
Tentang menit-menit dan detik-detik masa lalu yang habis temakan mimpi
Mungkin gadis kecil berbaju putih merah itu terlalu polos
Tidak mampu memahami dunia yang diluar jangkauannya
Tidak mampu menjangkau pemahaman tentang dunia diluarnya.
Jadi,
Biarkan saja benang-benang kusut itu merajut mantelnya sendiri
Lalu mereka saling mengoyak dan menghancurkan diri
Terbakar dan menyisakan debu
Kemudian hilang terbawa siulan masa
Tidak ada ruginya sekarang, benar?
Biarkan saja semua simbol saling menautkan diri
Lalu mereka saling mencakar dan menyerang
Terlebur dan menyisakan hitam
Kemudian habis terserap waktu
Tidak ada untungnya sekarang, benar?
Dan sebuah cerita tak berjudul pun berakhir.
Kusimpulkan bahwa kau tidak cukup tertarik
Dan jügά tidak cukup berniat
Karena bisumu bermakna nihil
Dan diammu melipatkan makna nihil
Sehingga hasil akhir yang tercipta adalah bukan apa-apa.
Malam kamu, senja aku
Aku terlelap di saat kau terjaga
Dan kau terbangun di saat aku bermimpi
Sementara bumi kita terbelah di zona waktu yang berbeda
Padahal angkasa menghubungkan ruang nafas kita
Dan lorong waktu tak akan memecahkan kendala apapun.
Gilanya kau membuat aku sinting
Maaf, aku mulai menyerah pada isyaratmu
Nikmati saja paras cantikku dan palingkan wajah tampanmu
Kau tidak membuatku yakin dan jügά tidak menegaskan apa pun
Rasanya semua hanya fatamorgana bias
Menunggupun rasanya membosankan.
Sungguh puluhan tahun terhabiskan,
Semenjak bertemu, pisah dan bertemu
Hanya semu terlahir dari khayal
Dan hampa tercipta dari harap
Selebihnya dimensi yang menyesatkan dan tanpa kebenaran
Tidak berharga.
Tidak bermakna.
Hanya saja ini terasa menggelikan
Tentang hari-hari dan malam-malam masa lampau yang habis tersita untuk lamunan
Tentang menit-menit dan detik-detik masa lalu yang habis temakan mimpi
Mungkin gadis kecil berbaju putih merah itu terlalu polos
Tidak mampu memahami dunia yang diluar jangkauannya
Tidak mampu menjangkau pemahaman tentang dunia diluarnya.
Jadi,
Biarkan saja benang-benang kusut itu merajut mantelnya sendiri
Lalu mereka saling mengoyak dan menghancurkan diri
Terbakar dan menyisakan debu
Kemudian hilang terbawa siulan masa
Tidak ada ruginya sekarang, benar?
Biarkan saja semua simbol saling menautkan diri
Lalu mereka saling mencakar dan menyerang
Terlebur dan menyisakan hitam
Kemudian habis terserap waktu
Tidak ada untungnya sekarang, benar?
Dan sebuah cerita tak berjudul pun berakhir.

