Gaun dan Tuksedo, Gincu dan Arang




Bukan kesendirian ini yang aku ratapi
Tapi kepenatan dalam sepi ini
Sementara aku hanya bermain dalam bayanganmu
Dan kau mempermainkan aku dengan pemikiranmu
Ini total kesalahan bukan siapapun
Walau mereka cenderung menyalahkan aku dan dirimu

Sungguh skema sandiwara yang sempurna
Aku berpura-pura menjadi indah dan memukau
Dan kau menyamar sedemikian buruk rupanya
Hingga orang terpukau pada sesuatu yang bukan identitas kita
Melainkan citra untuk entah apa yang tragisnya lugu

Tahukah kalian kitab-kitab kuno menyangsikan kebenaran takdir?
Sesungguhnya kita lakon dari karma kehidupan sebelumnya
Ƴα, mungkin dikehidupan sebelumnya kau dan aku begitu sempuranya
Hingga karma berbanding terbalik dan lihatlah kita kini
Si dungu dan si pecundang
Berbalut jubah gaib memalsukan indra penglihatan dan penciuman orang

Sungguh pun kau tanyakan pada Dalai Lama
Dia akan mengerutkan kening tuanya
Lalu hening dan larut dalam kebimbangan
Apakah kehancuran alih alih kebahagian dibalik semua ini
Ataukah kita sibuk mengoleksi karang dan justru membuang intan
Entahlah, keyakinan itu begitu tipis dan rapuh

Perlukah kita daki Machu Picchu demi harta terpendam?
Aku butuh kunci dan kau butuh pelatuk
Bukan untuk menghancurkan
Tujuan akhirnya jelas bukan kerusakan
Mungkin kita butuh itu untuk keselarasan
Semata-mata untuk keserasian
Untuk pelangi melengkung di ujung dunia, kalau pun dunia berujung

Agar mereka melihat kita bukan lagi si menawan dan si buruk rupa
Namun sesuatu yang pada tempatnya
Kanan dan kiri, Utara dan selatan, Hujan dan cerah
Sesuatu yang memang berpasangan
Yang memang dapat diakui seimbang
Berdampingan...

Dan sementara itu kita terus melanjutkan sandiwara picisan ini
Memerankannya dengan gaun gemilang dan tuksedo compang camping
Jangan lupa sapukan gincu dibibirku
Dan torehkan arang dipipimu
Bukan dosa kita memainkan ini, percayalah
Percaya saja pertunjukan selalu ada akhirnya
Saat tirai panggung tertutup,
Gegap gempita tepukan tangan kita sendiri menyambut.

Postingan Populer