Me VS Firework




Sudah dua malam ini keponakan saya yang masih berusia 4 bulan, yang imut + lucu + berpantat semok serta menggemaskan, tidak bisa tidur di malam hari. Bukan karena sakit atau nggak enak badan, bukan juga karena rewel, atau pun karena diganggu oleh makhluk halus, tapi lantaran suara petasan di kampung sebelah kompleks perumahan saya yang sudah seperti ledakan perang teluk. Kasihan si kecil, matanya yang setengah belok setengah sipit jadi sayu dan tidak bercahaya. Mungkin dalam tidurnya yang terputus-putus akibat suara petasan, dia bermimpi tengah menjadi Rambo dan ditawan pasukan Nazi di pedalaman Amazon.

Itu baru perkara anak bayi. Bagaimana dengan para orang tua yang mengidap lemah jantung? Kasian banget harus terkaget-kaget mendengar suara petasan ditengah malam. Syukur-syukur mereka nggak sampe harus masuk UGD. Atau nenek-nenek yang sedang menjahit baju, jarinya jadi ketusuk jarum karena kaget mendengar suara petasan. Atau ibu-ibu hamil yang kaget dan akhirnya melahirkan lebih awal (well, khayalan ini sedikit tidak masuk akal, tapi mungkin terjadi). Atau para asisten rumah tangga yang sedang mencuci piring dan karena kaget piring-piring tersebut jatuh dan pecah? Nah lo! Salah siapa coba? Salah gue? Salah teman-teman gue? Salah mereka sendiri kaget? Atau salah orang yang main petasan tidak pada tempatnya?

Mari kita kilas balik sedikit mengenai sejarah petasan seperti yang di sampaikan mas-mas dan mbak-mbak Wikipedia. Sejarah petasan bermula dari Cina. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampurtiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar.

Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar dan akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan jenis ini dipercaya dipakai juga dalam perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan.
Baru pada saat dinasti Song didirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Di Indonesia sendiri tradisi petasan itu dibawa sendiri oleh orang Tionghoa. Seorang pengamat sejarah Betawi, Alwi Shahab meyakini bahwa tradisi pernikahan orang Betawi yang menggunakan petasan untuk memeriahkan suasana dengan meniru orang Tionghoa yang bermukim di sekitar mereka.

Oke, firework is awesome. But, in the right time and the right place! Di saat Idul Fitri? Right. Di tengah malam saat semua orang tidur? BIG NO NO! Mungkin lebih tepat di saat orang-orang sedang merayakan malam takbiran kali yaa. Atau di pagi hari setelah pulang sholah eid. Nah, kalau itu terlihat pas dan tepat. Merayakan hari kemenangan, bersuka ria sambil menyalakan petasan, bersama keluarga menikmati malam sambil melihat kembang api, right, itu baru oke. Tapi kalau jam satu pagi masih saja dar der dor menyalakan petasan, pasti orang-orang yang mendengarkan juga sebal.

Beda halnya kalau di malam tahun baru, petasan memang dinyalakan setelah pergantian tahun. Which is, setelah lewat jam 12 malam. Jadi kalau jam 1 pagi masih ada petasan berbunyi dan kembang api melayang-layang di udara, orang masih bisa memaklumi. Tapi kalau di jam 4 pagi saat semua orang yang kelelahan baru tiba di rumah seusai merayakan tahun baru dan petasan masih saja berbunyi, tentunya akan mengganggu juga. See, right time and right place.

Di Indonesia sendiri, larangan tentang petasan tidak terlalu detail diatur dalam  Undang-Undang Darurat RI Nomor 12/DRT/1951. Lebih detailnya, masing-masing daerah menetapkan Peraturan Daerah tentang ketertiban umum yang didalamnya termuat larangan membunyikan petasan dan sejenisnya kecuali atas izin Gubernur atau Pejabat yang ditunjuk. Tapi yah, mau bagaimana lagi. Peraturan dibuat dan masyarakat dengan senang hati melanggarnya. Walaupun sudah ada Peraturan Daerah di tiap-tiap daerah, toh masyarakat termasuk saya masih saja suka main petasan. Aparat penegak hukum pun sulit untuk menertibkannya. Paling mereka cuma merazia penjual petasan saja, tapi masyarakat yang menyalakan petasan jarang banget terkena razia.

Contohnya saja saat saya menjemput ayah saya sehabis sholat eid di sebuah Masjid di Kota Malang. Saat itu ada sekelompok pemuda yang menyiapkan petasan untuk nanti dinyalakan seusai sholat. Pada waktu itu ada beberapa polisi yang sedang bertugas melihat aksi mereka. Bapak-bapak polisi itu yang pada saat itu melihat aksi para pemuda tersebut hanya berkata, “Hati-hati, jangan nyalakan dekat motor”. Just it.

Oke, mari kita asusmsikan bahwa para bapak-bapak berkumis ini sedang memberikan toleransi bagi masyarakat yang sedang dalam sukacita Lebaran. Good point. Mungkin mereka berpikir bahwa toh petasan itu dinyalakan dalam pengawasan mereka, jadi tidak akan berbahaya. Mungkin juga mereka berpikir bahwa tidak ada gunanya menentang para pemuda itu, bukannya kepatuhan yang di dapatkan, alih-alih anarkisme. Atau malahan petasan itu bisa-bisa tetap dinyalakan di muka berkumis mereka. Who knows kan?

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang menyalakan petasan tidak dibawah pengawasan bapak-bapak berkumis itu? Apalagi yang dikampung-kampung dan pelosok-pelosok. Nggak mungkin juga aparat keamanan bisa mengontrol semua para pemain petasan, apalagi merazia mereka semua. Padahal banyak lho kejadian orang cedera bahkan sampai meninggal dunia akibat bermain petasan. Terutama di daerah-daerah pedalaman yang petasannya sangat ekstrim.

Contohnya saat saya tinggal di Wamena – Papua dulu. Petasan kami tidak semodern anak-anak kota jaman sekarang karena distribusi petasan ke daerah tersebut sangat terbatas sehingga harga petasan menggila. Akhirnya, anak-anak di sana menggunakan kreativitas mereka menciptakan petasan dengan selongsong bambu, karbit, bensin dan bahan bakar lainnya yang sangat berbahaya. Memang sangat berbahaya karena petasan ciptaan mereka sendiri ini dibuat asal-asalan tanpa pengetahuan yang cukup oleh bocah beringus yang belum menguasai perkalian Sembilan. See? Wajar saja banyak menelan korban.

Yup, kalau aparat keamanan kita ternyata tidak bisa bertindak atau kurang bisa menjangkau setiap daerah untuk memantau kegiatan ledak meledakan petasan ini, semua ini lagi-lagi kembali ke peran serta masyarakat serta kesadaran masing-masing individu untuk ikut menertibkan. Dan mengingat bangsa Indonesia terkenal sekali sebagai bangsa yang memiliki kedisiplinan minus nus nus nus, nggak ada salahnya kita saling mengingatkan satu sama lain kan?

Bapak-bapak, ibu-ibu, tolong lah anaknya diperhatikan. Jangan sampai keluyuran tengah malam apa lagi pagi-pagi buta buat main petasan. Main petasan di malam takbiran dan di malam pergantian tahun mungkin masih bisa ditoleransi oleh tetangga. Tapi kalau sudah H+3 mereka masih saja main petasan, di tengah malam pula, jangan salahkan tetangga itu kalau datang kerumah bapak-ibu sambil melontarkan kata-kata makian. Dan juga jangan tersinggung kalau hal ini sampai terjadi. Justru lekaslah cari anak kalian dan beri tahu kalau kelayapan membangunkan seisi kampung dengan ledakan ciptaan mereka itu nggak keren banget.

Lingkungan perumahan sebenarnya bisa juga lho ikut menertibkan. Coba RT/RW masing-masing kerahkan tenaga siskamling dan satpam untuk menegur anak-anak yang bermain petasan. Jangan malahan ikut nongkrong dan membantu anak-anak tersebut menyalakan sumbu petasan. Kalau nggak bisa diomongin baik-baik, beri tahu orang tua masing-masing saja. Atau malah kalau perlu pake adegan kejar-kejaran aja sekalian, supaya mereka mengerti kalau perbuatan mereka itu benar-benar dilarang oleh peraturan yang ada.

Buat adek-adek yang sedikit terobsesi pada ledakan dan letusan, tolong main petasannya ingat waktu supaya tidak mengganggu orang lain. Kalau mau lebih keren lagi, nanti waktu kuliah ambil saja jurusan teknik nuklir atau pertambangan. Supaya main ledak-ledakannya bisa jadi bermanfaat buat orang lain. Kan keren tuh dek, bisa main ledak-ledakan di laboratorium uji coba. Apalagi kalau nanti bisa sepintar pak B.J. Habibie dan di minta perusahaan asing bekerja di luar negeri dengan bayaran Uero. Kan lebih keren tuh dari pada kelayapan malam-malam dan mengganggu tetangga dengan suara petasan kalian.

Kembang api itu seharusnya dapat menyenangkan semua orang, membuat orang yang melihatnya merasakan keindahan dan keistimewaannya. Membuat orang yang melihatnya merasakan bahwa saat itu adalah saat yang special dan perlu dirayakan, yang merupakan alasan mengapa kembang api tersebut di nyalakan saat itu. Kembang api seharusnya membuat orang yang mendengar dan melihatnya larut dalam suka cita, if it in the right time and the right place. Bukan sebaliknya merasa terganggu dan jantungan.

Tuh kan, tuh kan. Sekarang sudah pukul 00.45 dan masih ada saja yang menyalakan petasan, sementara keponakan saya yang imut + lucu + berpantat semok serta menggemaskan kembali terkaget-kaget. Sudah saya coba beritahu baik-baik anak-anak itu, yang ada malah rumah saya dilempari batu oleh mereka. Kata Bang Haji Roma Irama : KETERLALUAN.

Baiklah. Mungkin saya harus menutup laptop dan memberi tahu mereka SECARA BAIK-BAIK sekali lagi. Kalau masih nggak didengar, saatnya untuk meminta pertolongan satpam kompleks. Ini lebih baik dari pada tindakan menggerutu dan sekedar berharap suara petasan itu cepat berlalu.

Postingan Populer