Salah Begini, Salah Begitu, Serba Salah, Namanya Juga Kesalahan
Setiap manusia bisa terjatuh,
Tapi aku akan berhati-hati agar tidak terjatuh
Dan saat akhirnya aku terjatuh
Mungkin kamu akan tetap berjalan mendahului aku
Tapi aku akan segera bangkit dan mengejarmu langkahmu
Walaupun kakiku masih terluka dan sakit
Asalkan kamu tinggalkan jejak kakimu untuk aku cari
Asalkan kamu tidak berlari sehingga tidak terlalu sulit bagi aku untuk menyusul langkahmu
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan kan? Tentu. Pasti. Apalah kita manusia ini. Mahkluk fana yang penuh dosa dan gudang dari kesalahan. Kalau kita hendak menghitung kesalahan yang kita buat sepanjang hidup kita, tidak cukup sinetron Cinta Fitri sebanyak 10 season untuk mengisahkannya, tidak cukup serial komik Kungfu Boy sebanyak 150 edisi untuk membukukannya, tidak cukup 9 menit lagu November Rain untuk mendendangkannya.
Kesalahan erat kaitannya dengan masalah, mereka terkait melalui hubungan sebab akibat. Karena sebab kesalahan, maka munculah akibat masalah. Semalam saya berdebat panjang lebar dengan seseorang mengenai hal ini. Hal terutama yang kami perdebatkan apakah unsur kesalahan itu mutlak datang dari diri kita sendiri ataukah ada faktor eksternal yang turut ambil bagian dalam kesalahan itu.
Dia mencontohkan apabila kita sakit (masalah), itu akibat tindakan kita sendiri (kesalahan). Karena kita kurang menjaga pola makan dan pola tidur misalnya. Lalu saya mendebatnya dengan masalah yang total bukan karena kesalahan kita. Misalnya saja mobil kita yang sedang diparkir di tempat yang aman namun tiba-tiba ditabrak oleh orang lain (masalah), dan ternyata hal itu terjadi karena sang pengemudi tengah mabuk (kesalahan). Nah, kalau masalah ini kan murni karena faktor eksternal kan?
Lalu akhirnya kami berdamai dan menyimpulkan bahwa masalah pada diri kita paling banyak memang terjadi karena kesalahan kita sendiri, dan memang sebagian kecilnya atau terkadang karena faktor eksternal. Ya, memang seperti itu adanya. Konsep ini memang diperlukan agar kita tidak senantiasa menyalahkan orang lain atas masalah yang kita alami, namun dapat mengoreksi kesalahan-kesalahan kita sendiri hingga masalah itu datang. Dia memang benar. Saya akui itu. Menyikapi suatu masalah dari sudut pandang kesalahan kita membuat kita bergerak untuk mencari jalan keluar, bukan hanya mengutuki masalah yang datang karena menganggap itu kesalahan orang lain.
Lalu kemudian karena kesalahan yang saya lalukan, orang ini menjadi marah. Kesalahan kecil menurut saya, besar bagi dia. Sepele bagi saya, prinsipal bagi dia. Bisa diperbaiki bagi saya, mempengaruhi kadar kepercayaan menurut dia. Tidak harus dibesar-besarkan menurut saya, harus ditindak tegas menurut dia. Well, perspektif orang mengenai suatu hal memang berbeda. Kita tidak bisa memaksakan bahwa pemikiran kita akan suatu hal harus sama dengan yang apa yang orang lain pikirkan.
Ini merupakan bukti, bahwa unsur kesalahan juga tergantung pada sudut pandang dan penilaian seseorang. Mungkin bagi sebagian orang lain itu bukan merupakan kesalahan, tapi bagi orang yang lainnya adalah suatu kesalahan. Subyektif sekali yah! Dan terkadang ini menyebalkan. Sering banget kan kita tiba-tiba didiamkan seseorang karena tidak tahu apa salah kita. Ya karena menurut kita nggak salah dan menurut dia salah. Kecuali apa yang diatur secara paten dalam peraturan hukum, yang lain bersifat sangat subyektif L L L
Subyektifitas-subyektifitas ini bersifat membingungkan. Kita tidak mengetahui ambang batas suatu kesalahan setiap individu. Ada yang diangka 100, ada yang di angka – 10, ada yang diangka 70. Sangat bervariasi, tergantung kepribadian dan idealisme masing-masing individu. Memangnya kita Tuhan bisa membaca pikiran? Memangnya kita computer pendeteksi? Atau malah anjing pelacak yang dilatih untuk mencium ambang batas suatu kesalahan? Huffff, sungguh tidak enak bermain-main dengan hal ini.
Dan bagian terberat dalam membuat kesalahan adalah memperbaiki kesalahan itu. Bukan saja dibutuhkan niat yang besar, tapi juga sarana dan timbal-balik dari pihak-pihak lain. Maksud saya, bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan kalau tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki? Dan bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan kalau setiap niat kita memperbaiki tidak mendapatkan respon dan masih saja dianggap salah. Lagi-lagi semuanya menjadi subyektif. Memangnya kalau salah lantas akan salah terus dan tidak bisa diperbaiki?
Kalau posisinya dibalik sebenarnya sama aja sih, kita pasti merasa was-was juga memberikan kesempatan kepada orang untuk memperbaiki kesalahannya. Ibaratnya pembunuh yang pernah mendekam di penjara, saat dia bebas maka orang akan tetap mengecam dia sebagai pembunuh dan akan susah untuk membercayai dia lagi kan? Kesalahannya akan tetap melekat pada dirinya seberapa kuatnya dia mencoba untuk memperbaiki itu. Tolakan dari masyarakat akan membuat dia semakin susah untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya. Yah, gak akan ada perbaikan dan gak akan ada kemajuan lah jadinya.
Ini juga yang saya rasakan sekarang. Ingin memperbaiki kesalahan, tapi tidak diberikan kesempatan L L L Balik-baliknya sama pada teori sebab akibat tadi akhirnya, masalah muncul karena kesalahan yang kita buat-buat sendiri. Tapi kalo dari teori subyektifitas, harusnya kesalahan masih bisa diperbaiki kan? Tuhan saja yang Maha Kuasa sangat pemurah pada umatnya dan mau memaafkan serta memberikan kesempatan. Masa kita manusia yang sama-sama banyak dosanya dan merupakan gudang dari kesalahan pelit banget memberi maaf dan kesempatan pada sesama.
Ini pelajaran buat diri sendiri sih. Kalau pernah mengalami hal ini, berarti dikemudian hari kita harus lebih pemurah, mau memberikan pengampunan dan mau memberikan kesempatan bagi orang yang berbuat salah pada kita. Sayang banget kan hubungan baik kita dengan teman, keluarga, dan orang-orang yang kita sayangi jadi rusak padahal sebenarnya masih bisa untuk diselamatkan. Yah, hukum karma juga sih sebenarnya. Mungkin saya juga banyak belum memberikan maaf dan kesempatan bagi orang yang saya anggap bersalah. Jadi sekarang situasi berbanding terbalik. Karma does exist.
Tapi percayalah, jangan sampai ada penyesalan. Saya pernah mengalaminya. Inilah kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada seorang sahabat saya. Saya tidak pernah memaafkan dia karena masalah sepele yang saya sendiri sudah lupa apa, hingga hari di mana dia meninggal dunia. Setelah dia meninggal dunia, rasa penyesalan karena tidak mau memaafkan dia terus menghantui dan menjadikan beban terberat dalam hidup saya. Saya serasa masih saja dibayang-bayangi oleh dia dan terus memimpikan dia, walaupun delapan tahun telah berlalu semenjak meninggalnya dia.
Serius, kejadian ini benar-benar membuat saya trauma. Semenjak saat itu saya selalu berusaha untuk memaafkan kesalahan orang lain kepada saya, seberapa sakit dan jahatnya mereka memperlakukan saya. Saya selalu berusaha menjalankan ajaran orang tua saya, bahwa kemarahan kita pada seseorang tidak boleh berlarut-larut dan harus terselesaikan sebelum matahari tenggelam. Siapa yang akan tahu kejadian satu jam mendatang, esok, minggu depan dan seterusnya kan?
Membuat kesalahan itu semudah membalikan telapak tangan, mengembalikan kepercayaan yang hilang dan memperbaiki akibat dari kesalahan kita itu yang sulitnya setengah mampus L L L Iya iya, harusnya saya lebih hati-hati agar tidak terjatuh. Terjatuh dalam lubang kesalahan maksudnya. Harusnya saya lebih bisa mengendalikan semua komponen dalam tubuh yang sudah diberikan Tuhan dengan sangat murah hatiNya. Harusnya saya bisa berpikir panjang sebelum melakukan kesalahan. Benar kata dia, masalah itu kita buat-buat sendiri. Jangan salahkan orang lain. Berkaca pada diri sendiri.
Ya sudahlah, bagian terpenting dari melakukan kesalahan bukan malah menyalahkan apa yang membuat kita terjatuh kan? Tapi bagaimana kita bisa bangkit berdiri, membersihkan luka kita, lalu mencari jalan pulang dan merenungkan serta meresapinya agar tidak terulang lagi.
Hey you! Yes you. The one who’s this note belong, feel so sorry for the thing that I’ve done, from the very deep of my heart. I’ll try to fix it. I’ll really do. Hate me, its ok, I still want to fix it. But just so you know, you means so much for me.

