Was It Something I Didn't Say?
Ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa di dunia ini hal ada 3 hal yang tidak bisa dikembalikan : waktu, kesempatan dan kata-kata. Ya, ini sepenuhnya tepat. Mutlak kebenarannya. Tidak usah dibuktikan, tidak usah diperdebatkan, dan tidak perlu pembenaran.
Manusia tidak mungkin mengembalikan waktu. Kalau manusia bisa membalikan waktu, dunia ini pasti kacau balau. Ada yang ingin tetap hidup di jaman dinosaurus supaya terkesan menantang dan memicu hormon adrenalin, yang naksir sama Lady Diana akan meminta kembali pada jaman beliau masih hidup dan muda agar memiliki kesempatan untuk menjadi pengagumnya, dan bagi penggila sejarah serta film perang seperti saya tentunya akan meminta untuk dikembalikan ke jaman penindasan Nazi atau jaman penyerbuan Pearl Harbour. Kalau sudah begini kita akan nggak akan menuju masa depan, terus menerus terkurung akan masa lalu. Roda perputaran waktu jadi kacau. Tidak akan ada kemajuan kedepan. Begitu-begitu saja. Bisa-bisa manusia juga nggak bisa berkembang biak dan banyak yang hilang secara misterius. Mengerikan!!
Kesempatan? Yah, ada pepatah yang mengatakan kesempatan tidak datang dua kali. Nggak sepenuhnya benar juga. Terkadang kita dihadapkan pada situasi dimana kesempatan datang untuk kedua kalinya. Tapi iya kalau kesempatan itu datang kembali, bagaimana kalu tidak? Sementara kita telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah pernah datang. Jadi ajaran bahwa jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu memang benar. Nggak mau kan menyesal seumur hidup karena pernah melepaskan kesempatan yang ada?
Kata-kata? Yah, apa yang pernah kita ucapkan sulit untuk ditarik kembali kan? Bisa-bisa aja sih, tapi manusia kan paling gensi untuk disuruh menjilat ludahnya sendiri, melontarkan suatu perkataan lalu menariknya kembali. Kalau pun kita mau menarik perkataan kita kembali, orang yang mendengarkannya belum tentu mau menerima “pembaharuan” kata-kata tersebut. Memangnya Undang Undang Dasar 1945 bisa di amandemen? Ludah yang kita jilat kembali belum tentu membuahkan hasil yang baik. Belum lagi kita dianggap sebagai orang plin-plan. See, mulutmu itu memang harimau mu.
Satu-satunya yang bisa mengembalikan waktu dan kesempatan hanyalah Tuhan. Oh, dan juga tuan kucing biru yang sangat manis sekali, Mr. Doraemon tentunya. Tapi Mr. Doraemon hanyalah kartun buatan Jepang yang kemungkinannya hidup di dunia ini sama mustahilnya seperti menjadikan Edward Cullen pacar saya. Jadi berhentilah berharap bahwa suatu saat secara tiba-tiba si kucing biru ini muncul dengan misteriusnya ke rumah kalian dan menawarkan kantong ajaibnya. No No No! Tidak mungkin terjadi kecuali kalian sudah gila dan mengimajinasikan hal itu.
Waktu, kesempatan dan kata-kata. Setiap orang pasti pernah mengalami kejadian buruk sehubungan dengan ketiga hal ini, dan itu membuat kita melontarkan kalimat : andai saja. Andai saja begini, andai saja begitu, andai saja waktu bisa diputar kembali, andai saja ada kesempatan kedua, andai saja bisa menarik perkataan ku kembali.
Tapi kita manusia yang selalu belajar dari pengalaman buruk kan? Suatu kegagalan dan kesalahan membuat kita berpikir, menyesal, mencari penyelesaian dan belajar memperbaikinya. Harusnya kita begitu. Pasti kita secara personal memiliki pengalaman masing-masing yang begitu menyentuh dan menjadikannya cerminan langkah berikutnya. Tidak hanya menyangkut hal-hal besar yang berdampak besar pula bagi kehidupan kita. Terkadang banyak hal-hal kecil yang justru membuat kita tersadar tentang besarnya arti waktu, kesempatan dan perkataan. Dan belakangan ini, saya baru menyadari betapa banyak waktu, kesempatan, dan kata-kata yang telah saya sia-siakan.
Ada seorang cowok yang saya taksir sudah semenjak lama. Terlalu lama sehingga rasanya selamanya. Di mata saya yang hanya seorang gadis polos kecil berseragam putih merah dan berkuncir dua, cowok ini terlihat sangat mengagumkan. Gorgeous? Absolutely. Kind? Yes, super kind. So charming and wonderful. Double check! Dia seperti Anthony dalam serial Candy-Candy, atau Tuksedo bertopeng dalam serial Sailor Moon, bagaikan Dekisuki dalam serial Doraemon, dan seperti Shinichi dalam serial Conan. Yup yup, tipe-tipe Prince charming yang menjadi rebutan setiap gadis. Dan semenjak itulah saya mulai menyebutnya dengan sebutan Prince. Atau terkadang Tuksedo Bertopeng.
Hanya saja cowok ini adalah kakak kelas saya. Dan sementara saya masih bermain kasti dengan celana melorot dan ingus berhamburan, dia telah menjadi primadona sekolah dan selalu dikelilingi oleh gadis cantik yang sudah puber dan memiliki rambut panjang yang bisa dikibas-kibaskan. Dia tidak mungkin menyadari kehadiran bocah bau susu yang mengenakan sepatu boot Doc Marten dan lebih tertarik pada teman-teman sebayanya yang telah belajar menggunakan lotion dan lip balm. Jadi, saya yang masih anak monyet ini hanya cukup puas memperhatikan dia dari jauh sambil menggigiti kuku dan menghitung perkalian sembilan.
Saya masih ingat bagaimana merananya perasaan saya karena hanya bisa mengaguminya dari kejauhan dalam kurun waktu yang lama. Yeah, Prince benar-benar terlihat tampan dalam setelan jasnya di misa malam Natal. Tidak, Prince selalu tampan saat datang di misa hari Minggu, duduk dalam diam dan saya mengagumi siluetnya saat matahari pagi menerobos masuk melalui kaca-kaca jendela gereja yang pecah dan menimpa wajahnya.
Prince tetap memukau saat mengenakan pakaian olah raganya dan berkeringat di lapangan basket. Saya ingat bagaimana langkah kakinya saat berjalan di jalanan kota yang sepi sambil memantul-mantulkan bola basketnya. Oh, dan prince selalu suka mengenakan topi. Saya hafal benar bagaimana cara dia menyimpan topi di pinggang belakangnya. Itu gaya khasnya.
Dan prince sungguh memukau dalam balutan seragam pramukanya. Otak saya kah yang rusak merekam memori atau dia memang terlihat sangat imut saat memainkan bendera semaphorenya? Ada suatu moment di mana dia membantu saya mengenakan perlengkapan pramuka saya dan setelahnya saya benar-benar tidak mau mencuci baju saya yang pernah tersentuh tangannya. Prince benar-benar terlihat baik dalam segala kondisi.
Namun Tuhan memang baik terhadap gadis kecil labil berkuncir dua ini. Dia selalu menghadirkan Prince dalam kehidupan saya. Walaupun kehadirannya nyaris bias dan samar-samar, Prince mengiringi setiap langkah saya dari gadis berkuncir dua menjadi wanita dewasa dengan high heels. Walaupun saya mendapatkan pacar pertama saya dan dia mendapatkan gadis mana pun yang dia mau, Prince seolah selalu tersimpan di sudut hati dan membuat saya tersenyum saat mengenangnya.
Beberapa tahun terpisah, beberapa cowok datang dan pergi, tapi Prince seolah datang disaat yang tepat dan tidak pernah benar-benar menghilang. Selalu ada cara dia datang kembali dalam kehidupan saya. Selalu saja ada media yang membuat dia menghiasi hari-hari saya, walaupun tahun berganti tahun.
Suatu saat setelah 16 tahun berlalu, Prince tiba-tiba menirimkan pesan singkat yang berisikan : “Precious”, yang saya balas dengan : “Who?” dan dia menjawab : “You”. Pada kesempatan lainnya saya mengatakan kepadanya : “was it something I didn’t say”, dia menjawabnya : “then go say it!”, tapi saya tidak mampu mengatakan apa pun dan dia berkata : “when you say nothing at all” dengan ditambahkan icon sedih. Hanya itu saja. Dan berhenti sampai di situ saja. Tidak pernah ada kelanjutan. Tidak penah ada penjelasan dan dan penyelesaian. Seolah kami sama-sama tahu dan tidak mau berkata apa-apa. Seolah-plah kami merasa sudah cukup hanya dengan kami sama-sama mengerti dalam hati. Merasakan dalam hati.
Saat itu seharusnya saya mengatakan sesuatu. Mengatakan suatu kalimat atau kata-kata untuk mengungkapkan isi hati saya. Tapi saya tidak mengatakan apa-apa. Sampai saya akhirnya mengetahui kalau dia akhirnya menikah. Saya bahagia untuk dia, tentu saja. Saya sangat berbahagia untuk dia, malah. Hanya saja saya menyesal kenapa tidak pernah mengungkapkan isi hati saya selama 16 tahun ini. Padahal saya punya banyak sekali waktu. Padahal saya punya beberapa kesempatan. Setidaknya kalau saya mengatakan sesuatu, dia mengetahui isi hati saya.
Tidak masalah apa pun hasil akhirnya, yang terpenting adalah dia tahu dia bermakna sesuatu buat saya. Setidaknya selama 16 tahun menjadikan dia seorang Prince menjadi bermakna sesuatu. Tapi semua pertimbangan, pemikiran dan perkiraan-perkiraan yang sebenarnya tidak terlalu penting menghentikan saya untuk membiarkan dia tahu isi hati saya. Dan saya cukup menyesal karena membiarkan waktu dan kesempatan itu terbuang begitu saja karena perkataan yang tidak pernah terucapkan, dan menjadikan ini semua hanyalah sebuah dongeng dari masa lalu. Apakah kalian tahu lagu 98 Degree yang berjudul Was It Something I Didn’t Say? Lagu itu benar-benar tepat menceritakan 16 tahun bagi Prince yang terbuang percuma.
Spending another night alone
Wondering when
I'm gonna ever see you again
Thinking what I would give
To get you back, baby
I should have told you how I felt then
Instead, I kept it to myself, yeah
I let my love go unexpressed
'Til it was too late
You walked away
Was it something I didn't say
When I didn't say, "I love you"?
Was it words that you never heard
All those words I should have told you
All those times, all those nights
When I had the chance to?
Was it something I didn't say?
Wondering when
I'm gonna ever see you again
Thinking what I would give
To get you back, baby
I should have told you how I felt then
Instead, I kept it to myself, yeah
I let my love go unexpressed
'Til it was too late
You walked away
Was it something I didn't say
When I didn't say, "I love you"?
Was it words that you never heard
All those words I should have told you
All those times, all those nights
When I had the chance to?
Was it something I didn't say?
Semua yang terjadi bukan hanya untuk disesali kan? Setidaknya saya berlajar bahwa kita harus jujur pada hati kita. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Apapun hasil akhirnya tidak lah penting, yang penting bagaimana proses itu mendewasakan, menempa, dan membentuk diri kita. Kalau pun hasil akhirnya tetap tidak sesuai harapan kita, setidaknya kita telah mencoba dan tidak akan ada penyesalan karena pernah menyia-nyiakan suatu kesempatan.
Pengalaman benar-benar menjadi guru yang paling baik. Ada suatu saat dimana saya hampir kehilangan orang yang sangat berarti. Orang ini saya panggil dengan sebutan Mr. Great Wall, karena hatinya dikelilingi tembok tinggi yang susah untuk diruntuhkan. Mr. Great Wall ini sebenarnya dekat di hati saya tapi saya selalu berusaha mengingkarinya. Saat dia hampir pergi karena sesuatu hal, saya tiba-tiba teringat akan Prince. Kenapa saya harus selalu menyia-nyiakan sesuatu yang berharga karena ketidakpekaan hati saya? Atau kah karena pertimbangan-pertimbangan tidak penting saya? Atau kah karena pemikiran-pemikiran negative saya?
Saya bersyukur karena kali ini saya tidak menyia-nyiakan kesempatan dan waktu yang ada. Memang benar. Apa pun hasil akhirnya setidaknya kita telah berusaha. Setidaknya kita memanfaatkan kesempatan dan waktu sehingga tidak akan pernah ada kata “kalau saja…” dan “andai saja…”. Apa pun hasilnya akhirnya, sejelek apa pun itu, kita harus berani menerima konsekuensinya.
Dan ini berlaku dalam bidang kehidupan apa pun. Pekerjaan, karier, persahabatan, cinta, kehidupan sosial, bahkan dalam pendidikan, semua bidang kehidupan. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Ingat aja lah, kita bukan si bodoh Nobita yang punya robot ajaib yang bisa mengabulkan segala permohonan. Kita lah yang harus berjuang dan berusaha sendiri. Iya kan? Dan saya akan selalu belajar untuk memanfaatkan setiap waktu, kesempatan dan perkataan.
Dear Prince, terimakasih telah meninggalkan pelajaran penting dalam hidupku tentang waktu, kesempatan dan kata-kata. Terimakasih, karena dirimulah Mr. Great Wall ada. Selamat hidup berbahagia. Aku selalu menginginkan yang terbaik untukmu. Dan aku akan selalu memanfaatkan waktu, kesempatan serta kata-kata yang ada sebaik mungkin dalam segala segi kehidupanku. Karena sudah cukup menyedihkan harus melakukan kebodohan atas 16 tahun ini. Aku tidak akan membiarkan 16 tahun lainnya terbuang percuma.

