Pelayanan Publik, Apa Pengganyangan Publik?




Damn, baru saja saya menulis mengenai kata-kata “keramat” yang tidak boleh diumpatkan kepada sesama manusia, dan hari ini saya menerima salah satu kalimat itu dengan sangat tidak sopannya.
Ceritanya dimulai ketika hari ini saya dan rekan kerja saya kebetulan ditugaskan oleh kantor untuk datang kesalah satu Instansi pemerintahan untuk melakukan konsultasi dibidang permodalan (Yah, teman-teman yang pernah bekerja dibagian hukum corporate mungkin bisa sedikit menerka-nerka ke kantor pelayanan publik mana saya pergi). Okay, seperti biasanya saya mengantri cukup lama (sangat lama malahan) karena hanya satu ruang konsultasi dari dua ruangan yang dibuka untuk melayani konsultasi. In fact, dalam sejarah saya bolak-balik ke kantor tersebut, yang saya lihat memang hanya satu ruang konsultasi itu saja yang biasanya dibuka, sementara ruang yang satunya setahu saya tidak pernah digunakan.
Setelah terkantuk-kantuk menunggu giliran masuk, akhirnya tiba juga giliran saya. Saat masuk ke ruangan tersebut, petugas pelayanan public yang melayani bagian konsultasi itu dengan santainya menyambut kedatangan saya sambil asyik memencet-mencet tombol ponselnya, sedang berkirim sms ria rupanya. Okay, saya tunggu juga aktifiatas dia berkirim sms dengan sabar walaupun cukup lama. Dan setelah adegan terkantuk-kantuk lainnya, akhirnya dia memalingkan wajah dari ponselnya dan membuka pembicaraan dengan kalimat : “Kamu lagi, sering banget ya datang ke sini.”
Iya lah, memang saya sering datang ke sana buat berkonsultasi. So what gitu pak? Kan namanya rakyat mau nanya-nanya nggak apa-apa toh? Nanya-nyanya juga ada maksudnya, bukan mau ngisengin atau membuang percuma waktu mereka kan? Walau sedikit bête, saya memasang senyuman termanis dan berkata : “Iya pak, maaf mau merepotkan lagi.” Dan setelah menunggu sekian saat lagi sampai dia menyelesaikan aktifitasnya dengan ponselnya, akhirnya saya bisa membuka percakapan dan memaparkan permasalahan-permasalahan saya.
Konsultasi kami berjalan alot. Bukan karena saya nggak mengerti apa yang dia jelaskan, tapi karena ucapan saya selalu dipotong dan sepertinya dia salah mengerti pertanyaan yang saya ajukan. Saya beberapa kali mengembalikan percakapan agar dia focus pada pertanyaan saya, tetapi berkali-kali pula dia ngotot dan menjawab jawaban yang melenceng dari pertanyaan saya. Saya cukup frustasi dibuatnya sehingga menggaruk-garuk kepala mulai tidak sabaran.
Puncak dari obrolan ngawur dan tidak terfokus ini adalah ketika dia tiba-tiba terlihat sangat marah dan berkata : “Saya lihat kalian ini stupid ya!” yang langsung membuat saya dan rekan kerja saya saling berpandangan dengan ekspresi syok.
????????????????????????????????????????????
Whaaatttttt the helllllllllllllllllllllllllllllllllll!!!!!!!!! Dalam hati saya langsung mengucapkan kalimat itu. Apa-apaan ini ya dia mengata-ngatain saya bego? Waw, selama saya hidup baru sekali ini saya berintertaksi dengan pelayanan public dan malahan diakatakan bodoh bukannya dilayani. Ya terkadang mereka bersikap menyebalkan, tapi nggak segila ini dengan mengatakan orang yang dilayaninya STUPID.
Oke, saya berusaha menahan emosi jiwa saya, mengingat saya masih akan sering berurusan dengan instansi itu dan tentunya saya nggak boleh mencari perkara karena masih membutuhkan bantuan mereka dalam pekerjaan. Lagi pula, saya rasa sebagai seseorang yang lebih bermartabat dari dia, saya lah yang harus bisa bersikap tenang dan terpelajar. Walaupun saya heran setengah mati, bagaimana bisa seorang pegawai pelayanan public berusia seperti dia bisa melontarkan perkataan sangat tidak sopan seperti itu. Menurut saya, diusia dia yang 40 something itu, dia sudah harus bisa bersikap dengan bijaksana dan bukannya tidak beretika seperti itu. Dia tentunya adalah seorang kepala keluarga, suami dari istri, serta bapak dari anak-anak kan? Seharusnya dia bersikap sesuai dengan umurnya dan memberikan contoh yang baik.
Serius. Sudah pernah saya katakaan, mengatakan seseorang bodoh itu sangat tidak sopan. Apalagi jika dikatakan oleh seorang pegawai pelayanan public yang tengah menjalankan tugasnya untuk melayani masyarakat. Bahkan nih ya, dosen penguji Tesis saya saja yang sudah Prof. Dr. SH. Msi. tidak pernah mengata-ngatai saya bodoh, walaupun beliau terlihat agak putus asa mendengar jawaban ujian tesis saya saking ngawurnya saya menjawab. Itu menunjukan, walau sebenarnya dalam lubuk hatinya dia menilai saya bodoh, dia tetap bermartabat dan menghargai saya dengan tidak melontarkan kalimat yang menyakitkan dan tidak tepat diucapkan.
Oke, kembali lagi kepada si bapak yang mengata-ngatakan saya stupid. Setelah saya berusaha meredam emosi, saya kembali mengajukan beberapa pertanyaan yang masih saya butuhkan untuk dijawab. Si bapak ini -yang sebenarnya cakep kalau saja dia bersikap sopan- memasang tampang kesal dan menjawab asal-asalan : “Ya sudah terserah mau kamu saja apalah. Saya toh nggak dapat apa-apa.”
???????????????????????????????
Baca : ANOTHER WHAT THE HELL.
Apa-apaan ini ya? Bukannya menjawab pertanyaan saya dia malah mengatakan kata-kata lainnya yang tidak sopan seperti itu. Damn! Ini sih keterlaluan namanya. Dan apa maksud perkataan terakhir dia “saya juga nggak dapat apa-apa”? Oooooo, saya tidak berani menerka-nerka karena nantinya akan menjadi fitnah. Tapi tetap saja. Itu bukan perkataan yang tepat dikatakan oleh seseorang berusia berperti dia yang tengah menjalankan tugasnya melayani masyarakat.
Saya masih bisa bersabar mengahadapi hal ini. Ya iyalah, namanya juga orang butuh. Ya, terus terang saya akan selalu membutuhkan dia karena dia berkaitan dengan pekerjaan saya. Tapi ternyata sikap sabar saya itu tidak diperlukan. Karena bagian paling tidak sopan dari tindakannya adalah tiba-tiba saja dia berdiri dan membuka pintu ruangannya sambil berkata  : “Saya paling malas berhubungan dengan konsultan hukum, jangan lama-lama lah.” Dia menyuruh kami keluar dari ruangannya dengan isyarat tangan dan berkata pada antrian selanjutnya : “Siapa berikutnya.”
????????????????????????????????????????????
Baca : ANOTHER WHAT THE HEEEELLLLLLLLLLLLLLLLLL, AGAIINNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Beneran nih saya diusir?
Diusir oleh pelayan masyarakat yang harus melayani masyarakat?
Apa-apaan ini ya?
Yang lebih mengherankan adalah, ditengah emosi jiwa yang sudah diubun-ubun itu, saya masih bisanya-bisanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada dia. Thank’s to John Robert Power atas anger management yang diajarkan saat saya bersekolah di sana. Sangat membatu saya dalam mengkamuflase amarah saya menjadi lebih bertabat. Setidaknya dengan tetap tersenyum dan mengucapkan terimakasih saya berhasil menunjukan kepada orang itu bahwa saya jauh lebih bermartabat dan TERPELAJAR dari pada dia yang mengata-ngatai saya stupid.
Setelah keluar dari ruangannya, saya dan rekan kerja saya ini tentu saja langsung marah-marah dan mengumpat-umpat orang ini. Yah, setidaknya kita melakukannya tidak dihadapan dia kan? Sebagai manusia wajar kita merasa kesal diperlakukan dengan sangat tidak sopan seoerti itu. Tapi sebenarnya yang membuat saya marah bukannya bagaimana dia mengatakan saya stupid, bukan karena kata-kata tidak sopannya, bukan karena dia mengusir saya, tapi lebih karena fakta bahwa dia adalah seorang pelayan public yang seharusnya memang bekerja untuk melayani public.
Saya jadi memikirkan kejadian-kejadian yang pernah saya alami dengan pegawai pelayanan public lainnya. Beberapa kali saya memang kecewa dengan kualitas dari pegawai pelayanan public, mulai dari mereka tidak menguasai bidang mereka, jam kerja siluman mereka, sampai dengan susahnya mereka untuk ditemui. Memang tidak semuanya sih seperti itu, tapi seringnya saya mengalami hal mengesalkan seputaran ini membuat saya jadi berpikir, kenapa bisa mereka yang digaji untuk melayani public dengan uang Negara melakukan pekerjaan dengan setengah-setengah seperti itu?
Karena pekerjaan saya sebagai “kacung hukum” memang mengharuskan saya menggelinding dari satu instansi pemerintahan ke instansi pemerintahan lainnya, saya memang sering mengalami pengalaman pahit seputar para pegawai pelayanan public ini. Yang sering terjadi saat sedang melakukan konsultasi, mereka terlihat bingung menjawab dan tidak menguasai bidang pekerjaan sendiri. Jawaban yang paling sering saya dengar adalah : “Nanti saya koordinasikan dulu dengan rekan dan atasan saya dan kami kirim jawaban secara email, atau mbak bisa datang ke sini lagi besok”.
Waw! Memang sih, kita tidak bisa mengharapkan mereka mengetahui semua permasalahan yang kita tanyakan. Sama halnya dengan dosen, terkadang mereka tidak bisa selalu menjawab semua pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswanya. Tapi kalau itu memang bidangnya dan mereka tidak tahu menahu sama sekali, kan ya jadinya lucu juga. Apalagi nih ya, setelah ditunggu-tunggu hingga rambut memutih, jawaban via e-mail mereka nggak kunjung diterima juga. Datang ke sana pun terkadang mereka sudah sulit untuk ditemui. Benar-benar butuh kesabaran dan perjuangan untuk bisa mendapatkan jawaban yang akurat dari mereka.
Nah, yang paling bikin sebal adalah kalau mereka sulit banget dicari. Kalo dicarinya kepagian, pada belum datang. Kalau dicarinya kesiangan, pada pergi makan siang (padahal sebenarnya masih belum jam makan siang) dan kalau dicarinya kesorean pada udah pulang semua. Ada juga yang nggak mau menemui kalau belum bikin janji melalui telepon, padahal kalau nomer yang diberikan ditelepon, sering tidak nyambung dan nggak pernah diangkat. Ada juga yang nggak mau memberikan konsultasi kalau nggak pake surat resmi yang dikirimkan beberapa hari sebelumnya. Dan ada pula yang untuk bertemu dia harus nunggu berjam-jam, padahal saat diintip dia lagi nggak ngapa-ngapain dan sedang asyik mainan facebook. Lha da la, kok susah men ya mau minta bantuan dari para pegawai pelayanan public ini? Bikin gregetan.
Nggak semuanya seperti ini sih. Ada juga beberapa yang memberikan pelayanan dengan sangat baik. Mulai dari keakuratan jawaban yang mereka berikan, pemahaman yang baik tentang bidang mereka, mudahnya mereka untuk ditemui, hingga keramah-tamahan mereka dalam memberikan pelayanan. Para pelayan public seperti ini patut diacungin jempol dan Negara juga nggak rugi menggaji mereka dalam jumlah yang besar. Kalau saja semua kantor pelayanan public bisa sebagus itu, tentunya Negara ini bisa cepat maju. Sayangnya kenyataan yang saya temukan dilapangan masih lebih banyak para pelayan public yang sangat mengecewakan dalam memberikan pelayanan.
Beberapa saat setelah itu, saya sempat mengobrol melalui BBM dengan Baron, mantan teman kuliah saya dulu yang saat ini kebetulan bekerja sebagai pelayan public juga. Saya menumpahkan unek-unek saya dan dia mendengarkannya dengan sabar dan beberapa kali diselingi dengan tawa pengertian. Well, kalau dia sih, saya yakin akan kualitas dan kemampuan dirinya. Jadi dia bukan salah satu orang dari para pelayan public yang tidak bertanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya. Saya yakin teman saya yang satu ini adalah salah satu tumpuan rakyat untuk membawa perubahan bagi bangsa ini.
Lalu saya teringat bahwa banyak dari teman-teman saya yang juga bekerja dibidang pelayanan public. Kalau dari segi kualitas, saya tidak meragukan kehandalan dan kapasitas diri mereka, karena dari segi pendidikan dan kemampuan, saya yakin mereka adalah generasi muda yang diharapkan untuk menjalankan roda pemerintahan ini. Yang menjadi masalah, apakah rekan-rekan saya ini mampu untuk tetap mempertahankan kualitasnya dan meningkatkannya menjadi lebih baik, bukannya terpengaruh oleh lingkungan sekitar dan mengakibatkan menurunnya kualitas diri mereka? Dan seharusnya, mereka harus mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya agar menciptakan pelayanan public terbaik bagi negaranya. Karena jika bukan ditangan para muda-mudi ini, kapan lagi Negara kita bisa berubah kearah kebaikan? Muda-mudi kan harapan masa depan bangsa.
Harapan saya sih sama dengan harapan rakyat pada umumnya : Hei para pelayan public, jalankanlah pekerjaan yang telah Negara serta rakyat amanatkan kepada kalian dengan baik dan benar. Roda pemerintahan dan kelangsungan Negara ini bergantung pada kinerja kalian. Jangan kalian membuat uang Negara yang berasal dari jerih payah rakyat terbuang dengan sia-sia. Jangan sampai lagi ada perkataan : “Jam segini udah pulang?”, “Jiah, apaan tuh jawab beginian aja nggak tau!”, “Mata duitan banget sih, ngurusin beginian doang minta duit!”, “Gaji aja yang gede, kerjaan cuma jalan-jalan dan nggak pernah di tempat!”. Nah lho, kalau rakyat aja udah mencap kalian dengan sedemikian jeleknya, bagaimana mereka bisa mempercayai dan member rasa hormat kepada kalian.
Ayo teman-teman, kalian mampu kok merubah citra buruk para pelayan public sebelumnya. Kualitas otak dan kepribadian kalian kompeten untuk itu. Saya meyakininya itu, begitu pula rakyat yang lainnya. Jangan kecewakan kami ya teman-teman.
Cheers untuk Negara kita tercinta

Postingan Populer