Puisi Tanpa Puisi
Apalah arti satu, dua dan tiga,
Saat empat, lima, dan enam,
Kehilangan tujuh, delapan dan sembilan.
Tidak mungkin akan ada hari esok,
Bila hari ini tanpa kemarin.
Dan kemarin hanyalah kemarin.
Hati baja, kepala batu.
Aku larut dalam pekatmu
Bunuh aku, bunuh aku.
Tatap aku dan ambil nafasku.
Dekap aku dan tikam jantungku.
Tidak kah Tuhan memberitahumu?
Kegigihan itu,
Tekad itu,
Kepala batu itu,
Melumpuhkan aku.
Menenggelamkan aku.
Dalam sesuatu yang tidak dapat aku simpulkan.
Aku menghitung.
Satu, dua, tiga, empat, lima...
Lalu aku melupakan enam, tujuh dan delapan.
Lalu aku meninggalkan sembilan.
Peduli apa?
Hanya satu,
Yang pertama. Selalu utama.
Kemarin hanyalah kemarin.
Hari ini telah berakhir.
Peduli apa?
Aku mau esok dan lusa.
Dan keesokan harinya,
Dan keesokan harinya.
Tatap aku, tatap aku.
Bunuh aku dalam doamu.
Siksa aku dalam lagumu.
Aku telah mati.
Aku telah tidak bernyawa.
Dalam sesuatu yang tidak dapat aku simpulkan.
Satu, dua, tiga...
Empat, lima, enam...
Tujuh, delapan, sembilan...
Hati baja, kepala batu.
Aku larut dalam pekatmu.
Lalu ku tuliskan puisi ini.
Lalu ku hapus judulnya.
Lalu ku baca berulang kali.
Habis nafasku.
Hilang akalku.
Aku larut dalam pekatmu di benak ku.
