A Tribute For Our Beloved Friend



Hari ini kami, anak-anak papua, kami anak-anak lembah balim, berduka. Kami kehilangan saudara, sahabat, teman, kakak, adik kami, yang sangat kami kasihi. Rasanya tidak percaya bahwa dia telah pergi selamanya. Rasanya baru kemarin kami menghabiskan masa-masa kecil bersama, membagi perjalan hidup dan suka cita. Rasanya baru kemarin saat dia mengirimkan kalimat-kalimat bbm lucu dan menuliskan status bodoh di facebooknya.

Kita memang tidak pernah tau berapa lama umur kita. Berapa panjang waktu kita dibumi. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita. Kapan kita harus meninggalkan semua yang kita kasihi di dunia fana ini. Hidup memang singkat, sepanjang apa pun waktumu di bumi. Terlalu singkat. Sangat amat singkat. Sehingga kepergian orang-orang yang kita kasihi terasa bagaikan ledakan bom dalam hitungan detik. Lalu kita berduka. Lalu kita menangis. Lalu kita menyesal. Lalu kita berandai-andai.

Kehilangan memang sesuatu yang menyakitkan. Menyedihkan. Terasa kelam, gelap, dan pekat. Bahkan saya pun menuliskan ini dengan berlinang air mata. Namun bagian terbaik dari kehilangan seseorang adalah kita tidak akan lagi mengingat hal-hal buruk mengenainya. Semua memori yang melintas di pikiran kita hanyalah kenangan yang rasanya indah. Seburuk apa pun itu rasanya masih lebih indah dibandingkan dengan kenyataan pahit kehilangannya.

Dan itu lah yang akan kita kenang dari dirinya, saat-saat indah, momen-momen bahagia, waktu-waktu dimana orang tersebut masih bersama dengan kita. 

Sahabat kami tercinta ini memiliki tempat khusus dihati kami semua. Well, umumnya persahabatan anak-anak lembah baliem memang abadi dan tidak terkikis oleh waktu dan jarak. Masa kecil yang kami habiskan bersama, saat-saat yang kami lalui bersama, semua membentuk ikatan persahatan yang begitu indah. Tak terhitung banyaknya sahabat saya dari lembah baliem yang masih menyayangi saya walau kita terpisahkan oleh ratusan kilo jarak dan bahkan hampir tidak pernah bertemu belasan tahun lamanya. Namun hati kami yang telah kami ikat bersama dalam noken selalu mendekatkan kami satu sama lain. Bisa dikatakan persahaban kami abadi. Coba saja tanyakan kepada anak-anak lembah baliem yang lainnya.

Kakak kami tercinta ini begitu pemurah, begitu baik hatinya, begitu ramah dan bersahabat. Dia bagaikan kecintaan warga Wamena. Pintar, tampan, baik hati. Rasanya dia selalu baik hati pada setiap orang. Setau saya, dulu dia digilai begitu banyak anak permpuan dan begitu disayangi oleh para orang tua. Hahaha, dulu saya suka memalak dia untuk membelikan saya ice cream. Apalagi karena jaman SMP dulu dia pernah berpacaran dengan kakak cewek saya, rasanya saya memiliki hak istimewa sebagai adik ipar dan berhak untuk memalak dia.

Saya ingat saat-saat dimana kami menjadi putra altar (misdinar) bersama. Dia suka memasang tampang-tampang lucu untuk membuat saya tertawa, yang mana tertawa merupakan pantangan bagi putra altar yang sedang bertugas melayani misa di gereja. Alhasil, setelah misa selesai, pastor yang memimpin misa kami akan menceramahi saya mengenai disiplin saat tengah malayani misa. Dulu saya akan kesal setengah mati akan hal itu. Namun kenangan tersebut sekarang terasa lucu dan menyenangkan.

Saya ingat dengan jelas saat-saat dia menjadi pelatih pramuka kami. Awww, dia nakal sekali. Saat acara perkemahan dan kami  tengah tertidur lelap, dia akan menyelinap ke tenda-tenda kami dan mengoleskan muka kami dengan arang. Alhasil kami terbangun dengan muka coreng-moreng dan hitam legam. Terkadang yang dia gunakan untuk mencoret muka kami adalah pasta gigi. Cukup membuat muka kami pedih sebenarnya. Tapi siapa yang bisa marah pada orang sebaik dia?

Suatu malam saat sedang berkemah dan saya terbangun dari tidur, saya mendengar dia sedang memainkan gitar sambil bernyanyi di luar tenda saya. Saya keluar dan bertanya : “Kaka, kenapa belum tidur.” Dan dia tersenyum sambil menjawab, “Adik-adik kaka sedang tidur, jadi kaka harus jaga.” Belakangan, saya tahu dari kakak cewek saya, kalau kakak saya itu yang meminta dia untuk menjaga saya selama perkemahan berlangsung. Yes, he just so kind.

Saya juga teringat masa-masa dimana saya membuntuti dia dan kakak cewek saya saat tengah pacaran. Biasanya seusai misa gereja, mereka akan pulang dengan berjalan kaki bersama. Dasar nasib jadi anak kecil, saya ditinggalkan dan disuruh tidak boleh dekat-dekat mereka supaya mereka bisa pacaran. Hahaha. Konyol. Tapi indah. Dan mengesankan. Rasanya masih kemarin saat saya melihat mereka berjanji untuk bertemu dibawah lonceng gereja, tersenyum malu-malu satu sama lain dengan rona muka memerah, hanya terdiam, namun saya yakin hati mereka saling berkacap-cakap.


Lonceng Gereja Kristus Jaya Wamena yang Penuh Kenangan
Photo by : Florry Koban

Terkadang saya menjadi tukang pos dengan mengantarkan titipan surat dari mereka. Buset, udah seperti merpati pos saja saya ini. Wira-wiri mengantarkan amplop wangi berisikan surat cinta anak SMP ingusan. Tapi herannya, saya kok juga mau ya diperbudak sama mereka. Ada kejadian lucu dimana salah satu surat dia terbaca oleh saya dan kakak cowok saya (usil banget sih kita ini). Disitu kami tertawa terbahak-bahak karena dia nggak bisa menuliskan kata “nggak” dengan benar, alih-alih menjadi kata “nga”. Semenjak saat itu, kakak cowok saya memanggil dia dengan sebutan si-Nga.

Kenangan yang paling melekat diingatan saya adalah saat dia datang ke Malang pada acara sakramen krisma saya dan kakak cewek saya ditahun 2003. Saat itu kami semua telah terpisah dari kota Wamena untuk melanjutkan studi masing-masing. Dia melanjutkan kuliah di Bandung sementara saya dan kakak saya di Malang. Dia dan kakak saya pun sudah putus, namun masih bersahabat baik. Mungkin itu momen kebersamaan kami yang terakhir, karena sesudahnya saya tidak pernah bertemu dia dalam kurun waktu yang lama.

 Dari Kiri : saudara sepupu almarhum, almarhum, kakak perempuan saya, dan saya.


Saat ini kakak cewek saya telah menikah dengan pria lain yang  dicintainya. Dan dia pun telah memiliki pacar yang cantik dan hebat. Namun semua kenangan yang pernah kami lalui bersama membentuk ikatan persahabatan yang kekal, yang bahkan tidak akan hilang dengan kepergiannya ke rumah Bapa. Saya masih berharap dia memiliki waktu lebih banyak lagi di bumi ini. Saya ingin melihat dia menikah, bahagia, memiliki anak, lalu menjadi tua dan buncit bersama kami. Namun Tuhan punya rencana lain yang jauh lebih indah untuknya, bukan?

Beberapa saat setelah menerima kabar kepergian dia, salah seorang kakak kelas saya yang juga akrab dengannya, kak Florry Koban, mengirimkan pesan kepada saya. Kami bercakap-cakap mengenang masa kecil kami dulu bersama di lembah baliem yang sangat kami cintai. Tentang boneka Twetty, tentang jaket kuning kesayangan saya. Oohhh, rasanya itu masih kemarin. Kak Florry mengatakan bahwa masa-masa itu adalah masa terindah dalam hidupnya, yang saya juga setujui sebagai saat-saat paling berkesan dalam hidup saya.   

Hidup itu singkat. Sangat singkat. Terlalu singkat. Setiap kepergian orang yang saya kasihi selalu mengingatkan saya tentang betapa berharganya kehidupan ini. Tentang bagaimana saya harus selalu menghargai dan memanfaatkan setiap nano detik nafas yang Tuhan anugerahkan kepada saya. Tentang bagaimana saya harus membahagiakan orang-orang yang saya kasihi. Agar pada saatnya saya diapanggil, pada saatnya orang-orang yang saya kasihi dipanggil, tidak ada penyesalan dan kesedihan lagi. Yang ada hanyalah kenangan indah yang tertinggal.

Ingatlah orang-orang terkasih anda, kekasih anda,  suami dan istri anda, orang tua anda, anak-anak dan saudara anda, sahabat-sahabat lama dan teman baru anda. Kapan kah terakhir kali anda membahagiakan mereka? Kapan terakhir kali kalian membagi kasih sayang kepada mereka? Jika anda lupa karena sudah terlalu lama berkubang dalam keegoisan diri sendiri sehingga mengesampingkan mereka, mulailah kembali untuk membagi cinta kasih dengan mereka, di mulai dari sekarang. Angkat telpon anda, telpon lah mereka. Buka Blackberry anda dan bbmlah mereka. Belikan bunga kesukaan istri anda. Masaklah masakan kesukaan suami anda. Kunjungilah oran tua anda. Lakukan lah hal-hal tertunda yang belum anda lakukan sekarang.

Ingatlah, kita tidak pernah tau kapan umur kita akan berakhir. Buatlah hidup ini menjadi berarti tiap detiknya bersama mereka. Sedih, senang, marah, kecewa, semuanya kita nikmati.

Selamat jalan kakakku sayang, terimakasih untuk semua kebaikan dan kenangan indah bersama kami. Kami akan merindukan mu. Itu pasti. Kami tidak akan berbohong dengan mengatakan kami tidak akan merindukanmu. Semoga semua keluarga dan orang yang menyayangi kakak bisa ikhlas dan tabah menerima kepergian kakak. Tidurlah dalam damai. Suatu saat nanti kita semua akan berkumpul kembali di rumah Bapa.

I will sing you this song, hope you can hear from above.

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me.
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see.

T'was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
The hour I first believed.

Through many dangers, toils and snares
I have already come;
'Tis Grace that brought me safe thus far
and Grace will lead me home.

Postingan Populer