Monster


Sungguh terlalu lama
Aku hanya takut tak sampai waktuku
Aku takut tak cukup masaku
Saat semuanya menjadi terlalu bertele-tele dan berkepanjangan.

Seolah penaku hanya mencorat-coret halaman yang sama
Karena saat aku membalikan halaman buku tulisku,
Kau, si Monster biadab, datang dan menghembuskan nafas baumu
Untuk mengembalikan halaman bukuku ke halaman yang sama.

Berulang-ulang.
Berkali-kali.
Hingga aku muak dan menghujat segala hal.

Sialan kau Monster!

Kilasan-kilasan masa depan berkelibat
Buruk menjadi indah
Indah menjadi buruk
Terbolak-balik, bergonta-ganti.
Seakan hidup ini tak pasti.
Seakan memang tak ada yang pasti.

Membingungkan.
Mengkhawatirkan.

Lalu apakah arti 'penglihatan' ini?
Anugerah ataukah bencana?

Sangat amat terlalu lama.
Bagaikan suatu penantian yang tidak kunjung berakhir.
Satu menghambat lainnya.
Satu menahan lainnya.
Lalu berhentilah semuanya.

Sialan kau Monster!

Padahal kau sama sekali tidak mengerti kerasnya perjuanganku.
Berat langkahku dan terjal jalanku,
Hingga yang bisa aku lakukan hanya mengasihani dan mendermakan diri sendiri.

Lalu apakah citra diri ini jadinya?

Pengemis kah aku ini?
Pemaksa kehendak kah aku ini?
Setan alas egois?
Malaikat penuh kesabaran?

Lalu apa harkat diri ini jadinya?

Dewi Savitri yang penuh kecerdikan kah aku ini?
Atau kah Dewi Shinta yang penuh kesetiaan?

Hidup ini hanya 26 tahun lamanya
Namun seolah bagaikan 260 tahun lamanya
Aku lelah dan menua
Dalam semua penantian-penantian sia-sia
Dan tak ingin penantian-penantian lainnya menjadi percuma dan sia-sia.

Bekerjasamalah
Bermurah hatilah
Agar kombinasi kecerdikan dan kesetiaan ini berbuah baik.

Aku tidak ingin habis waktu ku
Aku tidak ingin tak sampai waktu ku
Bertelut aku
Berlutut aku

Telan keinginanmu akan hancurnya dunia
Tutuplah dengkimu akan emas rambutku

Sialan kau Monster!

Sudah lah.
Biarkan saja ini berjalan.
Jangan persulit, jangan perpanjang.
Seharusnya kau menjadi sekutuku, bukan musuhku.

Postingan Populer