I'm Living With OCD




Saya beberapa kali mendengarkan percakapan orang yang merasa (dan bahkan mengklaim) bahwa diri  mereka menderita Obsesif-kompulsif Disorder (OCD).  Dan dari hasil pengamatan saya selama bertahun-tahun, saya juga melihat bahwa begitu banyak blogger yang menuliskan tentang kecenderungan mereka menderita OCD. Well, saya hanya tersenyum saja karenanya. Mereka kok mau ya menjadikan diri mereka OCD? Atau malah berharap diri mereka OCD?

Saya salah satu orang yang menderita OCD akut. And believe me, you don’t want to live with this OCD.

Bagi yang belum familiar dengan istilah ini, Obsesif-kompulsif Disorder atau OCD adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan pikiran mengganggu yang menghasilkan kegelisahan, ketakutan, atau khawatir, yang menghasilkan perilaku berulang atau kombinasi dari obsesi dan dorongan yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan. Gejala gangguan tersebut meliputi mencuci berlebihan atau membersihkan; pengecekan berulang; penimbunan ekstrim; keasyikan dengan pikiran seksual, kekerasan atau agama; keengganan untuk nomor tertentu, dan ritual tertentu seperti membuka dan menutup pintu sejumlah beberapa kali sebelum memasuki atau meninggalkan ruangan.

Gejala ini dapat mengasingkan dan memakan waktu, dan sering menyebabkan gangguan emosi dan keuangan yang parah. Tindakan orang yang memiliki OCD dapat munculkan paranoid dan berpotensi psikotik . Namun, penderita OCD umumnya mengakui bahwa tindakan obsesi dan kompulsi mereka sebagai tindakan tidak rasional, dan mungkin menjadi lebih tertekan dengan realisasi ini. OCD kadang-kadang dikaitkan dengan rata-rata kecerdasan. Penderita sering berbagi ciri-ciri kepribadian seperti perhatian yang tinggi terhadap detail, menghindari risiko, perencanaan yang matang, rasa tanggung jawab berlebihan dan kecenderungan untuk mengambil waktu dalam mengambil keputusan.

Selain kecemasan dan ketakutan yang biasanya menyertai OCD, penderita mungkin menghabiskan berjam-jam melakukan dorongan tersebut setiap hari. Dalam situasi tersebut, akan sulit bagi orang untuk memenuhi pekerjaan mereka, keluarga, atau peran sosial.

Tipe-tipe dalam OCD

  1. Washer or Cleaner : Orang yang memiliki ketakutan irasional terkontaminasi kuman, sehingga secara kompulsif akan berusaha menghindarkan diri dari kontaminasi tersebut, misalnya selalu membersihkan diri. Walaupun sudah berkali-kali mencuci, ia tidak kunjung merasa aman.
  2. Checkers: Orang yang terobsesi untuk selalu memeriksa. Penyebabnya adalah kecemasan yang irasional. Misalnya, bila ia tidak mengecek berulang kali (oven dimatikan, pintu terkunci, dll) dia merasa bahaya mengintai setiap saat dan bisa mencelakasi diri dan sekelilingnya. Jika hal buruk tersebut terjadi, maka ia menganggap dialah orang pertama yang harus disalahkan.
  3. Doubters and sinners: Merupakan orang yang memiliki perasaan obsesif dan intruktif, bahkan terkadang menakutkan jika dirinya tidak melakukannya maka akan mengakibatkan kemalangan atau kecelakaan.
  4. Orderers: Merupakan orang yang fokusnya mengatur segala sesuatu agar tepat pada tempatnya. Mereka akan menjadi sangat tertekan apabila benda-benda tersebut dipindahkan, dipegang, atau ditata dengan orang lain. Mereka mungkin memiliki takhayul tentang angka tertentu, warna,atau pengaturan.
  5. Hoarders: Merupakan orang yang senang mengumpulkan barang-barang yang tidak berharga. mereka takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika mereka membuang apa pun.


Nah ini dia yang banyak disalah artikan oleh orang awam. Mereka dengan serta merta langsung menganggap dirinya mengidap OCD hanya karena sering lupa mengunci pintu sehingga harus berkali-kali mengecek kembali. Atau mereka langsung  melabeli diri dengan OCD karena memiliki kecemasan tertentu dan gemar mencuci tangan. Padahal seseorang tidak bisa dikatakan menderita OCD hanya karena dia terbiasa mengecek pintu berkali-kali atau gemar mencuci tangan berkali-kali, karena OCD jauh lebih rumit dan merepotkan dibandingkan kegiatan mengecek pintu berkali-kali. Tindakan mengecek pintu berkali-kali walaupun merupakan kompulsi dalam taraf rendah, namun hanya berbasis pada kebiasaan. Selain itu untuk memastikan anda benar-benar menderita OCD atau tidak, dibutuhkan konsultasi dan pemeriksaan psikiater yang melibatkan banyak test dan pertanyaan membingungkan.

Semenjak umur 4 tahun saya sudah menunjukan tanda-tanda OCD, walaupun orang tua saya sama sekali tidak menyadarinya. Mereka berpikir bahwa kelakuan “aneh” saya hanyalah akibat dari sifat perfeksionis saya. Sebelum didiagnosa mengidap OCD, sebenarnya saya sudah mengerti bahwa ada sesuatu yang salah pada diri saya, namun saya tetap melakukan riual-ritual saya untuk menciptakan rasa puas dan aman pada diri sendiri.

Tanda-tanda awal OCD saya muncul dari perilaku saya yang begitu terobsesinya pada kerapian. Saya tidak akan beranjak dari depan cermin jika ikatan rambut saya belum rapi, yang sebenarnya menurut orang lain sudah rapi. Tapi saya punya standar tersendiri mengenai rambut yang terikat rapi, yaitu garis rambut tidak boleh berbelok sedikitpun dan tidak boleh ada gelombang pada ikatan rambut. Saya tidak akan berangkat sekolah apabila belum yakin bahwa ikatan rambut saya telah rapi. Ini sangat menjengkelkan bagi mama saya yang setiap pagi mengikat rambut saya sebelum ke sekolah. Kami bisa bertengkar hanya karena menurut saya mama tidak mengikat rambut saya dengan benar dan rapi.

Saya juga terobsesi pada keinginan untuk selalu mengatur dan menyusun benda-benda tertentu. Saya bisa berjam-jam mengatur miniature rumah Barbie atau menyusun puzzle tanpa melakukan aktifitas lainnya (tidak merasakan lapar, haus, ngantuk ataupun keinginan buang air). Jika anak 6 tahun seusia saya bermain puzzle dengan ukuran 60 potong, maka saya mampu untuk menyusun puzzle dengan ukuran 1000 potong yang sebenarnya di design untuk orang dewasa. Benda-benda yang saya miliki selalu saya atur berdasarkan ukuran (dari besar hingga ke kecil) dan warna (mengatur barang sewarna dengan warna pelangi), dan itu pun harus dikelompokan sendiri-sendiri / tidak boleh tercampur. Misalnya jika saya menyimpan koleksi rautan pensil saya dalam satu rak, maka saya tidak mau ada benda lainnya di dalam rak itu kecuali rautan pensil.

Semakin bertambah umur, perilaku OCD saya semakin berkembang. Saya mulai membenci angka-angka genap. Obsesi saya adalah pada angka 1 (karena saya selalu ingin juara 1 dan akan frustasi bila tidak mendapatkan peringkat pertama di kelas), 3 (karena saya adalah anak ke-3), 5 (karena jumlah keluarga saya 5 orang), dan 7 (karena 7 adalah angka keberuntungan). Dalam segala tindakan saya selalu menghindari angka-angka genap seperti 2, 4 & 6 (saya sangat membenci angka 4 karena ketakutan akan memiliki adik lagi sehingga menjadikan jumlah keluarga saya menjadi 6).

Dalam melakukan aktifitas saya selalu berhitung; saya menghitung langkah yang saya ambil, anak tangga yang saya naiki/turuni, tarikan nafas saya dalam kurun waktu tertentu, bahkan saya mengitung saat tengah menadah air dari keran ke dalam panci (saya akan mematikan keran pada hitungan ke-sepuluh, lalu kembali menghitung dari awal). Semua itu didasarkan pada keyakinan bahwa jika saya berhenti menghitung maka kehidupan saya akan menjadi salah.  Saya bahkan hanya mau berjalan pada satu garis lurus pada kotak-kotak lantai.

Perilaku lainnya adalah saya selalu menahan nafas apabila melalui kuburan, melewati rumah duka/iring-ringan jenazah. Saya merasa apabila saya bernafas maka kesialan dari orang meninggal itu akan terhisap oleh nafas saya sehingga keluarga saya akan ikut menerima kemalangan dan kematian. Kalau pun saya terpaksa harus menarik nafas karena tidak tahan lagi menahan nafas, maka saya akan menghembuskan nafas ke arah yang berlawanan dengan kuburan/rumah duka/iring-iringan jenasah dengan maksud membuang sial.  Dan saya memiliki ketakutan apabila orang yang tidur disebelah saya akan meninggal saat tengah terlelap. Karenanya saya selalu memeriksa tarikan nafas orang tersebut dan memastikan dia baik-baik saja.

Perilaku berulang selalu saya lakukan dalam hitungan 10 yaitu mengunci pintu sepuluh kali, menutup pintu sepuluh kali, mematikan lampu sepuluh kali. Jika tidak sampai sepuluh kali, saya merasa bahwa akan ada bahaya mengintai saya. Ini seringkali membuat saya terlambat dan sangat mengganggu orang lain. Saya sering terpaksa pulang hanya untuk memeriksa apakah telah mematikan lampu. Setelah mengecek sepuluh kali maka perasaan saya akan tenang.

Saya juga sangat terobsesi pada kebersihan sepatu dan benda-benda milik pribadi. Saya akan selalu membersihkan sepatu bahkan saat tidak kotor sekali pun. Dan apa bila ada yang tidak sengaja menginjak sepatu saya, saya akan sangat marah dan merasa frustasi. Barang-barang pribadi merupakan property yang sangat saya hargai. Oleh karena itu saya tidak rela dan merasa merana apabila barang-barang milik saya disentuh dan dipinjam orang lain. Bila saya meminjamkan sesuatu kepada orang lain, saya harus benar-benar meyakinkan diri bahwa benda itu tidak akan kenapa-kenapa. Demikian pula suatu benda yang telah saya letakkan pada suatu tempat tidak boleh digeser apalagi dipindahkan ke tempat lain oleh orang lain. Hanya saya yang berhak untuk memindahkannya. Itu pun jika hendak saya pindahkan, harus berdasarkan pertimbangan kesimetrisan dan unsur kepatutan tata letak menurut standar saya sendiri.

Saya beranggap bahwa barang-barang saya tersebut memiliki nyawa sehingga harus dilindungi. Benda-benda tersebut sering pula saya ajak bicara dan saya namakan layaknya manusia. Ada saat-saat dimana saya merasa barang-barang tersebut begitu lucu dan menawan sehingga bisa membelai dan mengamatinya selama berjam-jam. Terutama mobil. Hingga saat ini saya masih sering berbicara dengan mobil saya karena merasa bahwa dia hidup. Dan cara berbicara saya kepada Red Lady (nama mobil saya sekarang) benar-benar layaknya mobil saya itu adalah manusia. Saya bisa duduk berjam-jam di dalam Red Lady sambil menceritakan sesuatu kepadanya selayaknya dia itu sahabat saya. Mengerikan ya?

Semakin bertambah umur, perilaku OCD saya semakin berkembang. Saya mulai terobsesi pada warna putih, biru muda yang hampir menyerupai putih, dan warna merah muda yang hampir menyamai warna putih. Oleh karena itu, baju milik saya hampir semuanya berwarna demikian. Saya membenci warna hitam karena menurut saya itu warna kesialan. Oleh karena itu saya bahkan membenci malam hari yang berarti kegelapan dan hitam. Saat malam hari saya akan menyalakan sebanyak mungkin lampu untuk mengusir warna hitam.

Karena dianggap aneh selalu mengenakan warna putih, saya mulai bisa mentolerir penggunaan warna lainnya asalkan senada dengan apapun yang saya pakai. Misalnya saya memakai baju merah, maka sepatu, tas ataupun pakaian dalam saya harus berwarna senada. Bila tidak maka saya akan gelisah seharian dan tidak sanggup untuk berkonsentrasi. Kalaupun saya menggunakan dua warna, maka kedua warna ini juga harus matching dengan benda-benda lainnya yang saya gunakan. Kebiasaan ini membuat teman saya memanggil saya dengan sebutan miss matching, tanpa mereka ketahui kalau saya memang pengidap OCD.

Obsesi saya pada kerapian dan keteraturan mulai berkembang pada taraf yang mengkhawatirkan, karena saya semakin memperhatikan detail sehingga orang-orang memanggil saya Master of Detail. Saya bisa semalam suntuk duduk didepan lemari baju hanya untuk mengatur baju dengan sangat rapi. Walaupun orang biasa akan mengatakan bahwa lemari saya telah rapi, saya tidak akan mempercayainya dan akan membongkar semua isinya lalu kembali mengatur lagi dari awal. Ini melelahkan dan merepotkan. Terkadang saya menangis berjam-jam di depan lemari pakaian saya karena menurut saya lemari itu begitu berantakannya dan sangat memusingkan untuk dilihat.

Semua barang saya harus berada dalam kondisi rapi dan teratur. Barang dan ruangan yang berantakan akan membuat kepala saya pusing sehingga saya akan mudah marah dan merasa frustasi. Oleh karena itu saya akan selalu merapikan rumah dahulu sebelum belajar, karena kondisi ruangan yang rapi mempermudah saya untuk berkonsentrasi. Tentu saja ini membuat keluarga saya sebal dan kesal. Setiap hari pertengkaran dirumah hanya mengenai kerapian dan keteraturan. Mereka muak akan perilaku saya, sementara kami sama-sama belum mengerti kalau saya sebenarnya mengidap OCD. Mereka menganggap saya aneh.

Keteraturan dan kerapian ini tidak hanya atas sesuatu yang berbentuk nyata saja. Saya bahkan terobsesi pada keteraturan dan kerapian di dunia maya. Saya bisa tidak tidur hanya untuk mengatur dan memastikan halaman Friendster, Facebook, Lookbook atau Blog saya berada dalam kondisi teratur dan rapi. Obsesi saya akan keteraturan juga membuat saya kecanduan bermain The Sims serta Sims City karena dalam game tersebut saya bisa menciptakan keteraturan yang bahkan lebih sempurna dibandingkan dunia nyata.  Dalam dunia game tidak ada satu orang pun yang dapat merusak dan mengancam keteraturan yang telah saya ciptakan. Oleh karena itu, kedua game tersebut sangat saya sukai. 

Saya pernah berada dalam suatu kondisi ketakutan akan benda kotor dan kuman. Namun pemikiran itu bisa saya ubah karena saya lebih memilih keteraturan dan kerapian dibandingkan kebersihan. Karena untuk mengatur dan merapikan saya harus bersentuhan dengan benda-benda berdebu, maka obsesi saya akan kebersihan bisa ditolerir dengan cara selalu membersihkan tangan saya dengan menggunakan tisu basah setelah menyentuh benda-benda tertentu.

Saat-saat dimana saya mengalami stress atau kelelahan, biasanya OCD saya akan semakin merajalela. Sebaliknya bila saya merasa nyaman dan rilex, maka saya dapat mengendalikan OCD saya dengan baik. Sebenarnya saya tahu apa yang saya lakukan irasional, namun saya tetap melakukan ritual-ritual tersebut karena tak kuasa menahan dorongan dari diri sendiri, dan setelah melakukan ritual barulah perasaan saya menjadi tenang.

Sebelum menerima terapi dan pengobatan dan psikiater, saya sempat menganggap diri gila / tidak waras. Dan terus terang, proses penyembuhan OCD memang membutuhkan kemauan dari diri sendiri untuk menolak semua dorongan dan keluar dari zona aman kita. Walau telah menerima terapi dan pengobatan, sekarang pun saya masih hidup dengan OCD, walau tarafnya sudah tidak separah sebelum dilakukan terapi. Saat ini pengulangan yang saya lakukan bisa diminimalisasikan menjadi 3 kali (mengecek pintu 3 kali, menekan control+S control+C 3 kali, melakukan absen finger print 3 kali). Saya masih terobsesi pada kerapian dan keteraturan, namun masih bisa mengendalikannya dengan memperhatikan faktor waktu dan kondisi fisik tubuh. Yah, setidaknya terkadang saya sudah bisa untuk bersikap cuek atas ketidakteraturan dan berkata “let it be”.

Penderita OCD bersifat perfeksionis. Namun tidak semua orang perfeksionis mengidap OCD. Sebenarnya sisi baik dari OCD adalah saya menjadi lebih teratur dan terbiasa untuk melakukan sesuatu secara maksimal (efek perfeksionis). Saat ini saya berusaha untuk menekan OCD saya agar tidak merepotkan dan membuat orang lain kesal. Well, beruntung calon suami saya dapat memahami penyakit saya ini. Dia dapat mengerti saat-saat dimana OCD saya kambuh dan saya menangis di depan lemari baju karena menganggap lemari itu berantakan. Dia tau bagaimana cara mengatasi rasa tidak nyaman saya atas OCD ini.

Butuh waktu untuk dapat menerima bahwa saya menderita OCD. Pada akhirnya saya menolak untuk mengikuti terapi psikiater saya yang menurut saya tidak masuk akal dan sepertinya justru menjadikan saya seperti orang gila. Karena pengaruh OCD saya, saya beranggapan bahwa kemampuan saya untuk menyembuhkan diri sendiri lebih baik dibandingkan psikiater yang tidak tahu apa-apa tentang diri saya. Saya pun memilih untuk melakukan terapi dari dalam diri sendiri. Dan usaha ini cukup berhasil walaupun membutuhkan perjuangan yang sangat keras.

Untuk sesama penderita OCD lainnya, hey, berubahlah. Jangan jadinya OCD kita sebagai sesuatu yang menghambat melainkan sebagai kekuatan untuk menjadikan kita lebih baik lagi. Ingatlah bahwa OCD dikaitkan dengan rata-rata kecerdasan, itu artinya kita cerdas lho… hehehehehe… Kenali diri kalian dengan baik dan lawan lah. Jangan biarkan OCD kita ini menghambat kehidupan dan pergaulan kita.

Cheers! 

Postingan Populer