Jangan Menyerah, Pelajaran Hidup Dari Seorang Lelaki Tua
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa
Hidup itu perjalanan. Hidup
itu perjuangan. Susah, sedih, bahagia, duka cita, kemalangan, penyakit,
kesuksesan, berkat, karunia, apa pun itu, hendaknya kita syukuri dan nikmati
sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Hidup ini tidak selalu indah. Ada kalanya
kita tertimpa masalah dan kemalangan. Ada kalanya bahagia dan keinginan yang
kita inginkan tak kunjung terwujud. Ada kalanya kita merasa Tuhan begitu tidak
bermurah hatinya kepada kita. Ada kalanya kita merasa begitu terberkati dan
bergelimpangan rahmat. Namun semua itu tentang bagaimana kita tetap bersyukur
dan berjuang melalui hidup ini, sesulit apa pun tantangan dan kemalangan yang
menimpa, sebanyak apapun berkat dan karunia yang kita dapatkan.
Saya pun pernah
mengalami masa-masa kesedihan dan keputusasaan yang membuat saya berlarut-larut
dalam kesedihan dan kemalangan. Rasanya tubuh ini sudah terlampau lelah untuk berjuang
dan bertahan. Seolah Tuhan sudah tidak mengasihi saya sehingga menurunkan
murkanya kepada saya. Namun, selalu saya dibuat malu saat mengingat bahwa masih
banyak saudara-saudara saya yang mengalami kehidupan jauh lebih buruk dari pada
yang saya alami. Kesadaran bahwa masih banyak orang yang lebih malang dan
menderita membuat saya selalu bisa bangkit dari semua masalah dan cobaan.
Saat mendapatkan
masalah dan cobaan selalu yang saya pikirkan adalah :
Bagaimana susahnya para
pengemis di Kalkuta yang menahan lapar dengan tubuh penuh kusta yang menahan
sakit? Bahkan saat nyawa mereka terenggut pun para pengemis itu hanya dilalui
orang dan diinjak-injak tanpa menerima penguburan yang layak. Dimana keluarga
mereka, orang-orang yang mengasihi mereka? Tidak ada.
Bagaimana pula dengan
anak-anak yatim piatu korban peperangan? Perut busung lapar mereka,
tulang-tulang berbalut kulit, kaki dan tubuh telanjang…berlari-lari mencari
perlindungan namun para tentara bengis tetap menyarangkan peluru di tubuh
mungil tak berdosa mereka. Nyawa terenggut dengan mudahnya. Darah yang terbuang
sia-sia. Tubuh mungil tak berdaya disiksa oleh kebengisan manusia.
Bagaimana dengan
orang-orang yang terlahir cacat, yang menggantungkan hidupnya pada orang lain
untuk dapat bertahan hidup, yang harus
merangkak menyeret-nyeret tubuh mereka untuk dapat berjalan, kaki menjadi
tangan dan tangan menjadi kaki? Yang harus menelan perasaan tak berdaya dan
pandangan mengasihani dari orang-orang yang melintasinya?
Tidakah kalian
bersyukur atas betapa sempurnanya hidup kalian dibandingkan mereka? Kita
memiliki keluarga, makanan, kesehatan, pakaian, pekerjaan, rumah, mobil,
berlian, Louise Vuitton, I-Phone, I-Pad,
kampred, whateverlah itu… Kita bergelimpangan berkat dan rahmat. Kita
berjuta-juta kali lebih beruntung dibandingkan saudara-saudara kita yang
berkesusahan.
Lalu apa hak kita untuk
mengeluh hanya karena tidak mendapatkan kenaikan pangkat sementara ada jutaan
orang tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Lalu apa hak kita untuk iri hati
melihat rumah tetangga kita lebih mewah sementara banyak orang tidur di kolong
jembatan? Lalu apa hak kita untuk menghujat Tuhan saat kita putus Cinta
sementara berjuta-juta orang hidup sebatang kara tanpa satu pun orang yang
mengasihinya?
Putus cinta, bunuh diri. Gaji kecil, bunuh diri.
Nggak punya uang, bunuh diri. Stress jadi artis, bunuh diri. Nggak dapat
kerjaan, bunuh diri. Suami selingkuh, bunuh diri. Mudahnya kita mengakhiri
nyawa sendiri karena perkara sepele, sementara di setiap rumah sakit di seluruh
dunia, para dokter berusaha keras menyelamatnya nyawa orang-orang sakit yang
masih ingin hidup dan menikmati indahnya dunia.
Adalah seorang Bapak
tua bernama Srati Turangga yang benar-benar menginspirasikan arti kehidupan
buat saya. Pertama kali saya melihat beliau di jembatan penyebrangan Polda
Metro Jaya. Diantara banyak pedagang yang menjajakan jualannya, saya tertarik
kepada beliau yang duduk dalam diam sambil membaca buku karya Kahlil Gibran.
Saya berpikir : “What the hell, this old
poor man reading a high class literature?”
Pak Titur dan barang jajaannya
Semenjak saat itu, saya
sering memperhatikan beliau. Beliau tidak mengemis, beliau ternyata menjajakan
fotokopi karya-karya sastra tua seperti Kahlil Gibran dan artikel-artikel
kesehatan, politik, dan agama dengan bayaran seiklasnya. Beberapa orang yang
sama tertariknya terhadap beliau terkadang mampir untuk bertanya-tanya. Namun kebanyakan
hanya meletakan uang kedalam wadah gelas beliau tanpa melihat sedikitpun apa
yang beliau jajakan. Dan setelah beberapa kali mengamati, saya baru sadar kalau
beliau ternyata tengah sakit.
Salah seorang yang tertarik pada jajan Pak Titur
Kemarin malam saat
pulang kantor, saya menyempatkan diri untuk menghampiri beliau dan
bercakap-cakap. Sehari-hari bapak Titur (begitu beliau meminta saya
memanggilnya) mangkal berpindah-pindah dari jembatan penyebrangan yang satu ke
jembatan penyebrangan yang lainnya. Beliau adalah seorang seniman asal Nganjuk –
Jawa Timur yang mengabdikan diri pada dunia kesenian dan pernah menjadi murid
perguruan seni W.S REndra. Hingga saat ini beliau masih melukis dan menuliskan
karya sastra.
Bapak Titur hidup sebatang
kara, istrinya sudah lama meninggal dan dia tidak memiliki keluarga lagi. Beliau
telah berjuang melawan tumor diwajahnya selama hampir 40 tahun lamanya dan
telah 4 kali menjalani operasi pengangkatan tumor yang telah merusak rahangnya.
Sosok tua Pak Titur langsung mengingat almarhum kakek saya, beliau pun
meninggal karena kanker yang diderita puluhan tahun lamanya. Saya masih
mengingat bagaimana beliau begitu kesakitan dan menderitanya karena penyakit
itu. Bahkan saya masih mengingat dengan jelas wajah kesakitan beliau saat
menghembuskan nafas terakhir.
Barang jajaan Pak Titur
Foto Pak Titur seusai menjalani operasi ke-4
Ya, saya yakin Pak
Titur memang menderita. Namun tidak sedikit pun beliau menunjukan
penderitaannya kepada saya. Tidak sedikit pun beliau mengeluhkan penyakitnya kepada
saya. Beliau hanya bercerita bahwa saat ini beliau tengah mengumpulkan dana sembari
mencari tahu metode yang tepat untuk menyembuhkan
penyakitnya. Selebihnya, beliau menceritakan karya-karya sastra kesukaan beliau
dan sastrawan-sastrawan yang beliau kagumi, yang sebagian besar tidak saya
ketahui siapa karena saya belum lahir jaman itu. Dari percakapan kami, Pak
Titur jelas memiliki pengetahuan yang luas dan dedikasi yang tinggi akan seni.
Banyak perkataan beliau
yang menjadi pelajaran berarti buat saya. Beliau mengajarkan untuk tidak pernah
putus asa. Yah, beliau terbukti tidak pernah putus asa bukan? 40 tahun berjuang
melawan penyakit yang tak kunjung sembuh menunjukan semangat beliau yang tinggi
untuk mempertahankan hidupnya. Beliau tidak lantas meneyerah dan berpangku
tangan. Beliau mengupayakan banyak cara demi kesembuhannya, bahkan saat semua
harta benda yang dimilikinya telah habis. Itu lah makna hidup bukan? Jangan pernah
menyerah.
“Jangan melihat penyakit
saya, namun perbuatan saya yang tetap mencintai sastra.” Itu pesan beliau yang
membuat saya begitu terharu. Ditengah kesusahannya melawan penyakit, Bapak
Titur tetap melukis dan menulis, menciptakan karya seni yang dapat dinikmati
orang lain. Walaupun beliau mengaku terganggu akan penyakitnya, namun kecintaannya
akan seni tidak lantas menghambat beliau untuk terus berkarya. Yah, hidup kita
yang singkat ini memang akan lebih bermakna jika kita dapat berkarya bagi sesama.
Bahkan ditengah kesusahan hidup pun, pak Titur menginspirasikan kita untuk
tetap berkarya, berkarya, dan berkarya.
“Boleh Pak saya tulis
tentang Bapak di Facebook dan Blog saya?” Tanya saya kepada Pak Tiur. “Boleh
saja, supaya anak jaman sekarang tidak gampang menyerah.” Begitu jawaban
beliau. Wah, luar biasa. Pak Titur ternyata juga mengenal internet dan blog. Kalau
Facebook, semua orang juga tahu. Tapi kalau blog tidak semua orang tahu. “Dulu
saya pernah diundang ke acara Kick Andy, tapi entah sudah tayang entah belum.”
"Sudah cakep belum?" Begitu celetukan beliau.
Pak Titur mencoba tersenyum saat saya ajak berfoto.
“Pamit dulu ya pak,
sama mau masak buat calon suami saya.” Begitu perkataan saya saat berpamitan.
Pak Titur tertawa dan menjawab : “Bagus itu, masak buat orang yang dicintai.”
Luar biasa. Sungguh luar biasa bagaimana Pak Titur masih tetap bergembira dan
memberikan perhatiannya kepada orang lain.
Tidak kah kita malu
akan diri sendiri bila bercermin dari kehidupan beliau? Betapa mudahnya anak
muda jaman sekarang menyerah dan berkeluh kesah atas segala sesuatu yang
dialaminya? Betapa mudahnya kita menghujat Tuhan dan meratapi nasib? Lihat lah
Pak Titur! Beliau tidak mengeluh. Beliau melanjutkan hidup. Beliau berjuang dan
berkarya. Sementara kita? Hanya menangis meraung-raung, meratap untuk waktu yang
lama, menolak makan dan minum dan mengecam semua pihak, mencari-cari siapa yang
harus bertanggung jawab dan pantas disalahkan atas kemalangan yang kita alami. Betapa
memalukannya kita ini.
Saya terkadang kesal
kalau mendengar seseorang mengeluh ini itu tentang hidupnya. Yang suaminya
begini lah, yang duit belanja kurang lah, yang nggak bisa nyalon lah, yang
nggak bisa beli I-Pad lah, yang mau keluar negeri tapi nggak punya duit, yang iri
kanan kiri. Helloooo, apa lagi yang kalian keluhkan? Kalian masih memiliki
nafas, kesehatan dan keluarga. Masih banyak yang bisa kita lakukan ditengah
kemalangan kita.
Ingatlah selalu orang
lain saat kita putus asa. Bahwa basih banyak orang lain yang menderita selain
kita. Bahwa penderitaan mereka jauh lebih besar dari penderitaan kita. Bahwa semuanya
hanya kerikil kecil dalam hidup yang dapat kita lalui. Jangan menyerah. Jangan
menyerah.
Jika suatu saat kalian
berjalan di jembatan penyebrangan Polda Metro Jaya atau jembatan-jembatan
penyebrangan lainnya dan melihat Pak Titur, sempatkanlah diri untuk menyapanya.
Berilah perhatian bukan kepada penyakitnya, namun kepada apa yang tengah ia
perbuat. Itu akan jauh menghiburnya dibandingkan pertanyaan seputar
penyakitnya. Sekecil apa pun penghiburan yang kita berikan, itu akan memberikan
kegembiraan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Sebenarnya sangat
manusiawi jika seseorang merasa sedih dan putus asa jika menghadapi masalah
dalam hidupnya. Namun demikian, tetaplah untuk jangan menyerah. Usahakan selalu
yang terbaik dalam diri kita. Hidup hanya sekali, kita harus sungguh-sungguh
menghargainya. Ingat lah Pak Titur, pria tua penjaja karya sastra dengan
senyuman lebar diwajahnya. Ingatlah bahwa beliau mampu menjalani hidupnya walau
menerima cobaan berat dan sebatang kara. Jadi mengapa kita tidak bisa?
Ya Tuhan, jadikanlah
kami manusia yang kuat, selalu bersyukur dan tak kenal putus asa atas hidup
ini.






