Top 4 Budaya Minta Yang Paling Menyebalkan.
Beberapa hari lalu saat tengah
melintasi jembatan penyebrangan di depan menara Prudential Sudirman, saya
melihat pemandangan luar biasa yang membuat saya tercengang-cengang. Bukan
karena Edward Cullen sedang berjalan melintasi jembatan dengan wajah tampannya.
Bukan juga karena Beyonce sedang bagi-bagi sembako di situ. Apalagi bukan juga
karena Jokowi sedang inspeksi dadakan tentang kelayakan jembatan penyebrangan.
Yang membuat saya sungguh
tercengang adalah seorang pengemis buta dengan pakaian compang-camping dan
tongkat ditangannya, tengah asyik bertelpon-telpon ria dengan menggunakan
telepon genggam.
Awalnya saya meresapi pelan-pelan
kejadian itu. Ooo, mungkin sedang pura-pura telpon saja dia. Tetapi setelah
saya amati, dia benar-benar tengah bercakap-cakap dengan seseorang di hpnya.
Saya pun memperhatikan dengan seksama apa merk hp yang digunakan. Kalau cuma hp
bulukan yang disenggol doang langsung masuk kuburan a.k.a hp jadul jaman
dinasaurus belum dilahirkan, mungkin saya masih bisa menerima. Mungkin saja
pengemis itu menemukannya di rongsokan barang bekas atau apa. Tapi… eng ing
eng… Hp yang dia gunakan ternyata hp Nokia Lumpia, eh sori, Lumia terbaru.
Sialan!
Oke, sambil menelan ludah dengan
galau, memikirkan betapa seringnya saya
memberi sedekah untuk dia, saya dengan sengaja mengabil fotonya dengan
menggunakan Blackberry saya. Cekrak, Cekrek! (Tau kan suara capture Blackberry
hebohnya setengah mampus). Namun luar biasa, saking asyiknya bertelpon ria.
pengemis itu tetap nggak sadar kalau sedang saya foto walau pun suara kamera
Blackberry saya terdengar dengan jelas. Masih dengan mangkel setengah mati,
saya pun akhirnya meninggalkan pengemis itu.
Pengemis ini asyik bertelpon ria.
Sepanjang jalan pulang, saya
merenungkan kejadian ini sambil memutar balik ingatan saya mengenai
pengemis-pengemis yang pernah saya temui. Ada yang pura-pura anaknya sakit
(setiap kali lewat situ anaknya disuruh tidur dengan kompres dikepala, masa iya
sakit mulu tiap hari?), ada yang pura-pura bawa anak bayi (nggak tau anak siapa
yang dia sewa), ada juga yang badannya masih segar bugar tapi tetap minta-minta
dengan bermodal tampang melas doang. Bahkan suatu ketika, saya pernah bertemu
dengan dua orang ibu-ibu pengemis yang mengobrol mengenai pembelian emas. Luar
biasa!
Kejadian ini yang kadang-kadang
membuat kita berpikir dua kali jika ingin memberikan sedekah pada pengemis.
Benar kah dia benar-benar membutuhkan sedekah, atau mengemis cuma dijadikan
mata pencaharian karena dia malas bekerja?
Seharusnya sih kalau memang niat
memberi, kita nggak perlu memikirkann kemungkinan-kemungkinan ini. Yang penting
adalah kita ikhlas memberi. Iya kan? Tapi tetap saja, rasanya kok kurang rela
kalau sedekah yang kita berikan itu malah dipake buat pulsa oleh si pengemis
buta, atau malah buat tambahan modal si ibu-ibu pengemis buat beli mas. Ini
membuat saya berpikir kalau lebih aman bersedekah di rumah ibadah, panti
asuhan, panti orang cacat, rekening jalinan kasih, atau lembaga lainnya yang
lebih nyata membantu orang membutuhkan.
Tapi setelah saya pikir lebih
lanjut lagi, sebenarnya budaya minta-minta itu sudah melekat di diri bangsa
Indonesia. Bukan hanya mengemis sebagai mata pencaharian, coba deh ingat-ingat
sekeliling kalian, banyak sekali orang yang menerapkan budaya minta-minta dalam
kehidupannya. Dab inilah Top 4 Budaya Minta yang paling menyebalkan.
1. Pinjam Uang Donk.
Ini yang paling banyak terjadi, teman minjam uang ke
kita. Tidak ada yang salah dengan meminjam uang saat benar-benar membutuhkan.
Toh sebagai makhluk sosial kita harus saling tolong menolong. Apalagi kalau
keadaan memang benar-benar mendesak seperti untuk pengobatan, untuk membayar
SPP anak, atau karena hal-hal mendesak lainnya seperti kematian. Kita pun yang
memberinya akan ikhlas.
Nah, tapi pada dasarnya, manusia itu memang aneh-aneh
aja kelakuannya. Saya beberapa kali diminta pinjaman uang untuk hal-hal yang
sangat tidak masuk akal. Ada yang meninjam uang untuk jalan-jalan ke Luar
Negeri, ada yang meminjam uang untuk membeli tas branded, ada juga yang
meminjam uang untuk membeli mobil baru. Heloooo? Kalo gak punya uang, ngapain
jalan-jalan ke luar negeri, beli tas mahal, dang anti mobil baru? Mau bergaya
tapi kok hasil utang. Malu! Malu!
Ada suatu kejadian yang paling mengiris-iris hati.
Suatu saat teman saya meminjam uang, katanya dia lagi bokek berat. Walau pun
saya juga lagi bokek sebokek-bokeknya, tapi karena iba saya pun meminjamkan dia
uang. Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Beberapa jam setelah itu dia
memasang status Facebook sedang belanja di Zara dan makan di restaurant mahal. What the hell? Gondok berjejer banget melihat kelakuannya. Katanya
bokek, katanya pinjem uang, ternyata menghambur-hamburkan uang pinjaman.
Begitulah orang Indonesia, terkadang gak tau malu
masalah minjam uang. Kalau benar-benar urgent tentunya kita mengerti. Tapi kalo
nggak penting-penting banget, masa iya nggak punya harga diri? Apalagi kalau
udah minjem uang, terus pura-pura lupa dan nggak mau balikin sebelum ditagih.
Well, intinya, kalau tidak sangat terpaksa, jangan deh
sekali-sekali minjem uang. Selain menjaga harga diri, kita pun menghindari dari
merepotkan orang lain.
2. Oleh-Olehnya Mana?
Familiar dengan pertanyaan ini? Yup, hampir semua
orang menanyakan hal ini saat tau kita hendak pergi keluar kota atau ke luar
negeri. Seolah mereka punya hak saja untuk meminta oleh-oleh. Terlepas dari itu
hanya basa-basi atau sungguhan minta dibawakan oleh-oleh, perkataan ini sangat
mengganggu. Saya pribadi merasa cukup tertekan kalau jika ada yang menodong
saya dengan kata “oleh-olehnya mana?”.
Sori bukannya pelit, tapi sebagai seorang traveler dan
backpacker, saya memang biasanya tidak membawa banyak uang saat bepetualang ke
Luar Negeri, karena tujuan saya memang untuk menjelajah dan berwisata, bukan
BELANJA. Kalau pun membeli oleh-oleh, pasti yang terlintas pertama kali dibenak
saya adalah oleh-oleh untuk orang tua dan saudara. Itu pun tentunya jumlahnya
tidak sedikit. Bayangkan kalau masih harus memikirkan oleh-oleh untuk teman
kantor, teman kuliah, tetangga, teman main, teman facebook, teman bla bla bla,
bisa-bisa saya harus menyewa pesawat jet khusus buat mengangkut oleh-oleh saya.
Lagi pula, tidak usah lah kalian menodong dengan kata
oleh-oleh, karena disaat seseorang dalam keadaan berlebihan dan ingin berbagi,
dia pasti akan ingat untuk membelikan kalian oleh-oleh, tanpa perlu diminta.
Itu lah sebabnya, saat orang-orang terdekat saya hendak bepergian, saya akan
berkata : “Have a nice trip, and take
care!” That’s it. Tanpa
embel-embel jangan lupa oleh-oleh. Karena saya memang tidak mengharapkan
oleh-oleh apa pun dari dia. Biar lah dia pergi bersenang-senang tanpa terbebani
haraus membeli ini-itu.
3. Tipsnya mana bos?
Ini yang paling sering buat marah-marah kalau lagi
bepergian. Nggak pramusaji restaurant, nggak tukang parkir, nggak satpam mall,
nggak supir kantor, semua orang di muka bumi Indonesia ini memang sukanya
diberi tips. Oke, tips atas jasa yang mereka lakukan sih wajar diberikan. Yang
paling buat gondok berjejer, kalau ada tukang parkir datang dari negeri
antah-berantah tiba-tiba memalak kita dengan uang tips. Lha, markirin aja
enggak kok minta tips? Situ kemana aja pak waktu saya rempong maju mundur
markirin mobil?
Adalagi modus tutup parkiran dengan cone. Parkiran sih sebenarnya masih
banyak tersedia, tapi sengaja di tutup dengan cone, lalu saat kita lagi bingung nyari parkir si satpam mall
bakalan bilang, “Mau dicarikan parkir, bos?” dan dia pun menyingkirkan cone yang dia taruh dengan meminta
imbalan lima ribu perak. Hedehhh…. Amal sih amal, tapi gak usah pake cara licik
gitu supayadikasi tips kan bisa. Cukup bantu kita memarkir mobil dengan baik,
pasti kita dengan senang hati akan memberi tips.
Well, bukan
saja pekerja kelas rendah yang sering meminta tips. Para pekerja birokrasi pun
sering meminta uang “pelicin” untuk segala sesuatu yang mereka kerjakan.
Semakin besar uang “pelican” yang kita berikan, semakin cepat pula dia
melakukan pekerjaannya. Namun kalau tidak ada uang pelican, jangan harap deh dia
mau melakukan permintaan kita. Tunggu dulu sampe beruban, baru mereka mau bekerja.
Itu pun bukan karena sukarela, tapi karena terpaksa dan tidak terkena teguran.
4. Minta Tolong, Namun Tidak Mau Menolong
Pernah dengar istilah “Take And Give?” Yup, seharusnya
begitulah cara hitu manusia. Saling memberi dan menerima, saling tolong
menolong saat membutuhkan. Tapi dari pengalaman yang saya alami, lebih banyak
yang menerapkan prinsip “Mmeminta dan menerima saat membutuhkan, dan ambil
langkah seribu saat diminta pertolongan”.
Coba ingat-ingat lagi, pernahkah kalian diperlakukan
seperti itu, saat teman anda butuh pertolongan, dengan semanais madu dan
sememelas mungkin dia datang kepada anda meminta-minta pertolongan. Tapi di
saat dia tengah senang, dan giliran kita datang meinta pertolongan padanya,
menoleh pun kepada kita dia tidak mau. Air susu dibalas dengan air cuka, eh
salah, air tuba maksudnaya. Tapi tetep aja, rasanya kecutttttttt banget kaya
cuka L L L.
Kita memang tidak bisa sealu menolong orang, ada batasan-batasan
dimana kita dapat membantu dan dimana kita tidak dapat membantu. Tapi saat kita
tidak bisa membantu, setidaknya kita mencarikan suatu pemecahan masalah, atau
meminta maaf dengan baik-baik saja rasanya sudah cukup. Tapi tidak sedkit orang
lho yang bahkan sama sekali tidak mau peduli. Jangankan menolong, kadang
membalas pesan permintaan tolong kita pun tidak mau.
Huffff, apabila ada pihak-pihak yang pernah saya lukai
karena kurang pekanya saya terhadap masalah anda, saya minta maaf. Karena saya
akhirnya pernah merasakannya dan rasanya sungguh tidak enak. Kecut setengah
mati seperti.
Yah, kesimpulannya sih, manusia
itu hidup dengan kasing-sayang, manusia hidup saling melengkapi. Tapi
minta-minta pun juga harus tahu tempat dan waktu dan harus tau diri.

