THE BOYS BEFORE MY GROOM #1
PROLOG
Yes, now I counting days before my marriage. And its
feels like thousands of “something” I don’t know. How many times I think about
: Really, this guy will be my husband forever? Is that for real? But also, I
feel so grateful will be married with him. And it spins my memory to years that
I have been past, about the boys in my life before I meet my lovely groom. Some
story were sad, some story were sweet. Although they all just a past, they lead
me to found the one that I will marry.
One day, I asked my fiancé's permission, whether I can
write story about the boys of my past or no before our marriage. He just smiled
and said : “Of course you can. But you have to write about me better than
others.”
And this is the story about the boys before my groom.
BOY NUMBER #1 : MR FIRST LOVE
Saya pertama kali bertemu
dengan Boy Number #1 pada rapat pemilihan ketua OSIS SMP, pada bulan Juli tahun
1998. Saat itu suasana rapat pemilihan OSIS ramai dan sedikit tidak terkendali
entah karena apa. Saya yang ketiban sial ditunjuk sebagai salah satu kandidat
Ketua OSIS sudah mulai bosan dan rasanya ingin kabur saja dari ruangan itu.
Ditengah keributan
dan kebosanan itu, masuklah seorang cowok yang langsung menyita perhatian saya.
Saat itu dia terlihat begitu berkilau ditengah ruangan yang kacau-balau, muram
dan membosankan. Dalam ingatan masa muda saya yang masih dipengaruhi hormon
puber, cowok itu terlihat begitu tampan dan mempesona. Dia punya potongan
rambut belah tengah yang sangat popular jaman itu, mata kecoklatan yang sangat
indah, serta senyum sinis yang herannya sangat menarik. Gerak-geriknya terlihat
sedikit malas-malasan dan dia jelas tidak peduli atas keadaan disekitarnya.
Mungkin dia sedang kesal, kenapa dia yang disuruh datang menghadiri rapat OSIS
itu.
Saya
memperhatikannya diam-diam dari sudut mata saya, cowok itu belum pernah saya
lihat di sekolah itu sebelumnya. Dengan kata lain, jika bukan murid pindahan,
dia pastilah murid kelas 1 yang baru saja masuk. Hal itu cukup membuat saya
penasaran hingga memutuskan untuk mencari tahu siapa gerangan cowok itu melalui
absensi rapat.
Saya masih ingat
dengat jelas debaran jantung saya saat lembaran absensi tiba dihadapan saya.
Setelah memperhatikan posisi duduknya berada dimana dan mencocokannya dengan
lembaran absensi, saya akhirnya mengetahui namanya. Dan memang benar, dia
adalah murid kelas 1 yang baru saja masuk, atau dengan kata lain adik kelas
saya karena saat itu saya sudah duduk dibangku kelas 2. Saya berusaha mengingat
biodatanya yang tertulis dalam lembaran absensi dengan baik, lalu kembali
mencuri pandang ke arahnya. Saat itu jantung saya seolah melorot ke perut
karena dia ternyata sedang mengamati saya juga. Dia tersenyum kecil lalu
membuang mukanya seolah malu atau entah apa.
Semenjak hari itu,
Boy Number #1 seolah menjadi candu untuk saya. Saya bisa sangat bahagia hanya
dengan melihat punggungnya dari kejauhan. Setiap moment perjumpaan dengannya
seolah menjadi harta karun tak ternilai harganya. Saya bisa menuliskan
berlembar-lembar cerita di buku harian
saya tentang betapa tampan dan mempesonanya dia hari itu saat bermain basket,
padahal cerita sesungguhnya adalah saya mencuri-curi pandang melalui jendela
kelas untuk melihat dia yang sedang olah raga. Dan itu untuk pertama kalinya
saya sadar saya benar-benar merasakan perasaan jatuh cinta. Oke, sebelumnya
saya memang menyukai beberapa orang lain. Tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda,
seolah-olah saat itu semua pusat kehidupan bertumpu padanya. That was real, I felt a first love.
Saya mengamati semua
aktivitasnya, mengamati teman-temannya, mengamati sifatnya, mencari tau setiap
detail tentangnya, di mana rumahnya, siapa orang tuanya. Saya tau jacket apa
saya yang dia kenakan, jalan yang dia lalui saat pulang sekolah, jadwal dia
bermain bola. Benar-benar sudah seperti penguntit saja. Terkadang saya bahkan
sengaja mondar-mandir di depan rumahnya dengan harapan bisa bertemu dengannya. Tapi
rupanya bukan saya saja yang melakukan hal ini, karena ternyata Boys Number #1
memang sangat terkenal dan menjadi incaran banyak cewek. Itu cukup membuat saya
patah hati dan menangis berjam-jam lamanya (Yaelah, patah hati… Hahahaha).
Tapi cerita cinta
anak SMP jaman dahulu memang berbeda dengan anak jaman sekarang. Terutama
karena saya tinggal di kota kecil di Papua, Wamena. Dulu, saya sudah cukup
senang hanya dengan melihat dia berjalan menuju sekolah dipagi hari, atau sudah
girang bukan main hanya melihat namanya tertulis di lembar absen rapat OSIS. Kami
belum mengenal hp, blackberry, email dan facebook. Jadi satu-satunya media
untuk menyampaikan pesan adalah melalui surat atau teman. Di hari valentine,
kami bahkan membuat kartu valentine kami sendiri karena tidak ada yang
menjualnya. Namun itu semua rasanya jauh lebih romantic dibandingkan dengan jaman
sekarang yang serba modern. Itulah sebabnya kenangan masa-masa ini terasa lebih
membekas dibandingkan yang lainnya.
Jatuh cinta kepada
Boy Number #1 memang sangat menyita emosi. Satu tahun penuh saya bertanya-tanya
tentang bagaimana perasaannya, tentang apa yang dipikirkannya, tentang
bagaimana dia menilai diri saya, tentang apakah dia bahkan mengetahui nama saya.
Selentingan-selentingan murahan menyebutkan dia menaruh hati pada sahabat saya,
ada pula yang mengabarkan tentang banyaknya cewek ini dan itu yang mengejarnya,
dan saya hanya menyimak itu semua dalam diam. Saya kesulitan untuk
menerka-nerka dan menebak-nebak karena Boys Number #1 selalu penuh misteri dan
bahkan tanpa ekspresi. Terkadang saya melihat dia diam-diam memperhatikan saya
sambil tersenyum, terkadang dia terlihat marah, dan lebih banyak lagi dengan
ekspresi tidak terinteprestasikan. I have
no idea at all about this boy’s feeling.
Setelah satu tahun
penuh penyiksaan itu berlalu dan saya mulai merelakan untuk tidak lagi berharap
padanya, tiba-tiba saja temannya menyampaikan salamnya. Jaman dulu, saat
seorang cowok menitipkan salamnya kepada seorang cewek melalui sahabatnya, itu
pertanda bahwa cowok itu menaruh hati pada si cewek. Saya masih ingat dengan
jelas bagaimana panasnya muka saya dan bagaimana jumpalitannya perasaan saya
saat itu. Rasanya semuanya bagai mimpi-mimpi yang menjadi kenyataan dan
seharian itu saya tidak berhenti tersenyum dan saya tidak akan heran jika orang
mengira saya gila.
“Saya menyukai kamu
semenjak pertama kali kita bertemu di rapat OSIS pada bulan Juli 1998.” Akunya.
Dan saat itu saya percaya bahwa cinta pada pandangan pertama benar-benar ada.
Saya dan Boy Number
#1 akhirnya harus berpisah karena saya melanjutkan study di kota yang berbeda
darinya. Bertahun-tahun kemudian kami tetap saling bertukar kabar walaupun masing-masing
sudah memiliki pacar. Namun kenangan tentang dia rupanya sulit sekali untuk
dilupakan. Setiap kali saya kembali ke kota Wamena, saya seolah bisa menghirup
udara di bulan Juli 1998, mencium wangi rumput di bulan Juli 1998, melihat
senyuman sinis miring dan mata coklatnya yang indah. Boy Number #1 selalu punya
tempat khusus di hati saya.
Suatu ketika di
tahun 2004 saat kami menghadiri sebuah acara reuni, Boy Number #1 mengajak saya
berdansa dengan diiringi lagu Yo Te Amo, dia mengucapkan kalimat yang tidak
pernah saya lupakan. Katanya : “Kamu selalu saja meninggalkan aku sendiri, lalu
datang kembali, lalu pergi lagi. Sampai kapan? Kamu tidak tahu rasanya
ditinggalkan dan menunggu.” Dan saya tau dia begitu terluka saat
mengucapkannya, karena saat itu dia meneteskan air mata.
Bertahun-tahun
kemudian saya mendengar dia telah bahagia bersama kekasihnya. Itu membuat saya
turut bahagia. Terkadang kami masih bertukar kabar dan mengobrol berjam-jam
lamanya. Dia adalah satu-satunya mantan saya yang putus dengan cara terhormat
dan masih menghargai hubungan kami sebagai sebuah persahabatan. Saat saya
memutuskan untuk menikah dan menyampaikan kabar itu kepadanya, dia terdiam
cukup lama seolah berusaha mencerna berita tersebut.
“Kalau kamu tidak
pernah meninggalkan kota ini, apakah kita masih bersama? Kalau aku melamarmu
saat ini juga, maukah kamu menikah denganku dan pulang ke kota ini?” Dia
bertanya.
“Waktu tidak bisa
berulang dan jalan kita berbeda, aku punya kehidupanku sendiri saat ini. Aku
mencintai orang lain saat ini.” Saya
menjawab demikian. Dia hanya menghela nafas panjang dan mengucapkan semoga saya
bahagia. Dan itu terakhir kalinya saya bertukar kabar dengannya. Saya tidak
pernah lagi menghubunginya dan menjawab teleponnya karena berusaha menghargai
calon suami saya.
Dear Boy Number #1,
Yes you are my first love. Kita punya terlalu banyak
memori untuk dilupakan. Tetapi aku akan menaruh memori tersebut di dalam sebuah
kotak, menguncinya rapat-rapat, dan menaruh kotak tersebut dibagian terbelakang
lemari bajuku. Karena saat ini aku sudah menemukan pria terhebat untukku.
Aku sungguh berharap kamu dapat menemukan kebahagiaan
seperti kebahagiaan yang aku rasakan sekarang. Terimakasih karena dengan
bertemu dirimu, aku belajar untuk mencintai dan itu membuatku bisa mencintai suamiku
dengan lebih baik.
Suatu saat nanti ketika aku dan suamiku bertemu dengan
kamu dan istrimu (serta anak-anak kita masing-masing barangkali?), aku akan
berkata demikian kepada suamiku :
“Sayangku, ini adalah orang yang berjasa membuka jalan
takdirku hingga bertemu dengan jalan takdirmu.”
Have a good life Boy Number #1.
TO BE CONTINUE

