Hidup Penuh Pencitraan, Berhentilah Menghakimi Orang Lain (Part 1)


Susi Pujiastuti, Menteri Perikanan dan Kelautan yang namanya langsung meroket semenjak diumumkannya susunan kabinet Bapak Joko Widodo, dan sepertinya sudah resmi menjadi artis dadakan karena banyaknya masyarakat Indonesia yang ramai menggunjingan nama beliau dan tentu saja langsung membuka mesin pencari internet untuk menggali informasi tentang beliau (termasuk saya, sudah pasti). Bukan itu saja, berbagai media masa berlomba-lomba membuat ulasan tentang beliau : ada yang menyanjung, ada pula yang mengkritik. Lalu munculah barisan pendukung dan pasukan anti Susi yang ribut berkicau dimedia-media sosial, menggunjingkan ini itu tentang Bu Susi, seolah mereka kenal benar dengan sang ibu Menteri.

Kenapa menjadi bahan gunjingan?

Well, alasan pertama adalah karena beliau ternyata terlalu patuh pada program pendidikan jaman Orde Baru, yaitu Wajib Belajar Sembilan Tahun alias hanya lulusan SMP. Menurut pasukan penyanjung, hal tersebut adalah sesuatu yang keren. Bayangkan, nggak perlu repot-repot sekolah tinggi-tinggi, cukup berbekalkan ijazah SMP, tapi bisa jadi menteri. Mereka salut akan hal itu. Terutama karena Bu Susi bisa jadi pengusaha sukses walau tidak berpendidikan tinggi. Namun bagi pasukan penghujat, Jokowi sudah hilang akal dan mempermalukan bangsa dengan memilih seorang menteri yang tidak berpendidikan tinggi. Bagaimana bisa seseorang yang tidak berijazah kuliahan menjadi salah satu pemimpin negeri?

Alasan kedua, karena beliau pernah bersuamikan bule dan pernikahan dengan si bule itu bukan satu-satunya pernikahan yang pernah beliau jalani. Menurut pasukan penyanjung, nggak apa-apa kan seseorang kawin cerai beberapa kali, namanya nggak cocok masa mau dipaksakan? Toh artis-artis juga pada kawin cerai dan tetap terkenal, banyak penggemarnya. Sementara menurut pasukan penghujat, Ibu Susi bukanlah orang yang layak menjadi panutan masyarakat karena tercermin dari pernikahannya yang tidak dapat bertahan.

Alasan ketiga, karena beliau punya tato. Bukan tato kupu-kupu kecil-mungil-imut yang bertengger di panggul seperti milik Mariah Carey, namun tato sangar yang berukuran cukup besar di kakinya. Menurut pasukan penyanjung, tato tidak menjadi penghambat bagi seseorang yang ingin membaktikan diri bagi bangsa. Namun menurut pasukan penghujat, tato merupakan sesuatu yang dilarang dari segi agama, terlebih lagi jika terpatri ditubuh wanita. Bukan saja telah melanggar nilai-nilai agama, namun dengan tato tersebut Bu Susi dianggap liar dan tidak mencerminkan tata krama wanita timur.  

Alasan keempat karena beliau terlibat aktif dalam konferensi tingkat tinggi gas beracun A.K.A seorang perokok aktif. Yah, kalau yang ini sih nggak usah dibahas dari sisi penghujat dan penyanjung. Sebenanrnya cukup jelas kan, merokok itu memang nggak baik. Apalagi jika dilakukan oleh seorang wanita, citra wanita tersebut akan sedikit direndahkan daripada wanita yang tidak merokok. Itu aturan main yang berlaku di masyarakat kita. Wanita merokok = tidak baik, wanita tidak merokok = baik.

Yah, kira-kira itu selentingan kanan kiri yang saya dengar dan juga saya baca di media masa dan jejaring sosial. Alasan-alasan yang jika saya pikirkan melalui sudut pemikiran waras saya, sebenarnya sama sekali bukan merupakan sebuah alasan. Dan maaf saja, alasan-alasan tersebut bagi saya terlihat bodoh dan dilontarkan orang yang justru tidak berpendidikan.

Hai masyarakat Indonesia, memangnya apa yang salah dengan Ibu Susi? Bagian mana yang salah? Apakah dengan tato menghiasi kulit lantas seorang wanita otomatis menjadi liar? Mungkin memang dilarang oleh agama, tapi apa kaitannya dengan menjadi Menteri? Apakah merokok menjadi salah satu parameter pantas tidaknya seorang wanita menjadi Menteri? Apakah karena tidak berhasil dalam pernikahan seorang wanita lantas dianggap memiliki derajat yang rendah? Apakah dengan hanya berbekal pendidikan SMP seseorang dianggap tidak mampu mengemban tugas Menteri? Coba deh baca http://www.merdeka.com/gaya/10-tokoh-dunia-yang-putus-sekolah.html. Banyak lho tokoh dunia yang ternyata tidak menyelesaikan sekolah mereka : Abraham Lincoln, Coco Chanel, Al Pacino, Oprah Winfrey, Steve Jobs.

Oke, kita memang hidup dalam budaya timur yang penuh sopan santun. Oke, kita masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai ini itu dalam masyarakat, mengenai suatu yang pantas dan yang tidak pantas. Dan tidak bisa diingkari, kita pun terikat nilai-nilai religius yang mengatur tingkah laku dan perbuatan kita. Namun yang kita lupakan adalah, bahwa setiap orang berhak menentukan kehendak diri, apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka tidak inginkan, sepanjang hal tersebut tidak merugikan individu lain.

Oh, betapa menyedihkannya pemikiran-pemikiran seperti itu. Betapa menyedihkannya bahwa masyarakat Indonesia masih saja tenggelam dalam pencitraan-pencitraan, tentang apa yang dianggap baik dan tidak baik tentang sesuatu hal bila dipandang dari sudut pemikiran entahlah siapa itu. Ya, kita memang bangsa timur. Ya, kita memang hidup dalam budaya bangsa. Dan ya, kita memang harus selalu menjunjung nilai-nilai kesopanan dan kepantasan dalam budaya timur kita ini. Namun bukan kah kita tetap harus menyadari, mana pemikiran-pemikiran yang membuat bangsa kita maju dan mana pemikiran-pemikiran yang justru menghancurkan diri sendiri.

Saya jadi teringat pengalaman pribadi saya yang sering termarginalkan oleh pemikiran-pemikiran sempit. Wanita cantik suka dandan = bodoh. Wanita cantik berpenampilan menarik = suka kehidupan malam. Wanita cantik berpakaian menarik dan terbuka = wanita penggoda.

What the hell pemikiran seperti ini? Dari mana datangnya anggapan-anggapan seperti ini?

Wanita cantik suka dandan = bodoh? Yang benar saja! Apa korelasi antara cantik dan suka dandan dengan bodoh? Orang-orang bersudut pandang seperti ini matanya harus dibuka lebar-lebar dan di suruh membaca banyak-banyak. Tidak tahukah mereka bahwa di dunia ini begitu banyaknya wanita cantik dan pintar yang memiliki kedudukan terhormat dan berkuasa? Sebut saja Hina Rabbani Khar (Menteri Luar Negeri Pakistan, Menteri Pakistan termuda dalam usia 34 tahun), Yingluck Shinawatra (PM Thailand), Julia Eileen Gillard (PM wanita pertama di Australia), Cristina Fernandez de Kirchner (Presiden Argentina)? Gak usah jauh-jauh ke luar negeri deh. Lihat saja Cinta Laura dan Dian Sastro (sama-sama cantik dan gemilang dibidang pendidikan).


Saya bukan wanita genius, namun setidaknya saya mendapat gelar sarjana saya dari Universitas yang cukup bergengsi dengan predikat cumlaude dan bahkan saya memiliki double degree untuk gelar Master (Master Hukum dan Master Politik). Apakah saya bodoh? Dan yang paling menggelikan adalah saat saya difitnah mendapatkan semuanya gelar tersebut dengan cara “membayar”. Waw, orang-orang memang susah diyakinkan jika saya ternyata memiliki otak. Ya sudah lah, saya pun merelakan mereka terus beranggapan bahwa saya memang tolol. Toh tidak ada ruginya juga buat saya. Anggapan mereka tidak penting. Saya bisa tetap melanjutkan hidup dan karier saya, apa pun anggapan mereka.

Wanita cantik berpenampilan menarik = suka kehidupan malam. Ini lagi-lagi pemikiran model apa sih? Apa korelasinya? Saya seringkali terheran-heran saat dituduh suka keluyuran buat dugem, nyimeng, pesta shabu dan merokok.  Dan tidak peduli seberapa seringnya saya menegaskan bahwa saya sekali pun tidak pernah mengkonsumsi narkoba dan sama sekali tidak tertarik pergi ke klub malam (well, kadang-kadang saya mengkonsumsi alkohol, tapi apa masalah buat lo?), mereka tetap menganggap saya sebagai wanita liar yang suka bersenang-senang di klub malam dan mabuk-mabukan.

Ckckck, andai saja mereka tahu bahwa dibalik semua penampilan ini sebenarnya saya hanya wanita culun berkacamata tebal. Serius. Orang-orang yang dekat dengan saya tahu benar betapa senangnya saya tenggelam dalam koleksi buku saya yang jumlahnya ribuan itu, membaca berjam-jam bagaikan orang autis. Dan andai saja mereka tau jika tempat kencan saya dan suami bukanlah restaurant italia mahal melainkan museum sejarah, ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan tua bersejarah. Kalau saja mereka tau dibandingkan mabuk-mabukan di club malam saya lebih suka pergi ke bazar buku.

Lagi pula heran deh dengan pemikiran bahwa orang yang suka clubbing berarti bukan orang baik. Apa salahnya jika si itu dan si ini mau pergi clubbing? Asalkan sudah cukup umur sebenarnya nggak apa-apa kan? Apa urusannya dengan kalian? Bukan berarti dengan pergi bersenang-senang di klub malam lantas mereka bukan orang baik kan? Mereka punya hak buat bersenang-senang, toh hidup punya mereka. Kenapa kalian yang pusing dan sibuk dengan pencitraan? Kenapa terkungkung dengan pemikiran “ini Indonesia, kita budaya timur?”

Orang-orang yang berpikiran sempit itu tahu nggak sih, kalau di barat pergi ke pub atau club malam seusai kerja adalah hal yang sangat lumrah? Itu cara mereka bersosialisasi dan melepaskan stress. Jadi nggak usah lah pusing. Yang mau pergi ya pergi, yang enggak ya enggak. Nggak usah sibuk menggunjingkan dan menghakimi ini itu. Toh kalau mengganggu ketertiban, hukum pun bertindak. Iya nggak sih?  

Wanita cantik berpakaian menarik dan terbuka = wanita penggoda. Apa-apaan lagi ini coba? Ini sangat tidak masuk akal. Memang benar kita harus berpakaian sopan dan harus bisa menyesuaikan tempat serta situasi dalam berpakaian. Namun hanya karena seseorang suka perpakaian mini, bukan lantas wanita tersebut adalah wanita penggoda. Pandangan ini paling bikin meringis karena saya baru-baru saja mengalami pengalaman menggelikan terkait hal ini.

Yah, jujur saja saya memang sering memakai rok mini, hot pants dan baju tanpa lengan. Pokoknya, saya bukan tipe wanita yang selalu berpakaian tertutup. Apalagi karena saya bekerja pada perusahaan asing yang tidak pernah menetapkan larangan dalam berpakaian. Tapi sebisa mungkin, saya akan menempatkan diri dalam berpakaian. Nggak mungkin dong ya pergi ke Gereja pakai celana pendek? Atau pergi ke acara keluarga suami pakai rok mini.

Beberapa saat lalu, saya ada panggilan interview dadakan untuk salah satu perusahaan minyak terbesar di Indonesia (punya pemerintah, you know lah pastinya). Karena saat itu memang jam kantor, saya datang memenuhi interview dengan menggunakan pakaian kantor saya apa adanya (rok terusan diatas lutut dan blazer). Kalau di kantor saya sih, pakaian seperti itu sudah sopan dan resmi banget. Memang rok terusannya agak pendek sih, tapi masih dalam batas kesopanan dan bukan yang mini banget sampai pakaian dalam saya hampir kelihatan. Waktu interview pun sepertinya berjalan mulus dan oke-oke saja. Nggak ada masalah.

Nah, beberapa minggu kemudian, datanglah informasi bahwa saya tidak diterima di perusahaan tersebut karena mereka menggunjingkan saya sebagai wanita penggoda dengan pakaian seperti itu. OMG! Yang benar saja. Suami saya bahkan lebih ganteng dari mereka semua. Ngapain saya berminat menggoda mereka? Kayak udah kebagusan aja. Anyway, ya sudah, saya maafkan saja omongan mereka. Saya hargai culture mereka dan saya sarankan untuk mencari wanita yang menggunakan pakaian lebih tertutup saja.

Kasus Ibu Sushi dan pengalaman saya ini menjadi bahan perenungan. Kok kasihan banget ya bangsa Indonesia masih terjebak dalam pencitraan-pencitraan beginian? Agama mu untuk dirimu sendiri, sukumu untuk dirimu sendiri, budayamu untuk dirimu sendiri. Kita tidak bisa memaksakan semua pemikiran kita pada orang lain, terutama pencitraan-pencitraan kita. Jika seseorang benar-benar melanggar nilai-nilai, maka akan ada hukum yang bekerja untuk membereskannya. Kita sebagai masyarakat hanya bisa berperan untuk mengontrol, mengingatkan, bukan menghakimi.
Pada kenyataannya, coba deh pikirkan baik-baik dan buka mata lebar-lebar untuk melihat-lihat sekitar anda. Pernahkah kalian menemukan situasi seperti yang pernah saya temukan ini :

  1. Remaja pendiam, berjerawat, berkacamata, terlihat seperti pelajar kutu buku, ternyata adalah seorang pencandu narkoba.
  2. Wanita berpenampilan sopan yang terlihat alim dan lugu, ternyata diketahui adalah seorang simpanan laki-laki hidung belang dan telah beberapa kali menggugurkan kandungan.
  3. Seorang supir taxi berpenampilan paling sederhana, ternyata seorang Sarjana dan pensiunan perusahaan ternama. 
  4. Seorang pria bertato dan berwajah sangar aktif dalam kegiatan amal dan kemanusian bagi anak-anak penyandang cacat.


See? You don’t know the beauty of some one that you don’t know!

Saya bukan lah pasukan pendukung Bu Susi, bukan pula pasukan penghujat Bu Susi. Saya adalah warga negara yang netral dan salah satu orang berpikiran liberal. Menurut saya siapa pun bisa menjadi apa pun yang dia inginkan. Siapa pun berhak berbuat apa pun dan bagaimana pun yang dia inginkan. Asalkan tidak melanggar aturan hukum dan merugikan orang lain, kenapa harus di pusingkan dan di gunjingkan? 

Berhentilah menghakimi orang. 

Berhentilah mencari kekurangan orang. 

Berhentilah hidup dalam pencitraan. 

Nggak capek ya ngurusin orang lain?




Postingan Populer