Anak Kita BUKAN Investasi Masa Depan!



“Investasi Masa Depan”

Begitulah judul yang diberikan teman saya untuk foto anaknya yang dia unggah di media sosial. Foto itu menampilkan seorang anak perempuan cantik berusia sekitar lima tahun, yang tersenyum lebar memamerkan giginya yang ompong. Raut muka gadis kecil itu polos dan mata bulatnya yang indah memancarkan keluguan.

Saya berusaha mencari benda yang dimaksud teman saya dengan sebutan “Investasi Masa Depan” dalam foto tersebut. Tapi nihil. Foto itu murni hanya menampilkan si gadis cilik cantik, tanpa lembaran saham, buku tabungan, emas batangan, sertifikat tanah ataupun gundukan duit.

“Investasi Masa Depan”.

Saya membaca ulang judul foto itu dan tertegun. Oke, jadi yang dimaksud dengan “Investasi Masa Depan” adalah si gadis cilik cantik itu? Begitukah teman saya mengartikan makna anaknya?

Saya kembali memikirkan arti kalimat tersebut dan tiba-tiba yang terbayang di otak saya adalah Gisela (anak perempuan saya yang berumur tujuh bulan, yang lucu, berambut jarang dan menggemaskan) berada di dalam karung penyimpan uang berlabel $ (bagi yang sering membaca komik Paman Gober pasti langsung dapat mengerti maksud saya dan menangkap gambarannya).

Hati saya tergelitik, menyadari bahwa  saya tidak menyukai istilah “Investasi Masa Depan” itu. Apa maksudnya menyamakan anak dengan investasi? Yang benar saja! Masa anak mau disamakan dengan emas batang atau pun deposito. Jadi waktu bikinnya pake perhitungan untung rugi dong. Atau malah berharap si anak akan menghasilkan bunga tabungan bagi orang tua? Atau menjamin masa tua orang tua? Tidak. Saya tidak suka memikirkannya. Anak memang harta yang tak ternilai. Tapi jelas bukan investasi masa depan. Jelas sekali, kedua ungkapan ini berbeda makna.

Saya kemudian teringat sebuah obrolan ringan beberapa hari lalu dengan seorang ibu-ibu di KRL dalam perjalan pulang kantor. Dan sayangnya, sepertinya teman saya itu bukan satu-satunya orang tua yang melabeli anaknya dengan istilah “Investasi Masa Depan”.  Karena si ibu-ibu di kereta pun menyebutkan istilah yang sama.

“Anaknya ya mbak?” Ibu itu memonyongkan bibirya ke arah HP saya. Saat itu saya memang sedang melihat-lihat foto anak saya di HP. Dan si ibu yang duduk tepat di samping saya ternyata ikutan mengintip isi HP saya.

“Iya bu.” Saya menjawab sambil lalu, merasa kesal karena si bu tanpa malu-malu mengakui bahwa dia mengintip aktifitas pribadi saya, yang menurut saya hal itu sangat tidak sopan.

“Lucu ya anaknya. Cantik!” Pujinya dengan tulus. Mendengar anak saya di puji-puji, mau nggak mau hati saya luluh juga dan segera melupakan kekesalan saya terhadap si ibu.

“Makasih bu. Kalau ibu anaknya berapa?” Saya balik bertanya sekedar  basa-basi.

“Anak saya 3, sudah gede-gede semua, sudah pada kerja.” Jawabnya dengan bangga. “Tinggal petik hasil aja.”

“Tinggal petik hasil?” Saya bertanya dengan bingung. Buset dah, nih si ibu sedang ngomongin anak atau kebun sayurnya? Kok pakai petik-petik hasil segala.

“Iya, anak itu kan investasi kita mbak.” Si ibu menyahut penuh semangat. “Susah-susah sekolahin sampai sukses, udah habis berapa duit coba? Sekarang saya sudah tua begini, tinggal metik hasil dari nyekolahin mereka. Tinggal nerima ini itu aja.”

Me : speechless.............................   

Saya, lagi-lagi, kemudian jadi teringat sesi curhat-curhatan ayah saya beberapa waktu lalu saat datang berkunjung ke rumah saya.

“Kapan itu ada orang datang ke rumah, nawarin Papa beli kebun apelnya.” Ayah saya memulai ceritanya.

“Berapa luasnya, pa?” Saya bertanya antusias, karena ayah saya kebetulan memang suka berkebun dan saya sangat mendukung hobinya yang menyehatkan itu.

“Lumayan luas, berapa hektar gitu. Papa lupa.”

“Kenapa dijual?”

“Katanya sih habis nikahin anaknya, terus nggak balik modal.”

“Hah, gak balik modal gimana maksudnya Pa?” Saya menajamkan pendengaran dan mencoba berkonsentrasi pada percakapan kami. Ini si papa lagi ngomongin orang jual kebun apel, bukan? Apa saya yang salah fokus sehingga sampai mendengar kata “habis nikahin anak, terus nggak balik modal”?
                                                 
“Iya, jadi katanya sih, dia sudah ngeluarin duit habis-habisan duit buat biaya pernikahan anaknya.”

“Terus?” saya bertanya nggak sabaran. Pengen segera tau apakah ini pembicaraan ini memang benar tentang jual-menjual tanah, atau tentang menikahkan anak.

“Dengan  harapan angpau yang diterima diacara resepsi jumlahnya bisa buat balik modal biaya pernikahan. Syukur-syukur lebih, jadi dia dapat untung.” Si papa menjelaskan.

Dengan syok saya bertanya pada si papa.

“Lho, memangnya kalau nikahin anak harus hitung-hitungan untung-rugi gitu pa?”

“Hus!” ayah saya melotot marah. “Menikahkan anak itu kewajiban dan tanggung jawab orang tua. Itu prinsip Papa.”

“Lha, terus si bapak itu ngapain ngomong ‘nggak balik modal’?” Saya balik melotot, bukan karena nyolot, tapi karena syok.

Ayah saya : speachless.........................................................

Me : lebih speachless...........................................................


Well, well. Mungkin bukan hanya saya yang pernah mengalami situasi seperti ini. Mungkin teman-teman pun pernah mengalami hal yang sama, saat orang-orang disekitar anda menganggap anaknya adalah investasi bagi masa tuanya.

Oke. Tunggu dulu.

Tulisan ini akan sangat sensitif. Serius. Sesensifit cewek yang lagi PMS dan sedikit lebih sensitif dibandingkan ibu-ibu yang lagi hami. Jadi, bagi mereka yang memang sering menggunakan istilah “Investasi Masa Depan” bagi anaknya dan setidaknya dari awal sudah menyetujui penggunaan istilah tersebut, sebaiknya jangan membaca tulisan saya. Karena saya orang yang sangat blak-blakan dan tulisan ini mungkin akan menyinggung perasaan anda.

Serius. 

Berhenti saja sampai di sini. 

Jangan dilanjutkan!

Namun, bagi mereka yang merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan, mari kita lanjutkan pembahasan kita.

Jadi, pertama-tama, mohon diresapi bahwa widup itu adalah Suatu Lingkaran Masa

Saat anda bayi, anda begitu rapuh dan tidak berdayanya. Anda membutuhkan bantuan untuk dapat hidup. Segala segi kehidupan anda tergantung pada orang tua anda. Dan anda tidak mungkin dapat bertahan hidup tanpa asuhan dan perawatan orang lain. Itu sudah pasti, dan tidak dapat dipungkiri.

Anda tidak perlu meminta untuk segala asuhan dan perawatan itu, karena orang tua anda secara otomatis akan melakukannya. Mereka akan menjaga, merawat, mengasuh, membimbing, mengajarkan segala sesuatunya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Tidak perlu ada negosiasi. Tidak perlu ada perjanjian. Semua berjalan secara alamiah. Yah, terkecuali bagi orang tua yang tega menelantarkan atau membuang anaknya. Itu mah lain cerita, karena si orang tua itu pasti sakit jiwa atau setidaknya tidak punya hati nurani.

Nah, setelah anda tumbuh dewasa dan bekeluarga, anda pun akan melakukan hal yang sama kepada anak anda. Anda akan menjaga, merawat, mengasuh, membimbing, mengajarkan segala sesuatunya kepada anak anda dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Tanpa perlu adanya negosiasi. Tanpa perlu adanya perjanjian. Dan setelah anak anda tumbuh dewasa, maka dia pun akan melakukan hal yang sama terhadap cucu anda. Begitu seterusnya, karena itu lah lingkaran kehidupan yang harus dijalani.

Sampai disini apakah anda setuju dengan pemikiran saya? Jika setuju mari kita lanjutkan.

Anak membutuhkan orang tua, maka orang tua harus dengan segala daya upaya terbaiknya merawat dan membesarkan anaknya. Dan hal itu dilakukan dengan tulus ikhlas karena rasa cinta yang terdalam ke pada sang anak. Maka dengan demikian, sepengetahuan saya, tidak pernah ada utang budi antara anak dan orang tua yang diakibatkan oleh proses pemeliharaan. Keluarga bukan lah lembaga keuangan. Kasih sayang keluarga bukanlah Bank. Tidak ada yang namanya berhutang budi dalam keluarga, karena kewajiban setiap anggota keluarga lah untuk saling mencintai satu sama lain. Dengan demikian, tidak ada yang namanya hutang budi antara orang tua dan anak.  

Berdasarkan pemikiran inilah saya menentang dengan keras orang-orang yang menganggap anaknya memiliki utang budi kepadanya, sehingga kelak setelah dewasa harus membalasnya. Apakah kasih sayang yang tulus mengenal balas budi? Apakah cinta memikirkan untung rugi? Tentu tidak. Bahkan saat anda mencintai seseorang, anda rela melakukan apa pun demi kebahagian orang yang anda cintai. Setuju? Itu lah yang dinamakan cinta tanpa pamrih, dimana bentuk cinta ini adalah cinta yang sangat mulia.

Lalu, apakah anda akan menuntut balasan atas cinta yang mulia tersebut?

Manusia memang di-design untuk menjadi tua, rapuh, lalu kemudian kembali tidak berdaya, sama ketika dilahirkan kemuka bumi ini. Semakin tua tubuh ini, kita akan kembali membutuhkan bantuan orang lain. Dan saat itu kita tentunya mengharapkan dan mengandalkan anak kita untuk merawat masa tua kita.

Lalu apakah hal tersebut adalah bentuk balas budi? Tentu saja tidak, bukan? Anak kita akan melakukannya karena rasa cintanya kepada kita, tanpa perlu kita minta. Ia tidak berhutang budi apa pun kepada kita. Jika tidak ada hutang, maka apa yang harus dibayar? Tindakannya merawat kita dimasa tua kita pun merupakan lingkaran kehidupan, dan jika ia melakukannya maka itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada orang tua.

Nah, sama halnya dengan anggapan bahwa anak adalah investasi masa depan, dimana anak diharapkan dapat menjadi penopang orang tua di masa tua. Memang benar, kita tentunya berharap dimasa tua kita nanti anak kita dapat merawat kita dengan penuh cinta kasih. Namun jika kita menganggap anak kita sebagai sebuah investasi, berarti kita mengharapkan suatu saat nanti dapat memperoleh keuntungan dari anak kita.

Saya sama sekali nggak setuju dengan hal ini. Jika anak kita nantinya diwajibkan untuk membayar kembali semua biaya yang pernah kita keluarkan untuk membesarkan dan menyekolahkannya atas dasar balas budi, itu berarti kita selama ini membesarkannya dengan perhitungan untung rugi. Dan terlebih saya sama sekali nggak setuju dengan kata-kata si ibu di kereta tentang “memetik hasil”.

Saya secara pribadi, tidak mengharapkan imbalan uang apapun dari anak saya. Kesuksesan dia dimasa mendatang sendiri menurut saya sudahlah bentuk hasil yang dapat kita nikmati : kebanggaan telah mendidik anak dengan baik hingga menjadi orang sukses. Itu saja harusnya sudah cukup kan? Materi bukan lah tolak ukur yang diharapkan!

Kecuali nih ya, jika anggapan investasi ini adalah karena anak lah yang nantinya mendoakan keselamatan kita di dunia akhirat. Nah kalau itu, mungkin masih masuk akal lah. Karena apa yang kita harapkan dari anak sebagai investasi bukanlah berupa harta, namun berupa keimanan terhadap Tuhan.

Maksud saya, ayolah, jaman sekarang sudah berbeda kawan-kawan! Jaman dulu, dengan jenis pekerjaan yang belum beragam, tingkat pendapatan yang tidak seberapa, tehnologi yang belum canggih dan keterbatasan ini-itu, mungkin masih bisa dimengerti jika ada budaya menganggap anak sebagai investasi masa depan. Karena kerjaan orang jaman dulu kalau bukan bertani, ya berkebun, atau jadi nelayan. Dengan umur yang menua, tidak mungkin lagi kan mereka mencari nafkah sendiri. Sehingga masalah finansial orang tua dimasa senja sangat bergantung pada anak.

Malahan nih ya, orang tua jaman dulu sengaja punya anak banyak-banyak, supaya nanti anaknya bisa gotong-royong merawat dan membiayai orang tua secara bergantian. Liat aja mama papa kita, sembilan bersaudara, dua belas bersaudara. 


Tapi ini jaman modern. Pekerja swata maupun pegawai negeri, wajib didaftarkan sebagai peserta program jaminan hari tua. Itu standar hukum ketenagakerjaan Indonesia lho. Bagi mereka yang gak mendapatkan fasilitas tersebut dari perusahaan (which is, ini sebenarnya melanggar hukum), atau yang nggak ikut siapa-siapa alias wirausaha sendiri, sebenarnya bisa berusaha menabung sedikit-sedikit untuk simpanan hari tua, karena banyak lembaga keuangan baik Bank maupun Asuransi yang menawarkan program simpanan untuk hari tua.

Saya sendiri banyak belajar dari kedua orang tua saya. Mereka saat ini sudah pensiun. Namun sedikit pun mereka tidak pernah merepotkan anaknya untuk masalah keuangan. Malahan terkadang –walau sudah saya larang- justru mereka masih ngasi ini-itu untuk anak saya. Mereka memang hanya pensiunan pegawai negeri, namun persiapan mereka untuk menghadapi masa pensiun sangat terinci dan matang. Dari jauh-jauh hari, mereka sudah mempersiapkan semuanya, dengan harapan setelah pensiun nanti mereka tidak sampai membebani dan tergantung pada anak-anaknya.

Mencontoh kedua orang tua saya, saya dan juga suami pun memiliki visi yang sama. Kami akan merencanakan hari tua kami sedini mungkin sehingga nantinya kami tidak harus membebani dan merepotkan anak kami untuk masalah finansial. Menurut kami, anak kami nantinya memiliki kehidupan dan keluarga sendiri yang harus dia biayai. Jadi kami tidak ingin jika nantinya anak kami hanya sibuk memikirkan bagaimana “memberi” kami sehingga dia terbebani terlalu banyak.

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin masa tua saya nanti saya masih bisa jalan-jalan dengan suami untuk melihat dunia, masih bisa ngasi hadiah ini itu buat cucu walau harganya gak seberapa, masih bisa beli tiket untuk mengunjungi anak cucu jika mereka tinggal jauh dari kami, masih bisa makan enak direstaurant, masih bisa benerin mobil di bengkel, masih bisa beli baju bagus dan tas keren, tanpa perlu minta-minta ke anak. Moga semua bisa terlaksana lah ya, rencana yang baik pasti didengarkan oleh Tuhan.

Yah intinya, suka-suka para pembaca juga sih mau menganggap anak sebagai apa. Apa juga hak saya untuk melarang. Toh itu hak anda sebagai orang tua. Tapi... ya tapi... istilah investasi masa depan itu lho... Mengganggu sekali. Yah, setidaknya ada sisi positif yang bisa saya ambil sih melalui istilah itu, saya jadi terpacu untuk mempersiapkan masa tua saya sebaik mungkin. Tidak mau menggantungkan diri dan berharap pada pemberian anak di masa tua.

Jadi, apa kah anak anda merupakan “investasi masa depan” anda?

Postingan Populer